Membuat visa pelajar ke Australia

Ah kayaknya salah judul deh, bukan Membuat ya? kayak membuat roti saja, tapi. “Mengajukan visa pelajar ke Australia” mungkin yg tepat judulnya. Ya sudah lah tak apa.

Di tulisan ini saya akan share tentang cara membuat visa pelajar ke Australia. Sebenarnya dari dulu saya itu selalu berencana untuk menulis step-step pembuatan visa diantaranya:

  1. Proses pengajuan visa untuk kuliah S2 saya ke Korea Selatan di tahun 2013, tapi belum sampai menulis eh visa yang udah jadi + paspornya digondol maling -> bisa baca di sini 
  2. Tahun 2014 saya ke Guam USA dan harus mengajukan visa ke USA. Sudah menjadi rahasia umum kalau orang Indonesia membuat visa ke USA pasti susah, teman saya pernah mau lomba robot karena nama dia ada kata “Muhammad” visanyapun di reject. Hmm, parah yah, islamphobia banget. Kalau pengalaman saya karena ngajuinnya di Korea yang notabannya adalah negara kawan dg USA. Saya dapat visa USA conference/pariwisata dan multientri, selama 5 tahun. entah sekarang masih bisa apa tidak di president Trump ini, hehe. Saya juga tidak sempat menulisnya karena waktu itu sibuk sekali di lab.
  3. Tahun 2015 saya ke Jepang, karena passpor saya belum e passpor jadi harus ngajuin visa. Ini itungannya gampang dan murah. Oya Visa USA mahal dulu di korea bayar 170,000 won, kalau visa jepang klo tidak salah hanya bayar 40,000 won. Tapi kalau visa jepang ini, ketika visa kita jadi kita harus ambil ke kedutaan besar jepang di Seoul, beda dengan visa USA, ketika jadi visa+paspor kita dikirim via pos ke alamat kita.

Tapi semua rencana di atas tidak tercapai hehe, jadi tak ada tulisan saya tentang hal itu. Dari semua aplikasi-aplikasi visa yang pernah saya ajukan di atas, di tulisan ini saya ingin berbagi cara pengajuan visa Australia.

Ternyata,.. waktu itu setelah saya googling dan tanya-tanya, banyak yang menyarankan saya untuk menggunakan agen untuk pengurusan visa ini. Karena kemungkinan besar lebih cepat diapprove. Menurut saya yang recommended sih IDP.

Bahkan waktu itu saya juga baru tau, IDP juga memfasilitasi apply ke kampus, coba bayangin? gilak kan!! Jadi tinggal kontak saja IDP, minta tolong cariin kampus dan dapetin unconditional LoA, habis itu cari scholarship, kalau dapat, proses visanya minta tolong IDP lagi. Enak bener ya?

Tapi kalau S3 ya susah cari kampus pakai agen hehe, lha wong kita harus nyari Professor yang cocok, interview dengan Prof dulu, kemudian baru apply. Untuk saya sendiri, saya menggunakan jasa IDP hanya untuk pengajuan Visa.

Baiklah begini step-stepnya:

  1. Saya email IDP jakarta, namanya mbk Mia. Saya bilang ke beliau kalau saya sudah dapat unconditional LoA dari UQ + scholarship dari LPDP, saya mulai kuliah (research quarter 4/RQ4) 1 Oktober 2017. Minta tolong untuk membantu dalam pengajuan visa.
  2. Nanti oleh IDP akan dikirim dokumen yang harus diisi, diantaranya ada GTE, form 157A, form 956A dan dokumen lainya (dalam hal ini saya mengajukan visa subclass 500 post graduate sector)
  3. Semua dokumen diisi dan ada beberapa dokumen yang harus dikirim atau diserahkan langsung ke Jakarta waktu itu karena dokumen memerlukan tanda tangan asli. Kebetulan waktu itu IDP mengadakan program pre-departure ke Aussie, acaranya di mana ya.. lupa saya tempatnya. Jadi saya hadir di acara itu sembari menyerahkan dokumen yang tidak bisa dikirim via email.
  4. Setelah semua dokumen persyaratan sudah dikirim semua, kemudian nanti IDP akan mengajukan applikasi visa kita. Saat itu IDP mengajukan aplikasi saya tanggal 20 Juni 2017. Setelah aplikasi visa kita diajukan nanti kita akan menerima notifikasi aplikasi visa kita via email.
  5. Setelah ini tinggal bayar deh, bayarnya 550 AUD, karena saya tidak punya kartu kredit dan agar lebih mudah dalam pembayaran ya sudah makanya saya pakai IDP. Saya minta tolong IDP untuk membayarkannya dan saya membayar dalam bentuk rupiah ke IDP Jakarta.
  6. Setelah itu, IDP akan memberikan kita HAP ID (seperti di gambar bawah ini), dan list dokter serta rumah sakit yang kita harus melakukan check up ke sana. Jadi kita tidak bisa checkup di sembarang RS. Australia sudah punya perwakilan dokter panelis di Indonesia terkait dengan medical checkup untuk persyaratan visa ini. 
  7. Setelah itu, tanggal 21 Juni 2017 saya ke RS Premier Jatinegara Jakarta, karena itu RS yg masuk dalam list dan yang paling dekat dengan lokasi saya (Bogor). Pas ke RS tinggal bawa HAP ID dan passpor saja, bilang kalau mau buat visa aussie. Untuk biaya medical check up cukup mahal yaitu 900 ribu rupiah, yang meliputi general checkup, mata, gigi, urin, dan rongten paru-paru. Waktu itu check urin saya harus ngulang dua kali karena saat itu saya sedang berpuasa jadi kurang air. Saya sarankan ketika mau medical checkup tidak dalam kondisi berpuasa dan tidak dalam kondisi kurang air.
  8. Tanggal 22 Juni 2017  saya dapat email dan saya kaget. Ternyata visa saya sudah jadi!!!!. Padahal kalau saya lihat di Border AU rata-rata pengajuan visa untuk postgraduate students itu sekitar 45 hari. Hehe. Alhamdulillah….

Oya, jangan kaget, dulu saya kaget sih, karena visa di Australia semuanya adalah e-visa, jadi kita tidak perlu membawa paspor kita ke dubes australia di Jakarta kemudian visanya akan ditempel di paspor kita. Itu tidak perlu!!.

Jadi visanya bentuknya file, dikirim via email hehehe. Pas nanti di border (bandara) mau masuk ke Aussie ya tinggal tunjukin paspor saja, dan sudah tidak ada cap di paspor, jadi jangan berharap di cap hehe.

Begitulah pengalaman saya dalam pengajuan visa student ke australia, bagi teman-teman yang mau mengajukan visa tidak via agent alias sendiri juga bisa kok, tinggal ke situs border au dan apply visa via online, submit smua berkas persyaratan dan tarraa!!!. Dulu waktu saya di Korea, untuk pengajuan visa USA, saya ajukan sendiri dan form aplikasi pengisian via onlinenya buanyak banget yang harus diisi.

Oke, sepertinya cukup sampai di sini tulisan untuk hari ini.
semoga bermanfaat…

Brisbane, 23 September 2017

Advertisements

15 thoughts on “Membuat visa pelajar ke Australia

  1. Hi kak
    Untuk persyaratan pembuatan visa kan ada financial capacity requirements yah, apakah kita harus punya tabungan di bank, atau khusus awardee scholarship tinggal kasih bukti kalo kita di cover lpdp?
    Thankyouu

    1. Hallo Arin,

      Klo dapat scholarship tentu ada Letter of Sponsorship atau letter of guarantee

      Nah pakai itu.

      Klo biaya pribadi (orang tua) biasanya melampirkan rekening bank

      Semoga membantu

      1. Begitu ya, saya masih awam kak hehe. Terima kasih infonya.
        Kalau untuk biaya jasa pengurusan visa (ke IDP) berapa ya kak?
        Rencana apply masih tahun depan sih, tp setelah baca2 banyak banget ternyata yang harus dipersiapkan 😂

        1. wah saya lupa.

          Waktu itu saya minta tolong IDP soalnya saya jg tidak punya credit card, jadi susah klo mau bayar sendiri utk biaya visanya.

          Terus minta tolong IDP sekalian dibayarin, kemudian saya transfer ke IDP dalam bentuk rupiah.

          Waktu itu selisihnya tidak banyak kok antara biaya visa dan rupiah yg harus sy transfer,

          Jadi murah.

  2. Informasi yg sangat berguna Mas. Bagaimana untuk pengurusan OSHC? Apakah harus membeli polis OSHC juga untuk mengajukan visa? Terima kasih.

    1. OSHC saya sudah dicover sama LPDP waktu itu, dan minta pihak kampus UQ untuk ngurusin sekalian.

      UQ kerja sama dg Allianz untuk OSHC, klo mau sendiri juga bisa kok, tinggal ke website asuransinya, bayar, setelah itu baru ngajuin visa

      1. Baik Mas. Terima kasih. Pertanyaan kedua.

        Saya juga menyelesaikan S2 di Korea. Apakah ijazah dan transkrip yang dari Korea harus di-apostille-kan dahulu di Kantor Forreign Affair yang di dekat Gwanghamun itu? Atau tidak perlu?

        Kebetulan saya tidak meng-apostille-kan, namun saya punya original certified beberapa lembar. Apakah itu cukup untuk nantinya dipakai saat enrollment ketika sampai di Aussie. Terima kasih Mas

        1. Saya tidak melakukan legalisir/apostile mas/mbk cukup ambil dari mesin di kampus itu untuk ijazah dan transcript.

          Yang asli saya simpan.

          Oya di sini saya tidak perlu membawa ijazah asli, semua aplikasi cukup dengan online submission.

          Dan ijazah saya dari JNU Gwangju juga sudah ada english nya jadi sudah tidakperlu diterjemahkan dsb.

          Semoga bermanfaat

  3. Halo, terima kasih but sharing pengalamannya. 3 hari lalu saya juga submit online student visa untuk Australia (500). Saya apply online sendiri tanpa meminta bantuan IDP atau agent lain. Tapi distitu tertulis estimated processing time 63 days to 86 days. Ini beda banget ya sama pengalaman di atas yang bias dapat kurang dari seminggu.

    1. Klo persyaratannya lengkap semuanya, insyaAllah pasti di approve mbk. hanya saja tidak tahu butuh berapa lama.

      Iya waktu itu saya juga kaget, karena cuma butuh 1 hari sudah jadi visa saya hehe. padahal waktu itu pas saya lihat di situs border au, rata2 pengurusan untuk class 500 postgraduate itu 45an hari. hehe

      Semoga lancar semuanya mbk.,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.