Kelahiran anak pertama

Masih di tanggal 29 Desember 2016, yang belum baca cerita sebelumnya bisa baca dulu disini, karena belum lahir-lahir setelah dari Bidan akhirnya kita jalan-jalan ke Botani Square, ke Gramedia cari buku dan saya ke iBox untuk lihat Macbook pro yang paling baru. Kita muter-muter dan setelah capek, kita ke food court untuk makan, seperti yang sudah saya tebak, istri pesan makanan jepang. hehehe.

Istri saya adalah penggemar  mie dan makanan jepang. Saya sampai bosan menasehatinya karena dia sering makan mie. Istri saya kadang juga tidak terima kalau saya sebut mie, mie dan mie terus. Sebenarnya sih ini salah saya, karena saya tidak bisa membedakan antara mie, bihun, spageti, fettucini. Karena bagi saya yang bentuknya mirip mie ya saya sebut mie hehee. Istri saya kadang sehari cuma makan spageti, jadi kami memang cukup berbeda dalam persoalan selera, istri saya sukanya yang mie mie, eh jangan bilang mie nding hehee. Ya intinya yg mirip mie, sedang saya penyuka nasi hehe. Istri juga suka banget sop-sop an sedang saya sukanya bakaran, entah itu ayam bakar, sate, dkk, maklum lama tinggal di Jogja hobbynya makan SS.

Wah jadi ngalntur kemana-mana. Intinya setelah dari botani square kami capek banget, terus kami pulang. Ketika magrib tiba-tiba istri bilang kalau muncul flek, alhamdulillah batin saya, sepertinya sebentar lagi kami akan bertemu dengan jabang bayi ini. Saat itu istri juga belum mules, saya ya pikirnya masih lama karena ini baru tanda awal. Baik istri maupun saya sudah bertanya-tanya mengenai kelahiran anak pertama baik pada teman maupun orang tua dan pada bidan juga.

Kata orang, kelahiran anak pertama itu lama, bisa memakan waktu 12 jam dari pembukaan 1 sampai 10, jadi ya saya masih santai-santai saja. Tiba-tiba setelah saya pulang dari masjid sholat isya, istri saya sudah tiduran di kasur, katanya tadi ketika mau ngambilin makan saya, air ketubannya ngalir, wuh, saya kaget dan agak panik. Untung semua keperluan untuk melahirkan yang telah di kasih tau sama bidan sudah kami siapkan dalam tas. Kami langsung bilang ke orang tua istri, dan untungnya ada Bapak, di rumah orang tua ada beberapa mobil tapi saya belum bisa nyetir haha. Ya Alhamdulillahnya pas ada bapak soalnya malam hari. Saya kemudian telp bidannya dan bidannya bertanya kontraksinya sudah berapa menit sekali. Istri saya pun sudah menyalakan stop watch di HP untuk menghitung frekuensi kontraksinya. Saya jawab ke bidan tiap tiga menit. Bidannyapun bilang ya sudah di bawa kesini saja. Akhirnya kami antar istri ke bidan.

Jam set 9 malam kami sampai di bidan, istri kemudian di check, pas di check bidannya bilang, iya cairannya positif ketuban dan sekarang sudah pembukaan tiga. Perkiraan juga mungkin masih lama. kami pun diminta untuk ke kamar yang telah disediakan. Detik-detik kontraksi pukul setengah 10 malam itu sungguh menegangkan. Karena ketika belum pembukaan 10, kalau ada kontraksi itu tidak boleh mengejen, harus ditahan dengan ambil nafas dan buang nafas. Istri pun sudah berpesan ketika terjadi kontraksi untuk membisikkan kalimah sahadah di telingannya. Tangan sayapun sampai lecet, kerena di genggam ketika istri menahan ngejen saat kontraksi, bener-bener was-was saya saat itu. Tiba-tiba ditambah lagi istri saya muntah-muntah, wah padahal sebelum ke bidan dia juga belum makan. Habis muntah istri saya benar-benar lemes. Saya hanya selalu berdoa pada Allah agar semuanya lancar. Saya sudah bingung sebenarnya, kalau harus seperti ini sampai besok pagi bagaimana, apakah istri saya kuat? pikir saya.

Saya sudah diberi tips untuk membawa kurma, karena memang buah yang satu ini adalah sumber energi yang bagus, dan untuk memakannya pun tidak repot. Istri saya suapin kurma terus, dan Alhamdulillah tidak lemas lagi. Yang paling menegangkan adalah tiap kali kontraksi, karena saya melihat istri saya benar-benar seperti tersiksa. Kata istri saya itu rasanya pingin banget ngejen tapi harus di tahan, udah gitu perutnya juga nyeri. Ya Allah, sungguh… benar-benar mulia tugas ibu itu, saya jadi teringat mungkin karena inilah sehingga wanita dibebaskan dari berjihad di medan perang. Karena perangnya wanita ya ini, pikir saya.

Pukul 10 malam lebih, istri ngotot pingin ke toilet karena pingin BAB rasanya. Saya pun akhirnya panggil bidannya. Kemudian kami antar ke toilet sambil diawasin sama bidannya untuk hati-hati ngejennya. Setelah dari toilet, istri bilang, katanya benar-benar pingin BAB dan ngejen banget. Akhirnya sama bidannya diminta masuk ke ruang bersalin untuk diperiksa lagi. Saya mengira ya masih di pembukaan 5 atau 6 begitu karena katanya kan lama. Eh pas di periksa, tanpa ngomong apa apa, bidannya langsung memanggil bidan senior yaitu Ibu Srie Dodie, kemudian Ibu Srie mengecek lagi dan ibu srie bilang kalau istri saya sudah siap melahirkan, pembukaannya sudah sempurna.

Istri sayapun dipandu oleh bidan untuk melakukan gerakan melahirkan seperti yang sudah diajarkan di senam, kemudian kepalanya diangkat dan melihat perut. Kemudian di pandu untuk ngejen, tidak lama kemudian, tiba-tiba saya melihat ada bayi yang keluar, kemudian di lap sama bidannya, dan dibersihkan lendirinya pakai alat kemudian bayi tersebut menangis, oleh bidannya kemudian ditaruh di dada istri saya.

Sungguh, waktu itu serasa mimpi, sungguh begitu cepat. Saya benar-benar tidak menyangka akan secepat ini proses kelahirannya. Saya hanya membayangkan ketika istri saya terlihat seperti tersiksa sekali saat kontraksi, dan membayangkan kalau harus menunggu hingga pagi hari. Tepat pukul 10:35 Fatiha lahir, dengan berat 3,7 kg dan panjang 50 cm, bayi yang cukup besar untuk anak pertama dan dengan proses kelahiran normal. Setelah bayi dimandiin sama bidannya kemudian di bedong, istri saya masih rebahan (lagi dijahit) dan bayinyapun dikasih ke saya. Saya pun meng-adzani Fatiha di telinga kanannya, kemudian meng-iqomat inya di telinga kirinya. Saya berdoa pada Allah semoga anak kami ini menjadi anak sholihah.

Alhamdulillah, inilah pertolongan Allah.. saya benar-benar ingat jam 11 kita sudah balik ke kamar, melihat fatiha tidur di dalam kotak. Semalam suntuk saya tidak bisa tidur, saya melihat wajahnya fatiha, kemudian melihat ibunya, seperti itu terus menerus. Saya masih ingat sebelum istri saya datang ke bidan, sudah ada pasien lain yang mau melahirkan juga yang sudah datang terlebih dahulu, dan pasien tersebut melahirkan pukul 3 dini hari. Kata bidannya, proses kelahiran istri saya benar-benar cepat. Saya pun juga berpikir demikian, coba bayangkan habis magrib baru mulai mules, diperiksa bidan pukul setengah 9 masih pembukaan 3 dan alhamdulillah jam setengah 11 sudah lahiran.

Sungguh, kami bersyukur atas segala nikmat yang Allah karuniakan pada kami, semoga kami bisa menjadi orang tua yang amanah. Semoga kami bisa mendidik keturunan kami menjadi generasi yang sholih/sholihah yang bisa menjadi penegak kalimatNya di muka bumi ini.

 

fatiha-bayi

 

Anak kami tersebut, kami aqiqah’i dan kami beri nama Fatiha Firdausi Mafrur. Semoga kelak dia menjadi wanita sholihah dan bisa seperti harapan ayah dan bundanya pada namanya, yaitu sebagai Fatiha: pembuka, alfirdausi : surga firdaus, bagi keluarga Mafrur.

Amiin.

Sudah lewat HPL bayi belum lahir

Seperti yang sudah saya ungkapkan di tulisan sebelumnya kalau HPL istri saya 25 Desember 2016. Pikir saya, wah ini anak saya kalau lahir pas tanggal itu benar-benar barengan sama natal nih ehehe. Saya juga sudah menulis mengenai kisah kegalauan kami karena disuruh caesar oleh dokter di tulisan itu, tapi kami sepakat untuk normal.

Kami sering melakukan check up ke Bidan Srie Dodi untuk memeriksa kandungan istri kami, terakhir USG juga baru baru saja dan Alhamdulillah semuanya baik untuk lahiran secara normal. Hari-hari menjelang kelahiran sungguh sangat deg-deg an. Istri sejak mulai kehamilan di bulan tujuh sudah rutin ikut senam hamil, dan di rumahpun sering yoga pula dipandu oleh tutor di Youtube hehee.

Kami sudah mempersiapkan segalanya, dimulai dari beli perlengkapan bayi dari mulai baju alat mandi, popok, dsb, kranjang bayi, tempat tidur bayi juga sudah kami siapkan, kemudian istri juga sudah buat hiasan yang di tempel di tembok bertuliskan Welcome Fatiha, dsb. Banyak hal yang sudah kami persiapan menjelang tanggal 25 Desember 2016. Tanggal 24 Desember saya di telp ibu, ibu tanya sudah ada tanda-tanda mau melahirkan belum, ya seperti mules atau keluar darah, dsb?. Tapi sayang nya istri saya biasa-biasa saja, bahkan sampai tanggal 25, kemudian 26, istri saya tidak ada tanda-tanda untuk melahirkan padahal sudah lebih dari HPL.

Kami pun yakin, insyaAllah tidak ada apa-apa, pemeriksaan terakhir semuanya baik-baik saja, bayi juga masih aktif nendang-nendang di perut ibunya. Oyah, dokter juga bilang lebih dari 60 persen bayi itu lahir tidak sesuai dengan HPL jadi bisa dua minggu sebelumnya atau satu minggu setelahnya yang penting jangan sampai lebih dari 42 minggu itu berbahaya bagi bayi karena akan terjadi pengapuran plasenta, intinya spt itu. Jadi bagi teman-teman yang mengalami kejadian seperti saya, Sudah lewat HPL bayi belum lahir, tetap tenang, jangan sampai istri stress, dan silahkan periksa kondisi bayi secara intensif ke bidan atau dokter.

Tapi jujur saja kami juga was-was, akhirnya kami ke Bidan Srie Dodie, pas di periksa ternyata katanya berat bayi sudah sampai 3,5 kg!. Haduh makin was-was jadinya kami, karena mamang untuk anak pertama harusnya sih jangan gede-gede bayinya kasihan nanti ibunya ngejennya. Tapi kami tetap berusaha tenang dan senantiasa berdoa pada Allah.

Di tanggal 29 Desember pagi setelah melewati empat hari dari HPL, kami datang ke Bidan Srie Dodie untuk senam hamil dan periksa kandungan juga, dan semuanya masih baik-baik saja cuman ya itu sepertinya harus benar-benar siap karena bayinya cukup besar. Ibu bidannya bilang, yah semoga bentar lagi bisa lahir yah. Kami hanya bisa mengamini doa dari Ibu tersebut.

Yuk baca kelanjutannya di detik-detik menjelang kelahiran jabang bayi di sini

Minus diatas 6 harus operasi caesar

Sejak pertama kali taaruf, di CV-nya, istri sudah menulis bahwa dia mempunyai minus dan minusnya waktu itu 9 atau 10 dan kemungkinan besar bahwa ketika melahirkan harus di caesar.

Saat pertama kali saya membacanya saya benar-benar baru tahu ada perihal seperti itu, karena saya pernah punya teman yang dia memakai kacamata tebal dan bisa melahirkan normal tapi tentu saya kurang tau dia minus berapa. Karena background saya sebagai peneliti disamping itu saya orang IT maka pertama yang saya lakukan adalah googling. Ketika Googling dengan bahasa Indonesia memang banyak tulisan-tulisan yang menyebutkan hal itu. Wanita yang mempunya minus tinggi dan dia hamil akan sangat beresiko untuk melahirkan secara normal, resikonya adalah jaringan syaraf di retina bisa putus ketika proses melotot karena ngejen saat melahirkan.

Saya sadar kalau saya bukan dokter jadi saya tidak begitu paham akan hal itu dan saya memang bukan ahlinya, tapi saya penasaran bagaimana kalau di luar negeri? dan saya yakin ketika dokter bilang seperti itu pasti ada paper penelitiannya. Akhirnya saya mencoba untuk mencarinya dengan bahasa Inggris. Saya masuk ke forum, baca-baca komentar orang-orang dan akhirnya saya menemukan paper yang dijadikan sebagai landasan SOP tersebut. Intinya dalam SOP kalau minus diatas 6 sebaiknya di caesar jika mau melahirkan, dulu memang ada penelitian mengenai hal itu. Tapi disisi lain saya juga menemukan tulisan ilmiah/paper yang terbit sekitar tahun 2009, dimana sang peneliti melakukan penelitian dengan beberapa responden wanita hamil, hasilnya adalah tidak ada korelasi antara bahaya kebutaan bagi wanita penyandang minus tinggi dengan melahirkan secara normal.

Tapi tetap saja, kami berdua was-was, di sisi lain istri tidak mau kalau di caesar, orang tua juga menyarankan jangan di caesar, apalagi ibu saya sampai nangis ketika saya bilang bisa jadi di caesar. Ibu saya bilang, kasihan nanti pulihnya lama bisa berbulan-bulan. kalau lahiran secara normal itu habis lahir, langsung bisa jalan, mungkin sakitnya hanya seminggu kalau ada jahitannya. Hmm.. itu adalah saran dari orang tua kami.

Kami pun ketika USG dan periksa tiap bulan selalu bertanya kepada dokter mengenai hal ini. Pemeriksaan pertama kami di RS KBP Dramaga (Karya Bakti Pratiwi), kami memilih untuk periksa ke dokter kandungan yang terkenal dan senior, ketika kami bertanya masalah itu, sontak beliau langsung bilang harus caesar, titik tanpa koma.

Kami pun akhirnya memutuskan untuk ke RSIA Ummi, Salah satu dokter yang pernah kita temui di Ummi lebih bijak, beliau bilang, nanti diusia kehamilan 8 bulan atau 9 bulan coba periksa ke dokter mata, bagaimana kondisi matanya. Kalau bagus, nanti insyaAllah bisa normal, jadi memang perlu rekomendasi dari dokter mata. Saat itu kami jadi tenang, alhamdulillah masih ada harapan. Karena kami masih penasaran, kami mencoba ke RSIA melania, mencari dokter kandungan yang senior, setelah di USG kemudian di periksa kami pun menanyakan persoalan itu. Dokternya kemudian bilang, minus tinggi karena apa? bukan karena kecelakaan kan? kami jawab bukan, dokter tersebut langsung bilang normal saja, tak akan ada masalah, pasti bisa normal. Hal tersebut yang membuat kami semakin yakin, insyaAllah, Allah pasti ngasih jalan. Saya pun sebenarnya yakin, Allah sudah menciptakan wanita dengan sedemikian rupa, pasti istri saya bisa normal, sembari selalu berdoa pada Allah agar semuanya bisa lancar.

Selain persoalan minus ternyata kami juga punya persoalan lain yaitu HB istri, kepada calon ibu dan suami, silahkan bisa di check ke Lab kondisi istri ,seperti HB dan sebagainya. Dulu pada awalnya saya bingung karena sudah di trimester kedua tapi istri kadang-kadang masih sering pusing. Waktu itu saya tidak tahu, saya baru tahu penyebabnya setelah kami uji lab. Setelah di periksa di kehamilan ke tujuh ternyata istri saya HB nya 8,4 padalah untuk ibu hamil normalnya kalau tidak salah harus di atas 11 dan itu beresiko sekali. Karena ketika misalnya pas lahiran normal, kemudian darahnya banyak  yang keluar dan kondisi HB rendah itu sangat beresiko. Jadi silahkan bagi suami dan calon ibu bisa memeriksakaan kondisi istrinya ke lab. Alhamdiulillahnya karena ketahuan jadi istri disuruh banyak makan daging merah, hati, kemudian diberi suplemen penambah darah juga. Alhamdulillah di usia menjelang persalinan HB nya sudah normal.

Menjelang kelahiran, di usia kehamilan awal bulan ke 9, saya pun memeriksakan kondisi mata istri ke dokter mata di RSIA melania, prosesnya ternyata cukup lama. Pertama antreannya banyak ditambah dokternya datang dari jakarta jadi terlambat ya sudah jadinya lama banget. Ketika giliran istri saya, istri saya dipanggil untuk masuk, kemudian kita cerita ke dokternya tentang tujuan kita, ternyata kita harus keluar lagi yaitu istri saya diberi semacam obat tetes mata, setiap setengah jam sekali untuk membersihkan mata dan memperbesar apa gitu saya lupa tujuannya. Setelah beberapa kali ditetesin kemudian di periksa lagi, ditetesin lagi diperiksa lagi, akhirnya setelah ok, baru kami disuruh masuk lagi ke ruang dokternya dan saat itulah mata istri saya di periksa menggunakan alat yah kayak gitu alatnya, susah di deskripsikan. Setelah diperiksa, langsung keluar hasilnya, yaitu, kondisi syaraf di retina istri saya sangat baik, jadi tidak masalah untuk melahirkan secara normal kata dokternya. Alhamdulillah….

Istri sebenarnya pingin lahiran secara normal di RSIA Ummi karena RSnya islam, kemudian paling dekat dengan rumah. Istri pingin lahiran disana karena takut ada apa-apa dengan HBnya walaupun pas pemeriksaan terakhir sudah normal. Nah, pas kita kembali ke Ummi lagi dengan membawa surat rekomendasi dari dokter mata di Melania ternyata dokter di Ummi kurang berkenan. Dokter di Ummi meminta kami untuk check ulang lagi kondisi mata ke salah satu dokter mata senior di RSIA Ummi yang di rekomendasikan. Kami pun mengikuti sarannya, kami periksa ke dokter mata tersebut, antreannya buanyak banget, hingga nunggu berjam-jam. Akhirnya giliran istri saya juga, kamipun di panggil untuk masuk, setelah masuk ,mata istri cuman di lihat sebentar habis itu ngobrol, ketika dokternya tahu kalau kondisi istri minus 11, langsung dokter mata tersebut merekomendasikan untuk caesar tanpa pemeriksaan seperti yang dilakukan oleh dokter mata di melania. Beliau bilang, memang tidak ada indikasi, tapi resikonya tinggi jadi saya rekomendasikan untuk caesar, nah untuk keputusannya ya tetap di tanggan ibu dan bapak, jadi silahkan.

Huftt.. akhirnya kamipun galau lagi, dan saya benar-benar tahu betul bagaimana perasaan dan kesedihan istri saya waktu itu. Setelah itu kamipun datang lagi ke dokter kandungan di Ummi dan kami serahkan rekomendasi dari dokter mata di Ummi tersebut. Dokter kandungannya pun bilang, ya saya ikut rekomendasi dari dokter mata saja ya, jadi bagaimana? Kami pun bilang ke dokternya kalau kami ingin normal, tapi dokternya tidak bersedia. Setelah itu kami minta untuk di check kandungannya saja, ketika di check semuanya normal, air ketuban bagus, kepala bayi sudah masuk, tidak terlilit dan sebagainya, sebenarnya semua kondisi tersebut sangat bagus untuk normal, tapi dokter tidak berani ambil resiko karena kondisi mata istri saya.

Oyah HPL (Hari prediksi lahir) anak kami adalah 25 Desember 2016. Nah, setelah kami berdiskusi, kemudian berdiskusi dengan orang tua juga, akhirnya kami memutuskan untuk mantab mau normal saja dan di bidan saja. Istripun sudah mencari tahu mengani bidan yang recommended. Bidan Srie Dodie di belakang pasar Gunung batu, bagi yang rumahnya dekat situ silahkan di check saja. Memang rekomended banget sih!!!. Akhirnya bismillah kami berusaha untuk normal, ikhtiar dan tentu tidak lupa untuk senantiasa berdoa kepada Allah..

Yuk baca, kelanjutannya di.. Menunggu kelahiran jabang bayi

atau baca juga tulisan sebelumnya hamil pertama istri

Hamil pertama istri

Harapan manusia setelah pernikahan adalah dikaruniai keturunan, itu adalah sunatullah dan pasti ada perasaan tersebut dimasing-masing insan. Begitu juga dengan kami, salah satu target saya adalah menikah sebelum usia 25 tahun dan semoga bisa segera dikaruniai keturunan, agar nanti kalau Allah memberikan saya umur panjang, diusia saya yang belum begitu tua, saya bisa menyaksikan anak-anak saya besar bahkan mereka menikah.

Sikap kami sebagai keluarga baru pasca menikah adalah pasrah, istilahnya ya ngalir saja, kami tidak langsung berusaha dengan sekuat tenaga agar segera dikaruniai anak atau sebaliknya, berusaha agar tidak segera punya anak. Alhamdulillah selang beberapa bulan setelah pernikahan ternyata Allah berikan tanda-tanda pada istri saya, kamipun melakukan pengecekan dan ternyata benar! istri saya hamil padahal sebelumnya istri saya jalan-jalan naik Gunung terus ke ladang bersama ibu saya dan dia lompat-lompat karena seblumnya dia tidak mengira kalau sudah ada janin di perutnya. Ini adalah tanda bahwa Allah percaya pada kami, semoga kami bisa menjadi orang tua yang amanah.

Oya saya benar-benar bersyukur, istri saya sangat pintar memasak, semua masakannya enak yang pernah ia masak, bahkan di awal pasca pernikahan dia mencoba memasak soto, bayangin saja soto, yang bumbunya begitu kompleks. Setelah jadi, subhanallah rasanya, soto yang paling enak yang pernah saya makan deh. Hal tersebut adalah keberuntungan bagi kami, saya tidak bisa membayakan seandainya istri saya tidak bisa masak. Istri saya termasuk orang yang gampang diare jika makan makanan di pinggir jalan. Berbeda sekali dengan suaminya ini, karena saya terlahir di kampung, besar dijalanan, maka makanan apapun, dimanapun, masuk ke perut tanpa ada masalah lanjutan. Kami pernah mencoba untuk membeli masakan di warteg di pinggir jalan, eh habis kami makan ternyata istri saya diare. Jadi, kalau mau membeli makanan diluar harus benar-benar yang istri saya pernah makan di warung tersebut karena kalau tidak nanti malah jadi repot.

Persoalan yang kami hadapi adalah skripsi, saya menikah dengan istri dengan kondisi istri belum lulus S1 dan belum mulai mengerjakan skripsi. Saya benar-benar masih ingat betapa stressnya istri ketika dia mengerjakan skripsi. Harus menghubungi responden untuk penelitiannya dengan telphone, kadang ditolak kadang diterima, dan topik penelitiannya juga unik yaitu membahas mengenai waqaf uang di Indonesia dan sudah barang tentu nyari respondennya juga tidak mudah. Saya sampai lupa berapa biaya yang kami habiskan untuk beli pulsa untuk menelphone responden. Di lain sisi ketika skripsi yang harus di kejar dia pun berhadapan dengan trimester pertama yaitu usia kehamilan 1-3 bulan, benar-benar kasihan. Sering muntah, mual, pusing, pinginnya tidur, sedangkan skripsi harus segera ia selesaikan.

Di trimester pertama ini, istri sering bilang ke saya. Mas, ini bukan karakter saya yah yang rewel ini. Sayapun tahu kalau dia memang bukan tipe wanita yang rewel. Yah maklum saya dengan istri memang sebelumnya tidak saling kenal, hanya dari proses ta’aruf yang sebentar, qodratullah Allah mempersatukan kita. Jadi memang dimasa-masa ini kami sedang berusaha memahami karakter masing-masing. Di trimester pertama ini memang istri sering banget rewel. Minta nasi padang, saya beli dua bungkus, eh pas mau makan tiba-tiba dia tidak mau makan, jadinya dua bungkus masuk ke perut saya. Minta soto yang dia suka eh sama saja dua bungkus soto akhirnya masuk ke perut saya. Yang lucu juga adalah dia masak sendiri nasi goreng, habis itu dia mual sendiri karena bau bawang dan tidak mau makan masakannya sendiri. Yah itulah trimester pertama kehamilan, mungkin diantara pembaca ada calon ibu atau calon bapak yang mengalaminya juga. Tapi hal ini hanya berlangsung tiga bulan saja, setelah itu dibulan keempat dan sampai terakhir sudah pulih seperti biasa, tidak mual-mual lagi, bedanya ya sekarang istri harus membawa beban berat di perutnya kemana-mana.

Alhamdulillah, wasyukrulillah, diusia kehamilan ke enam/enam bulan, istri bisa sidang dan secara unofficial sudah lulus dari S1nya, akhirnya lega juga.

Oya, memang benar kata orang-orang yah kalau yang namanya anak pertama itu biasanya sangat spesial. Ya gimana tidak spesial, kami adalah calon orang tua baru waktu itu, kami tidak tau apa-apa dan pasti ada rasa was-was dan sebagainya. Tiap bulan kami melakukan pemeriksaan ke dokter dan sekalian USG. Tiap dari dokter dikasih multivitamin untuk diminum tapi kadang kala habis kadang istri tidak menghabiskannya. Semua kata dokter kami berusaha untuk menurutinya, karena memang kami tidak paham apa-apa. Lha suaminya orang teknik, istrinya orang ekonomi syariah hehehe. Dulu ketika istri belum selesai skripsi kita melakukan pemeriksaan di RS karya bakti di Dramaga karena kami tinggal di dekat IPB, tapi setelah lulus karena kami balik ke Cikaret ke rumah orang tua istri, kami biasanya melakukan pemeriksaan di RSIA Ummi bogor atau di RSIA Melania Bogor karena dua rumah sakit itu yang paling dekat dengan rumah orang tua istri.

Menemani istri menjalani proses kehamilannya selama sembilan bulan benar-benar memberikan banyak hikmah bagi diri saya ini. Saya jadi ingat nasihat dari seorang ustadz, kamu tidak akan bisa merasakan apa yang orang tua mu rasakan kepadamu sebelum kamu benar-benar menjadi orang tua. Saya benar-benar jadi ingat dan paham kenapa islam benar-benar memuliakan ibu, melatakkan ibu diposisi lebih utama tiga kali daripada ayah, menjamin syahid bagi wanita yang meninggal karena melahirkan, menjadikan surga ada dibawah telapak kaki ibu, sungguh akhirnyapun saya jadi ingat ibu saya. Alangkah buruknya bila kita yang sudah besar ini tidak hormat, tidak berbakti kepada ibu, alangkah buruknya manusia yang berani melawan orang tuanya, yang berani menghardiknya, yang berani mengatakan kata-kata kotor didepannya. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang berbakti kepada orang tua kita. Amiin….

………

Silahkan bisa melanjutkan membaca kisah kami, salah satu permasalahan yang kami alami ketika proses kehamilan yaitu diancam oleh dokter untuk caesar karena istri minus 11. yuk baca disini!!!

 

Lolos Wawancara LPDP

Seperti yang sudah saya tulis di postingan sebelumnya mengenai hasil dari seleksi administrasi LPDP. Ketika teman-teman sudah mendapatkan hasil dari seleksi administrasi LPDP dan dinyatakan lolos, maka teman-teman akan mendapatkan informasi berupa lokasi seleksi (ini dipilih teman-teman sendiri pas ngisi form pertama kali), kemudian jadwal verifikasi dokumen, wawancara, LGD, dan essay on the spot.

Tentu untuk verifikasi dokumen saya tidak akan membahasnya karena kalau memang teman-teman lolos seleksi administrasi dan semua dokumen yang diupload bisa di tunjukkan ketika verifikasi dokumen tentu tidak akan bermasalah. Tapi ketika saya sedang menunggu antrean verifikasi dokumen saya melihat ada beberapa orang yang harus bolak-balik karena dokumen tidak lengkap atau salah, misalnya surat pernyataan formatnya salah, dsb. Jadi silahkan benar-benar dibaca booklet LPDPnya.

Pengumuman tanggal 27 Juli dan kebetulan untuk Yogyakarta mendapatkan tanggal yang pertama yaitu tanggal 10-12 Agustus 2016. Jadi saya benar-benar kurang persiapan baik untuk wawancara, LGD, dan essay on the spot. Saya hanya pernah dengar untuk program LN, interviewnya, LGD, dan essay on the spotnya full bahasa inggris, tapi insyaAllah disini saya tidak ada masalah. Hanya saja setelah saya membaca beberapa pengalaman seleksi wawancara LPDP dari internet saya benar-benar melihat bahwa pertanyaan reviewersnya benar-benar random. Misal saya pernah membaca reviewer minta agar yang di interview menyanyikan lagu daerah, kemudian ditanya tentang visi-misi LPDP, nama mentri, UUD, pancasila, dan sebagainya.

Oleh karena itu, di minggu-minggu menunggu wawancara di sela-sela waktu saya membaca semua tentang LPDP, dari visi-misinya, orang-orangnya, kemudian juga ngulang pelajaran PPKN/PKN :). Disamping itu saya juga selalu membaca berita di thejakartapost dan juga detik. Seperti sebelumnya yang sudah saya sampaikan juga, dari informasi yang saya pelajari sepertinya intinya adalah jadilah diri sendiri.

Sesuai dengan jadwal yang saya dapatkan, tanggal 10 Agustus sore saya hanya datang untuk verifikasi dokumen, saya antre cukup lama, entah kenapa bisa molor, di jadwal jam 15:50 tapi saya dapatnya hampir jam 6 sore. Saya melihat ada beberapa orang yang bermasalah ketika verifikasi di depan sehingga mereka membutuhkan waktu yang cukup lama. Ketika nama saya dipanggil untuk verifikasi, kemudian saya tunjukkan semua dokumennya dan langsung ok, tidak sampai 5 menit sekitar 3 menitan. Alhamdulillah, verifikasi lancar.

Oya, jangan lupa ya formulir LPDP dan kartunya di cetak kemudian dibawa, sebenarnya informasi-informasi yang diberikan LPDP sangat jelas kok.

Hari ke dua, tanggal 11 Agustus 2016, saya mendapatkan jadwal wawancara alhamdulillah pagi jadi masih fresh. Saya mendapatkan jadwal jam 08:45 dan benar, kalau untuk interview pas banget waktunya sebelum jam itu saya sudah dipanggil untuk datang ke ruangan yang dipakai untuk wawancara, dan disitu masih ngantre sebentar.

Nah…. detik detik… deg-deg an pun terjadi….

Saya masuk, sebelumnya ada petugas yang meminta saya untuk mematikan HP sebelum masuk ruangan. Disitu ruangannya besar dan dibagi menjadi beberapa meja yang isinya ada 3 interviewer dan yang di interview duduk di depannya. Saya mendapatkan nomor meja 10.

Selamat pagi Bapak, Ibu, saya sambil menyalami interviewer.

Ibu yang ditengah, membuka pembicaraan. Baik, sebelum wawancara dimulai saya perkenalkan dulu, saya dari UI kemudian bapak sebelah kiri saya dari UGM, dan sebelah kanan saya dari UNY. (Ibunya menyebutkan semua nama, tapi saya lupa hehee 😀 tapi disitu beliau tidak menyebut siapa yang psikolog, siapa yang ahli dan sebagainya). Kemudian Ibu tadi bilang, nanti wawancaranya akan direkam, tidak keberatan kan?. Tentu saya jawab “Tidak bu”. Baik wawancara saya mulai.

Ibu tadi mengeklik tombol rekorder, kemudian Bapak yang samping Kiri langsung bertanya ke saya.

Mr. Rischan, did you study in Chonnam?

Yes Sir.

Do you have any publication?

Yes Sir, I have 7 international publications. 4 International Journals, 3 international conferences. 5 papers as the first author and 2 papers as the second author. All of them are indexed by Scopus.

Saya sambil ngasih segempok papers yang sudah saya print ke beliau.

From all of your publications, is there any SCI or SCIE papers?

Unfortunately, no Sir. The journals which indexed by Scopus are enough for a master degree but for PhD, they have to publish SCI/E paper if they want to graduate. As I know the journals which indexed by Scopus are not too bad.

Berikut adalah daftar dari publikasi ilmiah saya yang terindex oleh Scopus:

scopus_print

Yes, I know it. Thats good not bad. Sambil buka-buka paper saya, dan memberikan kode ke ibu sampingnya untuk ambil alih. Bapak ini terus membuka-buka paper saya dan menulis sesuatu di catatannya.

Ibu: Do you want to continue your study in SNU (Seoul National University)?

Hmm.. Ok, I want to explain this from first because I think this is very important. Actually, I’ve made a list which contains all professors in Korea who has similar research/activity with me then I tried to rank them based on some keys which I defined before such as the number of international students, the quality of publication, what kind of their projects and etc. This is my list (saya menunjukan list lab-lab yang sudah saya searching sebelumnya). First, I choose SNU because this campus is the best one in Korea. I contacted Prof XX in SNU and then I was waiting for his reply. Until the deadline of LPDP form submission, he did not reply me yet. So, I was positive thinking then I decide to choose SNU as my purpose campus. One week after submission he replied me that there was no PhD position which appropriates with my research topic. He is only one professor in SNU who has research topic which I interested. So, based on this case, I am really sure that the probability I can continue in SNU is very low.

Then I tried to contact one of Professor in Kyung Hee university. His research is very similar with me. Then after we communicate, he agreed that he will accept me as his PhD student. This is the letter statement from him. (kemudian saya memberikan statement letter dari Prof di Kyung Hee ke Ibunya). Jadi sebelum interview saya minta ke Prof untuk membuatkan saya letter statement karena memang kan saya belum punya LoA.

Ibu : This campus is on LPDP list, right?

Me : Absolutely, yes.

Ibu: Ok, your research proposal is about mining and analysing human behaviour, right? As I understand this research has been there for a long time ago. Is this research up to date?

Nah disini kita diskusi panjang lebar, saya lupa lengkapnya seperti apa, dan tentunya juga tidak penting untuk teman-teman karena ini menyangkut topik riset saya. Intinya disini saya benar-benar berusaha untuk meyakinkan bahwa riset saya itu keren. Jujur saja saya suka, karena ibunya terlihat tertarik dengan apa yang saya utarakan, bahkan beliau ngasih masukan-masukan. I am not sure, apakah beliau ini bidangnya sama dengan saya atau tidak hehee.

Habis itu giliran bapak yang dari UNY. Pertanyaannya sepertinya ngetest.

Could you explain to me what is computer science?

Me : jawab blabla bla..

Then what is data mining?

Me : jawab blablabla..

My last question from me, what is the biggest problem that you ever have and then how did you overcome?

Me : My bigest problem in my life is I was born in the society which does not care much about education. Kemudian saya jelaskan panjang lebar, seperti yang sudah saya tulis di essay sukses terbesar dalam hidupku

Then bapaknya mantuk mantuk, dan menyerahkan ke Ibu yang dari UI.

Bapak yang dari UGM: What kind of scholarship which you got previously?

Me: Research scholarship sir.

Hmm,, mantuk-mantuk, Whats your plan for your future?

Me: I have passions in teaching and research. I like study much, I always stay foolish for knowledge and besides of that I also like sharing especially knowledge sharing. So, based on that I think the most suitable job for me is be a lecturer. I hope in the future I can be a lecturer who can inspire all my students.

Ibu yang dari UI: Wait.. wait, when you graduate from master degree? 2016?

Me : No, 2015.

Ibu: So, what did you do after graduate?

Me: After I graduated from master degree I work at one of multinational company which based in cape town, south africa but I work remotely from Indonesia.

Ibu: Why you work on that company? is there any relation with your research?

Me: (sebenarnya sudah saya tebak sih, kalau pertanyaan ini memang agak susah, kan pinginnya jadi dosen habis lulus malah kerja di perusahaan hehee). Disini saya jawab begini.

That was my plan. I want to work after I graduated from master degree for a while like one or two years. The reason is to get a new experience, to understand about working environment in multinational company. And the most interested thing is the key business of this company is open source. I like open source, I like to contribute in open source projects.

Ibu: OK, you said that you wanna be a lecturer, you have been in Korea for two years then you worked in foreign Company. Are you sure, did you know that the salary of lecturer is low?

Me: saya sebenarnya sudah memprediksi akan mengarah ke sini. Saya hanya menjawab. Yes I know it.

Ibu: So, if you know that, why do you still want to be a lecturer? you have many experiences, you can work and get higher salary than be a lecturer?

Me: Hmm.. In my life, life is not about money. That’s my principle.

Ibu: Everyone  says like that. But you never be a lecturer so you never feel it.

Me: I guess the best answer for this is silent. 😦 hehee. She’s correct, and I think thats like statement not a question. 🙂

Ibu: Oke. So, my last question, after graduate from PhD, could you explain what kind of your real contribution for indonesia regarding your research topic.

Me: Ini pertanyaan paling susah. muter-muter pokoknya hehe. Jadi teman-teman bisa mempersiapkan dengan baik kalau ada pertanyaan seperti ini. Intinya beliau bilang. You will do research in the developed country with an advanced topic, so what kind of the real contributions that you will give to Indonesia. As we understand, now, we do not have those industries. We are only be a customer in smartphone industry.

Intinya terakhir saya bilang gini, Indonesia has many software developers, many programmers, how about computer scientist? that is why we always be a follower because the research environment in our country is week compared with another country. If we have high quality and quantity of computer scientist, then we do research in this field I am sure we will not be a follower anymore.

Ibu: Oke, Thank you, this interview is finished, I’ll stop the recorder.

Habis itu Ibunya bilang dengan bahasa Indonesia. Baik sudah selesai ya, tinggal berdoa saja ya semoga bisa lolos.

Me: Baik, terimakasih bu pak, saya boleh meninggalkan kursi ini?

Ibu: Iya silahkan..

Kemudian saya menyalami interviewer dan pergi meninggalkan kursi.

Note: 

* Tentu isi interviewnya tidak saklek seperti diatas, saya menulis ini dengan keterbatasan ingatan saya. hehe, semoga bermanfaat.

 

Kesimpulannya bagi yang mau ke LN ya benar harus dipersiapkan, kalau based on this experience. semuanya FULL ENGLISH. 

Yang jelas, habis interview perasaan saya so-so karena memang disamping saya kurang persiapan, yang dipersiapkan malah tidak ada yang keluar, semuanya menanyakan mengenai riset saya yang saya malah tidak memprediksinya. Untung saja saya print semua papers saya. Dan yang jelas ada dua pertanyaan yang sudah saya bahas diatas yang menurut saya benar-benar susah. Jadi ya saya pasrah saja, berdoa minta yang terbaik pada Allah.

Dan tara….. Alhamdulillah, jam 4 sore tanggal 9 September 2016 saya dapat SMS dan email yang intinya saya lolos. Untuk test LGD dan Essay on the spot silahkan klik linknya ya.

lpdp_lolos_wawancara

 

Tips wawancara LPDP menurut saya ya:

  1. Tetap selalu jadi diri sendiri
  2. Katakan apa adanya, tidak usah ditutup tutupi apalagi berbohong, karena disitu juga ada psikolog yang mengamati bagaimana kita berbicara.
  3. Bagi yang mau S3 mungkin ini bisa jadi referensi, benar-benar harus dimatengin masalah proposal riset dan penelitian sebelumnya.
  4. Menurut saya, berdasarkan interview ini nilai positif yang ada di saya adalah publikasi. Oleh karena itu hampir semua pertanyaan mengenai riset dan publikasi saya, sedikit sekali yang menyinggung persoalan pribadi atau bahkan organisasi.
  5. Santai saja, tidak usah grogi, tetap jaga eye contact, diksi dan intonasi jelas, berbicara secara meyakinkan, mempertahankan argumen kita, dan tetap menjaga sopan santun.

Mungkin itu saja dulu ya, semoga bermanfaat buat teman-teman semuanya. Sukses selalu…

Berikut tulisan-tulisan lainya mengenai seleksi LPDP saya:

  1. Page Khusus semua tentang LPDP.
  2. S3 ku mau kemana? 
  3. Essay sukses terbesar dalam hidupku LPDP
  4. Essay kontribusi bagi Indonesia LPDP
  5. Seleksi administrasi LPDP
  6. LGD dan Essay on the spot LPDP
  7. Pengalaman dan Tips lolos seleksi wawancara LPDP
  8. FAQ Beasiswa (Pertanyaan seputar beasiswa)

 

LGD dan Essay on the spot LPDP

Setelah selesai wawancara, sorenya adalah jadwal Essay on the spot jam 13:50 dan LGD 14:40. Jadi ini seperti satu paket. Saya mendapatkan kelompok 15B. Ketika kelompok 15B dipanggil, saya meninggalkan ruangan dan menuju ke ruang essay dan disitu berkumpul teman-teman sekelompok yang nantinya menjadi satu ruangan ketika LGD.

Setelah masuk ruangan essay, kita akan diberi lembar jawaban dan soal. Ada dua soal dan diminta untuk menulis salah satu. Soalnya berbahasa Indonesia, tapi kita harus membuat essaynya berbahasa Inggris. Soal yang pertama yaitu mengenai Isu tax amnesty dan soal yang kedua mengenai isu konflik di tanjung balai yang bermula dari provokasi di sosial media.

Entah kenapa padahal saya lebih familier dengan istilah-istilah sosial media, tapi saya lebih memilih untuk menulis mengenai tax amnesty, karena jujur saja kalau isu yang agak ke agama nanti malah takut jadi sara. Sayangnya kalau saya harus nulis ulang essay tentang tax amnesty saya disini tentu jelas saya lupa karena saat itu waktu benar-benar mepet. Yang jelas bagi teman-teman yang pernah ikut IELTS writing tentu tidak akan mengalami kesulitan untuk penulisan essay ini.

LGD

Setelah waktu habis dan kita harus meninggalkan ruangan, kita langsung diminta untuk memasuki ruangan sebelahnya yaitu ruangan LGD. Yak tentu, diskusinya harus dengan bahasa inggris. Tiba-tiba ada seorang yang jago ngomong bahasa inggris membuka diskusi dan bersedia jadi moderator dan dia yang ngatur jalannya diskusi.

Intinya sih kalau saya, baik Essay dan LGD yang penting kita sering baca berita saja agar sedikit paham pengenai persoalan akhir-akhir ini yang terjadi di Indonesia.

Untuk topik LGD, kita mendapatkan topik vaksin palsu. Jadi kita diskusi mengenai topik ini.

Jadi, intinya slow saja, tips nya untuk essay on the spot dan LGD dari saya adalah:

  1. Baca berita akhir-akhir ini, bagi yang mau ke LN mending thejakartapost karena kan berbahasa inggris, jadi kita bisa tahu kosa kata di kasus-kasus yang lagi jadi tranding di Indonesia.
  2. Untuk essay on the spot, bagi yang belum pernah nulis essay dengan bahasa inggris tentu pasti kewalahan, jadi kuncinya ya latihan.
  3. Ketika diskusi di LGD, udah PD saja, misal ada teman yang bahasa inggrisnya capcus keren banget, slow saja, yang penting kita berusaha dengan sebaik-baiknya untuk mengutarakan pendapat kita dengan baik dan benar.

Saya kira cukup yah, semoga bermanfaat tulisan ini.

Berikut tulisan-tulisan lainya mengenai seleksi LPDP saya:

  1. Page Khusus semua tentang LPDP.
  2. S3 ku mau kemana? 
  3. Essay sukses terbesar dalam hidupku LPDP
  4. Essay kontribusi bagi Indonesia LPDP
  5. Seleksi administrasi LPDP
  6. LGD dan Essay on the spot LPDP
  7. Pengalaman dan Tips lolos seleksi wawancara LPDP
  8. FAQ Beasiswa (Pertanyaan seputar beasiswa)

Seleksi Administrasi LPDP

Awal bulan Juli 2016, terjadi diskusi dengan mertua saya tentang S3 saya mau kemana yang sudah saya tulis disini . Akhirnya setelah diskusi dengan istri, orang tua saya, saya putuskan untuk mencoba mendaftar LPDP hehee. Jujur saja, sebenarnya saya ketika mau memilih LPDP benar-benar berpikir secara matang. Saya sadar, kalau beasiswa ini itu dari uang rakyat, dan ini bukan diberikan secara cuma-cuma, melainkan seperti pinjaman yang nantinya harus dikembalikan ke Indonesia dengan bentuk kontribusi setelah selesai studi. Maka dari itu, karena ini duit rakyat tentu saya harus benar-benar meluruskan niat, dan berniat untuk tidak main-main.

Kemudian bismillah mantap memilih LPDP, saya coba googling tentang jadwal LPDP. Berikut jadwal LPDP untuk tahun 2016.

screen-shot-2016-09-15-at-6-13-54-am

Nah, waduh, ternyata pada saat itu periode III pun sudah sangat mepet dan masalahnya saya belum test TOEFL, toefl saya sudah expired, karena terakhir tes kan tahun 2013 sebelum berangkat ke Korea. Akhirnya saya coba download Booklet LPDP, jadi silahkan bagi teman-teman untuk mendownload buku Panduan LPDP di link ini. Setelah baca buku panduan tersebut saya baru tahu kalau untuk lulusan Luar Negeri yang memakai bahasa inggris bisa langsung mendaftar LPDP tanpa melampirkan sertifikat TOEFL asal sebelum 2 tahun terhitung sejak lulus.

Wah jadi langsung semangat saya, hehee. Akhirnya tanggal 9 Juli saya mendaftar akun LPDP dan mulai mengisi isian LPDP. Ternyata setelah login banyak banget yang harus diisi. Tips dari saya buat teman-teman yaitu jangan mencontoh saya ya, persiapkan baik-baik daftarnya jangan terlalu mendadak :).

Saat itu saya juga deg-deg an karena walaupun dulu saya cukup aktif di kampus kemudian punya banyak piagam dan sertifikat tapi saya tidak bisa membuktikannya karena saya kehilangan semua sertifikat itu dulu pas habis ngurus visa di jakarta tahun 2013. Tapi ya bismillah saja.

Isian di LPDP banyak, dari mulai data diri, data keluarga, data sekolah, data organisasi, publikasi dan karya ilmiah, proposal riset bagi yang daftar S3, dan study plan bagi yang daftar S2, semuanya harus di isi lengkap yah. Oh iya harus buat essay juga essay kontribusiku untuk indonesia dan essay sukses terbesar dalam hidupku. Saya juga sudah menulis untuk tips-tips menulis essay baik essay kontribusiku untuk indonesia dan sukese terbesar dalam hidup. Silahkan bisa di klik linknya.

Dokumen-dokumen yang harus di persiapkan:

  1. Proposal penelitian bagi yang mau lanjut S3 dan study plan bagi yang mau lanjut S2.
  2. Ijazah dan transkrip nilai dari pendidikan terakhir. Karena saya mau daftar S3 jadi yang saya upload ijazah dan transkrip S2 saya.
  3. Sertifikat bahasa Asing, untuk kasus saya karena saya tidak punya sertifikat yang paling baru, dan saya memang bisa mendaftar tanpa sertifikat bahasa asing karena sebelumnya S2 saya di LN. Tapi tetap saja di form upload untuk sertifikat bahasa asing (TOEFL atau IELTS) harus di isi. Jadi saya upload ijazah S2 saya (kalau kita baca dengan cermat di buku panduan LPDP ada keterangan sertifikat bahasa asing bisa diganti dengan ijazah bahasa inggris).
  4. Surat Pernyataan sesuai dengan format LPDP, silahkan formatnya dilihat di buku panduan LPDP, ditanda tangani diatas materai.
  5. Surat Ijin Belajar sesuai format LPDP (bagi yang sedang bekerja).
  6. Surat Rekomendasi sesuai format LPDP. Untuk surat rekomendasi ini carilah dosen atau tokoh masyarakat yang benar-benar kenal baik dengan kita. Saya minta rekomendasi dari Pak Agus Mulyanto, M.Kom, beliau dulu menjabat kaprodi Informatik UIN Sunan Kalijaga saat saya masih aktif di organisasi. Jadi beliau tau betul dengan saya, karena saya juga sering berinteraksi dengan beliau.
  7. LOA Conditional / Unconditional yang masih berlaku, bagi yang memiliki LoA diluar Perguruan Tinggi daftar LPDP tidak diperbolehkan mengunggah/upload. Nah untuk LoA saya juga tidak punya hahaha. jadi tidak ada yang saya upload. JADI INTINYA LOA TIDAK WAJIB ADA. Tapi itu bisa menjadi nilai plus bagi yang sudah punya.
  8. Kartu Tanda Penduduk (KTP), ini pas verifikasi dokumen benar-benar jangan sampai ketinggalan ya, kalau ada apa-apa dengan KTP misal hilang dsb harus minta surat pengantar dari capil.
  9. Surat keterangan sehat dan bebas narkoba (maksimal 3 hari selesai), kalau yang mau ke LN harus ada surat keterangan bebas TBC. Semuanya harus dari RS Pemerintah.

Semua dokumen tersebut di scan satu satu kemudian di upload di isian web LPDP. Dokumen-dokumen diatas harus di bawa versi aslinya ketika verifikasi dokumen. Jadi yang diverifikasi hanyalah dokumen-dokumen diatas tidak semua sertifikat (tapi bisa jadi sertifikat bisa di tanyakan oleh interviewer saat wawancara).

Oya untuk masalah LoA, saya belum punya LoA pada saat itu dan baru mulai mencari Professor dengan mengkontak professor satu-satu. Saat saya submit saya sedang menunggu jawaban dari salah satu Professor di SNU (Professor di graph mining), Labnya bagus tapi tidak begitu linier dengan apa yang saya kerjakan di S2. Jadi pada saat itu karena belum dapat jawaban dari SNU (Seoul National University), saya memutuskan untuk menulis SNU di pilihan kampus di form LPDP. Eh ternyata dapat balasan selang beberapa hari setelah saya submit kalau Profnya bilang kalau di Labnya tidak ada riset yang cocok buat saya setelah liat publikasi S2 saya, kata beliau. Jadi seperti itu kawan ketika milih kampus buat S3 hehee.

Setelah semua isian sudah terisi, dan silahkan bisa di check sekali atau dua kali atau berkali-kali apakah semua isian sudah diisi dengan baik. Kalau sudah mantap tinggal submit.

Nah, tinggal nunggu pengumuman untuk seleksi administrasi. Tepat tanggal 27 Juli, pada hari itu saya sering buka-buka email tapi dari pagi belum ada pengumumannya, baru jam 10an malam ada pengumumannya kalau saya lolos seleksi administrasi. (Pengumuman di email dan di SMS juga). Setelah itu kita bisa check di web, dan bisa lihat jadwal untuk wawancara LPDP, essay on the spot, dan LGD LPDP.

lpdp_lolos_administrasi

 

Tips dari saya:

  1. Tulis apa adanya jangan sampai ada pemalsuan data, karena itu akan berakibat fatal
  2. Jangan melakukan pengisian secara mendadak (seperti saya), persiapkanlah jauh-jauh hari kemudian baca berulang lagi ketika selang beberapa hari. Dokumen yang harus di submit juga surat sehat bebas narkoba dan TBC tentu tidak bisa mendadak. Selain itu juga kita harus buat proposal penelitian atau study plan bagi yang mau lanjut S2 belum lagi essay sukses terbesar dalam hidupku dan essay kontribusiku untuk indonesia, tentu semua itu akan sangat susah jika dilakukan mendadak. Hehee. Tapi kalau tipikal teman-teman kayak saya yang deadliner ya silahkan, resiko tanggung penumpang hehe.
  3. Baca Buku Panduan LPDP dengan cermat, semua informasi mengenai pengisian dan lain-lain ada disana.
  4. Untuk essay, proposal penelitian atau studi plan di tulis dengan baik yak disamping isi/kontennya bagus, bahasanya juga sesuai EYD.
  5. LoA tidak harus tapi kalau sudah ada LoA jelas itu lebih baik.

 

Berikut tulisan-tulisan lainya mengenai seleksi LPDP saya:

  1. Page Khusus semua tentang LPDP.
  2. S3 ku mau kemana? 
  3. Essay sukses terbesar dalam hidupku LPDP
  4. Essay kontribusi bagi Indonesia LPDP
  5. Seleksi administrasi LPDP
  6. LGD dan Essay on the spot LPDP
  7. Pengalaman dan Tips lolos seleksi wawancara LPDP
  8. FAQ Beasiswa (Pertanyaan seputar beasiswa)