Membuat visa pelajar ke Australia

Ah kayaknya salah judul deh, bukan Membuat ya? kayak membuat roti saja, tapi. “Mengajukan visa pelajar ke Australia” mungkin yg tepat judulnya. Ya sudah lah tak apa.

Di tulisan ini saya akan share tentang cara membuat visa pelajar ke Australia. Sebenarnya dari dulu saya itu selalu berencana untuk menulis step-step pembuatan visa diantaranya:

  1. Proses pengajuan visa untuk kuliah S2 saya ke Korea Selatan di tahun 2013, tapi belum sampai menulis eh visa yang udah jadi + paspornya digondol maling -> bisa baca di sini 
  2. Tahun 2014 saya ke Guam USA dan harus mengajukan visa ke USA. Sudah menjadi rahasia umum kalau orang Indonesia membuat visa ke USA pasti susah, teman saya pernah mau lomba robot karena nama dia ada kata “Muhammad” visanyapun di reject. Hmm, parah yah, islamphobia banget. Kalau pengalaman saya karena ngajuinnya di Korea yang notabannya adalah negara kawan dg USA. Saya dapat visa USA conference/pariwisata dan multientri, selama 5 tahun. entah sekarang masih bisa apa tidak di president Trump ini, hehe. Saya juga tidak sempat menulisnya karena waktu itu sibuk sekali di lab.
  3. Tahun 2015 saya ke Jepang, karena passpor saya belum e passpor jadi harus ngajuin visa. Ini itungannya gampang dan murah. Oya Visa USA mahal dulu di korea bayar 170,000 won, kalau visa jepang klo tidak salah hanya bayar 40,000 won. Tapi kalau visa jepang ini, ketika visa kita jadi kita harus ambil ke kedutaan besar jepang di Seoul, beda dengan visa USA, ketika jadi visa+paspor kita dikirim via pos ke alamat kita.

Tapi semua rencana di atas tidak tercapai hehe, jadi tak ada tulisan saya tentang hal itu. Dari semua aplikasi-aplikasi visa yang pernah saya ajukan di atas, di tulisan ini saya ingin berbagi cara pengajuan visa Australia.

Ternyata,.. waktu itu setelah saya googling dan tanya-tanya, banyak yang menyarankan saya untuk menggunakan agen untuk pengurusan visa ini. Karena kemungkinan besar lebih cepat diapprove. Menurut saya yang recommended sih IDP.

Bahkan waktu itu saya juga baru tau, IDP juga memfasilitasi apply ke kampus, coba bayangin? gilak kan!! Jadi tinggal kontak saja IDP, minta tolong cariin kampus dan dapetin unconditional LoA, habis itu cari scholarship, kalau dapat, proses visanya minta tolong IDP lagi. Enak bener ya?

Tapi kalau S3 ya susah cari kampus pakai agen hehe, lha wong kita harus nyari Professor yang cocok, interview dengan Prof dulu, kemudian baru apply. Untuk saya sendiri, saya menggunakan jasa IDP hanya untuk pengajuan Visa.

Baiklah begini step-stepnya:

  1. Saya email IDP jakarta, namanya mbk Mia. Saya bilang ke beliau kalau saya sudah dapat unconditional LoA dari UQ + scholarship dari LPDP, saya mulai kuliah (research quarter 4/RQ4) 1 Oktober 2017. Minta tolong untuk membantu dalam pengajuan visa.
  2. Nanti oleh IDP akan dikirim dokumen yang harus diisi, diantaranya ada GTE, form 157A, form 956A dan dokumen lainya (dalam hal ini saya mengajukan visa subclass 500 post graduate sector)
  3. Semua dokumen diisi dan ada beberapa dokumen yang harus dikirim atau diserahkan langsung ke Jakarta waktu itu karena dokumen memerlukan tanda tangan asli. Kebetulan waktu itu IDP mengadakan program pre-departure ke Aussie, acaranya di mana ya.. lupa saya tempatnya. Jadi saya hadir di acara itu sembari menyerahkan dokumen yang tidak bisa dikirim via email.
  4. Setelah semua dokumen persyaratan sudah dikirim semua, kemudian nanti IDP akan mengajukan applikasi visa kita. Saat itu IDP mengajukan aplikasi saya tanggal 20 Juni 2017. Setelah aplikasi visa kita diajukan nanti kita akan menerima notifikasi aplikasi visa kita via email.
  5. Setelah ini tinggal bayar deh, bayarnya 550 AUD, karena saya tidak punya kartu kredit dan agar lebih mudah dalam pembayaran ya sudah makanya saya pakai IDP. Saya minta tolong IDP untuk membayarkannya dan saya membayar dalam bentuk rupiah ke IDP Jakarta.
  6. Setelah itu, IDP akan memberikan kita HAP ID (seperti di gambar bawah ini), dan list dokter serta rumah sakit yang kita harus melakukan check up ke sana. Jadi kita tidak bisa checkup di sembarang RS. Australia sudah punya perwakilan dokter panelis di Indonesia terkait dengan medical checkup untuk persyaratan visa ini. 
  7. Setelah itu, tanggal 21 Juni 2017 saya ke RS Premier Jatinegara Jakarta, karena itu RS yg masuk dalam list dan yang paling dekat dengan lokasi saya (Bogor). Pas ke RS tinggal bawa HAP ID dan passpor saja, bilang kalau mau buat visa aussie. Untuk biaya medical check up cukup mahal yaitu 900 ribu rupiah, yang meliputi general checkup, mata, gigi, urin, dan rongten paru-paru. Waktu itu check urin saya harus ngulang dua kali karena saat itu saya sedang berpuasa jadi kurang air. Saya sarankan ketika mau medical checkup tidak dalam kondisi berpuasa dan tidak dalam kondisi kurang air.
  8. Tanggal 22 Juni 2017  saya dapat email dan saya kaget. Ternyata visa saya sudah jadi!!!!. Padahal kalau saya lihat di Border AU rata-rata pengajuan visa untuk postgraduate students itu sekitar 45 hari. Hehe. Alhamdulillah….

Oya, jangan kaget, dulu saya kaget sih, karena visa di Australia semuanya adalah e-visa, jadi kita tidak perlu membawa paspor kita ke dubes australia di Jakarta kemudian visanya akan ditempel di paspor kita. Itu tidak perlu!!.

Jadi visanya bentuknya file, dikirim via email hehehe. Pas nanti di border (bandara) mau masuk ke Aussie ya tinggal tunjukin paspor saja, dan sudah tidak ada cap di paspor, jadi jangan berharap di cap hehe.

Begitulah pengalaman saya dalam pengajuan visa student ke australia, bagi teman-teman yang mau mengajukan visa tidak via agent alias sendiri juga bisa kok, tinggal ke situs border au dan apply visa via online, submit smua berkas persyaratan dan tarraa!!!. Dulu waktu saya di Korea, untuk pengajuan visa USA, saya ajukan sendiri dan form aplikasi pengisian via onlinenya buanyak banget yang harus diisi.

Oke, sepertinya cukup sampai di sini tulisan untuk hari ini.
semoga bermanfaat…

Brisbane, 23 September 2017

Advertisements

Meninggalkan keluarga demi S3

Tiga tahun lalu ketika saya masih di Chonnam National University, Korea Selatan, saat itu saya masih di semester dua, lab saya kedatangan tiga mahasiswa baru, dua mahasiswa master dan satu mahasiswa doktor. Beliau yang doktor ini adalah dosen di salah satu kampus terbaik Indonesia, saat itu saya tahu beliau berangkat melanjutkan S3-nya ke Korea dengan meninggalkan keluarganya, istri beliau bahkan baru saja melahirkan, jadi baru punya bayi beberapa bulan umurnya. Saat itu saya hanya berpikir, bagaimana rasanya ya? Saya pun sering sharing-sharing juga dengan beliau. Bahkan ada cerita-cerita lucu dari Beliau, beliau bilang ketika mudik ke Indonesia anaknya sampai tidak tahu sama beliau, tapi ketika beliau ngobrol sama anaknya pakai tablet, anaknya pun baru ngeh kalau itu bapaknya, ya karena biasanya ngomong sama bapaknya pakai tablet. Huhuhu, sedih 😥 . Alhamdulillahnya saya sudah mendapatkan kabar kalau beliau sudah memboyong semua anggota keluarganya ke Korea tahun lalu.

Dulu saat saya masih S1, saya juga pernah sharing-sharing dengan salah satu dosen S1 saya. Saya cukup akrab dengan beliau sehingga beliau sering sharing-sharing tentang pengalaman dulu ketika beliau kuliah di Korea dengan beasiswa KGSP, saat itu beliau dapat beasiswa KGSP untuk program master. Jadi total 3 tahun (1 tahun belajar bahasa, 2 tahun kuliah master), tantangan terberatnya adalah beliau harus meninggalkan anak istrinya di Indonesia, karena saat itu anak sudah sekolah, istri PNS yang tidak ada ijin untuk ikut suami. Saya sedih mendengarkan cerita-ceritanya, bagaimana rasanya meninggalkan anak dan istri di rumah dan harus berjuang di negara lain yang tentu kultur, lingkungan, kondisi akademik jelas sungguh berbeda.

Cerita lain juga sering saya dengar dari salah satu dosen S1 saya juga, yang saat ini beliau jadi wakil dekan. Beliau lulusan S3 ANU (Australian National University). Beliau tidak menceritakan dirinya karena memang beliau dulu S3 di ANU belum berkeluarga, tapi beliau menceritakan beberapa kawannya. Beliau bercerita kalau kawannya, sudah jadi direktur di salah satu persahaan di Indonesia, sudah settle, tapi karena istrinya harus melanjutkan PhD ke inggris, dia rela meninggalkan jabatan itu dan keluar dari perusahaan demi menemani studinya istri di Inggris.

Selain cerita-cerita di atas, ada satu cerita yang sebenarnya malah paling dekat. Mertua saya sendiri, Ust Hasim, beliau dulu S2 dan S3 di Prancis. Beliau juga sering cerita ke kami tentang perjuangan beliau dulu, bahkan beliau bilang ya kalau sekarang teknologi sudah maju, ada WA, Facebook dan sebagainya, bisa video call dan sebagainya. Dulu, hanya pakai telp atau surat. Beliau mertua saya ini juga harus meninggalkan istrinya ketika hamil ke Prancis untuk studinya. Beliau menitipkan istrinya yang pada saat itu masih hamil ke keluarga istrinya. Beliau baru memboyong keluarganya ketika anak pertamanya sudah lahir dan cukup umurnya untuk dibawa. Sampai selesai studi di Prancis, beliau pulang ke Indonesia dengan membawa tiga anak, hehee.

Setelah saya resmi dinyatakan jadi Awardee LPDP, dan resmi dibolehkan untuk pindah kampus ke The University of Queensland, tentu saya bersyukur, senang dan bergembira.

Tapi ketika detik-detik keberangkatan saya ke Australia saya tidak menyangka harus merasakan hal itu juga. Kemarin tanggal 19 September 2017, saya harus meninggalkan istri dan anak saya, Fatiha, yang berusia 8 bulan. Sedih memang, tapi bagaimana lagi. Ada beberapa alasan yang membuat kami memutuskan untuk tidak langsung berangkat bareng diantaranya, saya belum paham medan di sini, istri sekarang sedang prepare IELTS lagi karena test IELTS kemarin skornya masih kurang, setelah ini istri juga mau apply beasiswa juga ke sini (semoga dimudahkan oleh Allah), dan yang terakhir adalah OSHC (Overseas Student Health Cover ).

Persoalan OSHC ini ternyata cukup berat dan saya juga baru paham baru-baru ini. Sistem asuransi bagi internasional student adalah langsung begandengan dengan visa. Jadi syarat di approvenya VISA itu ya harus bayar OSHC, jadi misal saya mau PhD selama 4 tahun, ketika mau apply VISA student doktor maka dihitunglah OSHC nya selama 4 tahun itu dan harus dibayar di awal. Bagi yang menerima beasiswa studi ke Australia, rata-rata beasiswa juga sudah mencover biaya OSHC tapi ya hanya bagi mahasiswa tersebut, tentu provider beasiswa tidak menanggung OSHC anggota keluarganya jika ia ingin membawanya. Begitu juga dengan saya, OSHC saya sudah dicover oleh LPDP, tapi ketika saya mau membawa keluarga saya, saya harus membayar OSHC untuk istri dan anak dengan cara upgrade OSHC jadi family. Ternyata karena hal ini banyak juga teman-teman penerima beasiswa di Australia yang akhirnya mengurungkan niatnya untuk membawa keluarga karena terganjal OSHC ini hehee.

Berikut ada contoh perhitungan OSHC.

OSHC untuk 1 orang dari tanggal 20 September 2017 sampai tanggal 17 Mei 2022, total bayar 2,699 yang paling murah.

Tapi coba kalau OSHC 1 adult dan 1 child, dengan jangka waktu yang sama, maka harus bayar 18,000an paling murah.

 

Untuk perhitungan OSHC upgrade family tidak saklek seperti diatas, tapi memang ketika saya tanya beberapa teman yang langsung membawa keluarga ke Australi ketika studi S3 rata-rata harus bayar OSHC diatas 13,000 AUD.

Apapun itu, saya hanya yakin, Allah sudah menempatkan saya di salah satu kampus di Australia tentu Allah pasti akan memberi jalan. Kalau masalah kuat ya kuat saja LDR an sama keluarga karena saya tidak sendiri banyak juga di sini yang LDRan, yang suami harus sering pulang pergi jenguk keluarga.

Saya hanya sedih ketika ingat nasihat dari para asatid saya, apasih yang kamu cari? uang? apapun itu tidak ada yang bisa menggantikan waktu bersama dengan keluarga. Tapi saya kadang juga berpikir tentang beberapa generasi tabiin dulu ketika mencari ilmu, mereka juga sering meninggalkan keluarganya untuk waktu yang lama demi ilmu. Tapi tetap saja saya jadi ingat pula dengan nasihat dari saya sendiri yang saya berikan pada orang yang bertanya ke saya mengenai LDRan. Waktu itu saya mengutip perintah Sahabat Umar bin Khattab RA, bahwa setidaknya tiga bulan lah suami harus balik untuk menjumpai keluarganya. Wa Allahu A’lam..

Semoga Allah memberkahi perjalanan keluarga kami, dan semoga semuanya lancar dan baik-baik saja. Berikut adalah foto saya sebelum berangkat bersama Fatiha dan Istri, besok pas Fatiha saya ajak ke sini nanti saya foto lagi, jadi foto before and after. hehee, jangan-jangan besok foto afternya Fatihanya sudah berdiri sendiri, tidak digendong? hahahhaa

 

Salam hangat,

Brisbane, 20 September 2017

Publikasi Internasional

BELAJAR MENULIS | Sinau Nulis

September 2013 merupakan momen yang luar biasa karena saat itu saya mulai kuliah master di Chonnam National University, #Korea. Banyak hal yang saya dapatkan selama 2 tahun belajar di negeri #SNSD tersebut. Hal yang menurut saya paling penting yang saya dapatkan selain jalan-jalan di sana adalah BELAJAR MENULIS.

Saya termasuk tipikal orang yang tidak suka menulis, saya sukanya ngomong, ngobrol ngalor ngidul sambil ngopi di angkringan, istilah kerennya gemar berdiskusi memikirkan nasib bangsa dan negara serta umat pada umumnya. Di Korea saya dilatih untuk menulis yaitu menulis hasil penelitian kemudian mengirimkannya ke Journal untuk diterbitkan.

Di Departemen saya ada ketentuan dimana untuk mahasiswa asing yang mengambil PhD, syarat kelulusan minimal punya dua publikasi internasional sebagai first author yang ter-index SCI/SCIE (Science Citation Index/Expanded) bisa di googling, itu adalah indexing dari thomson routers. Kalau untuk master (S2) minimal punya satu publikasi internasional yang terindex SCOPUS, sebagai first author. * note: Itu syarat dari departmen ya, bukan dari Prof hehehe

Jujur, saya pas S1 dulu saya tidak tahu apa itu SCI/SCIE, Scopus, sciencedirect, Elsevier dan sebagainya. Pada akhirnya Agustus 2015 saya bisa lulus dan punya beberapa publikasi, yah walaupun masih kelas cengcereme..

Ada beberapa orang yang cukup memotivasi saya terkait publikasi internasional, mereka adalah Pak Ardiansyah Musa (senior di Lab saya). Pak Ardi mengajari saya bagaimana melihat journal yang terindex SCOPUS, ngasih tahu kualitas journal Q1, Q2, dsb di SCIMANGO JR, dan ngecheck journal yang terindex sebagai SCI/E journal. Pak Ardi juga mengajari cara melihat konferensi yang berkualitas agar terhindar dari predator-predator baik konferensi maupun journal.

Yang kedua adalah Syeikh Muhammad Hilmy Alfaruqi, ini adalah roomate saya tahun terakhir di Korea. Beliau ini beda bidang dengan saya, beliau di metalurgi. Kalau yang satu ini levelnya sudah beda karena Pak Hilmy ini adalah mahasiswa PhD dan termasuk sangat produktif dalam hal publikasi internasional, paper-papernya pun berhasil di publikasikan di journal2 yang ngeri. (Silahkan bisa di check di google scholar ybs). Pak Hilmy ini yang selalu bikin “iri” karena punya publikasi di journal-journal keren.

Dan tentu masih banyak teman-teman lain yang menginspirasi di sana, itu hanya dua contoh saja.

Anyway, pada akhirnya setelah saya pindah haluan di dunia kerja dan stop sekolah untuk hampir dua tahun. InsyaAllah dalam waktu dekat saya akan kembali lagi untuk BELAJAR MENULIS di tempat yang berbeda dengan kampus S2 saya. Semoga bisa lancar, barokah, dan manfaat.

Berikut jejak tulisan cengcereme saya selama #nguli di #Korea

*Oya, insyaAllah dalam waktu dekat, semoga bisa cepat, saya akan rilis buku mengenai pengalaman saya kuliah di Korea yang insyaAllah akan diterbitkan oleh Penerbit MIZAN. Di tunggu saja, semoga barokah.

Bogor, 02 Agustus 2017
Rischan Mafrur

 

Links:

  1. Google Scholar : https://scholar.google.co.kr/citations?user=2_Za2fYAAAAJ&hl=en&oi=ao
  2. Scopus : https://www.scopus.com/authid/detail.uri?authorId=56405625300
  3. Orcid : https://orcid.org/0000-0003-4424-3736

S3 di Australia dengan Beasiswa LPDP

Saya mempunyai satu halaman yang berisi mengenai langkah-langkah mendaftar beasiswa LPDP termasuk tips membuat essay kontribusiku untuk negeri, essay sukses terbesar bahkan tips ketika LGD dan menulis essay on the spot dan ketika menghadapi reviewers saat interview. Silahkan bisa mengakses halaman ini untuk melihat daftar tulisan saya yang terkait LPDP.

Jika teman-teman membaca tulisan saya mengenai S3 ku mau kemana? tentu teman-teman tahu mengenai awal mula pilihan kampus S3 saya. Pada awalnya sebenarnya saya mendaftar kampus di SNU (Seoul National University) alasannya karena memang sebelumnya saya sudah S2 di Korea jadi saya sudah sangat paham lingkungan dan gaya pembelajaran di sana. Alasan lain adalah SNU termasuk kampus terbaik di Korea bahkan di World rank university juga termasuk kampus peringkat bagus. Tapi saya harus mengurungkan niat saya ke SNU karena Profnya tidak bisa, sebenarnya kalau teman-teman baca tentang interview saya dengan reviewers bisa terlihat bahwa saat interview pun saya sudah bilang bahwa saya tidak mungkin lanjut di SNU, saya harus pindah kampus karena blabla bla..

Setelah SNU, pilihan selanjutnya adalah Kyung Hee University, hanya saja sayangnya KHU ini dari sisi world rank jauh sekali jika dibandingkan dengan SNU dan persoalan lain adalah KHU ini sudah tidak masuk dalam list kampus LPDP mulai tahun 2017.

Berikut liku-liku perjalanan pencarian kampus S3 saya dengan beasiswa LPDP.

  1. Saya mendaftar LPDP tanpa membawa LoA kampus, dan setelah diterima pun saya belum diterima di kampus manapun. LPDP memberikan waktu satu tahun, jadi kalau lebih dari satu tahun saya tidak dapat kampus maka SK gosong alias dengan sendirinya beasiswanya hangus.
  2. Ketika dinyatakan diterima LPDP sebenarnya saya langsung apply ke Kyung Hee (KHU) untuk periode Spring 2017 yaitu mulai perkuliahan Maret 2017. Untuk mendaftar kampus di Korea kita harus bayar application fee, kalau tidak salah sekitar 127.000 won atau sekitar 1,5 juta. Jadi lumayan hehe. Persoalannya sampai penutupan pengiriman berkas, saya belum bisa request LoS (Letter of Scholarship) dari LPDP karena saat itu SIPENDOB (sistem untuk merequest LoS) masih error. Akhirnya aplikasi saya failed.
  3. Karena failed saya pun akhirnya bingung. Sistem pengiriman aplikasi di Korea sangat berbeda dengan negara di UK atau Australia. Di Korea rata-rata pengeriman aplikasi harus dokumen asli (legalisir) dikirim via pos. Dan tidak bisa mengajukan defer, ketika ada suatu hal dan kita tidak bisa mulai kuliah di term yang kita daftar dan kita ingin mengajukan menundaan kuliah itu tidak dimungkinkan. Jadi harus re-apply ulang lagi alias harus kirim dokumen lagi dan bayar application fee lagi.
  4. Akhirnya saya sambil cari solusi lain karena harapan bisa berangkat Maret 2017 ke KHU sudah putus, yaitu nyari kampus di luar Korea, saya akhirnya menemukan Prof yang cocok dengan riset saya di Data and Knowledge Engineering (DKE), The University of Queensland (UQ) Australia. Saya sebenarnya menemukan juga di UK tapi saya tahu ada kabar kalau mulai 2017 pengajuan perpindahan kampus diperketat terutama persoalan tuition fee, sedangkan tuition fee di kampus-kampus UK mengerikan, dan selain itu memang untuk saat ini saya kurang prefer ke UK karena ada beberapa yang harus saya lakukan jadi saya lebih prefer untuk mencari kampus yang deket ke Indonesia. Akhirnya UQ lah yang saya pilih.
  5. Ternyata untuk apply ke UQ saya tidak perlu IELTS, saya benar-benar tak menyangka kalau tanpa IELTS saya bisa mendapatkan Unconditional LoA yaitu karena memang saya qualified. Karena jujur saja, saya memang agak anti dengan IELTS karena beberapa alasan. Silahkan bisa baca kisah selengkapnya bagaimana caranya mendapatkan Unconditional LoA tanpa perlu sertifikat IELTS dan alasan saya kurang suka dengan IELTS.
  6.  Sayangnya di UQ assessment nya lama sekali, biasanya hanya butuh waktu maksimul 1 bulan tapi ini harus 3 bulan, saya masih inget, saya apply sejak akhir tahun 2016 tapi baru keluar Unconditional LoA nya bulan Februari 2017. Itu dikarenakan ada hal yang berkaitan dengan beasiswa ADS dari pemerintah Australia yang merequest ke UQ dan harus di assessment di waktu itu juga. Sehingga saya harus menunggu sampai itu selesai baru dokumen saya bisa di assessment.
  7. Setelah saya mendapatkan Unconditional LoA UQ, saya mencari info-info mengenai perpindahan universitas LPDP, ternyata memang kabarnya mulai 2017 LPDP cukup ketat dalam hal perpindahan universitas. Termasuk dalam hal ini tuition fee sangat dipertimbangkan yang kalau sebelumnya asalkan world rankingnya lebih bagus alasannya make sense kemungkinan besar disetujui tapi sekarang beda. Akhirnya mau tidak mau saya harus meminta beberapa surat rekomendasi ke beberapa pihak untuk menguatkan alasan pindah universitas saya. [Silahkan bisa dilihat contoh surat pengajuan perpindahan universitas saya di sini]
  8. Setelah semua lengkap, saya ajukan surat perpindahan kampus saya ke LPDP, masih di bulan Februari. Ternyata surat saya ditolak dikarenakan saya tidak melampirkan sertifikat IELTS. Padahal saya sudah mendapatkan Unconditional LoA yang mana IELTS itu diperlukan untuk memperoleh Unconditional LoA. Sungguh bener-bener stuck waktu itu. Mau tidak mau akhirnya saya pun ambil test IELTS dengan persiapan yang sangat pas-pasan dan dalam waktu yang cukup mepet.
  9. Sembari menunggu test IELTS, saya benar-benar galau karena kondisi saya yang semuanya penuh dengan ketidakpastian. Kemungkinannya sebagai berikut:
    1. Ketika saya test IELTS terus hasilnya dibawah persyaratan (6.5) berarti saya tidak bisa mengajukan pindah kampus ke UQ, kalaupun nilai IELTS saya qualified perpindahan kampus saya belum pasti diterima oleh LPDP karena saya ragu dengan tuition feenya, tuition fee UQ vs SNU sangat beda jauh. Silahkan kalian coba cari tahu, bedanya buanyak banget.
    2. Ketika nanti saya ajukan perpindahan ternyata ditolak oleh LPDP, terus saya harus kemana lagi? makanya saya harus mendaftar kampus lagi, sedang maksimal LoS yang bisa diterbitkan LPDP hanya dua, saya sudah pakai satu untuk UQ, satu lagi saya sudah request LoS ke Kyung Hee University (KHU) walau sayangnya belum bisa digunakan untuk aplikasi Spring 2017, berarti sudah tidak bisa apply selain ke kedua kampus tersebut.
  10. Akhirnya saya pun apply lagi Kyung Hee University untuk periode Fall 2017 yaitu mulai kuliah September 2017. Saya mengirim berkas asli saya lagi di bulan Maret 2017 dan membayar application fee lagi. huhuhu hehe.
  11. Alhamdulillah awal Mei test score IELTS saya keluar dan score saya cukup untuk memenui persyaratan LPDP, tidak lama dari itu langsung saya ajukan surat permohonan pindah kampus ke LPDP dengan Unconditional LoA UQ yang sudah saya defer ke RQ3 (Research Quarter), mulai perkuliahan bulan Juli.
  12. Entah kenapa dengan berkas saya, katanya, biasanya proses pengajuan perpindahan kampus LPDP tidak lebih dari 10 hari kerja, tapi saya sudah tiga minggu hasilnya belum keluar juga. Saya mengajukan surat permohonan pindah kampus ke LPDP tanggal 15 Mei, baru tanggal 5 Juni saya mendapat balasan kalau perpindahan kampus saya disetujui, Alhamdulillah, akhirnya bisa ke UQ. Yang pasti saya harus mengajukan defer lagi ke RQ4 (mulai perkuliahan oktober) karena tidak mungkin cukup untuk mengurus smua hal dalam waktu sesingkat itu, karena berdasarkan web di border Australia untuk pengurusan student visa biasanya memakan waktu 48 hari.

 

Begitulah liku-liku perjalanan menemukan kampus S3 saya, kalau tidak seperti ini mungkin tidak asyiik ya.. Inilah Allah,…

Dari mulai ketar-ketir takut kalau tidak dapat kampus di waktu 1 tahun SK LPDP, Soalnya bulan Februari 2017 saya sudah resign dari kerja, kemudian dari mendapatkan Unconditional LoA tanpa IELTS, tapi ternyata dari LPDPnya harus ada IELTS dan sebagainya. Banyak hal-hal yang membuat sedih tapi di sisi lain juga menarik dan tentunya banyak hikmah dari semua liku-liku ini.

Semoga S3 saya di UQ lancar, saya bisa amanah menggunakan beasiswa dari LPDP ini, dan tentunya semoga saya bisa berkontribusi banyak untuk bangsa ini. Amiin.

Semoga bermanfaat…

Permohonan Pindah Universitas LPDP

Dalam post ini saya akan menjelaskan langkah-langkah untuk mengajukan surat permohonan pindah Universitas LPDP luar negeri / beda negara. Bagi yang mau tahu kenapa saya harus mengajukan perpindahan kampus dan bagaimana cerita detailnya [silahkan bisa dibaca di tulisan berikut ini].

Kasus saya adalah saya harus mengajukan perpindahan kampus beda negara, dan saya mengajukannya di bulan Mei tahun 2017, saya menyebutkan tahunnya karena bagi Awardee LPDP pasti tahu mengenai perpindahan kampus sebelum tahun 2016 dan setelah memang beda hehe

Pindah universitasnya yaitu:

Dari    : Seoul National University, South Korea

Ke       : The University of Queensland, Australia

Baik, untuk langkah-langkah pengajuan surat permohonan pindah universitas LPDP adalah sebagai berikut:

  1. Unconditional LoA kampus yang mau dituju, ini adalah syarat utama, tak mungkin mau mengajukan pindah kampus tapi unconditional LoA belum dipegang.
  2. Membuat surat permohonan pindah kampus, bagi yang bingung seperti apa suratnya. [Silahkan bisa melihat surat saya di sini]
  3. Ajukan surat permohonan pindah kampus beserta lampiran-lampirannya ke email lpdp.dkp3@kemenkeu.go.id (JANGAN SAMPAI SALAH EMAIL).
  4. Setelah itu nanti akan direpon emailnya oleh Tim DKP3, misalnya, terimakasih surat perpindahan anda sudah diproses. Biasanya kalau ada syarat yang masih kurang akan langsung dibalas di email tersebut.
  5. Proses memakan waktu maksimal 10 hari kerja, tapi surat pindah saya lebih dari tiga minggu hehe, silahkan simak kisah lika-liku pengajuan perpindahan saya di tulisan ini.
  6. Setelah selesai nanti akan ada balasan respon dari DKP3 mengenai perpindahan anda, bisa disetujui atau tidak. Ini contoh surat balasan dari DKP3 yang menyatakan bahwa surat permohonan pindah universitas saya disetujui. [Berikut contoh suratnya di sini]
  7. Setelah mendapatkan balasan dan dinyatakan disetujui oleh LPDP perpindahannya. Tidak selang beberapa lama saya langsung mendapatkan email dari lpdp.dkp2@kemenkeu.go.id yang berisi KONTRAK. Bila tidak mendapatkan email terkait kontrak bisa kirim email ke DKP2 menanyakan perihal kontrak dengan melampirkan unconditional LoA dan persetujuan perpindahan kampus dari LPDP.
  8. Setelah itu tinggal ditandatangani kontraknya dan di kirim pos ke LPDP, nanti ketika kontrak sudah ditandatangani oleh pak Kahar, anda akan dapat email untuk mengambilnya ke kantor LPDP.
  9. Setelah itu anda akan memperoleh akses ke simonev.

Oke deh, begitulah langkah-langkahnya..

Semoga bermanfaat yah…

Bagi yang ingin mengajukan perpindahan kampus beda negara setelah 2016, jangan kecil hati dulu, kalau alasannya masuk akal pasti bakal diterima.

Pengalaman Test IELTS dan Tipsnya

Berikut saya langsung copas saja share-sharean saya setelah saya mendapatkan result form IELTS tanggal 13 Mei 2017 di Whatsapp grup ke teman-teman saya. Untuk tulisan saya mengenai dimana saya test IELTS dan kapan bisa dibaca di sini Pengalaman Test IELTS di ILP Cimanggu Bogor 

[4:30 PM, 5/13/2017] A: Hi guys, I am going to share my experience.
[4:31 PM, 5/13/2017] A: I took IELTS test on April 29, 2017.
After I finished the test, I realized that I will lose my mark on Listening and Writing.
Then it really confirmed after I got the result form.
[4:33 PM, 5/13/2017] A: Listening
Section II was really bad, If I am not wrong, it seems I got Scotland accent. Speaker speaks really fast and I have to fill the part name of the building. It was really hard, from 10 questions, there is no answer that I really sure.

Other sections easier but section 4, after test finished, I realized that I have two wrong spelling answers: I wrote ‘chocholate’ instead of ‘chocolate’ :v and wrote ‘habbit’ instead of ‘habit’. I really regret it. I really sure this is because I always use autocorrect feature when I write something in laptop and I never write a note or else with my hand.
[4:34 PM, 5/13/2017] A: Writing
Usually, I only practice for the task 1, such as the graph, table, and pie chart. Unfortunately, the question for the task 1 was a diagram, I have to explain about plastic recycling system. Anyway, for this task, I can handle it.

The problem was task 2. I really can’t get a good idea to answer it, in my opinion, the question is so confusing.
Question: Some people say that what children watch on TV influences their behavior while others say the amount of time children they spend watching TV influences most their behavior.
Two things which I have to compare was quite similar not too contradict, that’s why it made me confused.
[4:35 PM, 5/13/2017] A: Speaking
Examiner was a good person, he tried to make me relax.
the question for task1 was random, hometown, tourism place in my hometown, high school experience, and teacher, etc very random.
task 2 was about favorite weather.
task 3 more detail about the weather in Indonesia, climate change, global warming, ozone layer, greenhouse, etc.
Overall for the speaking, I was satisfied but I only got 6.5 for this section.

[4:36 PM, 5/13/2017] A: Reading
the passages are easy to me, that’s why I got 7 bands for the reading.

 

Bagi saya kalau listening paling susah itu kalau ada orang banyak yang ngobrol misalnya conversation 4 orang (dua cewe, dua cowo) terus nanti di soal diminta ini opini siapa dan siapa, karena memang saya sangat susah untuk membedakan suara cewe dalam hal ini ada dua cewe. Yang kedua adalah IELTS juga menggunakan beberapa aksen, kadang karena saya kurang latihan jadi beberapa aksen saya belum terbiasa udah gitu ditambah ngomongnya cepet ya sudah wasalam.

Persoalan nulis, ini juga mesti diperhatikan teman-teman semua. Kelemahan saya adalah saya tidak terbiasa menulis pakai tangan, karena sudah saking lamanya ngetik dan jarang sekali saya nulis pakai tangan. Selain itu fitur autocorrect yang saya gunakan menjadikan saya kadang tidak tahu kalau selama ini saya punya banyak sekali wrong pronounce. Nah, semga ini bisa jadi bahan pelajaran buat teman-teman semua.

Kalau Speaking, saya memang suka ngomong ceplas-ceplos cuman sayangnya sering salah dan tidak terorganisir. Kalau aksen, aksen English saya adalah English jawa tulen jadi masih meudok banget, lha ngomong bahasa Indonesia saja saya medok apalagi bhs Inggris hehe, tapi kalau aksen sih tdk masalah. Yang saya tahu yg harus dikontrol misalnya kecepatan ngomong, terorganisir atau tidak, bertele-tele apa tidak, penggunaan vocabulary kaya apa tidak, banyak salah grammar apa tidak, salah pronounce apa tidak dsb.

Kalau untuk writing, nah ini yang paling lemah, saya tidak terbiasa nulis tangan, jelas tulisan tangan saya jeuleeek banget. Jadi kalau mau agak bagus nulisnya harus pelan-pelan ya resikonya waktunya jadi terkuras. Intinya kalau dibagian writing ini sempatkan 5 menit untuk buat kerangka apa saja yang mau ditulis, tiap paragraf harus ada main topiknya, supporting topics terus hasil dan kesimpulan. Penggunaan vocab harus kaya, kalimat makin kompleks biasanya makin bagus asal bener grammarnya, terorganisir, jangan mengulang-ulang vocab, parafrasing dari pertanyaan (jangan sekali-kali tulis ulang pertanyaan).

Untuk membaca bagaimana saya belajar dan apa saja yang saya pelajari silahkan bisa dibaca di sini.

Mungkin itu saja semoga bermanfaat…

Pengalaman Test IELTS di ILP Cimanggu Bogor

Saya tinggal di Bogor semenjak menikah karena istri saya waktu itu mahasiswi IPB yang lagi sekripsian. Sehabis istri selesai skripsi sama mertua diminta pindah ke rumah beliau. Jadi akhirnya kami tinggal di PMI (Pondok Mertua Indah) karena persiapan istri mau lahiran. Walaupun Bogor itu Jabodetabek tapi saya tetap merasa bahwa ke Jakarta itu jauh, makanya saya malas kalau harus test IELTS di Jakarta. Setelah saya mendapatkan respon penolakan surat pindah kampus saya dari LPDP seperti yang sudah saya ceritakan di sini, akhirnya mau tidak mau saya harus milih, nyari kampus lagi di negara Korea atau test IELTS, sedangkan penerbiat LoS (Letter of Scholarship) dari LPDP untuk Awardee Luar Negeri hanya terbatas maksimal dua kali dan itu semua sudah aku pakai ke UQ dan ke Kyung Hee University, jadi sudah tidak bisa daftar kampus lain lagi. Jadi mau tidak mau saya harus test IELTS. Penolakan surat permohonan perpindahan LPDP saya itu bulan Februari 2017, setelah itu saya langsung cari-cari tentang test IELTS di Bogor, Alhamdulillah ternyata ada yaitu dari IALF yang kerjasama dengan ILP Cimanggu Bogor.

Sayangnya untuk test IELTS bulan Maret 2017 sudah habis alias kursi sudah penuh, yah lagi-lagi saya harus memilih yaitu ke Jakarta atau test di bulan setelahnya yaitu April. Setelah saya pikir-pikir ya sudah akhirnya saya tetap mendaftar test IELTS di ILP Cimanggu untuk tanggal 29 April 2017. Nah untuk persiapan IELTS saya benar-benar pas-pasan. Walaupun saya lulusan S2 dari Korea yang notabanenya sudah terbiasa dengan bahasa inggris tapi bahasa inggris saya tidak begitu bagus dan yang pasti untuk IELTS itu memang kita harus persiapan. Persiapan agar bisa familiar dengan tipe soalnya, dan setelah saya melihat banyak video mengenai IELTS tips ternyata mengerjakan soal IELTS ada banyak sekali tips-tipsnya dan hal-hal itu tidak bisa saya dapatkan tanpa belajar. Jadi yang mau baca cara belajar IELTS mandiri saya bisa dibaca disini. Ternyata test IELTS di ILP Cimanggu untuk bulan April dipindah ke Hotel Arnava (masih deket dari kantor ILP Cimanggu) karena saat itu di depan ILP Cimanggu sedang ada pengerjaan proyek tol Bogor jadi takut nanti mengganggu peserta test. Kalau dari saya sendiri sih, untuk tempat memang lebih nyaman karena di Hotel, tapi sayangnya untuk penitipan barangnya yang teralalu jauh. Peserta test harus menitipkan barangnya di resepsionis lantai satu, kemudian hanya membawa kartu identitas dan Air minum dengan botol transparan, Testnya di Lantai tujuh. Jadi kalau mau ambil sesuatu di tas jauh banget, soalnya ternyata persiapan sebelum testnya waktunya cukup lama, dari mulai antree foto dan sidik jari terlebih dulu, kemudian ndengerin penjelasan dan aturan test IELTS sebelum masuk ruangan dsb.

Overall, pengalaman yang cukup bagus untuk mengikuti test IELTS di ILP Cimanggu Bogor, tapi saya tidak tahu ya kalau testnya dilaksanakan di gedung ILPnya.

Untuk detail bagaimana soalnya, testnya bagaimana silahkan baca tulisan saya ini.