Hal-hal yang harus dilakukan setelah tiba di Australia

Pada kesempatan kali ini saya akan membagi informasi mengenai hal-hal penting harus segera dilakukan setelah tiba di Australia, dalam hal ini di Brisbane. Tentunya tulisan ini juga berdasarkan kondisi saya yaitu sebagai pelajar, jadi pasti berbeda dengan yang datang ke sini untuk tourism/liburan semata.

Baiklah, berikut ini adalah apa saja yang harus dilakukan setelah tiba di Australia:

  1. Sebagai warga negara Indonesia, dan karena tujuan saya ke Aussie adalah untuk studi dan menetap lama di sini maka yang pertama kali saya lakukan adalah lapor diri. Lapor diri di Australia bisa dilakukan via online terlebih dahulu. Karena saya di Brisbane (QLD) dan itu di bawah wilayah KJRI Sydney (New South Wales, Queensland dan South Australia) maka saya bisa lapor diri di situs http://lapor-diri.org.au/tentanglapordiri.php . Untuk melakukan cap paspor di KJRI, kita harus datang ke Sydney langsung dan itu tentu boros, jadi yang penting lapor diri dulu via online, nanti kalau ada layanan konsuler di Brisbane kita tinggal datang saja dengan membawa paspor kita. Kenapa sih harus lapor diri? intinya untuk memberitahu kedutaan perihal diri kita sudah tinggal di Aussie sejak kapan dan mau sampai kapan. Jadi andakata ada bencana atau hal-hal yang tidak diinginkan KJRI bisa tahu kalau di tempat itu ada WNI, seperti itu. Jadi jangan disepelekan.
  2. Beli simcard nomor sini, di Australia ada beberapa provider, ada Vodafone, Telstra, dan Optus. Karena saya kemarin muter-muter di UQnya diajak sama temen saya dan dia pakai Optus, akhirnya dia bilang mau pake optus saja? ya Oke dah. Akhirnya saya beli SIMcard Optus di minimarket di UQ. Harga simcardnya sebenarnya $2 tapi jadi free karena langsung beli voucher $30, untuk harga paket per bulannya bisa dilihat di gambar bawah ini. Oya saya lebih condong memilih prepaid dan saya tidak beli HP baru. (* gambar dibawah ini tidak ada unsur promosinya, hanya contoh saja, buat gambaran harga data di sini) Saya pilih yang $30 per bulan dapat 3 GB data, free call & SMS ke sesama nomor australia. Saya tidak punya paket Internasional call karena sekarang calling juga bisa menggunakan data. Walaupun Ibu saya rumahnya di kampung dan beliau tidak bisa pakai Whatsapp, saya call beliu pakai VoIP. Kalau via prepaid yang pertama dilakukan adalah beli voucher, misal $30 nanti akan dapat nomor voucher, setelah kartu dimasukkan ke HP kemudian langsung buka website optus, disitu tinggal ikuti step saja, minta ngisi identitas, kemudian milih nomor HP (*ada beberapa pilihan tapi tidak ada nomor cantiknya), kemudian isi via voucher dan nanti masukkan nomor voucher, sudah selesai.
    Harga Optus Prepaid per bulan

    Optus SIM Card Brisbane
  3. Setelah punya nomor HP australia, yang harus dilakukan lagi adalah membuat akun Bank. Apapun beasiswanya pasti butuh rekening bank Australia. Di UQ sendiri ada dua bank yaitu CommonWealth bank dan ANZ, dan kebanyakan pada pakai Commbank ya sudah saya pakai Commabank. Tinggal masuk saja bilang mau buat akun bank, baru datang jadi belum ada student card, tapi sudah punya nomor HP, jangan lupa bawa passport, kemudian Letter of Guarantee atau Letter of Scholarship dari provider beasiswanya. Sudah nanti diminta masuk ke ruangan CSnya kemudian ngobrol disitu, dan dibuatin akun banknya. Setelah punya akun bank, bisa dikirmkan ke provider beasiswanya, semoga Living allowancenya bisa segera cair. Amiinn.. hehe. Oya untuk ATMnya disini langsung ada tulisan namanya di kartu ATMnya, dan dikirim ke Rumah via post datang setelah 7 hari kerja.
  4. Yang selanjutnya tidak kalah penting adalah membeli Go-Card, jadi di semua negara maju pasti ada transportasi publiknya dan biasanya ada kartunya jadi tidak bayar cash. Kalau di Korea dulu, di Seoul ada T-Money, kalau di Gwangju pakainya Hanpay, kalau di Jabodetabek kan ada Mandiri tapcash atau BNI tapcash, nah di Aussie juga beda-beda. Di Sydney ada Opal, di Pert ada SmartRider, nah kalau di Brisbane namanya Go-card. Harganya $10 untuk kartunya dan bisa beli top-upnya sekalian. Saya beli topup $20 waktu itu. Untuk mahasiswa, setelah dapat student card, nanti bisa mengajukan concession (keringanan), sehingga harga transportasinya adalah setengahnya. Misalnya kemarin saya ke City pakai Ferry dan Bus sekali jalan $2.56 karena belum dapat concession kalau sudah nanti setengahnya. Oya, biayanya juga beda-beda tergantung zona. Jadi ada petanya, kalau sudah beda zona (*makin jauh) tentu biayanya berbeda.

    Go-Card kartu transportasi di Brisbane
  5. Install applikasi-aplikasi yang berguna, UQ navigation app misalnya, krn UQ luas banget jadi install ini biar tidak nyasar. Optus app untuk lihat penggunaan data dan masa aktif serta recharge. Commbank app, disini aplikasi commbanknya bagus banget, light banget (*ya kan saya anak IT punya experience developing aplikasi) jadi bisa membandingkan service dan app commbank dg bank2 di Indonesia, beda jauh. Install aplikasi Translink, untuk jalan-jalan, lihat jadwal bus, harus transit dimana dsb, sebenarnya langsung pakai Google map juga bisa, krn di Google map juga sudah lengkap dengan nomor bisnya dan jalurnya.

    Jalan-jalan menggunakan Google map di Brisbane

 

Mungkin ini saja dulu, untuk apa saja yang harus dilakukan setelah tiba di Australia yang berkaitan dengan studi akan saya tulis di postingan selanjutnya.

Semoga bermanfaat.. untuk membaca tulisan-tulisan saya lainya terkait dengan studi di Australia bisa dibaca di sini

Salam dari Brisbane.

Advertisements

Brisbane Festival 2017

Tanggal 30 September di Indonesia adalah tanggal bersejarah dimana pengibaran bendera setengah tiang dilakukan untuk memperingati kejadian G30S/PKI. Beda negara tentu beda adanya. Di Brisbane tanggal 30 September 2017 kemaren termasuk tanggal yang ditunggu banyak orang yaitu karena ada Sunsuper Riverfire. Apa itu Sunsuper Riverfire?

Di sini sejak tanggal 9 September sampai tgl 30 September 2017 ada Brisbane Festival. Di Brisbane festival 2017 ini banyak sekali eventsnya, bisa lihat schedule event-eventnya di website resminya. Puncak acaranya adalah tanggal 30 September 2017 yaitu Sunsuper Riverfire (peluncuran kembang api) di sepanjang sungai Brisbane di South Bank.

Inget kembang api saya jadi inget dulu pas S2 di Korea, dulu saya sama teman saya pergi mau lihat kembang api di sana, eh ternyata teman-teman Indonesia juga banyak yang mau lihat. Jadi kita bareng-bareng ke downtown (ke city), terus kita pesan makanan. Ternyata makannya datangnya lama banget, yang pada akhirnya kita semua kelewat untuk lihat kembang api karena nunggu pesanan makanan hehe. Temen saya ini luc, sesampainya di dorm, dia buka laptop terus buka youtube kemudian buka video kembang api. :V  Katanya kan tadi failed mau lihat kembang api jadi sekarang lihat di Youtube.

Kalau kemaren tanggal 30 September, saya tidak failed untuk melihat Kembang api di acara Brisbane festival.

Jadi ceritanya begini, saya baru ke Brisbane sini jadi masih belum hafal jalan kemana, ke kota dan sebagainya. Di Brisbane transportasi publik ada 4 macam lah (taksi, bus, kereta, dan citycat). Citycat ini yang menarik karena bagi saya ini baru. Brisbane ditengahnya dibelah sama Brisbane river (Sungai Brisbane) jadi karena adanya sungai ini akhirnya dimanfaatkan untuk transportasi juga.

Untuk melihat kembang api, saya berangkat jam setengah 5 sore dari rumah, saya jalan kaki ke St Lucia Ferry terminal (Terminal citycat di kampus saya), habis itu naik ferry menuju ke south bank, tidak jauh, tidak ada setengah jam saya sudah sampai (kurang lebih 4 atau 5 stops). Foto di ata ketika saya naik ferry dari UQ ke South bank. Foto dibawah ini kalau mau lihat jalur ferry dari UQ ke South Bank.

Sesampainya di terminal ferry di south bank eh ternyata dipinggiran sungai di south bank sudah penuh sama lautan manusia yang nunggu kembang api. Mereka pada piknik, pada gelar tiker, dan sebagainya.

Gambar dibawah ini foto kembang api kemaren yang saya ambil dari Google, harusnya sih saya cari posisi di dekat jembatan ini, tapi sudah tidak kebagian tempat jadi ya sedapatnya.

 

Kalau dapat di spot yang bagus ya dapat fotonya mesti bagus, cuman sayang karena penuh ya saya akhirnya cari tempat yang agak luang, bagaimana detilnya?

Bagi yang penasaran silahkan bisa nikmati vlog saya di bawah ini. (maap vlognya jelek karena masih amatiran heheh)

 

Semoga bermanfaat, salam dari Brisbane.

Biaya hidup di Australia

Hallo sahabat semua…

Di postingan kali ini saya akan membahas mengenai biaya hidup di Australia khususnya di tempat saya tinggal yaitu di Brisbane. Australia mirip dg US, jadi modelnya negara bagian, tiap negara bagian tentu akan berbeda biaya hidupnya. Jadi tulisan ini hanya berlaku untuk teman-teman yang mau tinggal atau berencana kuliah di Brisbane, mungkin juga masih relevan untuk negara bagian Queensland dan bisa nambah  info juga.

Baiklah, di sini saya juga memandang dari perspektif pelajar bukan pekerja. Tentunya kalau pekerja profesional di Australia pasti cara pandangnya beda karena dapat penghasilan yang lumayan dari sini.

Oke ayo kita mulai…

Yang pertama, saya shock ketika ternyata untuk membawa keluarga bayar asuransinya mahal banget. Pengalaman yang sangat berbeda dengan di Korea, saya di Korea untuk biaya asuransi itu kita bayar per semester untuk mahasiswa, dan saya juga sudah sering nanya-nanya teman yang bawa keluarga, intinya di sana asuransi terhitung masih murah banget. Sebenarnya di sini mungkin kalau asuransi itu dibayar tiap bulan jadi tidak terasa tapi sistem di sini adalah ketika mau bawa orang untuk tinggal di sini (family) maka bayar asuransi itu di awal sebagai syarat pembuatan visa. Jadi, saya sudah bayar asuransi untuk 4 tahun kedepan dan dibayar diawal sebagai persyaratan visa. Untuk asuransi (OSHC) pelajar single itu lumayan, tidak begitu mahal yaitu sekitar 3,000 AUD dan itu dicover oleh beasiswa. Bagi yang mau bawa keuarga yang repot, mungkin pembaca bisa membaca tulisan saya sebelumnya tentang berpisah dengan keluarga demi S3. Intinya, saya sudah tanya teman saya yang baru membawa keluarga semester lalu ke Brisbane (ybs bawa istri dan satu anak), itu dibutuhkan dana lebih dari 13,000 AUD, yah siapkan 140 juta rupiah.

Yang kedua, sistem tempat tinggal di sini. Kalau dulu ketika saya kuliah S2 di Korea, dormitori itu adalah tempat yang paling nyaman untuk tinggal yaitu dekat dengan kampus, harga murah dan terjangkau, dan bisa memilih dormitory yang ada shared kitchen nya, jadi bisa masak. (*note: tidak semua kampus seperti ini). Ketika saya di UQ saya cukup kaget, ketika lihat harga tempat tinggal di sini.

Kalau dulu di Korea, sistem pembayaran dormitory per semester, saya dulu bayar sekitar  650,000 won (kampus saya di Chonnam National University, di Gwangju, tentu kalau di Seoul beda). Di sini sistemnya adalah per week, dan tagian dibayar per dua minggu. Saya kaget dulu pas tahu gini hehe. Coba teman-teman lihat gambar di atas. Kalau mau di dormitory kampus itu harganya selangit!!! paling mahal diantara yang lain.

Coba bayangin saja, tinggal di dormitori kampus $500 per week, 1 bulan 2,000 aud atau 21 juta rupiah. Itu baru tinggal belum keperluan yang lain.

Jadi pilihan yang mungkin masih bisa sesuai kantong adalah kolom ke dua yaitu shared house.

Mungkin ini perlu saya sampaikan juga, pas di Korea, dormitory saya murah banget itu juga karena satu kamar dua bed, dan isinya dua orang. Jadi ya kalau dari sisi privacy kurang nyaman. Kalau sistem di sini yaitu shared house. Jadi saya sekarang tinggal di Rumah yang cukup dekat dengan kampus (5 menit jalan kaki).

 

Yaitu di Hawken Drive no 263, ini satu rumah ada tiga kamar. Oya di sini rumah fasilitasnya pasti standard (dapur, kulkas, microwave, mesin cuci, pengering, dsb pasti ada, jangan khawatir). Harga kamar di rumah ini juga beda-beda (180,160, dan 140) dan saya kebagian yang paling murah (kamar paling kecil) yaitu 140 AUD per week. Apakah itu sudah include all bills? Tidak.

Perbulan saya masih harus bayar internet 20 AUD, dan per tiga bulan bayar listrik dan air (ini fluktuatif). Jadi biaya internet per bulan, listrik dan air per tiga bulan (jadi nanti jumlah tagihannya berapa kemudian dibagi 3- karena tiga orang yg tinggal).

Menurut saya, saya cukup beruntung dapat tempat di sini karena dekat dengan kampus, yang jelas tidak perlu pakai bis atau transportasi lain untuk ke kampus, ya konsekuensinya mungkin harga jelas lebih mahal, kalau penasaran bisa di check di sini  (semakin deket dengan kampus pasti semakin mahal). Oya di awal juga ada bond nya, jadi saya harus bayar bond di awal sebanyak 4 minggu (560  AUD). -> Jelas bond ini bisa diambil besok pas keluar.

Besok juga tantangan tersendiri kalau membawa keluarga, karena pasti nyari tempatnya lebih susah dan lebih mahal.

Yang ke tiga, Untuk keperluan makan, transportasi, dan lain-lain sepertinya tidak begitu kaget, ya standard, dulu pas saya awal kuliah master (karena waktu itu pertama kali ke luar negeri) memang sempat shock, istilahnya price shock. Kalau sekarang sudah tidak, dibawah ini mungkin bisa menjadi gambaran harga-harga kebutuhan di sini.

Di kafetaria kampus untuk makanan harganya ya lumayan lah, misal Nasi biryani (daging ayam, nasi pakistan) itu $5, kalau mau yang lebih enak ya range $5 ~ $10. Untuk makanan, australia juga tidak punya makahan khas, jadi di sini bisa mencoba makanan dari semua negara, di kantin kampus ada makanan korea, india, pakistan, china, thai, brazil dan sebagainya. Untuk Pulsa, saya pakai prepadi, $30 per bulan, 3 GB data dan unlimited call & SMS ke nomor sesama australia. Untuk telp international saya pakai VoiP.

Jadi kalau mau dihitung misalnya seperti ini:

  1. Kamar: anggap saja $170pw ($680 per month) * hanya february lho yg punya 28 hari selebihnya pasti lebih.
  2. Makan: sekali makan anggap aja paling murah $5 kali 3 untuk sehari = $15 di kali 30 untuk sebulan = $450 (tentu akan lebih ngirit kalau masak sendiri)
  3. Pulsa = $30 per bulan
  4. Transport = ini tergantung, kemana saja jadi tidak bisa ditentukan.
  5. Lain-lain (jajan cemilan dan sebagainya), juga tergantung masing-masing.

Oya bagi yang punya anak kecil dan berencana untuk menitipkannya (child care) itu juga lumayan mahal, 1 harinya $95 hehe (* jangan dirupiahin = 1juta) nitipin anak kecil sehari sejuta hehe. makin kecil makin mahal sepertinya

Jadi total semua tanpa point no 4 dan 5 (misalnya tinggalnya deket kampus dan jarang pergi-pergi, jarang nyemil), tidak masak sendiri, makan diluar nyari yang paling murah, itu total per bulan 1160 ya mungkin digenapkan 1200 AUD per month.

Jadi segitu lah bisa hidup dengan pas-pasan di sekitar kampus The University of Queensland (UQ), Brisbane.

Tulisan ini semoga bisa memberikan gambaran teman-teman yang mau studi di sini. Untuk tulisan saya yang lain mengenai studi di Australia bisa dibuka di sini.

semoga bermanfaat, salam dari Brisbane

 

Brisbane, 27 September 2017

Perjalanan ke Australia

Di tulisan ini saya akan berbagi pengalaman pertama saya ke Australia yaitu brangkat untuk S3 saya di The University of Queensland.

Dulu saya memang tidak memilih untuk kuliah di Perth, Sydney, atau Melbourne tapi memilih di Brisbane karena beberapa hal, ya yang pertama jelas dapat Profnya di UQ di Brisbane, selain itu setelah review-review untuk kondisi cuaca di Australia sih memang paling enak di Brisbane yaitu tidak terlalu ekstream. Dulu saya waktu belum pernah melihat salju, wah rasanya pingin sekali lihat salju. Dulu saya brangkat ke Korea untuk S2 saya September 2013 yaitu di sana pas musim gugur (fall), pemandangan yang sangat indah, dan saya berharap cepat-cepat winter agar bisa main dengan salju dan memang terbukti sekarang saya lancar sekali bermain snowboard hehe.

Kalau mau lihat salju di Korea silahkan bisa menikmati video winter terakhir saya di Korea di bawah ini.

Tapi ternyata salju itu enak dipandang tapi tidak enak dirasa, itu menurut saya sih. Dinginnya minta ampun, kulit saya pecah pecah, telinga harus ditutup penutup, dan yang jelas malas untuk beraktifitas, maunya di dalam ruangan yang ada pemanasnya, sambil tiduran, streamingan, dan selimutan haha.

Eh malah ngomongin winter di negeri orang jadinya. Intinya setelah saya baca-baca Brisbane untuk cuaca tidak terlalu ekstream dibanding 4 kota di Australia yang sudah saya sebutkan di atas.

Kembali ke topik, sebelum berangkat saya sudah siap-siap belanja berbagai keperluan ya seperti pasta gigi, sabun cair, deodoran, shampoo, yang banyak, yang jelas beli Koper baru. Saya terbang menggunakan maskapai Qantas (CGK- Sydney (transit) – BNE (Brisbane)) dan karena visa saya student jadi saya dapat bagasi 40 kg.

Bagi teman-teman yang mau ke Australia dan untuk pertama kalinya harap untuk memperhatikan barang-barang bawaan. Satu hari sebelum saya berangkat saya mau dimasakin rendang dan kering tempe untuk dibawa di koper, sebelum-sebelumnya saya memang sudah googling juga perihal BARANG-BARANG YANG TIDAK BOLEH DI BAWA KE AUSTRALIA. Rendang masuk ke dalamnya, sebenarnya tak apa sih bawa rendang asal dalam kemasan industri yaitu dalam kaleng dan tidak berbau. Makanan boleh dibawa tapi harus dalam kemasan industri.

Jadi isi koper (bagasi) saya diantaranya adalah:

  1. Baju keperluan sehari-hari termasuk sprei, selimut, kaos kaki, sajadah, dkk
  2. Peralatan mandi (sabun, shampoo, pasta gigi, sikat gigi) jumlahnya banyak hehe
  3. Deodoran, parfum, minyak rambut dkk (dalam jumlah banyak)
  4. Peralatan makan minum (bawa secukupnya)
  5. Makanan (di sini saya tidak bawah makanan tapi bumbu-bumbu yaitu bumbu instan, saus, kecap, boncabe, sambal trasi) semuanya beli ya (kemasan industri)

Isi tas saya hanya laptop, makanan kering buat cemilan, dokumen (buat jaga-jaga saya bawah print visa dan dokumen lainnya) sebenarnya tidak perlu karena visa sudah e visa.

Oya kalau TIKET PESAWAT harus di print ya, jadi jangan sampai lupa, tiket pesawat di print dulu sebelum ke bandara.

Saya berangkat dari Bandara Soekarno Hatta Cengkareng dan rumah saya di Bogor. Tiket saya jam 20:10 terbang. Karena saya takut macet dan tahu sendiri bogor kayak gimana macetnya, saya berangkat dari rumah jam 2 kurang 15 menit ke Pool damri di Botani Sequare, nyampe di pool damri jam 2 dan bis brangkat jam 2:15 kalau tidak salah. Sampai di Bandara CGK jam setengah 5 dan di sana sudah ada daftar pesawat yang mau terbang dan pesawat Qantas yang mau saya naiki sudah membuka layanan check-in. Oya untuk Qantas di CGK yaitu di terminal 2D.

Saya masuk, scanning koper dan tas, lanjut, dan masalahpun terjadi ketika saya check in bagasi. Ini salah saya, karena saya tidak bertanya dulu ke Qantas. Jadi bagasi saya dapat 40 KG itu dengan ketentuan dua koper bagasi, dan maksimal 1 koper bagasi itu beratnya 32 kg. Pas ditimbang di CGK ternyata beratnya 34 kg, harus bongkar deh koper saya. Ambil 2 kg barang taruh tas dan saya jinjing. Untung saja saya tidak penuhin tas gendong saya. Saya pikir ya pinginnya kan 1 koper saja, jadi tidak repot-repot gitu dan yang jelas saya juga cuman punya koper satu hahhaa.

Akhirnya selesai juga checkin dan tinggal nunggu, eh ternyata pas saya nunggu, saya ketemu dengan teman S2 saya dulu di Korea, namanya mas Anton, sekarang dia kerja di Jakartapost dan sedang ada tugas ke Melbnourne, pesawatnya sama, sama-sama transit di Sydney.

Service di Qantas lumayan lah untuk tiket saya yang ekonomi, ya standard, makanan juga standard. Pesawat tepat waktu ketika Boarding jam 19:15 tapi delay 40 menitan pas terbangnya alasannya karena trafik, jadi terbang  jam 9 kurang 15 menit malam padahal jadwalnya jam 20:10.

Pagi hari waktu Syedney, jam 06:15 di hari berikutnya saya mendarat dengan selamat di Sydney. Di Sydney saya harus ambil bagasi, declare, dan pemeriksaan imigrasi padahal saya di Sydney hanya transit. Alasanya adalah karena penerbangan selanjutnya ke Brisbane pakai penerbangan lokal dan di Brisbane sudah tidak ada pemeriksaan lagi.

Oya, tadi ketika di pesawat, anda juga diminta ngisi formulir buat declare, formulirnya seperti ini.

 

Formulir declare bandara Sydney Australia

Declare form ini sudah berbeda dari yang saya dapat di Internet waktu googling, dulu nomor 6 itu “any kind of food” jadi semua makanan harus di declare. Kalau sekarang hanya beberapa jenis makanan saja. Saya juga cukup tergelitik dengan nomor 9 yaitu jika anda bawa sepatu kotor habis main bola dan ada sisa tanahnya maka harus di declare hehe.

Intinya kenapa Aussie begitu ketat persoalan barang bawaan? kabarnya karena di sini kan juga mengembangkan sektor agraria, jadi takutnya orang yang datang bawa bakteri yang bisa membahayakan Australia begitu sih.

Saya sudah sering dapat informasi kalau pemeriksaan di imigrasi Australia itu ketat sekali, terutama terkait dengan barang bawaan. Untuk pengisian formulir, kalau anda ragu sebaiknya pilih yes dan pilih untuk declare daripada nanti repot belakangan. Jika anda bilang No padahal anda bawa barang itu dan ternyata ketahuan oleh petugas imigrasi maka resikonya adalah denda dan dendanya cukup mahal. Yang jelas petugas bandara di sini juga tidak menerima suap hahah.

Berikut ini langkah-langkahnya ketika tiba di bandara internasional Sydney.

  1. Tiba di bandara, ikuti petunjuk saja yaitu bagage claim.
  2. Ikuti petunjuk untuk ambil bagasi.
  3. Sebelum ambil bagasi nanti kita antre dulu di imigrasi seperti bandara pada umumnya, antrean ada yang untuk pemegang paspor australia, paspor bukan australia, dan sebagainya. Silahkan ikut antre yang bukan pemegang paspor australia.
  4. Selain paspor saya sudah menyiapkan e-visa yang saya print dan CoE (Confirmation of Enrollment) dan ternyata hanya paspor yang diperlukan. Paspor juga tidak dicap karena visanya sudah e-visa.
  5. Setelah di ijinkan masuk, udah langsung di depan tempat untuk ngambil bagasi, tunggu bagasi kita ketika ada ya tinggal ambil.
  6. Setelah ambil bagasi siapkan declare form yang sudah di isi tadi.
  7. Tunjukkan declare form ke petugas dan nanti kita akan di arahkan untuk ikut jalur berapa, jadi di situ ada banyak jalur, saya declare “medical herbs” karena saya bawa tolak angin. Dan teman saya mas anton declare “medicine” karena dia bawa promag hehe. kita ternyata pisah jalur.
  8. Pas declare ini ternyata…… Ada anjingnya. Jadi kita nanti maju dengan semua barang bawaan kita, yang maju sekitar 5 orang dengan barang masing-masing, kemudian petugas dengan membawa anjing menyuruh anjingnya menciumi semua barang bawaan orang-orang yang baris. Koper, yang saya jinjing, tas gendong saya, semuanya di endus oleh anjing hitam.
  9. Ibu-ibu di depan saya (* orang china), bawa sesuatu yg di jinjing dan anjingnya kelihatan suka banget, di cium-cium terus dan di cakar-cakar, kemudian petugas mengambil tasnya dan memeriksanya ternyata dia bawa makanan basah (entah apa itu) dan langsung di buang oleh petugas.
  10. Untuk barang-barang saya alhamdulillah lancar.
  11. Setelah selesai declare, kemudian lanjut ikuti petunjuk ke domestic flight (penerbangan domestik).

Ketika check ini bagasi di sini saya dapat masalah lagi. (* oya untuk tiket saya yg Sydney ke Brisbane sudah sekalian di cetak di CGK). Masalahnya adalah di timbangan menunjukkan bagasi saya 33 kg, yang aturannya maksimal 32 kg. Haduh, bongkar lagi deh bagasi saya 😦 Ambil lagi barang 1 kg saya jinjing akhirnya. Selanjutnya tinggal ikuti saja petunjuk dan nanti kita harus naik Bis ke terminal penerbangannya kalau tidak salah terminal 3.

Sudah deh, tunggu dan terbang ke Brisbane dari Sydney. Sampailah saya di Brisbane jam 10:30 dan yang jemput saya sudah menunggu di tempat pengambilan bagasi. Di Brisbane sudah tidak ada pemeriksaan apa-apa lagi.

Oya The University of Queensland memfasilitasi penjemputan untuk new internasional student dari bandara ke tempat tujuan dan itu free. Alhamdulillah, lumayan lah karena kalau biaya sendiri bisa sekitar 80 AUD.
Oke mungkin ini dulu sharing saya, mengenai perjalanan pertama saya ke Australia. Untuk tulisan-tulisan saya yang lain tentang kuliah di australia bisa di akses di sini.

 

Brisbane, 24 September 2017

Membuat visa pelajar ke Australia

Ah kayaknya salah judul deh, bukan Membuat ya? kayak membuat roti saja, tapi. “Mengajukan visa pelajar ke Australia” mungkin yg tepat judulnya. Ya sudah lah tak apa.

Di tulisan ini saya akan share tentang cara membuat visa pelajar ke Australia. Sebenarnya dari dulu saya itu selalu berencana untuk menulis step-step pembuatan visa diantaranya:

  1. Proses pengajuan visa untuk kuliah S2 saya ke Korea Selatan di tahun 2013, tapi belum sampai menulis eh visa yang udah jadi + paspornya digondol maling -> bisa baca di sini 
  2. Tahun 2014 saya ke Guam USA dan harus mengajukan visa ke USA. Sudah menjadi rahasia umum kalau orang Indonesia membuat visa ke USA pasti susah, teman saya pernah mau lomba robot karena nama dia ada kata “Muhammad” visanyapun di reject. Hmm, parah yah, islamphobia banget. Kalau pengalaman saya karena ngajuinnya di Korea yang notabannya adalah negara kawan dg USA. Saya dapat visa USA conference/pariwisata dan multientri, selama 5 tahun. entah sekarang masih bisa apa tidak di president Trump ini, hehe. Saya juga tidak sempat menulisnya karena waktu itu sibuk sekali di lab.
  3. Tahun 2015 saya ke Jepang, karena passpor saya belum e passpor jadi harus ngajuin visa. Ini itungannya gampang dan murah. Oya Visa USA mahal dulu di korea bayar 170,000 won, kalau visa jepang klo tidak salah hanya bayar 40,000 won. Tapi kalau visa jepang ini, ketika visa kita jadi kita harus ambil ke kedutaan besar jepang di Seoul, beda dengan visa USA, ketika jadi visa+paspor kita dikirim via pos ke alamat kita.

Tapi semua rencana di atas tidak tercapai hehe, jadi tak ada tulisan saya tentang hal itu. Dari semua aplikasi-aplikasi visa yang pernah saya ajukan di atas, di tulisan ini saya ingin berbagi cara pengajuan visa Australia.

Ternyata,.. waktu itu setelah saya googling dan tanya-tanya, banyak yang menyarankan saya untuk menggunakan agen untuk pengurusan visa ini. Karena kemungkinan besar lebih cepat diapprove. Menurut saya yang recommended sih IDP.

Bahkan waktu itu saya juga baru tau, IDP juga memfasilitasi apply ke kampus, coba bayangin? gilak kan!! Jadi tinggal kontak saja IDP, minta tolong cariin kampus dan dapetin unconditional LoA, habis itu cari scholarship, kalau dapat, proses visanya minta tolong IDP lagi. Enak bener ya?

Tapi kalau S3 ya susah cari kampus pakai agen hehe, lha wong kita harus nyari Professor yang cocok, interview dengan Prof dulu, kemudian baru apply. Untuk saya sendiri, saya menggunakan jasa IDP hanya untuk pengajuan Visa.

Baiklah begini step-stepnya:

  1. Saya email IDP jakarta, namanya mbk Mia. Saya bilang ke beliau kalau saya sudah dapat unconditional LoA dari UQ + scholarship dari LPDP, saya mulai kuliah (research quarter 4/RQ4) 1 Oktober 2017. Minta tolong untuk membantu dalam pengajuan visa.
  2. Nanti oleh IDP akan dikirim dokumen yang harus diisi, diantaranya ada GTE, form 157A, form 956A dan dokumen lainya (dalam hal ini saya mengajukan visa subclass 500 post graduate sector)
  3. Semua dokumen diisi dan ada beberapa dokumen yang harus dikirim atau diserahkan langsung ke Jakarta waktu itu karena dokumen memerlukan tanda tangan asli. Kebetulan waktu itu IDP mengadakan program pre-departure ke Aussie, acaranya di mana ya.. lupa saya tempatnya. Jadi saya hadir di acara itu sembari menyerahkan dokumen yang tidak bisa dikirim via email.
  4. Setelah semua dokumen persyaratan sudah dikirim semua, kemudian nanti IDP akan mengajukan applikasi visa kita. Saat itu IDP mengajukan aplikasi saya tanggal 20 Juni 2017. Setelah aplikasi visa kita diajukan nanti kita akan menerima notifikasi aplikasi visa kita via email.
  5. Setelah ini tinggal bayar deh, bayarnya 550 AUD, karena saya tidak punya kartu kredit dan agar lebih mudah dalam pembayaran ya sudah makanya saya pakai IDP. Saya minta tolong IDP untuk membayarkannya dan saya membayar dalam bentuk rupiah ke IDP Jakarta.
  6. Setelah itu, IDP akan memberikan kita HAP ID (seperti di gambar bawah ini), dan list dokter serta rumah sakit yang kita harus melakukan check up ke sana. Jadi kita tidak bisa checkup di sembarang RS. Australia sudah punya perwakilan dokter panelis di Indonesia terkait dengan medical checkup untuk persyaratan visa ini. 
  7. Setelah itu, tanggal 21 Juni 2017 saya ke RS Premier Jatinegara Jakarta, karena itu RS yg masuk dalam list dan yang paling dekat dengan lokasi saya (Bogor). Pas ke RS tinggal bawa HAP ID dan passpor saja, bilang kalau mau buat visa aussie. Untuk biaya medical check up cukup mahal yaitu 900 ribu rupiah, yang meliputi general checkup, mata, gigi, urin, dan rongten paru-paru. Waktu itu check urin saya harus ngulang dua kali karena saat itu saya sedang berpuasa jadi kurang air. Saya sarankan ketika mau medical checkup tidak dalam kondisi berpuasa dan tidak dalam kondisi kurang air.
  8. Tanggal 22 Juni 2017  saya dapat email dan saya kaget. Ternyata visa saya sudah jadi!!!!. Padahal kalau saya lihat di Border AU rata-rata pengajuan visa untuk postgraduate students itu sekitar 45 hari. Hehe. Alhamdulillah….

Oya, jangan kaget, dulu saya kaget sih, karena visa di Australia semuanya adalah e-visa, jadi kita tidak perlu membawa paspor kita ke dubes australia di Jakarta kemudian visanya akan ditempel di paspor kita. Itu tidak perlu!!.

Jadi visanya bentuknya file, dikirim via email hehehe. Pas nanti di border (bandara) mau masuk ke Aussie ya tinggal tunjukin paspor saja, dan sudah tidak ada cap di paspor, jadi jangan berharap di cap hehe.

Begitulah pengalaman saya dalam pengajuan visa student ke australia, bagi teman-teman yang mau mengajukan visa tidak via agent alias sendiri juga bisa kok, tinggal ke situs border au dan apply visa via online, submit smua berkas persyaratan dan tarraa!!!. Dulu waktu saya di Korea, untuk pengajuan visa USA, saya ajukan sendiri dan form aplikasi pengisian via onlinenya buanyak banget yang harus diisi.

Oke, sepertinya cukup sampai di sini tulisan untuk hari ini.
semoga bermanfaat…

Brisbane, 23 September 2017

Meninggalkan keluarga demi S3

Tiga tahun lalu ketika saya masih di Chonnam National University, Korea Selatan, saat itu saya masih di semester dua, lab saya kedatangan tiga mahasiswa baru, dua mahasiswa master dan satu mahasiswa doktor. Beliau yang doktor ini adalah dosen di salah satu kampus terbaik Indonesia, saat itu saya tahu beliau berangkat melanjutkan S3-nya ke Korea dengan meninggalkan keluarganya, istri beliau bahkan baru saja melahirkan, jadi baru punya bayi beberapa bulan umurnya. Saat itu saya hanya berpikir, bagaimana rasanya ya? Saya pun sering sharing-sharing juga dengan beliau. Bahkan ada cerita-cerita lucu dari Beliau, beliau bilang ketika mudik ke Indonesia anaknya sampai tidak tahu sama beliau, tapi ketika beliau ngobrol sama anaknya pakai tablet, anaknya pun baru ngeh kalau itu bapaknya, ya karena biasanya ngomong sama bapaknya pakai tablet. Huhuhu, sedih 😥 . Alhamdulillahnya saya sudah mendapatkan kabar kalau beliau sudah memboyong semua anggota keluarganya ke Korea tahun lalu.

Dulu saat saya masih S1, saya juga pernah sharing-sharing dengan salah satu dosen S1 saya. Saya cukup akrab dengan beliau sehingga beliau sering sharing-sharing tentang pengalaman dulu ketika beliau kuliah di Korea dengan beasiswa KGSP, saat itu beliau dapat beasiswa KGSP untuk program master. Jadi total 3 tahun (1 tahun belajar bahasa, 2 tahun kuliah master), tantangan terberatnya adalah beliau harus meninggalkan anak istrinya di Indonesia, karena saat itu anak sudah sekolah, istri PNS yang tidak ada ijin untuk ikut suami. Saya sedih mendengarkan cerita-ceritanya, bagaimana rasanya meninggalkan anak dan istri di rumah dan harus berjuang di negara lain yang tentu kultur, lingkungan, kondisi akademik jelas sungguh berbeda.

Cerita lain juga sering saya dengar dari salah satu dosen S1 saya juga, yang saat ini beliau jadi wakil dekan. Beliau lulusan S3 ANU (Australian National University). Beliau tidak menceritakan dirinya karena memang beliau dulu S3 di ANU belum berkeluarga, tapi beliau menceritakan beberapa kawannya. Beliau bercerita kalau kawannya, sudah jadi direktur di salah satu persahaan di Indonesia, sudah settle, tapi karena istrinya harus melanjutkan PhD ke inggris, dia rela meninggalkan jabatan itu dan keluar dari perusahaan demi menemani studinya istri di Inggris.

Selain cerita-cerita di atas, ada satu cerita yang sebenarnya malah paling dekat. Mertua saya sendiri, Ust Hasim, beliau dulu S2 dan S3 di Prancis. Beliau juga sering cerita ke kami tentang perjuangan beliau dulu, bahkan beliau bilang ya kalau sekarang teknologi sudah maju, ada WA, Facebook dan sebagainya, bisa video call dan sebagainya. Dulu, hanya pakai telp atau surat. Beliau mertua saya ini juga harus meninggalkan istrinya ketika hamil ke Prancis untuk studinya. Beliau menitipkan istrinya yang pada saat itu masih hamil ke keluarga istrinya. Beliau baru memboyong keluarganya ketika anak pertamanya sudah lahir dan cukup umurnya untuk dibawa. Sampai selesai studi di Prancis, beliau pulang ke Indonesia dengan membawa tiga anak, hehee.

Setelah saya resmi dinyatakan jadi Awardee LPDP, dan resmi dibolehkan untuk pindah kampus ke The University of Queensland, tentu saya bersyukur, senang dan bergembira.

Tapi ketika detik-detik keberangkatan saya ke Australia saya tidak menyangka harus merasakan hal itu juga. Kemarin tanggal 19 September 2017, saya harus meninggalkan istri dan anak saya, Fatiha, yang berusia 8 bulan. Sedih memang, tapi bagaimana lagi. Ada beberapa alasan yang membuat kami memutuskan untuk tidak langsung berangkat bareng diantaranya, saya belum paham medan di sini, istri sekarang sedang prepare IELTS lagi karena test IELTS kemarin skornya masih kurang, setelah ini istri juga mau apply beasiswa juga ke sini (semoga dimudahkan oleh Allah), dan yang terakhir adalah OSHC (Overseas Student Health Cover ).

Persoalan OSHC ini ternyata cukup berat dan saya juga baru paham baru-baru ini. Sistem asuransi bagi internasional student adalah langsung begandengan dengan visa. Jadi syarat di approvenya VISA itu ya harus bayar OSHC, jadi misal saya mau PhD selama 4 tahun, ketika mau apply VISA student doktor maka dihitunglah OSHC nya selama 4 tahun itu dan harus dibayar di awal. Bagi yang menerima beasiswa studi ke Australia, rata-rata beasiswa juga sudah mencover biaya OSHC tapi ya hanya bagi mahasiswa tersebut, tentu provider beasiswa tidak menanggung OSHC anggota keluarganya jika ia ingin membawanya. Begitu juga dengan saya, OSHC saya sudah dicover oleh LPDP, tapi ketika saya mau membawa keluarga saya, saya harus membayar OSHC untuk istri dan anak dengan cara upgrade OSHC jadi family. Ternyata karena hal ini banyak juga teman-teman penerima beasiswa di Australia yang akhirnya mengurungkan niatnya untuk membawa keluarga karena terganjal OSHC ini hehee.

Berikut ada contoh perhitungan OSHC.

OSHC untuk 1 orang dari tanggal 20 September 2017 sampai tanggal 17 Mei 2022, total bayar 2,699 yang paling murah.

Tapi coba kalau OSHC 1 adult dan 1 child, dengan jangka waktu yang sama, maka harus bayar 18,000an paling murah.

 

Untuk perhitungan OSHC upgrade family tidak saklek seperti diatas, tapi memang ketika saya tanya beberapa teman yang langsung membawa keluarga ke Australi ketika studi S3 rata-rata harus bayar OSHC diatas 13,000 AUD.

Apapun itu, saya hanya yakin, Allah sudah menempatkan saya di salah satu kampus di Australia tentu Allah pasti akan memberi jalan. Kalau masalah kuat ya kuat saja LDR an sama keluarga karena saya tidak sendiri banyak juga di sini yang LDRan, yang suami harus sering pulang pergi jenguk keluarga.

Saya hanya sedih ketika ingat nasihat dari para asatid saya, apasih yang kamu cari? uang? apapun itu tidak ada yang bisa menggantikan waktu bersama dengan keluarga. Tapi saya kadang juga berpikir tentang beberapa generasi tabiin dulu ketika mencari ilmu, mereka juga sering meninggalkan keluarganya untuk waktu yang lama demi ilmu. Tapi tetap saja saya jadi ingat pula dengan nasihat dari saya sendiri yang saya berikan pada orang yang bertanya ke saya mengenai LDRan. Waktu itu saya mengutip perintah Sahabat Umar bin Khattab RA, bahwa setidaknya tiga bulan lah suami harus balik untuk menjumpai keluarganya. Wa Allahu A’lam..

Semoga Allah memberkahi perjalanan keluarga kami, dan semoga semuanya lancar dan baik-baik saja. Berikut adalah foto saya sebelum berangkat bersama Fatiha dan Istri, besok pas Fatiha saya ajak ke sini nanti saya foto lagi, jadi foto before and after. hehee, jangan-jangan besok foto afternya Fatihanya sudah berdiri sendiri, tidak digendong? hahahhaa

 

Salam hangat,

Brisbane, 20 September 2017