Seleksi Administrasi LPDP

Awal bulan Juli 2016, terjadi diskusi dengan mertua saya tentang S3 saya mau kemana yang sudah saya tulis disini . Akhirnya setelah diskusi dengan istri, orang tua saya, saya putuskan untuk mencoba mendaftar LPDP hehee. Jujur saja, sebenarnya saya ketika mau memilih LPDP benar-benar berpikir secara matang. Saya sadar, kalau beasiswa ini itu dari uang rakyat, dan ini bukan diberikan secara cuma-cuma, melainkan seperti pinjaman yang nantinya harus dikembalikan ke Indonesia dengan bentuk kontribusi setelah selesai studi. Maka dari itu, karena ini duit rakyat tentu saya harus benar-benar meluruskan niat, dan berniat untuk tidak main-main.

Kemudian bismillah mantap memilih LPDP, saya coba googling tentang jadwal LPDP. Berikut jadwal LPDP untuk tahun 2016.

screen-shot-2016-09-15-at-6-13-54-am

Nah, waduh, ternyata pada saat itu periode III pun sudah sangat mepet dan masalahnya saya belum test TOEFL, toefl saya sudah expired, karena terakhir tes kan tahun 2013 sebelum berangkat ke Korea. Akhirnya saya coba download Booklet LPDP, jadi silahkan bagi teman-teman untuk mendownload buku Panduan LPDP di link ini. Setelah baca buku panduan tersebut saya baru tahu kalau untuk lulusan Luar Negeri yang memakai bahasa inggris bisa langsung mendaftar LPDP tanpa melampirkan sertifikat TOEFL asal sebelum 2 tahun terhitung sejak lulus.

Wah jadi langsung semangat saya, hehee. Akhirnya tanggal 9 Juli saya mendaftar akun LPDP dan mulai mengisi isian LPDP. Ternyata setelah login banyak banget yang harus diisi. Tips dari saya buat teman-teman yaitu jangan mencontoh saya ya, persiapkan baik-baik daftarnya jangan terlalu mendadak :).

Saat itu saya juga deg-deg an karena walaupun dulu saya cukup aktif di kampus kemudian punya banyak piagam dan sertifikat tapi saya tidak bisa membuktikannya karena saya kehilangan semua sertifikat itu dulu pas habis ngurus visa di jakarta tahun 2013. Tapi ya bismillah saja.

Isian di LPDP banyak, dari mulai data diri, data keluarga, data sekolah, data organisasi, publikasi dan karya ilmiah, proposal riset bagi yang daftar S3, dan study plan bagi yang daftar S2, semuanya harus di isi lengkap yah. Oh iya harus buat essay juga essay kontribusiku untuk indonesia dan essay sukses terbesar dalam hidupku. Saya juga sudah menulis untuk tips-tips menulis essay baik essay kontribusiku untuk indonesia dan sukese terbesar dalam hidup. Silahkan bisa di klik linknya.

Dokumen-dokumen yang harus di persiapkan:

  1. Proposal penelitian bagi yang mau lanjut S3 dan study plan bagi yang mau lanjut S2.
  2. Ijazah dan transkrip nilai dari pendidikan terakhir. Karena saya mau daftar S3 jadi yang saya upload ijazah dan transkrip S2 saya.
  3. Sertifikat bahasa Asing, untuk kasus saya karena saya tidak punya sertifikat yang paling baru, dan saya memang bisa mendaftar tanpa sertifikat bahasa asing karena sebelumnya S2 saya di LN. Tapi tetap saja di form upload untuk sertifikat bahasa asing (TOEFL atau IELTS) harus di isi. Jadi saya upload ijazah S2 saya (kalau kita baca dengan cermat di buku panduan LPDP ada keterangan sertifikat bahasa asing bisa diganti dengan ijazah bahasa inggris).
  4. Surat Pernyataan sesuai dengan format LPDP, silahkan formatnya dilihat di buku panduan LPDP, ditanda tangani diatas materai.
  5. Surat Ijin Belajar sesuai format LPDP (bagi yang sedang bekerja).
  6. Surat Rekomendasi sesuai format LPDP. Untuk surat rekomendasi ini carilah dosen atau tokoh masyarakat yang benar-benar kenal baik dengan kita. Saya minta rekomendasi dari Pak Agus Mulyanto, M.Kom, beliau dulu menjabat kaprodi Informatik UIN Sunan Kalijaga saat saya masih aktif di organisasi. Jadi beliau tau betul dengan saya, karena saya juga sering berinteraksi dengan beliau.
  7. LOA Conditional / Unconditional yang masih berlaku, bagi yang memiliki LoA diluar Perguruan Tinggi daftar LPDP tidak diperbolehkan mengunggah/upload. Nah untuk LoA saya juga tidak punya hahaha. jadi tidak ada yang saya upload. JADI INTINYA LOA TIDAK WAJIB ADA. Tapi itu bisa menjadi nilai plus bagi yang sudah punya.
  8. Kartu Tanda Penduduk (KTP), ini pas verifikasi dokumen benar-benar jangan sampai ketinggalan ya, kalau ada apa-apa dengan KTP misal hilang dsb harus minta surat pengantar dari capil.
  9. Surat keterangan sehat dan bebas narkoba (maksimal 3 hari selesai), kalau yang mau ke LN harus ada surat keterangan bebas TBC. Semuanya harus dari RS Pemerintah.

Semua dokumen tersebut di scan satu satu kemudian di upload di isian web LPDP. Dokumen-dokumen diatas harus di bawa versi aslinya ketika verifikasi dokumen. Jadi yang diverifikasi hanyalah dokumen-dokumen diatas tidak semua sertifikat (tapi bisa jadi sertifikat bisa di tanyakan oleh interviewer saat wawancara).

Oya untuk masalah LoA, saya belum punya LoA pada saat itu dan baru mulai mencari Professor dengan mengkontak professor satu-satu. Saat saya submit saya sedang menunggu jawaban dari salah satu Professor di SNU (Professor di graph mining), Labnya bagus tapi tidak begitu linier dengan apa yang saya kerjakan di S2. Jadi pada saat itu karena belum dapat jawaban dari SNU (Seoul National University), saya memutuskan untuk menulis SNU di pilihan kampus di form LPDP. Eh ternyata dapat balasan selang beberapa hari setelah saya submit kalau Profnya bilang kalau di Labnya tidak ada riset yang cocok buat saya setelah liat publikasi S2 saya, kata beliau. Jadi seperti itu kawan ketika milih kampus buat S3 hehee.

Setelah semua isian sudah terisi, dan silahkan bisa di check sekali atau dua kali atau berkali-kali apakah semua isian sudah diisi dengan baik. Kalau sudah mantap tinggal submit.

Nah, tinggal nunggu pengumuman untuk seleksi administrasi. Tepat tanggal 27 Juli, pada hari itu saya sering buka-buka email tapi dari pagi belum ada pengumumannya, baru jam 10an malam ada pengumumannya kalau saya lolos seleksi administrasi. (Pengumuman di email dan di SMS juga). Setelah itu kita bisa check di web, dan bisa lihat jadwal untuk wawancara LPDP, essay on the spot, dan LGD LPDP.

lpdp_lolos_administrasi

Tips dari saya:

  1. Tulis apa adanya jangan sampai ada pemalsuan data, karena itu akan berakibat fatal
  2. Jangan melakukan pengisian secara mendadak (seperti saya), persiapkanlah jauh-jauh hari kemudian baca berulang lagi ketika selang beberapa hari. Dokumen yang harus di submit juga surat sehat bebas narkoba dan TBC tentu tidak bisa mendadak. Selain itu juga kita harus buat proposal penelitian atau study plan bagi yang mau lanjut S2 belum lagi essay sukses terbesar dalam hidupku dan essay kontribusiku untuk indonesia, tentu semua itu akan sangat susah jika dilakukan mendadak. Hehee. Tapi kalau tipikal teman-teman kayak saya yang deadliner ya silahkan, resiko tanggung penumpang hehe.
  3. Baca Buku Panduan LPDP dengan cermat, semua informasi mengenai pengisian dan lain-lain ada disana.
  4. Untuk essay, proposal penelitian atau studi plan di tulis dengan baik yak disamping isi/kontennya bagus, bahasanya juga sesuai EYD.
  5. LoA tidak harus tapi kalau sudah ada LoA jelas itu lebih baik.

Berikut tulisan-tulisan lainya mengenai seleksi LPDP saya:

  1. Page Khusus semua tentang LPDP.
  2. S3 ku mau kemana? 
  3. Essay sukses terbesar dalam hidupku LPDP
  4. Essay kontribusi bagi Indonesia LPDP
  5. Seleksi administrasi LPDP
  6. LGD dan Essay on the spot LPDP
  7. Pengalaman dan Tips lolos seleksi wawancara LPDP
  8. FAQ Beasiswa (Pertanyaan seputar beasiswa)

Mau mengundang kak Rischan jadi pembicara/pengisi acara? silahkan buka link ini.

Essay Kontribusiku bagi Indonesia LPDP

Hampir sama dengan postingan sebelumnya juga, sepertinya untuk tips menulis essay saya bukan ahlinya, jadi langsung saya post saja ya contoh essay Kontribusiku bagi Indonesia saya.

Silahkan bisa dibaca dibawah ini:

Berdasarkan data BPS tahun 2012, jumlah mahasiswa Indonesia adalah 4,8 juta orang. Jika jumlah tersebut dibandingkan dengan populasi penduduk berusia 19-24 tahun, maka hanya 18,4 persen. Jumlah ini masih tertinggal jauh dibandingkan negara-negara maju. Saya bersyukur karena saya termasuk di dalam 18,4 persen itu. Tuhan memberi kesempatan bagi saya untuk bisa merasakan bangku kuliah. Tidak hanya itu, saya pun bisa merasakan kuliah di luar negeri dengan beasiswa (research scholarship), bahkan selama saya kuliah di Korea saya bisa mengunjungi 6 negara lain untuk seminar (conference). Berdasarkan pengamatan saya, memang benar bahwa kemajuan sebuah negara berbanding lurus dengan kualitas SDM negara itu sendiri. Contohnya adalah Korea Selatan, negara yang luas wilayahnya lebih kecil dari luas pulau jawa, tidak mempunyai sumber daya alam tetapi karena SDMnya berkualitas, negaranya pun menjadi negara yang berkualitas. Berdasarkan data dari Global Education Digest pada tahun 2010 Korea Selatan termasuk negara dengan persentase jumlah sarjana tertinggi di dunia bahkan di samping itu hampir seluruh siswa SMA di Korea Selatan melanjutkan ke perguruan tinggi.

Dalam persoalan pendidikan, pemerintah Indonesia juga sudah berusaha dengan baik untuk meningkatkan kualitas SDM rakyatnya, sebagai contoh seperti program beasiswa LPDP ini, kemudian untuk tingkat S1 ada Bidik Misi dan sebagainya. Tetapi tetap saja karena jumlah penduduk Indonesia yang besar, masih banyak pemuda kita yang belum mendapatkan kesempatan untuk merasakan bangku kuliah atau mungkin bisa merasakan bangku kuliah tetapi harus sambil bekerja karena biaya kuliah yang cukup tinggi. Saya ketika kuliah S1 harus tinggal di Masjid sebagai takmir dan juga banting tulang mencari uang untuk makan karena beasiswa yang saya dapatkan hanya meng-cover uang SPP. Pada akhirnya saya pun sadar yang bernasib seperti saya itu ternyata banyak.

Dari hal itulah, akhir tahun 2014, saya dan beberapa teman alumni dari TIF UIN Sunan Kalijaga berdiskusi di Whatsapp, saat itu saya masih di Korea. Kami­ akhirnya sepakat untuk merintis Beastudi untuk adik-adik kelas kami di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Saat ini donaturnya sudah cukup banyak, rata-rata dari teman satu angkatan. Wadah ini kami beri nama komunitas BelajarSedekah. Saat ini program yang sudah berjalan secara rutin adalah Beasiswa Pandawa (beastudi untuk mahasiswa UIN) dan dropbooks (kami biasanya bekerjasama dengan KKN UGM untuk pembangunan taman baca di Indonesia timur). Pemberian beasiswa ini adalah untuk mereka yang nasibnya seperti saya dulu semasa kuliah S1.  Keahlian saya pun saya manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Riset saya adalah tentang social computing. Saya memiliki akun Facebook Fanpage dan Twitter yang mempunyai ratusan ribu followers yang biasanya saya gunakan untuk membagi informasi beasiswa dan informasi yang bermanfaat lainnya. Baru-baru ini, kami membuka donasi buku untuk pembangunan taman baca di Sugapa Papua. Saya memposting informasi itu di page saya dan responnya sangat menarik, alhamdulillah, terkumpul cukup banyak buku layak baca dari para donatur.

Saat ini, di samping saya sibuk bekerja, saya masih sering diminta oleh teman-teman di perguruan tinggi, komunitas atau lainnya untuk mengisi seminar mengenai beasiswa. Dua bulan terakhir, saya mengisi seminar beasiswa di tiga tempat yaitu di UIN Jogja, Komunitas Ilmu Berbagi, dan UMY. Memang sudah menjadi karakter dari saya yaitu sangat menyukai sharing, khususnya knowledge sharing. Saya sangat senang ketika ada orang yang dengan informasi yang saya sampaikan dia bisa termotivasi atau dapat mewujudkan keinginannya. Blog, email, dan Facebook saya pun setiap hari ramai pertanyaan mengenai beasiswa. Salah satu hal yang membuat saya bahagia adalah ketika ada yang mengirim email atau chat kemudian mengatakan “Terimakasih mas atas bantuannya, saya sudah di terima di kampus ini dengan beasiswa ini.” Saya hanya ingin banyak adik-adik saya di Indonesia bisa merasakan bangku kuliah bahkan bisa menempuh pendidikan di luar negeri. Saya yakin dengan banyaknya pemuda Indonesia yang berpendidikan, suatu saat kualitas SDM negara kita bisa seperti negara-negara maju dan bisa membangun negeri ini sesuai dengan cita-cita pendiri bangsa ini. Bagi saya, kebahagiaan adalah ketika apa-apa yang kita punya bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Kaya adalah bukan seberapa banyak yang kita punya, tetapi kaya adalah seberapa banyak yang kita beri. Semoga saya bisa senantiasa berkontribusi untuk negeri ini.

  • Update : saat ini saya juga diminta teman-teman Sahabatbeasiswa untuk menjadi pembina di SB chapter Bogor.
    Kemaren sempet juga mengisi acara Beasiswa di SB Bogor bisa di buka di tautan berikut ini.

Jadi tips dari saya:

  1. Jadilah diri sendiri
  2. Tulis dengan EYD, walaupun konten atau isinya bagus tetap harus sesuai EYD yah.
  3. Jangan mendadak, kalau bisa setelah menulis selang satu atau dua minggu setelah kita lupa kemudian dibaca ulang lagi. Jangan seperti saya yang mendadak.
  4. Minta orang lain untuk membaca essay kita dan minta koreksinya. Nah disini saya minta istri saya untuk mbenerin EYDnya, ternyata banyak juga yang salah, hehee. Jadi banyak yang dibenerin sama istri saya. Jadi silahkan bisa nyari istri dulu bagi yang belum punya #eh #keceplosan. lagiii * lupakan…. keceplosan kok berulang hehehe

Semoga sukses.

Berikut tulisan-tulisan lainya mengenai seleksi LPDP saya:

  1. Page Khusus semua tentang LPDP.
  2. S3 ku mau kemana? 
  3. Akhirnya The University of Queensland, Australia adalah kampus S3 saya.
  4. Essay sukses terbesar dalam hidupku LPDP
  5. Essay kontribusi bagi Indonesia LPDP
  6. Seleksi administrasi LPDP
  7. LGD dan Essay on the spot LPDP
  8. Pengalaman dan Tips lolos seleksi wawancara LPDP
  9. FAQ Beasiswa (Pertanyaan seputar beasiswa)

Mau mengundang kak Rischan jadi pembicara/pengisi acara? silahkan buka link ini.

Essay sukses terbesar dalam hidupku LPDP

Di tulisan ini tentu saya tidak akan membahas dengan detail mengani tips untuk membuat essay, ya dikarenakan saya tidak ahli dalam membuat essay. Silahkan teman-teman bisa googling bagaimana sih cara membuat essay yang baik dan benar.

Jujur saja, saya jarang sekali menulis essay. Tapi setelah googling tentang contoh-contoh essay sukses terbesar dalam hidup LPDP, saya jadi bisa menyimpulkan bahwa disini kita harus jadi diri sendiri. Jadi kawan-kawan intinya menurut saya baik essay Sukses terbesar dalam hidupku maupun kontribusiku untuk Indonesia keduanya adalah menceritakan tentang diri pribadi kita, jadi jelas tak akan bisa copy paste, dan itu adalah cerita cerminan dari dalam diri.

Setelah itu, ya sudah saya langsung tulis saja, dan yang jelas saya juga sudah terdesak oleh waktu hehee. Nah kalau mau lihat essay saya seperti ini. Siapa tau bermanfaat. Jadi inti dari essay saya ya saya ambil dari tulisan di blog ini juga hehe.

Saya dilahirkan dan dibesarkan oleh orang tua yang luar biasa. Bapak saya adalah petani tembakau, beliau tidak lulus SD dan Ibu saya adalah ibu rumah tangga yang biasanya menjadi buruh “nganjang” ketika musim tembakau. Saya biasa memanggil Bapak dengan sebutan Pak’e dan Ibu dengan sebutan Mak’e. Pak’e dan Mak’e adalah inspirasi saya. Saya mempunyai sebuah tulisan tentang perjuangan orang tua saya untuk membesarkan saya di blog yang sampai sekarang sudah ratusan ribu viewers dan tulisan tersebut sudah pernah dimuat di berbagai majalah. Tulisan itulah yang selalu saya jadikan bacaan ketika semangat saya menurun. Salah satu peristiwa yang tidak akan pernah saya lupakan adalah ketika saya sekolah di MTsN (setara SMP). Saya berangkat sekolah menumpang mobil sayur setiap jam setengah 6 pagi karena uang saku yang tidak cukup untuk menaiki angkutan biasa. Sesudah mobil sayur yang saya tumpangi keluar dari desa, saya selalu melihat Mak’e yang sedang berjalan dengan menggendong singkong satu karung yang beratnya bisa sampai 50 kg untuk dijual ke desa sebelah. Sering saya meneteskan air mata karena kejadian itu, saya selalu berjanji di dalam hati untuk selalu membuat Mak’e tersenyum dan bahagia.

Pada masa itu, yang membuat saya lebih sedih lagi adalah omongan tetangga. Saya dilahirkan di masyarakat pegunungan yang sangat kurang perhatian terhadap pendidikan. Ditambah lagi, pada saat itu ada orang yang menyekolahkan anaknya di salah satu SMK swasta di Temanggung, tetapi mereka malah menjadi anak yang kurang baik, maka semakin buruklah penilaian masyarakat desa terhadap sekolah. Saya sering mendengar Mak’e menangis karena mendengar omongan tetangga yang kurang lebih seperti ini “Apa sih gunanya sekolah, lha yo paling besok ujung-ujungnya juga sama saja yaitu nyangkul di sawah atau jadi buruh di sawah.” Sekali lagi di dalam hati, saya selalu berjanji untuk membuktikan bahwa pengorbanan Mak’e selama ini tidak akan pernah sia-sia. Harapan saya sedikit demi sedikit mulai terwujud seperti diterima di SMAN 1 Temanggung dan bisa mendapatkan beasiswa prestasi. Di sekolah inilah saya mempunyai mimpi untuk bisa kuliah di luar negeri, tapi pada saat itu Tuhan belum mengabulkannya. Saya diterima di UNDIP setelah lulus dari SMA tetapi saya harus melepasnya karena pada saat itu orang tua saya tidak punya biaya sepeser pun untuk biaya hidup saya di Semarang. Saya tidak patah semangat, satu tahun saya bekerja, menabung untuk kuliah dan untuk biaya hidup besok ketika kuliah. Di tahun berikutnya jalan itu tampak dan ternyata di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Saya tidak menyangka dengan IPK 3,74 dan lulus dalam waktu tiga tahun empat bulan saya mejadi lulusan terbaik tercepat Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga periode April 2013. Ketika menghadiri prosesi wisuda saya sudah meminta Pak’e dan Mak’e untuk duduk di lantai dua agar bisa menyaksikan anaknya lebih jelas dan mempermudah saya untuk mencari nantinya karena pintu masuk kami berbeda (Mak’e dan Pak’e tidak pernah menghadiri acara seperti itu dan mereka juga tidak bisa menggunakan hp pada saat itu, jadi saya khawatir). Pak’e dan Mak’e bingung ketika memasuki gedung karena petugas meminta mereka duduk di lantai satu. Ternyata saya tidak tahu kalau undangan untuk orang tua saya berbeda yaitu berpitakan emas, jadi duduknya di lantai satu di kursi depan jadi sangat jelas bisa melihat anaknya. Ketika saya dipanggil maju untuk diberi penghargaan, MC pun meminta Mak’e dan Pak’e berdiri. Saya melihat mata Mak’e dan Pak’e dipenuhi dengan air mata bahagia dan saya pun ikut meneteskan air mata. Tepat tanggal 6 April 2013 saya diwisuda dan dua minggu kemudian saya mendapatkan email kalau saya diterima di Chonnam National University dengan beasiswa penuh (research scholarship), betapa bahagianya saat itu kami sekeluarga.

Bahagia rasanya bisa membuat mereka tersenyum, bisa memperbaiki rumah untuk mereka agar mereka nyaman tinggal di rumah, mendaftarkan tabungan haji untuk mereka, dan membiayai sekolah adik. Saat ini saya sudah membuktikan kepada masyarakat di desa bahwa pendidikan itu penting. Alhamdulillah, sekarang sudah ada beberapa orang yang menyekolahkan anaknya sampai SMA, bahkan ada satu orang yang sekarang sedang kuliah. Beberapa orang juga sering bertanya kepada Mak’e dan Pak’e bagaimana caranya bisa nguliahin anak. Kini Mak’e dan Pak’e telah tersenyum lebar dan masyarakat pun sadar dan sudah bangun dari tidurnya. Bagi saya, kebaikan akan lebih mudah tersampaikan dengan teladan bukan dengan lisan. Semoga saya senantiasa bisa menginspirasi dan membuat orang-orang di sekitar saya tersenyum dan bahagia.

Jadi seperti itulah essay saya, jadi intinya kalau disini sih menurut saya, jadilah diri sendiri. Ok.

Jadi tips dari saya:

  1. Jadilah diri sendiri
  2. Tulis dengan EYD, walaupun konten atau isinya bagus tetap harus sesuai EYD yah.
  3. Jangan mendadak, kalau bisa setelah menulis selang satu atau dua minggu setelah kita lupa kemudian dibaca ulang lagi. Jangan seperti saya yang mendadak.
  4. Minta orang lain untuk membaca essay kita dan minta koreksinya. Nah disini saya minta istri saya untuk mbenerin EYDnya, ternyata banyak juga yang salah, hehee. Jadi banyak yang dibenerin sama istri saya. Jadi silahkan bisa nyari istri dulu bagi yang belum punya #eh #keceplosan. * lupakan…. hehehe

Semoga sukses.

Berikut tulisan-tulisan lainya mengenai seleksi LPDP saya:

  1. S3 ku mau kemana? 
  2. Akhirnya The University of Queensland, Australia adalah kampus S3 saya.
  3. Essay sukses terbesar dalam hidupku LPDP
  4. Essay kontribusi bagi Indonesia LPDP
  5. Seleksi administrasi LPDP
  6. LGD dan Essay on the spot LPDP
  7. Pengalaman dan Tips lolos seleksi wawancara LPDP
  8. FAQ Beasiswa (Pertanyaan seputar beasiswa)

Mau mengundang kak Rischan jadi pembicara/pengisi acara? silahkan buka link ini.

S3 ku mau kemana?

Semenjak saya lulus S2 dari Chonnam National University, Korea, yaitu saya pulang akhir Agustus 2015 dari Korea dan sampai Indonesia pertengahan september 2015 karena tak langsung pulang melainkan mbolang dulu ke Ho Chi Minh, Singapore, dan Malaysia.

Mulai 1 Oktober 2015 saya sudah mulai bekerja di Kartoza (Pty) Ltd . Saya bekerja sebagai software engineer disana, bekerjanya remote dari mana saja dan kapan saja yang penting sehari 8 jam di work days.

Saya memang memutuskan untuk tidak langsung lanjut S3 setelah lulus S2 karena beberapa alasan yaitu yang pertama karena saya ingin menikah, dan saya juga sudah menulis tentang kisah cinta saya di link ini, yang kedua yaitu untuk me-refresh otak, nyari pengalaman kerja, apalagi bekerja di perusahaan asing dan perusahaan yang key business nya open source lagi, kan gue banget hehe. Setelah menikah sekarang saya menetap di Bogor (untuk sementara) sembari menemani istri menyelesaikan skripsi S1 nya.

Bermula dari percakapan dengan mertua saya, entah ada angin apa, tiba-tiba mertua ngajak ngobrol, dan bertanya sebenarnya Rischan itu kedepan ingin jadi apa sih?. Hemmm ya jujur saja saya jawab saya ingin jadi pengajar, karena beberapa alasan:

  1. Bagi saya pengajar itu adalah profesi yang luar biasa, salah satu amal jariah yang tak kan terputus walau kita meninggal adalah ilmu yang bermanfaat. Di dukung dengan kesukaan saya adalah membaca, belajar, penasaran, haus akan ilmu, stay foolish, dan saya ingin agar saya punya amal jariah yang tak terputus maka ilmu yang saya dapat ini tentu harus saya salurkan bukan? hehehe.
  2. Hoby saya adalah belajar, ngoprek, penasaran, makanya kalau saya bekerja full time di perusahaan yang bekerjanya adalah 8 jam perhari, jujur itu mengekang saya. Menjadi pengajar yang tidak full time itu nyaman bagi saya, saya jadi punya banyak waktu untuk keluarga, ngajak anak main, jalan-jalan bareng istri, punya waktu untuk belajar, ngoprek, dan memenuhi rasa penasaran terhadap hal baru. Itulah bahagia menurut saya.
  3. Pengajar ndak harus dosen kok, bisa seperti Prof Yohanes Surya kan?, yang bisa ngedidik anak-anak dari Papua jadi juara olimpiade dunia?. Tapi intinya sepertinya memang karena saya suka berbagi informasi dan ilmu, kemudian suka penasaran dengan hal baru dalam artian riset, dan suka berkecimpung di masyarakat (wah 3 pilar perguruan tinggi donk hehe). Ya besok lihat lah nanti final nya jadi apa, yang penting bisa jadi kepala keluarga yang baik yang bisa menuntun seluruh anggota keluarga ke RidhaNya.

Ok, saat itu, Bapak mertua langsung bilang, jadi dosen ya?. Belum sempat saya jawab beliau melanjutkan. Ya, kalau mau jadi dosen itu harus lanjut S3, sekarang kamu juga belum punya home base kan? (Kampus buat ngajar), nanti kalau kamu sudah punya anak, apalagi lebih dari satu, tanggungan makin banyak, kamu nantinya akan sangat repot untuk melanjutkan S3. Jadi menurut saya, kalau kamu memang mau jadi dosen, lanjutlah S3 secepat mungkin, bisa lanjut ke Korea atau ke tempat lain, untuk beasiswa bisa nyoba LPDP.

Sebenarnya jauh dialam bawah sadar, dulunya saya ingin sekali bisa S3 di UK. Tapi ternyata tak semudah itu, mulailah saya nyoba googling nyari-nyari lab yang cocok buat S3 saya. Hasilnya: Karena saya sudah mempunyai beberapa publikasi internasional (baik journal maupun conference) jadi malah saya agak repot seumpama mau geser ke fokus lain. Sebelumnya riset saya mengenai ubiquitous computing wabil khusus human behavior understanding pake ubiquitous computing intinya gitu. Bisa di lihat disini sisa-sisa pekerjaan saya, tapi sepertinya belum saya update lagi.

Nah, saya sudah nyoba nyari di kampus-kampus UK, sudah saya ublek-ublek ternyata tidak nemu. Dan akhirnya saya nemu lab paling top yang sesuai riset saya di dunia ini. yaitu:

  1. MIT Human Dynamic Laboratory, coba deh liat Profnya. Prof Alex “Sandy” Pentlend gilee kan ni orang.
  2. Lab nya Prof Daniel-gatica Perez di EPFL Swiss

Hmm.. ya dua itu sih dari hasil searching saya. Untuk opsi pertama itu hmmm.. ya saya realistis lah, walaupun saya percaya nothing impossible tapi jujur saja saya realistis, MIT. * helai nafas. yang kedua Swiss butuh IELTS nya 7 kalau ndak salah. Jadi tentu butuh prepare lagi saya. Hmmm.,

Kemudian, tiba-tiba ada pikiran, kenapa tidak nyari ubiquitous computing lab di ASIA ya? coba Ahh..

Ternyata langsung nemu, Ubiquitous Computing Laboratory , Kyung Hee University. Dan ketika saya lihat list publications nya cocok banget dengan apa-apa yang sudah saya lakukan, termasuk on-going projectnya keren!!!, serius. Contohnya Mining Minds bisa di buka di link ini http://www.miningminds.re.kr/english/  Benar-benar mirip dengan riset saya. Akhirnya saya putuskan untuk mengontak Prof nya.

Sebenarnya, sebelumnya saya juga sudah nyari-nyari di SNU tapi singkat cerita tidak ada yang cocok, begitu juga dengan KAIST, karena pinginnya saya kan untuk S3 kalau di Korea bisa di SNU atau KAIST lah hehe, tapi ya karena labnya ndak ada yang cocok ya tentu nyari yang cocok risetnya. Nah jadi ketika mau lanjut S3 ya seperti ini, kita sudah tidak lagi mencari kampus yang TOP tapi nyari lab atau Professor yang TOP dimanapun itu kampusnya.

Setelah, kontak-kontak dengan Prof di Kyung hee tadi, saya mendapatkan informasi dari beliau seperti ini,

My research interest includes Ubiquitous Computing, DB, AI, Data Mining,
Intelligent computing, Cloud Computing, and Context Aware Middleware
(please refer to my web site: http://uclab.khu.ac.kr).

Kyung Hee University is located in 30km South of Seoul metropolitan
area and is ranked on within top 10 research-oriented Universities in
Korea. However, my Ubiquitous Computing Research Group (UCG)
is one of the top research groups in Asia

Ini dari beliau, jadi tambah semangat untuk join ke lab ini. Nah begitulah ceritanya, akhirnya bismillah saya yakin mau daftar beasiswa LPDP.

Semoga nanti mendapatkan kampus yang terbaik menurut Allah. Amiin.

Oya untuk kampus-kampus di Korea Selatan yang terdaftar di LPDP ada 9 kampus sebagai berikut:

  1. Seoul National University Korea Selatan
  2. Korea Advanced Institute of Science and Technology Korea Selatan
  3. Pohang University of Science and Technology Korea Selatan
  4. Yonsei University Korea Selatan
  5. Korea University Korea Selatan
  6. Sungkyunkwan University Korea Selatan
  7. Hanyang University Korea Selatan
  8. Kyung Hee University Korea Selatan
  9. Ewha Womans University Korea Selatan

Untuk daftar kampus lengkap LPDP bisa di lihat di file ini

*UPDATE: Mulai 2017 Kyung Hee University tidak masuk dalam list kampus LPDP, berikut list kampus Korea di LPDP mulai tahun 2017,

campus_list_2017

Untuk daftar lengkap bisa akses file ini

Dalam hidup manusia memang bisa berencana tapi Allah tetap penentunya, akhirnya pilihan kampus S3 saya jatuh ke The University of Queensland (UQ), Brisbane, Australia.  Bagi yang mau membaca lika-liku saya untuk menemukan kampus S3 saya, [silahkan baca tulisan saya ini]

Semoga study PhD saya bisa lancar dan dapat berkontribusi untuk negeri ini.

Daftar kampus LPDP untuk negara Australia sebagai berikut:

  1. Deakin University Australia
  2. James Cook University Australia
  3. Monash University Australia
  4. Murdoch University Australia
  5. Queensland University of Technology (QUT) Australia
  6. RMIT University Australia
  7. The Australian National University Australia
  8. The University of Adelaide Australia
  9. The University of Melbourne Australia
  10. The University of New South Wales (UNSW Australia) Australia
  11. The University of Newcastle, Australia (UoN) Australia
  12. The University of Queensland Australia
  13. The University of Sydney Australia
  14. The University of Western Australia Australia

Untuk World rank university bisa dilihat di sini 

Berikut tulisan-tulisan lainya mengenai seleksi LPDP saya:

  1. Page Khusus semua tentang LPDP.
  2. S3 ku mau kemana? 
  3. Akhirnya The University of Queensland, Australia adalah kampus S3 saya.
  4. Essay sukses terbesar dalam hidupku LPDP
  5. Essay kontribusi bagi Indonesia LPDP
  6. Seleksi administrasi LPDP
  7. LGD dan Essay on the spot LPDP
  8. Pengalaman dan Tips lolos seleksi wawancara LPDP
  9. FAQ Beasiswa (Pertanyaan seputar beasiswa)