Kelahiran anak pertama

Masih di tanggal 29 Desember 2016, yang belum baca cerita sebelumnya bisa baca dulu disini, karena belum lahir-lahir setelah dari Bidan akhirnya kita jalan-jalan ke Botani Square, ke Gramedia cari buku dan saya ke iBox untuk lihat Macbook pro yang paling baru. Kita muter-muter dan setelah capek, kita ke food court untuk makan, seperti yang sudah saya tebak, istri pesan makanan jepang. hehehe.

Istri saya adalah penggemar  mie dan makanan jepang. Saya sampai bosan menasehatinya karena dia sering makan mie. Istri saya kadang juga tidak terima kalau saya sebut mie, mie dan mie terus. Sebenarnya sih ini salah saya, karena saya tidak bisa membedakan antara mie, bihun, spageti, fettucini. Karena bagi saya yang bentuknya mirip mie ya saya sebut mie hehee. Istri saya kadang sehari cuma makan spageti, jadi kami memang cukup berbeda dalam persoalan selera, istri saya sukanya yang mie mie, eh jangan bilang mie nding hehee. Ya intinya yg mirip mie, sedang saya penyuka nasi hehe. Istri juga suka banget sop-sop an sedang saya sukanya bakaran, entah itu ayam bakar, sate, dkk, maklum lama tinggal di Jogja hobbynya makan SS.

Wah jadi ngalntur kemana-mana. Intinya setelah dari botani square kami capek banget, terus kami pulang. Ketika magrib tiba-tiba istri bilang kalau muncul flek, alhamdulillah batin saya, sepertinya sebentar lagi kami akan bertemu dengan jabang bayi ini. Saat itu istri juga belum mules, saya ya pikirnya masih lama karena ini baru tanda awal. Baik istri maupun saya sudah bertanya-tanya mengenai kelahiran anak pertama baik pada teman maupun orang tua dan pada bidan juga.

Kata orang, kelahiran anak pertama itu lama, bisa memakan waktu 12 jam dari pembukaan 1 sampai 10, jadi ya saya masih santai-santai saja. Tiba-tiba setelah saya pulang dari masjid sholat isya, istri saya sudah tiduran di kasur, katanya tadi ketika mau ngambilin makan saya, air ketubannya ngalir, wuh, saya kaget dan agak panik. Untung semua keperluan untuk melahirkan yang telah di kasih tau sama bidan sudah kami siapkan dalam tas. Kami langsung bilang ke orang tua istri, dan untungnya ada Bapak, di rumah orang tua ada beberapa mobil tapi saya belum bisa nyetir haha. Ya Alhamdulillahnya pas ada bapak soalnya malam hari. Saya kemudian telp bidannya dan bidannya bertanya kontraksinya sudah berapa menit sekali. Istri saya pun sudah menyalakan stop watch di HP untuk menghitung frekuensi kontraksinya. Saya jawab ke bidan tiap tiga menit. Bidannyapun bilang ya sudah di bawa kesini saja. Akhirnya kami antar istri ke bidan.

Jam set 9 malam kami sampai di bidan, istri kemudian di check, pas di check bidannya bilang, iya cairannya positif ketuban dan sekarang sudah pembukaan tiga. Perkiraan juga mungkin masih lama. kami pun diminta untuk ke kamar yang telah disediakan. Detik-detik kontraksi pukul setengah 10 malam itu sungguh menegangkan. Karena ketika belum pembukaan 10, kalau ada kontraksi itu tidak boleh mengejen, harus ditahan dengan ambil nafas dan buang nafas. Istri pun sudah berpesan ketika terjadi kontraksi untuk membisikkan kalimah sahadah di telingannya. Tangan sayapun sampai lecet, kerena di genggam ketika istri menahan ngejen saat kontraksi, bener-bener was-was saya saat itu. Tiba-tiba ditambah lagi istri saya muntah-muntah, wah padahal sebelum ke bidan dia juga belum makan. Habis muntah istri saya benar-benar lemes. Saya hanya selalu berdoa pada Allah agar semuanya lancar. Saya sudah bingung sebenarnya, kalau harus seperti ini sampai besok pagi bagaimana, apakah istri saya kuat? pikir saya.

Saya sudah diberi tips untuk membawa kurma, karena memang buah yang satu ini adalah sumber energi yang bagus, dan untuk memakannya pun tidak repot. Istri saya suapin kurma terus, dan Alhamdulillah tidak lemas lagi. Yang paling menegangkan adalah tiap kali kontraksi, karena saya melihat istri saya benar-benar seperti tersiksa. Kata istri saya itu rasanya pingin banget ngejen tapi harus di tahan, udah gitu perutnya juga nyeri. Ya Allah, sungguh… benar-benar mulia tugas ibu itu, saya jadi teringat mungkin karena inilah sehingga wanita dibebaskan dari berjihad di medan perang. Karena perangnya wanita ya ini, pikir saya.

Pukul 10 malam lebih, istri ngotot pingin ke toilet karena pingin BAB rasanya. Saya pun akhirnya panggil bidannya. Kemudian kami antar ke toilet sambil diawasin sama bidannya untuk hati-hati ngejennya. Setelah dari toilet, istri bilang, katanya benar-benar pingin BAB dan ngejen banget. Akhirnya sama bidannya diminta masuk ke ruang bersalin untuk diperiksa lagi. Saya mengira ya masih di pembukaan 5 atau 6 begitu karena katanya kan lama. Eh pas di periksa, tanpa ngomong apa apa, bidannya langsung memanggil bidan senior yaitu Ibu Srie Dodie, kemudian Ibu Srie mengecek lagi dan ibu srie bilang kalau istri saya sudah siap melahirkan, pembukaannya sudah sempurna.

Istri sayapun dipandu oleh bidan untuk melakukan gerakan melahirkan seperti yang sudah diajarkan di senam, kemudian kepalanya diangkat dan melihat perut. Kemudian di pandu untuk ngejen, tidak lama kemudian, tiba-tiba saya melihat ada bayi yang keluar, kemudian di lap sama bidannya, dan dibersihkan lendirinya pakai alat kemudian bayi tersebut menangis, oleh bidannya kemudian ditaruh di dada istri saya.

Sungguh, waktu itu serasa mimpi, sungguh begitu cepat. Saya benar-benar tidak menyangka akan secepat ini proses kelahirannya. Saya hanya membayangkan ketika istri saya terlihat seperti tersiksa sekali saat kontraksi, dan membayangkan kalau harus menunggu hingga pagi hari. Tepat pukul 10:35 Fatiha lahir, dengan berat 3,7 kg dan panjang 50 cm, bayi yang cukup besar untuk anak pertama dan dengan proses kelahiran normal. Setelah bayi dimandiin sama bidannya kemudian di bedong, istri saya masih rebahan (lagi dijahit) dan bayinyapun dikasih ke saya. Saya pun meng-adzani Fatiha di telinga kanannya, kemudian meng-iqomat inya di telinga kirinya. Saya berdoa pada Allah semoga anak kami ini menjadi anak sholihah.

Alhamdulillah, inilah pertolongan Allah.. saya benar-benar ingat jam 11 kita sudah balik ke kamar, melihat fatiha tidur di dalam kotak. Semalam suntuk saya tidak bisa tidur, saya melihat wajahnya fatiha, kemudian melihat ibunya, seperti itu terus menerus. Saya masih ingat sebelum istri saya datang ke bidan, sudah ada pasien lain yang mau melahirkan juga yang sudah datang terlebih dahulu, dan pasien tersebut melahirkan pukul 3 dini hari. Kata bidannya, proses kelahiran istri saya benar-benar cepat. Saya pun juga berpikir demikian, coba bayangkan habis magrib baru mulai mules, diperiksa bidan pukul setengah 9 masih pembukaan 3 dan alhamdulillah jam setengah 11 sudah lahiran.

Sungguh, kami bersyukur atas segala nikmat yang Allah karuniakan pada kami, semoga kami bisa menjadi orang tua yang amanah. Semoga kami bisa mendidik keturunan kami menjadi generasi yang sholih/sholihah yang bisa menjadi penegak kalimatNya di muka bumi ini.

 

fatiha-bayi

 

Anak kami tersebut, kami aqiqah’i dan kami beri nama Fatiha Firdausi Mafrur. Semoga kelak dia menjadi wanita sholihah dan bisa seperti harapan ayah dan bundanya pada namanya, yaitu sebagai Fatiha: pembuka, alfirdausi : surga firdaus, bagi keluarga Mafrur.

Amiin.

Advertisements

4 thoughts on “Kelahiran anak pertama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s