Essay sukses terbesar dalam hidupku LPDP

Di tulisan ini tentu saya tidak akan membahas dengan detail mengani tips untuk membuat essay, ya dikarenakan saya tidak ahli dalam membuat essay. Silahkan teman-teman bisa googling bagaimana sih cara membuat essay yang baik dan benar.

Jujur saja, saya jarang sekali menulis essay. Tapi setelah googling tentang contoh-contoh essay sukses terbesar dalam hidup LPDP, saya jadi bisa menyimpulkan bahwa disini kita harus jadi diri sendiri. Jadi kawan-kawan intinya menurut saya baik essay Sukses terbesar dalam hidupku maupun kontribusiku untuk Indonesia keduanya adalah menceritakan tentang diri pribadi kita, jadi jelas tak akan bisa copy paste, dan itu adalah cerita cerminan dari dalam diri.

Setelah itu, ya sudah saya langsung tulis saja, dan yang jelas saya juga sudah terdesak oleh waktu hehee. Nah kalau mau lihat essay saya seperti ini. Siapa tau bermanfaat. Jadi inti dari essay saya ya saya ambil dari tulisan di blog ini juga hehe.

Saya dilahirkan dan dibesarkan oleh orang tua yang luar biasa. Bapak saya adalah petani tembakau, beliau tidak lulus SD dan Ibu saya adalah ibu rumah tangga yang biasanya menjadi buruh “nganjang” ketika musim tembakau. Saya biasa memanggil Bapak dengan sebutan Pak’e dan Ibu dengan sebutan Mak’e. Pak’e dan Mak’e adalah inspirasi saya. Saya mempunyai sebuah tulisan tentang perjuangan orang tua saya untuk membesarkan saya di blog yang sampai sekarang sudah ratusan ribu viewers dan tulisan tersebut sudah pernah dimuat di berbagai majalah. Tulisan itulah yang selalu saya jadikan bacaan ketika semangat saya menurun. Salah satu peristiwa yang tidak akan pernah saya lupakan adalah ketika saya sekolah di MTsN (setara SMP). Saya berangkat sekolah menumpang mobil sayur setiap jam setengah 6 pagi karena uang saku yang tidak cukup untuk menaiki angkutan biasa. Sesudah mobil sayur yang saya tumpangi keluar dari desa, saya selalu melihat Mak’e yang sedang berjalan dengan menggendong singkong satu karung yang beratnya bisa sampai 50 kg untuk dijual ke desa sebelah. Sering saya meneteskan air mata karena kejadian itu, saya selalu berjanji di dalam hati untuk selalu membuat Mak’e tersenyum dan bahagia.

Pada masa itu, yang membuat saya lebih sedih lagi adalah omongan tetangga. Saya dilahirkan di masyarakat pegunungan yang sangat kurang perhatian terhadap pendidikan. Ditambah lagi, pada saat itu ada orang yang menyekolahkan anaknya di salah satu SMK swasta di Temanggung, tetapi mereka malah menjadi anak yang kurang baik, maka semakin buruklah penilaian masyarakat desa terhadap sekolah. Saya sering mendengar Mak’e menangis karena mendengar omongan tetangga yang kurang lebih seperti ini “Apa sih gunanya sekolah, lha yo paling besok ujung-ujungnya juga sama saja yaitu nyangkul di sawah atau jadi buruh di sawah.” Sekali lagi di dalam hati, saya selalu berjanji untuk membuktikan bahwa pengorbanan Mak’e selama ini tidak akan pernah sia-sia. Harapan saya sedikit demi sedikit mulai terwujud seperti diterima di SMAN 1 Temanggung dan bisa mendapatkan beasiswa prestasi. Di sekolah inilah saya mempunyai mimpi untuk bisa kuliah di luar negeri, tapi pada saat itu Tuhan belum mengabulkannya. Saya diterima di UNDIP setelah lulus dari SMA tetapi saya harus melepasnya karena pada saat itu orang tua saya tidak punya biaya sepeser pun untuk biaya hidup saya di Semarang. Saya tidak patah semangat, satu tahun saya bekerja, menabung untuk kuliah dan untuk biaya hidup besok ketika kuliah. Di tahun berikutnya jalan itu tampak dan ternyata di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Saya tidak menyangka dengan IPK 3,74 dan lulus dalam waktu tiga tahun empat bulan saya mejadi lulusan terbaik tercepat Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga periode April 2013. Ketika menghadiri prosesi wisuda saya sudah meminta Pak’e dan Mak’e untuk duduk di lantai dua agar bisa menyaksikan anaknya lebih jelas dan mempermudah saya untuk mencari nantinya karena pintu masuk kami berbeda (Mak’e dan Pak’e tidak pernah menghadiri acara seperti itu dan mereka juga tidak bisa menggunakan hp pada saat itu, jadi saya khawatir). Pak’e dan Mak’e bingung ketika memasuki gedung karena petugas meminta mereka duduk di lantai satu. Ternyata saya tidak tahu kalau undangan untuk orang tua saya berbeda yaitu berpitakan emas, jadi duduknya di lantai satu di kursi depan jadi sangat jelas bisa melihat anaknya. Ketika saya dipanggil maju untuk diberi penghargaan, MC pun meminta Mak’e dan Pak’e berdiri. Saya melihat mata Mak’e dan Pak’e dipenuhi dengan air mata bahagia dan saya pun ikut meneteskan air mata. Tepat tanggal 6 April 2013 saya diwisuda dan dua minggu kemudian saya mendapatkan email kalau saya diterima di Chonnam National University dengan beasiswa penuh (research scholarship), betapa bahagianya saat itu kami sekeluarga.

Bahagia rasanya bisa membuat mereka tersenyum, bisa memperbaiki rumah untuk mereka agar mereka nyaman tinggal di rumah, mendaftarkan tabungan haji untuk mereka, dan membiayai sekolah adik. Saat ini saya sudah membuktikan kepada masyarakat di desa bahwa pendidikan itu penting. Alhamdulillah, sekarang sudah ada beberapa orang yang menyekolahkan anaknya sampai SMA, bahkan ada satu orang yang sekarang sedang kuliah. Beberapa orang juga sering bertanya kepada Mak’e dan Pak’e bagaimana caranya bisa nguliahin anak. Kini Mak’e dan Pak’e telah tersenyum lebar dan masyarakat pun sadar dan sudah bangun dari tidurnya. Bagi saya, kebaikan akan lebih mudah tersampaikan dengan teladan bukan dengan lisan. Semoga saya senantiasa bisa menginspirasi dan membuat orang-orang di sekitar saya tersenyum dan bahagia.

Jadi seperti itulah essay saya, jadi intinya kalau disini sih menurut saya, jadilah diri sendiri. Ok.

Jadi tips dari saya:

  1. Jadilah diri sendiri
  2. Tulis dengan EYD, walaupun konten atau isinya bagus tetap harus sesuai EYD yah.
  3. Jangan mendadak, kalau bisa setelah menulis selang satu atau dua minggu setelah kita lupa kemudian dibaca ulang lagi. Jangan seperti saya yang mendadak.
  4. Minta orang lain untuk membaca essay kita dan minta koreksinya. Nah disini saya minta istri saya untuk mbenerin EYDnya, ternyata banyak juga yang salah, hehee. Jadi banyak yang dibenerin sama istri saya. Jadi silahkan bisa nyari istri dulu bagi yang belum punya #eh #keceplosan. * lupakan…. hehehe

Semoga sukses.

Berikut tulisan-tulisan lainya mengenai seleksi LPDP saya:

  1. S3 ku mau kemana? 
  2. Essay sukses terbesar dalam hidupku LPDP
  3. Essay kontribusi bagi Indonesia LPDP
  4. Seleksi administrasi LPDP
  5. LGD dan Essay on the spot LPDP
  6. Pengalaman dan Tips lolos seleksi wawancara LPDP
  7. FAQ Beasiswa (Pertanyaan seputar beasiswa)

5 thoughts on “Essay sukses terbesar dalam hidupku LPDP

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s