Download Buku 37 Masalah Populer Ust Abdul Somad

Sosial media termasuk di dalamnya Facebook, Twitter, Instagram, dan Youtube benar-benar bisa membawa perubahan yang luar biasa. Dulu kita kalau mau belajar harus datang dan masuk ke kelas, atau mendatangi majlis dan bertanya langsung ke guru, tapi sekarang cukup dengan duduk manis di depan laptop atau lihat HP, puter Youtube kita bisa belajar apa saja termasuk di dalamnya belajar Islam.

Entah kenapa lama-kelamaan saya merasa khawatir dengan semua ini, banyak sekali orang-orang dengan mudahnya mencaci maki di Facebook, di Twitter, dan mereka mencacimaki dengan atas nama agama, membid’ahkan amalan orang lain bahkan sampai mengatakan amalan musyrik dan kafir, nauzubillah.

Belajar di Youtube memang nyaman tapi kalau untuk agama kadang memang menjadi menakutkan apalagi mereka-mereka yang baru tahu dan tidak punya landasan kuat tentang islam.

Akhir-akhir ini banyak sekali ustad-ustad yang ceramah di Youtube yang mempunyai pandangan yang berbeda dengan pandangan pada umumnya orang islam di Indonesia, yang mayoritas muslim Indonesia adalah mereka yang beraqidah Asyariah/Maturidiyah dengan Mazhab Fiqih Syafi’iah. Slogan mereka adalah kembali ke Quran dan Sunnah. Jujur saya bingung ketika ada teman saya, dia bahasa arab tidak paham, apalagi nahwu sorof, baca Quran saja belum lancar, baru kenal kajian dan nonton di Youtube langsung bilang kembali ke Quran dan Sunnah. Saya berpikir mungkin yang dia maksud adalah kembali ke TERJEMAHAN Quran dan Sunnah kali ya?

Ingatlah dengan sabda Rosulullah SAW, Barangsiapa menafsirkan Quran dengan akalnya tanpa ilmu maka silakan ia mengambil tempat duduknya di neraka (HR Tirmidzi)

Saya jadi inget obrolan dengan Guru saya, beliau adalah Kiyai Kampung tapi pengetahuannya luar biasa. Beliau bilang, beliau sangat tidak setuju Al Quran itu diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Kalau di tafsirkan ke bahasa indonesia dengan tafsir silahkan, tapi kalau hanya diterjemahkan beliau sangat tidak setuju. Dengan adanya fenomena ini akhirnya saya jadi paham, ternyata begini ya jadinya. Orang hanya bermodalkan Quran terjemah, ngutip Quran sana sini, ngutip Hadits sana sini langsung di sampaikan, langsung bilang kembali ke Quran dan Sunnah, padahal dia tak paham konteksnya dulu ayat atau hadits itu diturunkan karena apa dan sebagainya, ya walaupun ada ayat atau hadits yg turun tanpa adanya konteks tapi paling tidak ada syarahnya dari ulama.

Saya mau bercerita sebentar, Dulu suatu ketika saya sholat di sebuah masjid dan ternyata di Masjid tersebut setiap habis magrib ada petugas yang membacakan satu hadits dari kitab hadits. Sayangnya petugas tersebut hanya membacakan artinya tanpa ada syarah, atau asbabul wurudnya, atau tafsirnya. Saya kaget karena pada saat itu hadits yang dibacakan adalah hadits tentang nikah mut’ah (bolehnya kawin kontrak), itu haditsnya memang ada dan jelas kemudian datang hadits yang menghapus hukum bolehnya nikah mut’ah. Nah kalau begini apa tidak berabe? kalau itu didengarkan oleh jamaah yang tidak paham dikiranya nikah mut’ah itu boleh.

Itulah islam, Quran dan Sunnah itu lautan ilmu. Kalau kita belajar lebih dalam, kita bisa tahu bahwa tidak sedikit ayat-ayat dalam Quran dan sunnah itu adalah ayat-ayat nasikh dan mansukh, atau bahkan ada ayat-ayat kontradiktif. Nah, lhoo, terus bagaimana coba kalau ada ayat kontradiktif, bingung kan?

Nah itulah kenapa kita tidak akan mungkin bisa kembali ke Quran dan Sunnah secara langsung, tapi kita kembali ke Quran dan Sunnah melalui para ulama.

Sekarang itu banyak sekali fenomena aneh, ketika sakit dia pergi ke dokter, dokter bilang blababla dan diapun percaya dengan apa yang dokter bilang. Ketika dia motornya rusak dia pergi ke bengkel untuk membetulkannya, tapi ketika masalah agama, kemudian ulama sudah mengatakan hukumnya ini itu, dia menimpali, itu haditsnya shohih? hhehehe. Ada ada saja orang zaman sekarang. Saya pernah menjumpai orang seperti ini, orang tersebut bertanya sesuatu kemudian saya sampaikan jawabannya sesuai dengan apa yang guru saya ajarkan, eh dianya minta dalil, minta hadits, saya kasih saja hadits arab gundul, eh dianya bingung. Yah begitulah… Banyak orang sekarang bilang, ayolah kembali ke Quran dan Sunnah tanpa ikut ulama, emang dia mujtahid? hapal Quran dan paham isinya, hapal dan paham ribuan hadits, kaidah fiqih paham?
Itulah penyakit yang sekarang banyak menjalar di tubuh umat islam saat ini.

Empat imam mazhab itu orang yang sangat luar biasa, ibarat kata Quran dan Sunnah itu adalah bahan mentahnya, mereka imam mazhab adalah juru masaknya/ mujtahid, dimana mereka meracik sedemikian rupa sehingga bisa dengan mudah dinikmati oleh orang umum. Itulah kenapa ada mazhab, tujuannya adalah untuk mempermudah bagi orang umum seperti saya untuk menjalankan agama ini, seperti makanan yang sudah siap santap tidak perlu repot-repot.

Nah kembali ke ustad-ustad di Youtube yang seringkali membid’ahkan amalan-amalan orang lain. Jujur saja, saya di Korea Selatan selama dua tahun, punya beberapa kawan dari timur tengah (Mesir, Libiya, Maroco) bahkan kawan muslim dari daerah-daerah pecahan Rusia sampai Amerika. Ternyata di sana di negara-ngara tersebut termasuk di Korea juga, persoalan umat islam itu juga mirip, yaitu adanya segelintir orang atau kelompok yang suka membid’ahkan amalan orang lain dan menyebabkan perpecahan di kalangan umat, padahal amalan-amalan tersebut sifatnya adalah khilafiyah atau cabang. Yang saya bingungkan dari sahabat-sahabat saya yang seperti itu adalah, masalah furu/khilafiyah mereka vokal sampai mengeluarkan hadits segala macam, doa jamaah bid’ah, tahlilan bid’ah padahal itu adalah merupakan persoalan yang furu, tapi pada persoalan wajib yang disepakati seperti miras merajalela, narkoba, mereka malah biasa saja. Nauzubillah. Saya jadi semakin geleng-geleng saja, mereka sering menamakan Ustad Sunnah, kajian Sunnah dan sebagainya. Apakah yang lain berarti tidak Sunnah?

Alhamdulillah setelah saya pulang dari Korea, terus lihat-lihat di Youtube, sekarang ada orang-orang yang bisa mengkounter ustad-ustad tersebut. Saya sangat suka dengan kajian Buya Yahya Al Bahjah, beliau lulusan Yaman dan sanad Ilmunya jelas dan bisa dipertanggungjawabkan, dengan membawa aqidah asyariah dan atau maturidiyah dan mazhab syafiiah, ini menjadi angin segar bagi umat muslim Indonesia pada umumnya. Kemudian ada Ust Adi Hidayat alumni Libiya yang masih sangat muda dan cerdas, kemarin sempat ramai karena ditahzir tapi qodratullah Allah angkat beliau. Dan yang terakhir ini yang menurut saya paling cocok dengan saya yaitu Ustadz Abdul Somad, alumni S1 Al Azhar Mesir, dan Darul Hadits Maroko.

Ustad Abdul Somad ini ceramahnya enak banget di cerna, gampang dipahami, dan kadang diselipi hal-hal yang lucu dan unik sehingga tidak membosankan. Alhamdulillah sekarang Indonesia punya Ustad Abdul Somad, semoga beliau sehat selalu dan dirahmati Allah. Semoga nanti terlahir generasi-generasi lain yang bisa seperti beliau ini.

Persoalan curhatan saya di atas tersebut akan lebih jelas bila kita membaca Karya Ustadz Abdul Somad yaitu Buku 37 Masalah Populer. Dalam buku tersebut dibahas secara rinci tentang persoalan Bid’ah sampai kepada amalan-amalan yang sering dianggap bid’ah oleh kalangan yang sering membid’ahkan seperti tawasul, salaman setelah sholat, isbal dan sebagainya.

Kalau kata Syeikh Yusuf Qordowi, orang islam di dunia ini mayoritas asyariah dengan bermazhab fiqh imam yang empat, orang-orang seperti di atas yang saya sebutkan itu hanya sedikit sekali hanya saja mereka sering vokal alias aktif ngomong. Nah yuk.. kita juga mulai bergerak, agar tidak pecah persatuan umat ini karena ulah segelintir orang yang suka membid’ahkan orang lain padahal itu adalah persoalan furu alias cabang.

Silahkan bagi yang mau mendownload Buku 37 Masalah Populer karya Ustad Abdul Somad, Lc. MA klik tombol download di bawah ini.

Dakwah itu mengajak bukan Mengeje, Dakwah itu sayang kepada yang didakwahi bukan marah atau benci.

Salam dari Brisbane,

Ditulis oleh:
Rischan Mafrur
Mahasiswa S3 di The University of Queensland, Australia

Advertisements

Ustadz Waris Fakhruddin, SHI, MSI

Kali ini aku mau menulis mengenai seseorang yang insyaAllah aku tak kan pernah melupakan beliau ini. Belia ini seseorang yang menurutku adalah orang yang sangat berbeda dengan orang lain, keras, teguh dalam kebaikan, sangat membenci kemaksiyatan, dan selalu berusaha untuk menebarkan islam dimana saja kapan  saja. Beliaulah Ustadz Waris Fahruddin saat tulisan ini ditulis beliau menjabat sebagai Ketua FPU ato Forum Peduli Umat Temanggung dan ketua IKADI Ikatan Dai Indonesia se Temanggung.

Jadi Gini kawan, Kawan-kawan yang sudah baca tulisan ku mengenai sejarah hidup ku yang gak jelas ini hehe, disana akan temen2 temui ketika aku lulusa dari MTsN Parakan, dengan mengantongi 10 Besar, tiba2 Bapak dan Ibuku berencana untuk tidak memberi kesempatan padaku untuk melanjutkan ke SMA, yah sekali lagi aku tekankan karena alasan klasik yaitu ekonomi. Tapi seperti yang sudah aku tuliskan pula, berkat jasa Bu Khus yaitu walikelas ku kelas 3 akhirnya Bpk ku diyakinkan oleh Beliau agar aku tetep melanjutkan ke SMA N 1 Temanggung.

Daftar, Berangkat Daftar, Pergi ke kota temanggung untuk pertama kalinya, semua saya lakukan sendiri, seorang Anak yang teramat kecil, bener kawan dulu aku sangat teramat kecil klo tak percaya ini aku kasih foto ku kelas 2 SMA, bayangin aj ini foto kelas 2 SMA, bagaimana kelas 1? hehehe, tapi beda sekali wajahnya dulu ketika masih polos dengan wajah sekarang yang sudah penuh dengan perbuatan dosa dan ketidak polosan hehe..

Rischan SMA Kelas II
Rischan SMA Kelas II

SIlahkan bisa di tebak aku yang mana? hehe :-D.

SMA masa-masa perubahan dimana aku dulu SMP begitu polos tapi agak nakal, yang tak tau apa-apa yang sangat penakut untuk bicara di depan umum, di SMA aku belajar banyak hal kenal dengan teman-teman yang luar biasa dan orang-orang yang luar biasa pula.

Mulailah perjalanan di SMA ini, kenal dengan temen-temen baik akhirnya kelas I saya di ajak untuk tinggal gratis di rumahnya salah satu guru bahasa Inggris di SMA N 1 temanggung, yaitu Bpk Hendik, alhamdulillah ini sungguh pertolongan Allah. Rumah Beliau amat dekat dengan SMA ku, tiap kali adzan yang dikumandangkan di masjid Bendo, masjid terdekat dari rumah yang saya huni bareng temen-temen saya datang ke Masjid untuk menunaikan kwajiban sebagai seorang muslim dan untuk bertemu dengan kekasih tercinta. Nah.. singkat cerita karena aku sering dateng ke masjid Bendo akhirnya aku kenal dengan Beliau Ustadz, Mustofa Latif, yang dulu pas aku masih di SMA Beliau jadi ketua RT di Bendo Temanggung.

Dari Ustadz Mustofa Latif ini aku dibujuk untuk tinggal di Masjid sebagai Takmir Masjid, dan entak kenapa akupun tak tau aku terbujuk, bareng 2 orang aku dengan temenku, kisah haru, senang, sedih  banyak sekali bermunculan ketika aku menjadi takmir di Masjid Bendo ini. 😀

Nah disinilah awal aku bertemu Beliau Ustadz Waris Fahdruddin, Kediaman Beliau cuma beberapa langkah dari Masjid Bendo, tapi beliau jarang sekali di Rumah, klo tidak sedang ke luar Jawa untuk dakwah islam ke beberapa plosok daerah sperti papua, Ntt, NTB klo tidak itu yang mungkin sedang safar ke India, Myanmar, Malaysia, Makkah ato Madinah. Itulah Ustadz Waris.

Beliau sangat baik, tak pernah perhitungan, klo punya apa-apa dan kami membutuhkan beliau selalu ngasih, bener-bener pribadi yang sungguh baik. Singkat cerita lagi ada kisah yang sangat membuat ingatanku tak kan pernah mampu untuk melupakan hal ini. Ketika itu kegalauanku melanda, Allah memberikan cobaan bagiku yaitu ternyata aku tak dapat beasiswa penuh di UNDIP dan aku memutuskan untuk tidak mengambilnya dan menunggu pengumuman dari STAN dan akhirnya akupun tak diterima di STAN, disini aku bener-bener galau, bener-bener tak tau harus berbuat apa, sempet frustasi, lulus dari SMA tidak ada skill, yang lain melanjutkan aku tidak, dan alhamdulillah Allah memberikan jalan lain, ada pelatihan gratis dari Balai Latihan Kerja Temanggung (BLK) aku ambil tehnisi komputer dan akhirnya aku langsung di pekerjakan di tempat tentorku di BLK yaitu tempatnya pak Joko yaitu di Andra Comp. Ketika di AndraComp aku tetep tinggal di Masjid Bendo, jadi totalnya kira-kira saya tinggal di Masjid itu kelas 2 SMA sampai lulus dan sampai aku kerja 1 tahun sebagai tehnisi komputer, jadi kurang lebih 3 tahunan.

Saat posisi kerja ini aku selalu di tekan oleh Ustadz Waris untuk melanjutkan kuliah, Beliau selalu bilang Han, kamu itu punya potensi yang besar, sayang klo tidak di manfaatkan, nek wis ngerti duit, wis kerjo suwi suwi mengko selak males neh meh sinau neh, kono ndang daftar kuliah. Perkataan itu selalu aku ingat.

Akhirnya suatu ketika Beliau ustadz waris memberikan aku sebua brosur. Brosur Kampus UIN sunan Kalijaga Yogyakarta.

saat itulah untuk pertama kali aku tau UIN Sunan Kalijaga hahha, aku lihat ooo ternyata Ustadz waris ngasih brosur ini karena di dalamnya ada jurusan Teknik Informatika, oklah klo gitu aku lihat di bagian biaya, aku sempet kaget, sungguh sangat murah. SPP 600ribu per semester, masuk total cuma 2,3 juta sudah sama SPP 1 semester.  Aku bilang sama Ustadz Waris, Ustadz aku punya uang segini klo buat daftar UIN cukup sih tapi bagaimana aku hidup di Jogja pak?

Beliau hanya tersenyum, senyuman yang khas, “Han, Han, wis pirang taon kwe urip ng mesjid?, apa kamu tak percaya sama Allah?. Lha wong pitek ae sik ra duwe akal yo iso mangan wareg koq opo meneh menungso” :-D.

Bahasa yang mudah di cerna tapi sangat susah untuk di amalkan, Akhirnya beliau Bilang “Wis duitmu nggo sangu ae mrono, Kiro2 nek kro njaluk wong tuwomu iseh kurang piro mengko ngomong Aku, ” dengan keras, logat lampung khasnya Ustadz Waris. Akhirnya akupun bilang ke Bpk Ibuku mengenai rencana ini, dan Bpk Ibuku karenena sudah saking kasihanya melihat aku, mungkin teringat waktu aku drop gara-gara tak bisa lanjut kuliah, akhirnya Bpk Ibuku dengan penuh kemantapan bilang bismillah dan akupun diijinkan untuk menginjakkan kakiku di bumi Jogja.

Itulah seklumit kisah mengenai Ustadz Waris, termasuk ketika aku mau berangkat ke Korea ini, Beasiswa Riset seperti ini tak diberikan fasilitas Tiket Berangkat dan Pulang, dan yang jelas juga Butuh sangu kan untuk hidup di korea sebelum beasiswa turun, karena beasiswa turun di awal bulan, Bulan kedua. beliau Ustadz waris hanya bilang yakinlah Han, Allah itu selalu disamping kita, ra mungkin Allah kan menelantarkan kita. Cuman itu dan satu lagi perkataan yang sangat saya ingat “Nek tekan ngisok pas nggone kwe mangkat ng Korea, kwe ra duwe duit, gowonen ATMu, kosong ra popo“. Bener2 penuh keyakinan beliau menyampaikannya, tapi tak semudah itu bagiku untuk yakin(*tanda iman ini masih lemah).

han Pokoe, kwe nek butuh opo opo tinggal ngomong, ra usah isin-isin.. ngomong ae, tak usahakke” (beliau inilah orang tua keduaku setelah Ibu dan Bpk ku di rumah).

Beliaulah yang menjadi perantaraku untuk tau Jogja, untuk Tinggal di Jogja, memberikan link Masjid untukku sehinggal di Jogjapun aku tinggal di Masjid sebagai Takmir, yaitu Masjid Prayan Raya untuk 4 Tahun.

Beliau juga yang mencarikan aku beasiswa untuk sangu dan keberangkatanku ke Korea. dan Alhamdulillah aku bisa sampai di Part II ini. Dan tak ku sangka Pula perkataan Beliaupun sangat benar. kemaren tanggal 12 September, 12 Hari saya tinggal di korea peristiwa inipun terjadi….  (aku dapat $1.500 USD)

Sunggu Tak Kusangka, Allah langsung Menggantinya 😀 #Subhanallah 

Terimakasih aku ucapkan kepada Ustadz Waris Fahruddin, Terimaksih yang sangat banyak.. untuk bantuanya, untuk pertolongannya iya, tapi lebih lagi untuk nilai-nilai yang selama ini di tanamkan dalam pikiranku, yang menjadikan pola pikirku berubah, yang menjadikanku menjadi manusia yang lebih tawakal kepada Allah. Semoga Allah selalu memberikan rahmatNya padamu. Jazakallah Khoir.

Mbah Muh

Seorang anak kecil yang masih berusia 4 tahun teriak “Mak…makk…” di pinggir jalan sebuah gang depan mesjid, Seorang wanitapun datang dan memeluk kemudian mengajaknya pulang kerumah.  Itulah Aku, sejak 4 tahun aku sudah disuruh sama mak ku (Ibu ku) * sampe sekarang akupun masing memanggilanya mak :-D. aku selalu dilarang oleh ibukku untuk absen dari ngaji, 4 thn aku sudah bisa baca Quran dengan lancar. Alhamdulillah Allah memberikan kemudahan padaku untuk membaca kitabnya.

“Alib, Ba, Ta, Inna, Inna” teriak2 seorang yang sudah cukup tua seperti membentak-bentak, Mbah Muh, sampai akupun juga tak tau nama lengkap beliau, biasa kami menyebutnya Mbah Muh, Guru ngaji tercintaku, sebagai perantara dari Allah agar aku bisa mengeja FirmanNya.

Klo teringat bener2 terasa menyayat hati apalagi sekarang beliau sudah sepuh, Aku sampai bingung harus bagaimana membalas kebaikan beliau dan akhirnya aku tau dan paham cara membalasnya adalah dengan mengajarkan ilmu pada orang lain, oleh karena itu jujur saja saya sangat suka ngajar TPA, ngajar anak belajar ngaji, karena saya tau bahwa amalan kita bisa menjadi amal jariyah yaitu amalan yang tak kan pernah putus pahalanya meskipun besok kita sudah mati selama ilmu yang kita berikan itu turun temurun diajarkan. 😀

Mbah Muh, perawakan gagah, suara besar dan lantang, tak segan-segan untuk memarahi anak-anak yang tak serius ketika mengaji. Klo dulu aku tak kenal iqra (Metode baca quran sekarang) yang ku kenal adalah Turutan yaitu semacam juzz amma.

Entah aku juga tak tahu dulu aku sangat serius belajar ngaji, sehingga banyak temen2ku yang bahkan umurnya lebih tua dari aku belum bisa baca quran tapi aku sudah, malah kadang sama Mbah Muh disuruh ngajarin temen yang lebih tua untuk baca Quran.

Itulah Mbah Muh, aku tidak bisa menjabarkan lebih luas lagi, karena apalagi sekarang, dulu saja aku juga jarang ketemu, meskipun satu desa tapi aku jarang pulang ke rumah sejak SMA 😀 . jadi ya gitu deh…

Semoga Allah selalu merahmatimu, Guru Tercintaq. 😀

Amien