Menikah

Halaman ini memang saya khususkan untuk membahas mengenai pernikahan saya.
Sebenarnya saya sudah menulis cukup lengkap mengenai proses pertemuan saya dengan istri (istilahnya timeline) di website undangan pernikahan saya. Website tersebut bisa di akses melalui tautan berikut :

http://khadijah.mafrur.com/

Dikarenakan saya mempunyai Facebook Page ini dan Twitter akun ini dan mungkin beberapa sahabat ada yang menganggap saya lebih paham persoalan agama sehingga banyak pertanyaan-pertanyaan yang datang ke saya mengenai lika-liku hidup saya sampai bisa bertemu jodoh. Entahlah, hmm. Saya hanya sering-sering berdoa, jika memang banyak orang yang berprasangka baik kepada saya maka saya berdoa pada Allah agar saya bisa senantiasa selalu lebih baik dari apa-apa yang di persangkakan orang.

Baiklah, #Menikah. Satu kata, yang mungkin tidak bermakna apa-apa apabila kata itu di bisikkan pada anak kecil, atau kata yang sangat bermakna bila di perdengarkan pada orang-orang yang benar paham makna pernikahan, atau malah menjadikan orang galau bagi yang menganggap menikah adalah PR yang harus diselesaikan.

Dalam kitab hadits arba’in nawawi, hadits pertama adalah innamal A’malu biniyah. Segala perbuatan itu tergantung niatnya, dan ternyata di kelanjutan dari hadits ini juga membahas seorang sahabat muhajirin yang rela berhijrah meninggalkan tanah kelahiran, harta bendanya, keluarganya ke madinah akan tetapi hijrahnya karena agar bisa menikahi seseorang, maka disebutkan bahwa orang seperti ini hanya akan mendapatkan apa-apa sesuai dengan niatnya tadi. Jadi, sahabat semuanya. Hal inilah yang benar-benar harus kita jaga, ketika kita ingin atau merencanakan untuk menikah, apa sebenarnya niat kita?.

  1. Apakah hanya karena desakan dari orang tua yang tiap hari menanyakan kapan nikah atau bahkan sudah pingin gendong cucu?
  2. Apakah hanya karena desakan dari komentar orang-orang yang meneror apalagi ketika lebaran ditanya kapan nikah?
  3. Apakah hanyak karena melihat teman seangkatan sudah pada nikah semua?
  4. Apakah hanya karena malu karena tiap menghadiri undangan selalu masih sendiri?
  5. Apakah hanya karena alasan biologis semata?
  6. Apakah hanya karena umur, yang memang sudah merasa umurnya sudah saatnya untuk menikah?
  7. Apakah hanya karena terpengaruh tulisan-tulisan novel-novel motivasi nikah muda?
  8. Apakah hanya ingin kelihatan keren?
  9. Dan lain sebagainya….

Dulu ketika saya berniat untuk menikah, pertanyaan-pertanyaan seperti itu selalu saya tanyakan pada diriku sendiri, karena jujur saya tidak mau nanti pernikahan saya ini tidak ada nilainya di mata Allah.

Wahai sahabat semuanya, tak ada salahnya, malah itu seharusnya, kita bertanya pada orang yang sudah lebih mendahului kita. Sebelum saya menikah, saya selalu bertanya kepada kakak kelas saya yang sudah menikah, apa saja persiapannya, apa saja nantinya masalah yang akan di hadapi dan sebagainya.

Kalau saya melihat fenomena saat ini, memang yang namanya topik menikah muda laris banget, dari novel, tulisan-tulisan, bahkan yang lagi ramai anak dari seorang ustad kondang di Indonesia menikah di usia 17 tahun dan itu laki-laki. Banyak pro dan kontra sih, tapi sekali lagi don’t judge, karena kita tak tahu. Intinya begini sahabat semuanya.

Bagi saya, dan berdasarkan dari apa-apa yang sudah saya pelajari dan tanyakan pada orang-orang, #Menikah itu bukan persoalan cepat, terlambat, tapi menikah itu sudah di tentukan oleh Tuhan waktu yang paling tepat untuk kita. Tentu usaha perlu, jelas perlu, tapi ketetapan itu dari Allah. Saya benar-benar merasakannya, nanti bisa di baca di tulisan selanjutnya mengenai jalan cinta saya.. Ciyeee…

Banyak orang yang meng elu-elukan nikah muda, banyak pula orang yang mencibirnya, sikap kita? nikah itu bagi saya bukan muda, tua, atau tak nikah sekalipun. Kalau dalam hukum fiqih (Nikah itu dihukumi yang lima?) *paham? Nikah itu bisa di hukumi haram (misal: menikah ketika masih kecil banget, belum bisa berumah tangga), Nikah itu hukumnya makruh, Nikah itu hukumnya mubah, Nikah itu hukumnya sunnah, bahkan nikah itu bisa hukumnya wajib (bagi yang sudah siap semuanya, syahwatnya sudah terdorong hingga dikhawatirkan berzina).

Nah, makanya saya tak pernah bilang ideal nikah itu umur berapa? tapi ideal nikah adalah kesiapan kita. Siap apa? siap mental, siap fisik, siap finansial, dan spiritual.

Ketika dulu zaman Rosulullah, nafkah untuk anak laki-laki itu hanya sampai baligh, tapi kalau sekarang kan banyak yang kuliah saja semuanya masih dari orang tua bukan?. Nah makanya dahulu para sahabat bisa menikah di usia muda, karena semenjak baligh mereka sudah bisa mengurus diri, menghidupi diri, dan berpenghasilan. Itulah siap.

  1. Siap mental: Mental berani, hajar, menghadap calon mertua berani tanpa grogi, dan siap ketika nanti menikah akan ada banyak tekanan-tekanan mental sudah di persiapkan.
  2. Siap Fisik: Hanya beberapa orang yang mungkin mempunyai kekurangan sehingga mereka tidak ada hasrat biologis, salah satu tujuan dari menikah adalah untuk menenangkan jiwa. Di jaman yang penuh syahwat ini, yang dimana-mana kita bisa lihat sesuatu yang menyebabkan syahwat, menikah menjadi jalan peredam jiwa. Makanya disini fisik juga harus siap. kalau ada orang yang menikah tapi berniat untuk tidak memberikan nafkah ini ke istri itu dholim.
  3. Siap Finansial: Tidak harus bekerja tetap, tapi paling tidak punya penghasilan, ada yang bisa di pegang. Ada yang bilang yang namanya rizki itu Allah yang ngasih, ayam saja bisa makan masa kita tidak. Saya katakan ayam juga harus keluar pagi pulang sore, tidak hanya duduk disarangnya untuk dapat rizki dari Allah. Jadi usaha kawan…. Kita harus realistis. Istri kita itu nantinya tanggung jawab kita, apalagi nanti punya anak. Itu benar-benar harus kita pikirkan. Coba saja begini, anda punya adik perempuan, atau mungkin besok anak perempuan, ada orng yang melamarnya yang dia tidak punya penghasilan sepeserpun, orangnya tidak meyakinkan dan dikenal tidak bertanggung jawab, apa yang akan kita lakukan?
  4. Siap spiritual: Nikah itu ibadah, maka siap spiritual ini seperti yang pertama saya ungkapkan diatas, niat, dan tentunya ilmu-ilmu tentang pendidikan keluarga. Mau dibawa kemana nanti keluarga kita. Istri dan anak kita itu adalah tanggung jawab kita yang nantinya kita akan ditanyai di yaumil hisab.

Baik….. Setelah ngelantur kesana kemari…

Yuk simak cerita berikut ini, Yang bertanya bagaimana sebaiknya ta’aruf itu dan sebagainya, saya tidak akan membahasnya disini. Silahkan kita bisa belajar sira-sirah sahabat, bagaimana mereka itu menikah.

 

Dibawah ini adalah timeline saya dan istri saya:

timeline

 

Jodoh itu ….. Benar-benar dari Allah

Jodoh, Dimulai ketika itu saya sudah semester terakhir kuliah S2 saya di Korea. Saat itu thesis saya sudah selesai tinggal menunggu sidang, dan waktu itu Ramadhan juga di depan mata, yaitu Juni 2015. Saya seringkali merenung, sebentar lagi usia saya 25 tahun, padahal dulu target saya menikah adalah maksimal 25 tahun, dengan harapan saya bisa segera diberi amanah anak oleh Allah dan bisa mendidik anak-anak saya dan menjadikan mereka generasi yang memberi bobot dimuka bumi ini dengan kalimah Laaillaha ilallah. Saya memang punya rencana itu dengan harapan bisa menyaksikan anak-anak saya menikah ketika saya belum begitu tua (kalau saya diberi umur panjang oleh Allah).

Sebelum Ramadhan saya sudah berniat untuk benar-benar banyak berdoa ketika Ramadhan agar bisa segera dipertemukan dengan jodoh dan Ramadhanpun datang. Dari mulai tanggal 1 Ramadhan doa yang selalu saya panjatkan adalah memohon kepada Allah diberikan jalan yang terbaik untuk bertemu dengan jodoh saya.

Tepat tanggal 6 Ramadhan, saat itu saya tarawih di student center Chonnam National University (jadi kita punya ruangan yang biasa kita gunakan untuk sholat jumat bareng-bareng dengan teman-teman muslim dari berbagai negara) soalnya masjid jauh dari kampus. Tiba-tiba ada akhwat yang mau ikut tarawih dan itu pertama kali saya ketemu dengan akhwat tersebut. Seusai tarawih, kita pulang dan ketika di jalan pulang bareng-bareng dengan jamaah, saya sempat bertanya pada akhwat tersebut. Darimana asalnya (eh Indonesia, iya lah kan mukanya juga kelihatan orang indo hehee), eh ternyata dia dari IPB sedang menjalani program summer school dibiayai oleh IPB.

Tak ada angin, tak ada hujan, ketika ngobrol tiba-tiba ada suara hati, “Secepat inikah jawaban dari do’aku, ya Allah?”. Astagfirullah.. Setelah saya pulang dan sampai kamar, saya merenung dan bertanya-tanya, apakah memang dia ya?.

Hari berikutnya saya mantap telphone mak’e (ibu) di rumah, menceritakan tentang apa yang saya alami dan meminta pendapat dari ibu. Jujur saja saya tidak pernah sholat istikharah, saya masih ingat nasihat dari Pak KH. Mustafa Bisri (Gus Mus) Beliau pernah bilang kalau beliau tidak pernah sholat istikharah ketika ibu beliau masih ada di dunia ini. Tiap kali saya ingin mengambil keputusan yang sekirannya itu nantinya akan berpengaruh besar di kehidupan saya, saya selalu tanya ke ibu, jalan yang ibu saya ridhoi maka itu yang saya pijak dan saya tapaki.

Al hasil, ibu bilang, ya kalau memang kamu seneng, cocok, ya silahkan. Akhirnya tepat tanggal 17 Ramadhan, saya menulis surat yang intinya sangat padat.

  1. Surat ini ditujukan untuk akhwat tadi.
  2. Menanyakan apakah sudah di lamar orang atau belum.
  3. Kalau belum dilamar apakah bersedia untuk ta’aruf dengan saya.
  4. Mohon jawabannya saya tunggu sampai akhir tahun 2015.

Untuk poin nomor 4, kenapa saya beri waktu sampai akhir tahun karena dari percakapan pertama kita ketemu saya mendapatkan informasi bahwa akhwat tersebut saat itu masih kuliah di semester 7, sepulang dari Korea akan KKN di Jepang, dan habis dari jepang akan ada conference di Malaysia dan setelah itu akan jadi duta IPB ke beberapa tempat di Indonesia. Hmmm… Makanya saya beri waktu sampai akhir tahun 2015. Itupun kalau dia belum dilamar orang dan kalaupun dia belum dilamar tapi dia mau apa tidak? hehee.. benar-benar cara yang bodoh. hehehe

Kenapa saya nekad melakukan ini? ya karena saya sedang berusaha untuk menjemput jodoh. Kan kamu belum kenal dia sama sekali?Lha oleh karena itu ta’aruf dulu, saya tidak mengajak langsung menikah kan?. Hehehe.

Singkat cerita, sebelum akhwat ini pulang sekitar pertengahan Juli 2015 setelah lebaran usai (di korea summer schoolnya hanya satu bulan), saya memberanikan diri untuk memberikan surat yang sudah saya tulis tadi kepadanya, saya bilang tolong dibuka kalau sudah sampai di Indonesia yak… gituuu…

Selang beberapa hari saya mendapatkan pesan di WA. “Kak Rischan, suratnya sudah di baca, nanti saya kabari jawabannya secepat mungkin yah”.

Udah gitu aja, yang penting saya lega, dan saya hanya berdoa memohon yang terbaik.

Sidangkupun beres, saya diwisuda tanggal 26 Agustus 2015, dan saya pulang tanggal 30 Agustus tidak langsung pulang sih, saya mbolang dulu ke Vietnam, Malaysia, kemudian Singapore baru ke Jakarta dan Jogja. Sampai Jogja tanggal 15 September 2015.

mulai Oktober saya mulai bekerja remote di Kartoza (perusahaan asing di Capetown, South Africa). saya bekerja remote dari Jogja, sembari menunggu jawaban dari akhwat tadi saya senantiasa berdoa untuk diberi yang terbaik olehNya.

Kemudian di akhir November, saya mendapatkan pesan dari salah seorang ustad di korea yang yang tiba-tiba menanyakan perihal surat saya kepada akhwat tadi. Sempat kaget juga sih soalnya saya tidak pernah cerita perihal tersebut.. Hmmm.. batin saya it works, dan pikir saya kasihan juga yah akhwat ini, pasti dia bingung, lha wong ketemu juga baru beberapa kali, ngobrol juga baru bentar, hehehe. Intinya, akhwat tadi minta untuk komunikasi selanjutnya nanti melewati ustad saja, dan akhwat tadi meminta saya untuk menuliskan biodata lengkap saya (CV) lah istilah kerennya.

Akhirnya, saya kontak ke Ustad saya yang di Jogja, saya meminta agar beliau bersedia menjadi mediatornya sekaligus nanti kalau OK, saya minta kesediaan beliau untuk menemani saya silaturakhim ke Bogor. Mulailah kita komunikasi. Saya mengirimkan CV saya ke ustad saya kemudian ustad saya mengirimkan ke Ustadzahnya dia, baru dia dapat CV saya dari Ustadzahnya dia. Wuih rempong amat.. hehe.. Yah namanya menjaga bro, setan itu pinter, lha wong dari emote🙂 saja bisa menumbuhkan cinta, kemudian nanti emote nya jadi :* kemudian sukses deh setan.

Setelah menununggu beberapa minggu, akhirnya saya mendapatkan balasan dari Ustadz saya, balasannya adalah CV nya akhwat tadi. Ini berarti dia mau di ajak berta’aruf. Pas liat CV nya bertama kali saya shock dan malu, dia rapi banget nulisnya, banyak lagi hahahaa. Beda banget dengan CV yang saya kirimkan. hhehee. Bener-bener lengkap, dari mulai kebiasanan harian, keluarga, akademik, apapun deh lengkap bener.

Ada satu masalah yang membuat saya agak stress saat itu yaitu ketika mengetahui background dari keluarga nya, Bapak dan Ibunya Doktor, dan mengampu di kampus yang ternama di Indonesia. Hmm… Ya sudah, bismillah, saya tunjukan CV itu ke orang tua saya. Pada awalnya kami semua benar-benar ragu. Karena kan …. Hmmm.. menikah itu kan bukan hanya dua orang, tapi kan dua keluarga? Oh iya Bapak saya itu SD tidak lulus dan Ibu saya hanya lulusan SD dan kami petani yang tempat tinggalnya di Lereng Gunung. Kalau mau lihat bagaimana hebatnya orang tua saya bisa di buka di tautan ini. Saya bangga terhadap mereka.

Akhirnya setelah berdiskusi, termasuk juga dengan ustad saya, saya mantep untuk lanjut. Ustad saya kemudian menyampaikan kepada pihak akhwat kalau saya mau lanjut dan menanyakan bagaimana selanjutnya. Kemudian ustad saya mendapat kabar kalau saya diminta untuk silaturakhim terlebih dahulu ke rumah akhwat tadi untuk bertemu Bapaknya, dan untuk ta’aruf secara offline kalau-kalau ada yang mau ditanyakan.

Tanggal 8 Januari 2016, Saya dan ustad saya berangkat dari Jogja ke Bogor, dan kita ketemuan di sebuah masjid sabtu pagi tanggal 9 Januari. Saya ditemeni ustad saya, dan dia ditemani ustadzahnya dan sesi tanya jawabnyapun dimulai hehee. Karena CV saya morat-marit sedangkan CV dia begitu lengkap jadi jujur saja saya tak punya banyak pertanyaan, dan sebaliknya dia punya banyak pertanyaan ke saya. Hehehe. Saat itu bener-bener kayak sidang skripsi, pertanyaannya susah-susah wwwkwkkw.

Seusai ta’aruf, kita silaturakhim bertemu untuk pertama kali dengan Bapaknya, untung banget saya tidak salah ngajak orang. Ngobrolnya nyambung banget antara Bapaknya dia dan ustad saya. Hehehe. Ahhh lega.. Pulang juga akhirnya. Untuk hasil serahkan saja pada Allah..

Setelah sampai di Jogja, Ustad saya bilang kalau beliau dapat pertanyaan dari pihak akhwat, apakah Rischan mantap lanjut atau tidak setelah ta’aruf offline dan silaturakhim kemaren. Saya sudah berdiskusi dengan keluarga insyaAllah lanjut ustad, jawab saya.

Akhir januari, saya mendapatkan kabar dari Ustadz saya, kalau pihak akwat juga mau lanjut, dan langkah selanjutnya silahkan Rischan dan Keluarga datang ke Bogor untuk melamar.

Benar-benar kaget hehee. Disisi lain seneng, disisi lainnya lagi kaget. Ketika saya sampaikan kabar itu ke orang tua saya, mereka tambah kaget. Orang tua saya kekeh minta agar akhwat itu berkunjung dulu ke rumah paling tidak agar tahu, jadi nanti tidak menyesal di kemudian hari. (*ya logis juga sih alasan orang tua saya).

Akhirnya saya sampaikan pesan dari orang tua saya tersebut, disamping itu juga pesan keraguan orang tua saya, apakah benar mau karena kan beda banget. Dan sekali lagi saya mendapatkan jawaban yang mengagetkan dari Pihak Akhwat. Kata bapaknya dia “Allah saja memandang manusia karena taqwanya masa kita memandang manusia karena embel-embel lainya, jadi tak perlu untuk berkunjung ke rumah pihak laki-laki, insyaAllah sudah mantap.” kurang lebih spt itu.

Tanggal 14 February, saya dan Keluarga sampai di rumahnya dia, dan melamarnya. Kekagetanpun terjadi lagi, karena jawaban dari pihak Akhwat setelah menerima lamaran adalah “Semoga pihak keluarga Rischan ridho kalau akad nikah dan resepsinya dilaksanakan tanggal 26 Maret 2016, di Gedung Balai Besar Biogen, kita sudah pesan gedungnya”. Orang tua saya langsung agak pucet hehee. Dikira ya tidak secepat itulah hehehe. Tapi sebelum berangkat saya sudah diskusi panjang dengan keluarga, memikirkan tentang hari pernikahan, dan berbagai kemungkinan yang mungkin nanti akan di ajukan dari pihak akhwat.
Bismillah walhamdulillah, Dengan Ridho dan KuasaNya akhirnya saya menikah dengan dia tanggal 26 Maret 2016. Jodoh, Benar-benar dari Allah. Tak pernah menyangka akan seperti ini…..

Akhwat tadi adalah Khadijah Hasim, Putri dari Ustadz DR.drh. H. Hasim, DEA.

Catatan Penting:

  • Selama proses ta’aruf saya tidak pernah melakukan kontak langsung dengan istri saya, semuanya dilakukan melalui perantara. Saya baru diijinkan oleh Bapaknya dia untuk kontak langsung yaitu setelah lamaran untuk menanyakan perihal mahar (karena mahar adalah hak calon istri dan silahkan ditanyakan, kata beliau).
  • Andai saja saya mengetahui background/keluarga terutama mengenai Bapaknya istri saya pada saat itu mungkin saya akan mengurungkan niat untuk mengajak berta’aruf. Jadi kadangkala, dengan informasi yang minim itu malah berkah hheheeehe.

Wahai sahabat semua.. Perbaikilah diri karenaNya, persiapkan segalanya, berdo’alah padaNya, mintalah yang terbaik menurutNya, jagalah dirimu karenaNya.

InsyaAllah, Allah selalu akan memberikan kado yang tak kita sangka-sangka, penuh dengan kejutan yang tak pernah kita kira..

Mungkin ini saja yakk… Mohon doannya semoga pernikahan kami diberkahi Allah. Semoga tulisan ini bermanfaat, dan bisa menjawab pertanyaan teman-teman yang sempat meminta sharing tentang pengalaman ta’aruf saya. Semoga bermanfaat.

 

ditulis di Bogor, 27 Agustus 2016, tepat satu hari setelah ulang 5 bulan pernikahan.