Sembilan Tahun NgeBlog

Hari ini adalah hari yang cukup spesial karena mendapatkan notifikasi dari WordPress “Happy Anniversary with WordPress.com!”. Sebenarnya notifikasi-notifikasi seperti itu banyak sekali yang masuk ke email dari berbagai aplikasi yang saya pakai dan selalu saya hiraukan. Tapi untuk kali ini saya rasa cukup berbeda! WordPress bilang dalam notifikasinya, udah 9 tahun lhoo kamu pakai blog ini?

Seriously?

Sempet shock sih, ternyata sudah 9 tahun usia Blog ini. Alasan lainnya juga yang membuat saya akhirnya untuk menulis postingan ini adalah hanya pada Blog ini saya setia, yang mana dari lahir sampai sekarang saya masih memakai blog ini. Dulu pernah punya Friendster terus mati, akun email dulu pakai Yahoo terus ganti Gmail dan di Gmailpun gonta-ganti, begitu juga dengan akun-akun lain bahkan nomor HP juga sering gonta-ganti. Hanya blog WordPress ini yang tidak pernah gonta-ganti, bahkan sudah banyak teman yang menyarankan, ngapain sih tidak di upgrade jadi domainnya dot com, nanti kan juga bisa di monetize, pasang iklan dan dapat duit. Entah kenapa, sampai sekarang saya tidak ada rencana untuk melakukannya, sudah terlanjur cinta dengan rischan.wordpress.com , tak perlu lah ganti domain. Karena memang tujuan utama semua tulisan-tulisan di Blog ini semoga bisa menjadi amal jariah saya. Dan andaikata saya mati besok pagi, selama WordPress masih ada maka tulisan di blog ini juga akan tetap ada, beda kasus kalau di upgrade domain ke dot com. Kalau saya mati, pasti situsnya ikut mati, karena tidak ada yang membayar tagihan kedepannya hehee.

Sembilan tahun itu bukanlah waktu yang sedikit, saya mencoba-coba untuk me-recall memory, kapan sih saya buat akun wordpress ini. Yah, waktu itu, 9 Maret 2009, dimana pada tahun itu saya tidak melanjutkan kuliah. Saya lulus SMA 2008, kemudian memutuskan untuk bekerja agar punya duit buat kuliah. Di tanggal itu saya sedang bekerja di AndraComp, Temanggung (Toko/Service/Instalasi) komputer dan jaringan dan biasanya ketika sepi dan tidak ada kerjaan, saya habiskan waktu kosong untuk menulis beberapa tulisan di Blog ini.

Ingatan saya itu sepertinya benar! Setelah mencoba ‘tracking’ dan ‘riset’ di beberapa tulisan terlama di Blog ini hehehe.

Blog ini benar-benar gado-gado dan tulisan-tulisan lama di blog ini mencerminkan diri saya di saat state itu. Awal mula adanya blog ini, mayoritas tulisan saya adalah mengenai hardware, review GPU, spec komputer dan sebagainya, di samping itu juga tentang tips-trik mempercantik Blog. Karena pada saat itu saya memang lagi gandrung dengan HTML dan javascript. Itu terbukti dengan seringnya saya datang dan berguru kepada kakak kelas saya, namanya Heru Riadyawan, yang dia punya blog yang keren banget.

Review hardware, tips blogging dan ngeblog, kemudian berubah tema menjadi blog romansa, karena dikala S1 banyak tulisan-tulisan di blog ini tentang cinta (yah mungkin memang fase saya saat itu ya?) hahaha.

Dan pada akhirnya, untuk saat ini mayoritas viewers di Blog ini adalah para pencari beasiswa khususnya ke Korea. Tulisan saya tentang itu tidak pernah sepi setiap hari, di tambah sekarang saya juga punya tulisan tentang seleksi LPDP, jadi tambah rame saja blog ini dikunjungi oleh orang-orang yang tertarik melanjutkan kuliah dengan beasiswa.

Begitulah perjalanan panjang Blog ini, lahir 9 Maret 2018, hari ini tepat usianya 9 tahun. Ada hal yang sangat penting yang ingin saya sampaikan di tulisan ini, yakni manusia itu berproses. Bagi teman-teman yang kepo, pasti akan bingung, blog ini sudah 9 tahun tapi tulisannya sangat sedikit. Ya jawabannya adalah saya jarang nulis, itu bisa saja benar bisa salah. Setelah saya check, ternyata banyak sekali tulisan-tulisan saya yang tadinya terpublished saya jadikan draft lagi. Saya tidak menghapus satupun tulisan lama saya, karena dari situ akan ketahuan proses kedewasaan hidup saya, jadi sayang kalau dihapus. Disisi lain, saya malu kalau tidak disembunyikan tulisan-tulisan tersebut hahah!.

Mau lihat postingan pertama saya di blog ini seperti apa?

Itulah tulisan pertama saya di tanggal 9 Maret 2009, ada dua tulisan yaitu tutorial membuat Blog di WordPress dan tutorial membuat Blog di Blogger/Blogspot. Coba lihat itu screenshootnya Blogger masih primitive gitu hehe. Kemudian alasan yang bikin saya malu adalah tulisannya, itu saya saja tidak paham apalagi orang lain yah?

Nah itulah state manusia, kita tidak bisa menilai manusia karena kita tak tahu kondisi yang sedang dialaminnya, karena kita tidak tahu state dia. Kita semua hidup di dunia ini sedang berlari di lintasan masing-masing, dan lintasannya pun berbeda-beda. Seringkali mungkin kita tertawa melihat tulisan alay di Facebook, eh taunya dia memang masih anak-anak. Lha saya saja mencoba lihat update-an status tahun 2009 di Facebook juga ketawa sendiri. Nah itulah, begitulah manusia, manusia itu berubah dan semuanya butuh proses.

Maka jangan kaget jika di sosial media banyak sekali menemukan tulisan-tulisan yang mungkin lucu, menyedihkan, atau memprihatinkan, karena state manusia itu berbeda beda, dan memang keragaman itu Allah ciptakan agar hidup kita di dunia ini makin seru hehe.

Selain itu, hal yang menurut saya penting adalah latihan menulis. Saya sudah mencoba untuk menulis sejak 9 tahun lalu, walaupun tulisan saya acang-kadut tidak karuan seperti di atas. Tapi sekali lagi, semuanya berproses! Sampai sekarang-pun saya merasa menulis itu benar-benar susah! Entah itu menulis postingan di blog, menulis paper/journal, apalagi menulis buku. Sampai sekarang-pun saya masih berusaha untuk bisa lebih baik dan lebih baik.

Yang pasti suatu saat, kita akan tertawa ketika melihat tulisan-tulisan lama kita, dan disitulah ada nilai kebahagiaan tersendiri. Disamping hal itu merupakan kelucuan tapi kitapun jadi ingat, momen saat kita menulis tulisan tersebut. hehe.

Ayoo menulis!!..

Salam dari Pinggir Kali Brisbane

Rischan Mafrur

Advertisements

24 Purnama di Negeri Ginseng

Tanggal 2 Mei 2016 ada pesan masuk ke Facebook saya, yaitu dari salah seorang editor di Penerbit Mizan Bandung.  Intinya adalah Mas nya ini sering baca Blog saya dan Twittan saya dan dia tertarik untuk membukukannya. Pada waktu itu sebenarnya saya sudah membaca pesan ini tapi karena kesibukan, saya belum sempat untuk merespon tawaran ini. Barulah setelah selang 7 bulan hehe, yaitu di Bulan Desember 2016 saya membalas pesan ini.

 

Yang pada akhirnya, Alhamdulillah, sekarang bukunya sudah jadi dengan judul “24 Purnama di Negeri Ginseng“. Sebenarnya pada awalnya saya kurang Pede ketika berencana untuk menulis buku karena memang saya belum pernah menulis buku sebelumnya. Saya juga bingung, mau buat buku ber-genre apa, tapi karena Mas dari Mizan tadi mendorong, ya saya tulis saja. Jadi buku saya ini genrenya apa sih?
Ahh.. baca sendiri saja ya hehehehe..

Sebelum buku ini saya kirimkan ke editor, saya sudah meminta istri saya, kemudian beberapa teman saya di Korea, bahkan rektor UTS lho (Universitas Teknologi Sumbawa) sudah baca bukunya, beliau juga ngasih pengantar di buku ini, beberapa dosen saya untuk membacanya dan memberikan testimoninya, dan responnya bagus makanya saya berani untuk memasukkan buku ini ke penerbit.

Singkatnya buku ini sebenarnya lebih mirip seperti gado-gado dimana isinya adalah berdasarkan fakta yakni pengalaman dari penulis sendiri. Di dalamnya mengandung beberapa unsur dari mulai tips untuk mendapatkan beasiswa dan diterima di kampus luar negeri, langkah-langkahnya bagaimana, motivasi-motivasi, bagaimana rasanya kuliah di Korea, suka dukanya, bahkan sampai menyangkut tentang hal-hal religius semacam bagaimana kami sebagai orang islam menjalani hidup kami di Korea, tentang makna hidup, bahkan yang tidak kalah seru, di sana ada romansanya, karena memang tak bisa dipungkiri, Allah mempertemukan jodoh saya di Korea. hehe.

Yang jelas, dari beberapa yang baca, bilangnya sih seru, seperti sedang berpetualang dan ikut merasakan bagaimana keseruan petualangan di Korea.

Inti dari tulisan kali ini adalah satu, yaitu “Menulislah maka kamu Ada“, yang ngomong ini bukan saya tapi Sokrates (filusuf Yunani). Apa yang dikatakan Sokrates itu memang benar, saat ini kita mengenal imam yang empat (Hanafi, Maliki, Syafie, Hambali) atau mungkin kita tahu Imam Nawawi, Ibn Hajar Al Askolani, Imam Ghozali dan sebagainya. Kita tahu mereka karena ada kitab-kita mereka, ada tulisan-tulisan mereka yang sampai saat ini abadi tidak tertelan zaman. Padahal pada zaman dahulu ulama-ulama sekaliber mereka itu tidak hanya mereka, tapi yang bisa survive terkenang sampai sekarang adalah mereka yang mempunyai kitab-kitab dan mempunyai murid yang rajin menuliskan pemikiran-pemikirannya.

Jadi hikmahnya, saya sebenarnya waktu itu belum ada rencana untuk menulis Buku, tapi karena saya sering nulis di Blog, eh ada orang yang membaca blog saya dan tertarik, kebetulan dia adalah editor dari peneribit, ya maka jadilah.

Jadi, yuk kita sama-sama berlatih menulis, sering-sering menulis, apalagi sekarang adalah era sosial media, dimana kita bisa menulis apapun dan dimanapun. Semoga tulisan-tulisan kita bisa bermanfaat bagi orang lain, dan bisa menjadi ladang amal jariah yang pahalanya tak putus walaupun kita sudah mati kelak.

Amiinnn..

Eh iya, yang mau beli Buku saya “24 Purnama di Negeri Ginseng” silahkan bisa isi form ini http://bit.ly/24PurnamaDiNegeriGinseng insyaAllah akhir minggu ini sudah bisa dikirim bukunya.

Salam dari Pinggir Kali Brisbane

Rischan Mafrur

Fiqih Media Sosial

Hari ahad pagi tanggal 26 November 2017 kemarin saya diminta untuk mengisi kajian kuliah subuh di Kantor IMCQ di Loganlea, Brisbane. Tema kajiannya adalah tentang Fiqih Media Sosial.

Kita manusia jaman now memang tak kan mungkin bisa terlepas dari media sosial, sayapun adalah pengguna media sosial baik itu Facebook, Twitter, instagram, WA messenger dan sebagainya. Dulu saya masih ingat di awal adanya Facebook, saya benar masih ingat waktu itu Facebook fiturnya belum ada share, jadi cukup update status, saling like, saling komen, buat grup dan sebagainya. Waktu jaman itu facebook isinya ya tempat silaturahmi, saling berhubungan lagi dengan teman SD, SMP, SMA kemudian buat grup, bahas mau buat event atau kumpul-kumpul atau apalah.

Saat ini Facebook benar-benar berubah, sekarang di timeline saya bak timeline berita yaitu karena fitur share di Facebook. Facebook penuh dengan berita dari berbagai website dan tak sulit bagi saya untuk menemukan komentar-komentar ujaran kebencian, hoax, caci maki dan sebagainya. Saya juga masih ingat waktu pilpres 2014, saya semangat 45 untuk share A, share B, share C, kasih komen A, B, dan C. Kemudian setelah jelang beberapa lama saya kadang berkontemplasi, merenung, melihat status lama saya di Facebook.

Manusia itu dinamis, alias berubah, dan tentunya kita berharap bisa senantiasa berubah ke lebih baik sampai ajal menjemput, dan kitapun disuruh oleh Allah untuk sering-sering merenung, menghisab diri sebelum nantinya kita di hisab olehNya di yaumil hisab.

Kadang namanya juga manusia, kita itu lupa bahwa semua yang kita tulis, semua yang kita share, semua yang kita like di Facebook, semua yang kita upload di instagram, semua tweetan kita di Twitter itu adalah cerminan diri kita yang mana semua itu juga besok bakal dimintai pertanggung jawaban oleh Allah SWT. Saya hanya takut nanti di akherat kelak saya termasuk orang muflis.

Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang pailit) itu?” Para sahabat menjawab,”Muflis (orang yang pailit) itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda.” Tetapi Nabi Shallallahualaihi wa sallam berkata : “Muflis (orang yang pailit) dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan (salah) menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka

(HR Muslim no. 2581, Tirmizi no. 2418 dan Ahmad 334)

 

Padahal tujuan hidup kita hanyalah semata-mata untuk berbibadah padaNya, untuk mencari bekal buat perjalanan besok di akherat. Apajadinya jika bekal yang sudah saya kumpulkan susah payah dari sholat, zakat, puasa, haji dan ibadah lainnya, eh… ternyata kelak di akherat bekal saya itu harus saya berikan ke orang-orang yang di dunia ini pernah saya dholimi, pernah saya caci maki, pernah saya pukul, pernah saya sakiti. Ya Rabb….

Islam itu adalah agama yang sangat lengkap, makanya disebut sebagai the way of life, ke kamar mandi saja diatur, makan diatur, dari bangun tidur sampai tidur lagi semuanya diatur, apalagi interaksi dengan sesama manusia/ habluminannas baik itu interaksi secara langsung maupun di sosial media. Semuanya sudah diatur, jadi yuk,,, kita ber islam secara kaffah…

Pertengahan tahun 2017 ini sebenarnya MUI sudah mengeluarkan fatwa tentang panduan bersosial media, berikut bagi yang ingin mendownloadnya, silahkan klik gambar download dibawah ini:

Semoga kita senantiasa dibimbing oleh Allah dan semoga Allah melindungi kita semua dari fitnah akhir zaman ini, bagi yang mau mendengarkan rekaman kajian kuliah subuh saya kemarin tentang Fiqih Media Sosial, silahkan bisa dengarkan di rekaman di Youtube di bawah ini:

 

 

Bagi yang mau mendownload slide kajiannya bisa didownload di sini

Semoga bermanfaat..

Salam dari Brisbane..

Download Buku 37 Masalah Populer Ust Abdul Somad

Alhamdulillah BUKU saya “24 Purnama di Negeri Ginseng” Terbit juga!!

Bagi yang mau kuliah di Korea dengan Beasiswa saya sarankan untuk membeli buku ini, karena dalam buku ini saya jelaskan bagaimana perjuangan seorang pencari beasiswa hingga akhirnya mendapatkannya, kemudian suka dan duka jadi mahasiswa di Korea itu seperti apa. Siap-siap berpetualag dan terbakar semangatnya kalau baca buku ini. Sudah bisa dibeli di toko buku kesayangan anda! (Tersedia di Gramedia seluruh Indonesia)

Bagi yang mau beli Online bisa beli di Tokopedia, Bukalapak atau toko online lainnya, atau langsung menghubungi Whatsapp (WA) CS Mizan store di http://bit.ly/Beli24PurnamaOnline

Atau bisa mengunjungi website resmi MizanStore (Toko Buku Online Mizan) melalui link ini https://mizanstore.com/detail/59981

 

Sosial media termasuk di dalamnya Facebook, Twitter, Instagram, dan Youtube benar-benar bisa membawa perubahan yang luar biasa. Dulu kita kalau mau belajar harus datang dan masuk ke kelas, atau mendatangi majlis dan bertanya langsung ke guru, tapi sekarang cukup dengan duduk manis di depan laptop atau lihat HP, puter Youtube kita bisa belajar apa saja termasuk di dalamnya belajar Islam.

Entah kenapa lama-kelamaan saya merasa khawatir dengan semua ini, banyak sekali orang-orang dengan mudahnya mencaci maki di Facebook, di Twitter, dan mereka mencacimaki dengan atas nama agama, membid’ahkan amalan orang lain bahkan sampai mengatakan amalan musyrik dan kafir, nauzubillah.

Belajar di Youtube memang nyaman tapi kalau untuk agama kadang memang menjadi menakutkan apalagi mereka-mereka yang baru tahu dan tidak punya landasan kuat tentang islam.

Akhir-akhir ini banyak sekali ustad-ustad yang ceramah di Youtube yang mempunyai pandangan yang berbeda dengan pandangan pada umumnya orang islam di Indonesia, yang mayoritas muslim Indonesia adalah mereka yang beraqidah Asyariah/Maturidiyah dengan Mazhab Fiqih Syafi’iah. Slogan mereka adalah kembali ke Quran dan Sunnah. Jujur saya bingung ketika ada teman saya, dia bahasa arab tidak paham, apalagi nahwu sorof, baca Quran saja belum lancar, baru kenal kajian dan nonton di Youtube langsung bilang kembali ke Quran dan Sunnah. Saya berpikir mungkin yang dia maksud adalah kembali ke TERJEMAHAN Quran dan Sunnah kali ya?

Ingatlah dengan sabda Rosulullah SAW, Barangsiapa menafsirkan Quran dengan akalnya tanpa ilmu maka silakan ia mengambil tempat duduknya di neraka (HR Tirmidzi)

Saya jadi inget obrolan dengan Guru saya, beliau adalah Kiyai Kampung tapi pengetahuannya luar biasa. Beliau bilang, beliau sangat tidak setuju Al Quran itu diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Kalau di tafsirkan ke bahasa indonesia dengan tafsir silahkan, tapi kalau hanya diterjemahkan beliau sangat tidak setuju. Dengan adanya fenomena ini akhirnya saya jadi paham, ternyata begini ya jadinya. Orang hanya bermodalkan Quran terjemah, ngutip Quran sana sini, ngutip Hadits sana sini langsung di sampaikan, langsung bilang kembali ke Quran dan Sunnah, padahal dia tak paham konteksnya dulu ayat atau hadits itu diturunkan karena apa dan sebagainya, ya walaupun ada ayat atau hadits yg turun tanpa adanya konteks tapi paling tidak ada syarahnya dari ulama.

Saya mau bercerita sebentar, Dulu suatu ketika saya sholat di sebuah masjid dan ternyata di Masjid tersebut setiap habis magrib ada petugas yang membacakan satu hadits dari kitab hadits. Sayangnya petugas tersebut hanya membacakan artinya tanpa ada syarah, atau asbabul wurudnya, atau tafsirnya. Saya kaget karena pada saat itu hadits yang dibacakan adalah hadits tentang nikah mut’ah (bolehnya kawin kontrak), itu haditsnya memang ada dan jelas kemudian datang hadits yang menghapus hukum bolehnya nikah mut’ah. Nah kalau begini apa tidak berabe? kalau itu didengarkan oleh jamaah yang tidak paham dikiranya nikah mut’ah itu boleh.

Itulah islam, Quran dan Sunnah itu lautan ilmu. Kalau kita belajar lebih dalam, kita bisa tahu bahwa tidak sedikit ayat-ayat dalam Quran dan sunnah itu adalah ayat-ayat nasikh dan mansukh, atau bahkan ada ayat-ayat kontradiktif. Nah, lhoo, terus bagaimana coba kalau ada ayat kontradiktif, bingung kan?

Nah itulah kenapa kita tidak akan mungkin bisa kembali ke Quran dan Sunnah secara langsung, tapi kita kembali ke Quran dan Sunnah melalui para ulama.

Sekarang itu banyak sekali fenomena aneh, ketika sakit dia pergi ke dokter, dokter bilang blababla dan diapun percaya dengan apa yang dokter bilang. Ketika dia motornya rusak dia pergi ke bengkel untuk membetulkannya, tapi ketika masalah agama, kemudian ulama sudah mengatakan hukumnya ini itu, dia menimpali, itu haditsnya shohih? hhehehe. Ada ada saja orang zaman sekarang. Saya pernah menjumpai orang seperti ini, orang tersebut bertanya sesuatu kemudian saya sampaikan jawabannya sesuai dengan apa yang guru saya ajarkan, eh dianya minta dalil, minta hadits, saya kasih saja hadits arab gundul, eh dianya bingung. Yah begitulah… Banyak orang sekarang bilang, ayolah kembali ke Quran dan Sunnah tanpa ikut ulama, emang dia mujtahid? hapal Quran dan paham isinya, hapal dan paham ribuan hadits, kaidah fiqih paham?
Itulah penyakit yang sekarang banyak menjalar di tubuh umat islam saat ini.

Empat imam mazhab itu orang yang sangat luar biasa, ibarat kata Quran dan Sunnah itu adalah bahan mentahnya, mereka imam mazhab adalah juru masaknya/ mujtahid, dimana mereka meracik sedemikian rupa sehingga bisa dengan mudah dinikmati oleh orang umum. Itulah kenapa ada mazhab, tujuannya adalah untuk mempermudah bagi orang umum seperti saya untuk menjalankan agama ini, seperti makanan yang sudah siap santap tidak perlu repot-repot.

Nah kembali ke ustad-ustad di Youtube yang seringkali membid’ahkan amalan-amalan orang lain. Jujur saja, saya di Korea Selatan selama dua tahun, punya beberapa kawan dari timur tengah (Mesir, Libiya, Maroco) bahkan kawan muslim dari daerah-daerah pecahan Rusia sampai Amerika. Ternyata di sana di negara-ngara tersebut termasuk di Korea juga, persoalan umat islam itu juga mirip, yaitu adanya segelintir orang atau kelompok yang suka membid’ahkan amalan orang lain dan menyebabkan perpecahan di kalangan umat, padahal amalan-amalan tersebut sifatnya adalah khilafiyah atau cabang. Yang saya bingungkan dari sahabat-sahabat saya yang seperti itu adalah, masalah furu/khilafiyah mereka vokal sampai mengeluarkan hadits segala macam, doa jamaah bid’ah, tahlilan bid’ah padahal itu adalah merupakan persoalan yang furu, tapi pada persoalan wajib yang disepakati seperti miras merajalela, narkoba, mereka malah biasa saja. Nauzubillah. Saya jadi semakin geleng-geleng saja, mereka sering menamakan Ustad Sunnah, kajian Sunnah dan sebagainya. Apakah yang lain berarti tidak Sunnah?

Alhamdulillah setelah saya pulang dari Korea, terus lihat-lihat di Youtube, sekarang ada orang-orang yang bisa mengkounter ustad-ustad tersebut. Saya sangat suka dengan kajian Buya Yahya Al Bahjah, beliau lulusan Yaman dan sanad Ilmunya jelas dan bisa dipertanggungjawabkan, dengan membawa aqidah asyariah dan atau maturidiyah dan mazhab syafiiah, ini menjadi angin segar bagi umat muslim Indonesia pada umumnya. Kemudian ada Ust Adi Hidayat alumni Libiya yang masih sangat muda dan cerdas, kemarin sempat ramai karena ditahzir tapi qodratullah Allah angkat beliau. Dan yang terakhir ini yang menurut saya paling cocok dengan saya yaitu Ustadz Abdul Somad, alumni S1 Al Azhar Mesir, dan Darul Hadits Maroko.

Ustad Abdul Somad ini ceramahnya enak banget di cerna, gampang dipahami, dan kadang diselipi hal-hal yang lucu dan unik sehingga tidak membosankan. Alhamdulillah sekarang Indonesia punya Ustad Abdul Somad, semoga beliau sehat selalu dan dirahmati Allah. Semoga nanti terlahir generasi-generasi lain yang bisa seperti beliau ini.

Persoalan curhatan saya di atas tersebut akan lebih jelas bila kita membaca Karya Ustadz Abdul Somad yaitu Buku 37 Masalah Populer. Dalam buku tersebut dibahas secara rinci tentang persoalan Bid’ah sampai kepada amalan-amalan yang sering dianggap bid’ah oleh kalangan yang sering membid’ahkan seperti tawasul, salaman setelah sholat, isbal dan sebagainya.

Kalau kata Syeikh Yusuf Qordowi, orang islam di dunia ini mayoritas asyariah dengan bermazhab fiqh imam yang empat, orang-orang seperti di atas yang saya sebutkan itu hanya sedikit sekali hanya saja mereka sering vokal alias aktif ngomong. Nah yuk.. kita juga mulai bergerak, agar tidak pecah persatuan umat ini karena ulah segelintir orang yang suka membid’ahkan orang lain padahal itu adalah persoalan furu alias cabang.

Silahkan bagi yang mau mendownload Buku 37 Masalah Populer karya Ustad Abdul Somad, Lc. MA klik tombol download di bawah ini.

Dakwah itu mengajak bukan Mengeje, Dakwah itu sayang kepada yang didakwahi bukan marah atau benci.

Salam dari Brisbane,

Ditulis oleh:
Rischan Mafrur
Mahasiswa S3 di The University of Queensland, Australia