Mengurus SKCK atau Police Clearance di Australia

Hallo sahabat semuanya, saya mau nilis lagi nih. Jadi kebetulan kemaren saya baru saja mengurus police clearance atau kalau di Indonesia biasa disebut SKCK atau Surat Keterangan Catatan Kepolisian.

Di tulisan ini saya ingin berbagi tentang pengalaman mengurus SKCK di sini ya, dan tentu sebelumnya pembaca bisa membaca disclaimer saya di sini hehe. Tentu tak bisa apple to apple ya sama Indonesia tapi kita bisa belajar banyak dari hal ini. Atau pembaca juga bisa membaca tulisan sebelumnya tentang service perpustakaan di kampus saya The University of Queensland.

Minggu lalu saya ada satu lain hal yang akhirnya memerlukan SKCK atau kalau di sini biasa disebut police clearance. Saya kira ya seperti di Indonesia namanya saja police clearance pasti saya harus datang ke kantor polisi untuk mengurusnya atau minimal online lah. Tapi ternyata saya cukup kaget hehehe.

Saya coba Googling police clearance Queensland karena saya tinggal di state Queensland. Bagi teman-teman yang tinggal di Australia saya yakin hampir sama sistemnya hanya nanti apply nya ke state masing-masing. Hasil Googlingan saya tertuju pada website resmi Police Queensland di sini.

Di website tersebut sudah sangat jelas bagaimana cara untuk mengurus police clearance. Saya sih optimise pasti simple karena data di sini pasti sudah terintegrasi. Lha visa saya saja e-visa kok, jadi tidak ditempel di paspor kayak visa-visa jadul gitu. Dan ketika masuk ke Aussie juga sudah tidak ada cap-cap di paspor. Jadi pasti data nasional sudah terintegrasi. Dan ternyata benar, simple banget! tapi ada beberapa hal yang cukup mengagetkan saya hehe.

Untuk mengurusnya tinggal ikuti petunjuk di website saja yaitu submit application online, setelah itu nanti ada onlie digital verify. Kita tinggal masukin saja nomor paspor, udah langsung bisa. Benar kan terintegrasi. Habis itu langsung mengisi alamat email dan alamat rumah, udah deh langsung tergenerate document application summary dan bisa diprint. Tampilannya seperti di bawah ini.

Saya cukup kaget kalau ternyata untuk mengurus police clearance itu saya harus ke kantor post hehe. Jadi kita tidak ke kantor polisi karena alasannya mungkin efficiency ya, kantor polisi ya hanya fokus untuk urusan kiriminal bukan administrasi. Yang teman-teman perlu tau adalah kantor post disini sangat optimal dan menjamur dimana-mana karena memang apa-apa disini kan kulturnya langsung kirim ke rumah, post, surat, online shopping itu sangat luar biasa disini. Jadi mungkin ini juga salah satu alasannya karena sangat mudah menjumpai kantor post jadi akan lebih effisien jika orang datang ke kantor post saja daripada ke kantor polisi.

Pertanyaanya masa sih ngurus police clearance dikantor post? jadi gini, dokumen application summary yang diatas itu, kita bawa ke kantor post. Di sana petugas postnya akan melakukan verifikasi identitas ke kita sebagai applicant. Kita harus bawa paspor asli kita, dan dokumen tambahan sehingga pointnya bisa 100. Saat itu saya sama petugas post diminta Debit card dan student card, harus original ya bukan copy. Jadi disini petugas post berfungsi untuk verifikasi ID saja, melihat foto dipaspor sama orangnya apa tidak dan sebagainya.

Baru deh, aplikasi itu akan dikirimkan oleh petugas post ke kantor polisi setelah dilakukan verifikasi! Begitu broohh.

Selang hanya satu hari saya mendapatkan email dari Police Queensland, dan taraa sudah jadi.

Simple banget kan? beginilah kalau data sudah terintegrasi. Polisi pasti tinggal check aja online pakai nomor paspor kita, ada track record kejahatan tidak? kalau tidak ya langsung bisa diterbitin SKCKnya. Hal ini tentu sangat berbeda dengan pengalaman saya waktu ngurus SKCK di Indonesia, tapi saya kurang tau ya sekarang hehe, semoga saja sudah lebih baik. Intinya kelemahan utama kita itu pada integrasi data. Orang punya record kejahatan kriminal di Jakarta misalnya, tinggal pulang saja ke Semarang (rumahnya, * ini hanya contoh yaaa), kemudian buat SKCK di Semarang itu pasti akan sangat mudah karena data kita belum terintegrasi. Ya kecuali kalau orang tersebut punya catatan kriminal yang luar biasa tentu akan terendus oleh polisi.

Sebenarnya konsep e-KTP itu ya mau ngikut negara-negara maju seperti ini yaitu integrasi data, tapi ehhh ya Allah. Proyeknya malah buat bancakan koruptor. Sekarang juga saya tidak tahu apakah e-KTP Indonesia bakal berguna sebagai mestinya, seingat saya waktu sebelum ke sini kita tetap diminta fotocopy KTP untuk mengurus surat surat lain hahaha. Padahal tujuannya e-KTP itu adalah single data, jadi ketika mau urus BPJS, KK, akte anak itu tak perlu lagi kita foto-copy wong tinggal masukin aja nomor KTPnya udah keluar datanya.

Satu lagi concern saya, ya karena saya orang IT, yaitu tentang dimana ini penyimpanan data e-KTP? bagaimana keamanannya? itu personal data lengkap lho. Jangan sampai data seperti itu bisa diintip oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Yah mungkin ini saja dulu sekelumit cerita saya ngurus SKCK di Queensland Australia. Sampai jumpa ditulisan berikutnya

Advertisements

Beginilah Perpustakaan di Kampus Luar Negeri

Halo sahabat semua.

Saya cukup lama tidak menulis blog. Di tulisan kali ini saya ingin berbagi tentang bagaimana fasilitas perpustakaan di kampus luar negeri khususnya di kampus saya yang sekarang yaitu UQ . Sebelum sahabat semua membaca tulisan ini mungkin kalian bisa baca tulisan saya sebelumnya tentang “Perlukah membandingkan Indonesia dengan Negara Lain?“, agar nanti tidak salah paham dengan tujuan saya menulis tulisan ini.

Jadi begini, salah satu tujuan saya kuliah di luar adalah untuk melilhat bagaimana sistem pendidikan di kampus tersebut, bagaimana profesional nya para staff, management, service dan sebagainya. Yang semoga nanti setelah saya balik ke Indonesia, saya mungkin bisa mencontohnya atau menularkan ke yang lain.

Pada kesempatan kali ini saya ingin sharing tentang pengalaman saya menggunakan fasilitas library di UQ. Sejujurnya saya dulu 2 tahun di Chonnam National University, Korea untuk menyelesaikan master, saya sekalipun belum pernah pergi ke perpus hehehe. Ya namanya saja orang IT, semua referensi sudah bisa diakses via online (buku, paper, journal, documentasi dsb). Hal itu ternyata juga terulang di sini hehe.

Saya sudah hampir 1 tahun di UQ dan jujur saja saya belum pernah menggunakan fasilitas perpus, lha klo nyari referensi baik itu jurnal atau prociding kan langsung online dan kampus UQ sudah subsribe ke smua jurnal2 bagus jadi tinggal download deh.

Nah, tapi kenapa saya ingin sharing tentang service di UQ library? padahal saya tidak pernah menggunakans service itu? Ya karena itulah saya pingin share, karena ini pengalaman pertama saya menggunakan service library UQ.

Jadi ceritanya begini sahabat semua. Suatu hari saya dihubungi oleh teman lama yang sekarang dia bekerja di start-up di Bandung. Dia bilang untuk keperluan pekerjaannya dia perlu membaca “Railtrack material standard” dan harganya 112 USD. Dia meminta tolong pada saya, siapa tau di UQ library dokumen ini ada, jadi intinya dia tak perlu untuk membelinya hehe.

Sebenarnya apa yang saya lakukan untuk menolongnya dari sisi policy dan ethic di kampus mungkin tidak boleh kali ya? hehe. Tapi di sini saya hanya ingin sharing bagaimana service kampus di sini! Akhirnya saya coba buka UQ online library untuk pertama kalinya.

Eh ternyata, UQ library punya chat service. Tampilannya seperti gambar di  bawah ini:

 

Di gambar tersebut juga terlihat percakapan saya dengan CS nya di UQ library dan ternyata simple banget untuk mendapatkan dokumen yang sebenarnya itu berbayar. Saya juga baru tahu bahkan di UQ, kita (student) juga bisa request sekiranya ada buku yang bagus tapi di library tidak ada, kita bisa request untuk dibelikan baik itu soft file maupun hard copy. Gileee ya.

Ya tentu kembali ke awal paragraf tadi, tak bisa kita bandingkan apple to apple dengan kampus di Indonesia. Lha di sini mayoritas students jg dari International students yang mana tuition feenya muahalnya minta ampun. Ini beasiswa saya (LPDP) mbayarin tuition fee buat saya 32.000 AUD per tahun. Ya pantes kan klo servicenya spt ini. Semua dokumen, buku, paper, dan sebagainya yang berbayar dan mahal bisa dengan mudah diakses. Ya ini lah UQ.

Setelah dapat pengalaman ini, akhirnya saya memutuskan untuk coba jalan-jalan ke Library di UQ. Istilahnya sekali-kali lah belajar di library, tidak melulu di office saja, dan memang luar biasa hehee! Library di sini di design senyaman mungkin, kalau butuh PC ada buanyak, bagi yang hanya butuh space buat belajar jg banyak banget, bahkan ada capsule (ini space buat tidur bagi yang kecapean). Bagi mahasiswa postgraduate spt saya juga bisa booking space (satu ruangan) buat belajar dan kedap suara hahaha. Dan itu smua buka 24 jam. Finally, akhirnya sekarang kadang-kadang klo saya lagi bosen belajar di office akhirnya saya pergi ke perpus!

Begitulah pengalaman seorang mahasiswa PhD yang kerjaannya hanya di office saja hahaa, udah hampir setahun di sini baru pertama kali jalan-jalan dan nyobain service di perpus 🙂

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat, atau menambah info, wawasan dan apapun itu. Sampai ketemu di tulisan-tulisan selanjutnya….

Belajar dari Guru Sejati

BELAJAR DARI GURU SEJATI

Menjadi #guru bukanlah perkara mudah, guru dalam konteks umum ya, baik itu guru sekolah, madrasah, guru agama, bahkan dosen pun sejatinya adalah seorang guru.

Dalam falsafah #jawa guru sering diartikan “digugu lan ditiru”, “digugu” berarti segala sesuatu yang disampaikan olehnya senantiasa bisa dipercaya dan “ditiru” bermakma seorang guru harus menjadi suri tauladan (panutan).

Beruntung rasanya sabtu lalu di acara halal bi halal IISB saya bisa duduk cukup lama di samping beliau Bapak Iman Partoredjo (sesepuh di Queensland yang sudah sejak tahun 1965 tinggal di Australia). Saya benar-benar mendengarkan cerita beliau dan belajar dari beliau, seorang Guru sejati yang patut untuk digugu dan ditiru.

Beliau bercerita tentang lika-liku jalan hidupnya selama di #Brisbane #Australiayang kurang lebih sudah lebih dari 50 tahun berada di sini dari mulai mengajar di Monash University di #Melbourne sampai kemudian mengajar bahasa #Indonesia di #Brisbane pun dilakoni oleh beliau yang merupakan lulusan dari Exeter University Inggris ini.

Beliau adalah orang pertama yang secara resmi mengajarkan #bahasa#Indonesia di Queensland bahkan mungkin di Australia karena pada akhirnya buku beliau dan kurikulum yang beliau susun dijadikan sebagai modul untuk pengajaran bahasa Indonesia di seluruh sekolah-sekolah di Australia.

Salah satu yang membuat saya sedih adalah jawabannya atas pertanyaan saya mengenai apakah semakin kesini bahasa Indonesia semakin diminati di sini atau sebaliknya.

Kata beliau, dulu masyarakat Australia sangat antusias belajar bahasa Indonesia karena mereka tau #Indonesia adalah bangsa yang besar dan merupakan negara tetangga, kemudian dulu Indonesia juga disebut-sebut akan menjadi macan #Asia . Sayang thn 98 Indonesia terkena krisis ditambah lagi ada konflik dg timor timur sehingga hubungan Australia dan Indonesia tdk sebaik sebelumnya. Hal tersebut jg sangat berdampak pada masa depan bahasa Indonesia di sini.

Tapi hal itu tidak memutuskan semangat Pak Iman utk tetap mengajarkan bahasa #Indonesia dan mencari jalan keluar agar semakin banyak masyarakat Australia yang mau belajar bahasa Indonesia.

Tidak hanya itu Pak Iman adalah generasi awal dan pendiri #IISB (Indonesian Islamic Society of Brisbane) dan sudah tidak menjadi rahasia lagi karena hampir seluruh masyarakat Indonesia di Brisbane tahu bagaimana pengorbanan beliau baik jiwa, raga, harta, dan waktunya demi tegaknya #islamdi sini dan demi Indonesia negara yang ia cintai.

“Walaupun saya sudah lama tinggal di sini tapi darah saya masih merah putih” kata beliau.

Entah kenapa tak sadar mata saya berkaca-kaca mendengar ucapan itu.

Semoga Allah selalu memberikan kesehatan, perlindungan, dan keberkahan pada Pak Iman dan keluarga

Salam dari Brisbane
Rischan Mafrur

Halal bi Halal di Brisbane

Beberapa hari lalu saya di kontak oleh Pak Kiyai Wibisono, pimpinan dari jamaah NU di Brisbane, begini kurang lebih:

Pak yai: “Ris, sebtu ngisi acara halal bi halal ya” (Ris, sabtu mengisi acara halal bi halal ya – translated by keyboard)

Saya: “Mboten ah Pak Yai, kathah tiyang ingkang luwih pantes tinimbang kulo” (Jangan ah Pak Yai, lebih banyak yang lebih pantas dari pada saya – translated by keyboard)

Pak yai: “Wis tak omongne panitiane, oke yo” (Sudah saya bilang ke panitianya, fix kamu ya, translated by keyboard)

Saya: “Njih, menawi kersanipun panjenengan mekaten, insyaAllah kulo siap” (Baik, jika Pak yai menginginkan demikian, saya siap, translated by keyboard)

Dan tiba-tiba poster ini muncul.. 🙂

 

Seperti biasanya, saya sebenarnya sudah biasa diminta seperti ini. Ya namanya dulu juga 8 tahun tinggal jadi marbot masjid, siap jadi imam, khotib serep, dari bersihin WC masjid sampai jadi khotib jumat juga pernah. Hanya saja kadang saya merasa kurang pantas karena saya yakin masih banyak yang lebih baik dari diri ini. Tapi apa daya toh ini juga bagian dari dakwah, asal bisa meluruskan niat dan menyampaikan ilmu yang mungkin bisa bermanfaat, kenapa tidak?

Alhamdulillah acaranya berlangsung hari ini dan semuanya lancar dan ruame banget. Acara diselenggarakan di outdoor di IMCQ center. Bahkan panitia juga sampai nyewa playing ground buat anak-anak.

Ini salah satu penampakan saya waktu mengisi acara tadi: (Style seperti biasanya, peci hitam peci nasional, jas hitam, sarungan hehe 😀 )

 

Berikut ringkasan dari apa yang tadi saya sampaikan:

Halal bi Halal adalah tradisi warisan para pendakwah nusantara yang luar biasa.

Bagi kita yang pernah kenal dengan orang timur tengah atau belajar bahasa #arab tentu kita tau bawah kata halalbihalal tak akan pernah ada di kamus bahasa arab, halal ada, bi ada artinya “dengan” tapi kalau halal bi halal itu tidak ada dalam bahasa arab. Itu adalah murni warisan dari bangsa ini.

Ada beberapa versi tentang halal bi halal ini, yang pertama kabarnya diinisiasi oleh pangeran adipati mangkunegara I di surakarta jaman VOC. Saat itu pangeran menyerukan pd seluruh anggota kerajaan dan masyarakat utk #sungkeman . Makanya sampai skrng ada tradisi sungkeman dan konon ini tak lepas dr pengaruh dakwah #walisongo.

Yang kedua dikatakan bahwa #halalbihalal dicetuskan oleh KH Wahab Chasbullah yg mana pd saat itu karena kegalauan Pak Karno habis masa kemerdekaan. Banyak pemerontakan dan friksi2 di kalangan elit #politik.

Diusulkanlah oleh KH Wahab Chasbullah utk kumpul2 para elit politik utk saling memaafkan di momen syawal dg tujuan #rekonsiliasi dan #silaturahmi para elit.

Dari mulai tradisi #mudik kemudian #sungkem #salamsalaman semunya adalah ajaran #islam apa buktinya?

Mudik sebenarnya adalah pengingat bahwa fitrah kita manusia itu kembali. Kita bukan makhluq di bumi, kita makhluq #surga dan ingin kembali ke sana.

Lihatlah surah Al Isra ttg birul walidain, kita diperintah oleh Allah untuk merendahkan diri di depan org tua baik ucapan dan adab, Bukankah itu sungkeman?

Lihatlah surah Al Imran setelah pengigat taqwa bahwa kita diharamkan utk berpecah belah dan haram memutus tali silaturahmi.

Itulah ajaran2 #dakwah dari para #wali nusantara yg sangat menjunjung kearifan lokal yg membuat bumi nusantara berislam

Ingat kita smua adl #dai dan bukan #hakim . Dai itu mengajak bukan memvonis.

Harus utamakan #persatuan dan tunjukkan bahwa #islam itu #rahmat bagi SELURUH ALAM

 

Semoga tulisan ini bermanfaat..

Salam

Rischan Mafrur

Membandingkan Indonesia dengan Negara Lain – haruskah?

Di negara A, B, C itu begini begitu, beda sama di Indonesia…

Pernah dengar ucapan-ucapan seperti di atas? Ada sebagian orang yang setelah melancong/ bepergian ke #luarnegeri atau setelah selesai #kuliah di luar negeri dia sering membandingkan kondisi di luar negeri dengan di #Indonesia

Misalnya seperti ini, di #Australia itu semuanya rapi, tertata, indah, bersih, tidak semrawut seperti di #Indonesia . Di #Korea itu transportasi umum sangat canggih, tepat waktu, rapi, walaupun kota metropolitan seperti #Seoul tapi tetap ada nuansa tradisional Korea yang tidak hilang.

Di negera ini, itu begini begitu beda sama di Indonesia… blablabla dan sebagainya…

Kalau orang yang bilang seperti itu adalah mereka yang baru pertama kali melancong ke luar negeri sih tak apa, bisa dimaklumi, tapi kalau mereka adalah #mahasiswa yaitu orang #Indonesia yang #studi di luar negeri, itu sungguh tak bisa dimaklumi.

Yang dibutuhkan #Indonesia itu bukan keluh kesahmu, protesmu, tapi kontribusimu..

Saya sangat sedih kalau ada mahasiswa yang sudah kuliah jauh-jauh ke luar negeri tapi hasilnya setelah pulang ke #Indonesia hanya bisa membandingkan ini itu. Tapi tak bisa berbuat apa-apa.

Tiap negara itu punya kondisi masing-masing yang itu harus dipahami, sebagai contoh, tak bisa kita membandingkan #Brisbane dengan #Jakarta, Brisbane kota terpadat no 3 di #Australia itu pendudukanya hanya 2jutaan sedangkan Jakarta itu lebih dari 10juta (5 kali lipat jumlah penduduk di Brisbane). Paham kan? tak bisa dibandingkan apple to apple.

Contoh lain, kalau di #Australia itu peraturan ditaati, semua teratur, tertata, hukum tegak. Yakin kalian mau seperti di #Aussie ? yangmana tiap mau bikin acara yang mengundang orang-orang harus ijin city council, mau motong pohon didepan rumah harus ijin city council, mau renovasi rumah harus ijin citi council?

Masyarakat Indonesia itu suka kumpul2, pengajian, tahlilan, dsb, yang mana pembangunan negaranya tentu harus dg pendekatan yang berbeda dg di sini yangmana masyarakatnya individualis.

Itu contoh saja ya hehe..
Hanya secuil curhat, karena ada yang seperti itu lhoo..

Ini repost dari postingan instagram saya.. maap jadi tulisannya kurang teratur dan banyak hashtag nya

Salam dari pinggir kali #Brisbane
Rischan Mafrur

Perbedaan kuliah di Korea dengan di Australia – Memilih Pembimbing

Di tulisan ini sayang ingin membahas khusus tentang Supervisor! untuk yang lain (seperti kondisi kampus, lingkungan, dsb) nanti ditulisan selanjutnya…

Saya sudah lama tidak posting di blog ini, apalagi posting mengenai perkuliahan dan aktifitas saya di Brisbane ini. Padahal saya saat ini sudah 9 bulan menjalani masa PhD hehe. Hari ini saya merasa suntuk dengan pekerjaan (riset) jadi buat ngilangin kesuntukan, saya mencoba untuk posting tulisan di blog ini. Semoga tulisan saya ini bermanfaat!

Intinya saya cukup beruntung karena diberi kesempatan oleh Allah bisa kuliah S1 di UIN Jogja, kemudian bisa menyelesaikan S2 di Chonnam National University, Korea dan sekarang sedang melanjutkan S3 di Data Science, The University of Queensland, Australia. Nah, saya menulis ini sebenarnya juga karena ada beberapa yang tanya ke saya mengenai plus minus kuliah di Korea dan di Australia. Tapi untuk postingan kali ini saya fokuskan lebih tentang superviosr. Tulisan ini nanti bisa buat gambaran buat teman-teman yang berencana untuk melanjutkan ke luar negeri. Hanya saja perlu diketahui bahwa ini hanya berlaku untuk case saya ya, hanya sebagai penambah referensi, tentu sama-sama di Australia tapi beda kampus, beda professor, tentu akan sangat berbeda, apalagi Australia begitu besar. Begitu juga di Korea, beda kampus, beda professor, tentu akan berbeda. Jadi intinya tulisan ini bisa buat nambah referensi tapi bukan untuk mengeneralisir.

Sejujurnya, walaupun jurusan saya S1 teknik informatika, S2 di computer engineering dan S3 di data science, sama-sama masuk di program “computer” tapi sebenarnya konsentrasi saya tidak begitu linear. Dulu waktu S1 semester awal saya sangat suka sekali dengan network security sampai-sampai saya bisa masuk ke semua server kampus #ups hehehe, kemudian di pertengahan semester suka sekali dengan AI khususnya computer vision dan melakukan penelitian dengan dosen dengan topik deteksi gampar porno dengan image processing dan machine learning. Eh di semester akhir saya sukanya main Android dan seputaran mobile computing. Setelah diterima S2 di korea, saya menjadi mahasiswa sekaligus peneliti di Advanced Network Lab di Chonnam dg fokus riset di bidang Ubiquitous computing dan diakhir-akhir tahun S2 lebih ke data mining yaitu modeling human behavior dari smartphone log. Baik S1 dan S2 saya memang terbiasa dengan implementasi atau lebih ke applied dan engineering, saya kurang tertarik dengan science dan novelty karena memang sejujurnya novelty di informatika berarti background matematika harus kuat sedangkan saya cukup kurang di matematika.

Lah dalah, kersaning Allah, saya memberanikan diri untuk ambil S3 di data science UQ (data and knowledge engineering)  dengan memilih supervisor yang masih muda (“Senior Lecturer” equivalent dg associate professor klo di USA) yang beliau lama berkarya di University of Pittsburgh, alasannya sih biar greget hehe. alhasil dari awal S3 ini sampai sekarang saya puyengnya bukan main hehehe. Nah jadi langsung saya buat point-point saja ya.. berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang biasanya saya dapatkan.

  • S2 dan S3 saya sama-sama by research jadi mungkin saya cukup bisa mengkomparasikan, tapi tetap saja tidak bisa digeneralisir. Professor/supervisor saya waktu S2 di Korea adalah professor senior, jadi klo proyek mah datang terus ke beliau, hanya saja karena sudah senior beliau kurang begitu butuh “kum” atau apa ya, intinya dari segi jabatan beliau sudah tak begitu butuh mahasiswanya untuk berjuang mati-matian submit publikasi. Tapi tetep saja harus publish karena untuk keberlangsungan lab nya (karena dari kampus/departement punya target bahwa lab harus punya publikasi minimal berapa tiap semester). Alasan lain professor senior pingin publish paper mungkin kalau beliau pingin jalan-jalan, bangun relasi, jadinya submit ke conference, dan kita juga akhirnya ikut jalan-jalan hehe.
  • Punya Professor SeniorPlus: Tekanan dari supervisor tidak begitu keras, budget biasanya banyak di lab dari grant-grant karena professor senior jelas sudah punya nama. Minus: Beliau biasanya kurang dalam hal membimbing kita karena kesibukan relasi, dan karena sudah senior dan dari sisi jabatan sudah diatas jadi motivasi untuk menjadikan anak-anaknya bisa submit di jurnal2 bereputasi kurang kuat karena mungkin beliau sudah tidak begitu butuh tapi kitalah yang butuh hehee.
  • Hal itu cukup berbeda dengan kondisi sekarang saya saat ini. Saya memang dengan sengaja memilih supervisor yang muda, sudah gitu background beliau dari pure computer science dan dari US, ya beginilah jadinya hehee, awal2 meeting langsung berurusan dengan equation hahaa. Dulu padahal pas di Korea sangat kental dengan budaya pali-pali nya (cepat-cekatan) dan workaholic nya, terus pingin ke Australia dengan ekspektasi mungkin akan lebih nyantai, eh tapi nyatanya hehehe.. ya beginilah. Nanti akan ada tulisan-tulisan saya tentang jerih payahnya saya memulai PhD di UQ ini. Dari mulai merasa diri ini adalah makhluk paling bodoh di dunia, sampai…….. ya begitulah. Persis 100 % di PhD comics haha.
  • Punya Supervisor yang masih mudaPlus: Jadi belajar banyak, benar-benar bisa membimbing dan mengarahkan, sangat memperhatikan details. Minus: Tekanan dari supervisor sangat keras, publikasi oriented di top tier conference dan jurnal karena ini juga untuk karir beliau, PhD terasa panas, dunia seakan-akan sangat kejam!!! hahaha, ekspektasi tinggi, mungkin juga kurang sabar karena beliau masih muda dan tidak seperti supervisor yang sudah senior yang rata-rata sudah sangat banyak membimbing mahasiswa yang berbeda-beda.
  • Kalau masalah Korea vs Australia, yang berasa berbeda adalah culture nya. Korea punya kultur yang cukup menghargai senior alias kultur senioritasnya masih cukup kental, jadi waktu saya S2 di sana yangmana supervisor saya adalah professor yang senior di kampus tentu ini ada nilai positif buat saya hehe. Sedangkan di Australia, jelas kulturnya adalah kultur barat. Wong manggil supervisor kita aja langsung nama tak ada embel2 nyebut professor. Kalau di Korea dulu saya manggir professor saya ya prof. Klo disini sekarang ya langsung sebut nama, mau beliau beda jauh umurnya sama kita tetap langsung panggil nama hehe. Kemudian di sini (Australia) juga tak ada kultur senioritas, jadi ya semuanya setara ketika berargument mau yang udah senior maupun tidak ya sama bahkan mahasiswa dan professor juga sama.

 

Nah begitulah, jadi bagi teman-teman yang mau ambil S2 by research atau mau ambil PhD, sekarang jadi punya referensi kan, apakah mau pilih supervisor yang sudah senior dengan jabatan yang sudah tinggi di kampus atau supervisor yang masih muda dan idealis hehe. Tapi tentu tulisan saya di atas tidak bisa untuk mengeneralisir, tentu semuanya tergantung pada supervisor masing-masing. Ada kok walaupun sudah senior tapi tetap ngejar-ngejar dan nge-push mahasiswanya, ada juga yang walaupun masih muda tapi style nya santai. Jadi begitulah, ada yang mau ditanyakan? silahkan tanyakan di kolom komentar.

 

Sampai ketemu ditulisan-tulisan saya berikutnya..

Salam dari Brisbane

Rischan Mafrur

Pendaftaran Beasiswa LPDP 2018

Pagi ini ketika buka HP, beberapa orang di Grub Whatsapp yang saya ikuti sudah mengeshare informasi mengenai pendaftaran beasiswa LPDP 2018. Saya coba buka linknya eh-timeout kemungkinan sih karena banyak yang akses. Tapi tadi sempat saya reload bisa dibuka di HP. Sekarang tidak bisa lagi.

Jadi bagi adek-adek yang sudah menanti informasi kapan pendaftaran beasiswa LPDP 2018 dibuka akhirnya datang juga. Bahkan saya sering sekali dapat email ataupun via sosial media atau di blog ini yang bertanya perihal tersebut. Oleh karena itu, saya post saja di sini. Berikut ada beberapa informasi penting yang tadi sudah saya screenshoot sebelumnya mengenai pendaftaran beasiswa LPDP 2018.

Berikut adalah informasi penting tersebut:

  1. Quota beasiswa LPDP 2018 adalah 4000, jadi hanya 4000 awardee yang diterima nantinya.
  2. Pendaftar di tahun 2018, dapat memulai perkuliahan tahun 2019 dan sudah tidak ada proses pindah kampus, jadi harus melanjutkan dikampus yang sudah dipilih pas pendaftaran.
  3. Ada schema baru yaitu co-funding (jadi model shared cost), sebagaian dibiayai LPDP sebagian biaya sendiri.
  4. Berikut adalah timeline pendaftaran beasiswa LPDP 2018 dalam negeri, luar negeri, dan disertasi terlampir
  5. Daftar kampus tujuan Luar Negeri untuk kampus regular semakin ketat: Daftar kampus tujuan Luar Negeri buka di sini dan daftar kampus tujuan dalam negeri lihat di sini.

 

 

 

 

 

Jadi yang perlu diingat bagi yang mau daftar beasiswa LPDP 2018 untuk dalam negeri, Senin tgl 7 Mei sudah dibuka pendaftarannya dan pendaftaran ditutup tanggal 8 Juni 2018. Bagi yang mau daftar beasiswa untuk luar negeri, pendaftaran dilakukan mulai 2 Juli 2018 – 21 September 2018.

Semangat ya..

Oya berikut ada beberapa tulisan saya mengenai pengalaman seleksi LPDP dan tips nya. Jadi bisa jadi bahan bacaan dan referensi.

Kumpulan tulisan-tulisan saya tentang beasiswa LPDP bisa dibuka di sini 

Bagi yang sukanya nonton Vlog, ini ada Vlog lengkap tentang Tips lolos beasiswa LPDP.  (Ini playlist isinya ada 7 videos)

 

Sukses ya..

Info official pengumuman pendaftaran beasiswa LPDP bisa dibuka di sini PENDAFTARAN LPDP 2018

Salam dari Pinggir kali Brisbane

Rischan Mafrur