PERANG TANPA PEDANG

PERANG TANPA PEDANG

Ghazwul Fikri/Perang pemikiran

Pemikiran/paham supaya bisa bertahan harus ditularkan dan disebarkan. Penyebaran konsep ketuhanan atau kalau dalam istilah islam disebut sebagai dakwah bertujuan agar konsep-konsep tersebut itu tetap bertahan dan eksis dimuka bumi. Setiap pemeluk agama pasti akan mengatakan bahwa konsep ketuhanan di agamanya bukan berasal dari pemikiran manusia melainkan dari Tuhan, buktinya apa? Itulah Iman.

Perang pemikiran/paham itu nyata adanya karena pemikiran bisa menggerakkan. Karena gagasan bisa merubah keadaan.

Hidup itu pilihan, kita terlahir di keluarga apapun, islam, kristen, hindu, budha, konghucu. Itu adalah pemberian Tuhan yang tak bisa kita gugat. Tapi Tuhan memberikan bekal Akal pada manusia untuk berpikir dan memilih. Yang saya pahami dalam agama saya, setelah manusia berusia akil baligh, mereka sudah diberikan kebebasan untuk memilih, mereka bebas menentukan pilihan dengan catatan ia harus siap menanggung konsekuensinya.

Bahkan ketika manusia memilih untuk tidak beragamapun itu adalah pilihan, itu juga merupakan iman bagi pemilihnya yaitu dia percaya kalau tidak ada Tuhan. Pemikiran seperti ini sudah ada sejak lama, salah satu contohnya adalah Charles Darwin yang pada akhirnya mengemukakan teori evolusi.

Beberapa konsep dalam agama ada yang tidak bisa diterima dengan akal, nah itulah iman. Orang yang tidak percaya Tuhan bilang, aku tidak percaya Tuhan karena belum pernah melihatNya dan Tuhan itu tidak masuk akal? Bagi saya, lebih tidak masuk akal lagi kalau semua yang ada di bumi dan di alam raya ini ada tanpa pencipta, ada karena kebetulan.

Kalau kata Gus Mus, Semakin kita banyak belajar, semakin kita tidak kagetan, ada tulisan begini, oh udah pernah baca mah tulisan senada seperti ini, ada pemikiran kekanan, pemikiran ke kiri, pemikiran ke atas, ke bawah dan pemikiran nyelneh-nyelneh lainnya, tidak kaget. Sehingga tidak menjadi manusia kagetan, gampang heboh, dan bingungan.

Siapapun mereka, berapapun usiannya, mau punya pemikiran apapun, gagasan apapun itu silahkan. Yang paling penting jangan sampai berhenti belajar. Karena manusia bisa berubah dengan semakin bertambahnya kapasitas pengetahuan dan semakin bertambahnya pengalaman hidupnya.

Kalau orang-orang sekarang banyak yang menyebarkan pemikiran sepilis (sekularisme, pluralisme, dan liberalisme) dengan bangganya dengan pemikiran tersebut. Kenapa kita takut untuk menyebarkan gagasan keimanan kita?

Sang pecinta sekulerisme akan bilang, ngapain sih masukin agama ke negara, ke politik. Sudah lah agama di gereja saja, di masjid saja. Toh itu orang-orang yang mengaku beragama malah korupsi? Lihat itu negara yang lepas dari agama malah lebih maju?

Sang pecinta pluralisme akan bilang, Tuhan kita satu, jalan bisa banyak, agama apapun sama saja, toh agama juga warisan dari orang tua. Ya sudah kalau begitu, hari ini islam, besok kristen, esoknya lagi budha atau hindu.

Pluralitas/ keberagaman/kebinekaan itu sunatullah/hukum alam. Beragam itu cantik dan tidak harus disamaratakan melainkan harus dijaga, karena sesungguhnya indahnya dunia ini karena perbedaan.

Percaya bahwa agamamu adalah yang paling benar itu tidak masalah malah diharuskan karena itulah iman. Meyakini kebenaran agama yg dianut sebagai agama yg paling benar adalah keharusan. Yang tidak boleh adalah memaksa orng lain untuk masuk keagamanya, mencaci ajaran dan Tuhan agama lain.

Sang pecinta liberalisme akan bilang, nash/teks dalam kitab suci harus tunduk pada akal. Menjadikan akal dan kebebasan sebagai Tuhan. Ngapain Tuhan ngelarang LGBT toh WHO sudah bilang LGBT bukan bagian dari penyakit yang harus ditumpas, itu ngelanggar HAM. Ya sudah saya doakan semoga anak cucunya LGBT.

Sang pecinta radikalisme akan bilang itu bid’ah, sesat, kafir, neraka kepada saudara seagama hanya karena perbedaan pandangan dalam masalah tafsir bahkan ada yang dengan tegas bilang bunuh, cincang, ataupun penggal.

Kalau mereka saja bersemangat untuk menyebarkan gagasan/pemikiran yang mereka imani kenapa kita tidak?

Mari berperang gagasan, ketika tidak setuju dengan gagasan orang lain maka bantahlah dengan gagasanmu bukan cacianmu. Peranglah dalam gagasan.

 

Selamat hari lahir pancasila.

Kita bisa merdeka karena peran para pahlawan yang tak terhitung jumlahnya dan hampir semuanya adalah orang yang beragama, mereka yakin bahwa penjajahan bertentangan dengan perintah Tuhan, sehingga mereka melawan. Oleh karenanya sila pertama bangsa ini-pun sila ketuhanan. Maka membenturkan nasionalisme dengan agama adalah kebodohan jiddan

#Selamat berpuasa #Ramadhan
#Selamat hari lahir pancasila

 

Rischan Mafrur,
Bogor, 1 Juni 2017
Renungan Ba’da Ashr wulan Romadhon

Cara membuat paspor bayi

Awal bulan Maret 2017, saya sudah berencana membuat paspor untuk Fatiha, jabang bayi anak pertama saya yang lahir bulan Desember 2016. Yah, walaupun saya masih belum jelas nantinya mau melanjutkan S3 ke kampus dan negara mana tapi itung-itung sudah siap-siap. Yang pasti kasihan juga kalau nanti istri saya yang ngurus sendirian.

Pertama-tama yang saya cari adalah pendaftaran paspor online untuk bayi, atau anak di bawah umur. Eh ternyata, tau gak? servernya down. Sejak awal maret saya sudah nyoba akses terus-terusan tapi server imigrasi untuk pendaftaran online down. Saya pingin daftar online karena saya yakin pasti antreannya banyak kalau harus daftar langsung kesana. Tapi apa daya ketika online nya tidak available ya mau tidak mau saya harus datang ke kantor Imigrasi.

Baik, jadi di tulisan ini, saya akan menjelaskan mengenai pendaftaran pengajuan paspor secara langsung ke Kanim Bogor.

Saya chek persayaratan di situs Kanim Bogor. Silahkan bisa dichek disini, siapa tau ada tambahan persyaratan. Bagi pembaca di daerah lain silahkan bisa di check di webnya kanim masing-masing daerah, siapa tau ada yang beda.

Persyaratan pembuatan paspor bayi adalah sebagai berikut:

  1. Kartu keluarga.
  2. Akta kelahiran.
  3. Buku nikah orang tua.
  4. KTP ayah dan ibu.
  5. Paspor ayah dan ibu yang masih berlaku
  6. Surat pernyataan orang tua yang bertanggung jawab atas perjalanan anak (tanda tangan di atas materai oleh kedua orang tua).

Semua syarat tersebut difoto kopi A4, dan jangan lupa dibawa yang asli ketika datang karena akan langsung wawancara. Untuk point no6 saya juga bingung, ini suratnya nyari dimana, saya pun googling dan nemu suratnya, saya tulis ulang, saya tempel materai lalu saya tanda tangani dan saya bawa ke kantor Kanim.

Setelah itu…

  1. Hari sebelum berangkat saya telp ke Kanim Bogor untuk memastikan, saya datang dulu submit berkas kemudian nunggu jadwal wawancara, atau langsung bawa bayinya ketika datang bersamaan dengan submit berkas? kata petugas kanimnya disuruh langsung datang bawa berkas sama Bayi-nya sekalian.
  2. Saya dan istri berangkat pagi-pagi. Oya jangan lupa, tanya juga tentang jam pelayanan pengajuan paspor. Kanim Bogor untuk pengajuan paspor hanya dilayani pagi yaitu jam 08 sampai jam 12 WIB.
  3. Setelah saya sampai kanim, wuih, seperti yang saya duga, penuh sesak dengan banyak sekali orang. Hampir semua kursi tunggu di depan kantor penuh dengan Orang. Saya pun bertanya kepada salah satu petugas, dimana tempat pengajuannya.
  4. Nah setelah bilang kalau mau ngurus paspor buat Bayi, Alhamdulillah ternyata Kanim Bogor punya antrean prioritas (bayi dan lansia). Nah jadi bagi yang orang Bogor mau ngajuin paspor buat Bayi, saya sarankan gak usah repot-repot online, langsung datang saja karena ada antrean prioritas. Nah untuk kanim lain harusnya sih ada, cuman coba ditanyakan terlebih dulu. Coba saja bayangkan, saya sama istri bawah bayi usia 2 bulan terus antre begitu banyak orang, kan repot.
  5. Bapak petugas yg paling depan menyisir berkas kami, dan ternyata ada beberapa catatan sebagai berikut:
    • Foto kopi KTP Bapak Ibu dijadikan dalam satu lembar, jadi bukan dua lembar.
    • Foto kopi paspor bapak Ibu cukup yang bagian depan saja, visa, cap kedatangan ke negara lain tidak perlu di foto kopi. (tadinya saya foto kopi semua halaman yang ada isinya seperti visa dan cap kedatangan ke negara lain)
    • Surat pernyataan orang tua sudah disediakan disana, jadi surat yang sudah saya print ternyata tidak dipakai, harus pakai surat dari Kanim Bogor.
    • Mengisi form pengajuan paspor (Form nya ini juga disediakan di Kanim Bogor)
  6. Nah, beruntung di dekat situ juga ada foto kopian, jadi saya langsung sesuaikan berkasnya, mengisi form pengajuan paspor, dan surat pernyataan orang tua. (*catatan: Mungkin hal tersebut bisa jadi berbeda antar Kanim, untuk kasus saya ini Kanim Bogor)
  7. Setelah selesai langsung saya kasihkan ke bapaknya, dan bapaknya bilang, ini dapat antrean prioritas jadi langsung masuk dan bilang pengajuan paspor bayi.
  8. Kami-pun masuk dan tak perlu menunggu lama, Fatiha sama Ibunya (dengan salah satu saja ibu/bapaknya) masuk ke ruangan Foto.
  9. Nah ternyata di ruangan foto masih harus antre tapi tidak banyak, sebelumnya Fatiha bobo, jadi pas dibangunin buat foto, cepret eh setelah foto dia triak-triak nangis, langsung di bawa keluar deh sama ibunya. Al hasil saya yang masuk ke dalam untuk interview.
  10. Pas interview cuma ditanya keperluannya saja, saya bilang, saya mau lanjut S3 ke luar, jadi mau bawa keluarga. Kemudian di suruh check apakah data sudah benar apa belum, kalau sudah benar tanda tangan.

Sudah deh, saya dapat selembar kertas seperti ini.

Tinggal melakukan pembayaran sejumlah 355 ribu (pembayaran bisa di bank atau kantor pos), untuk pembayaran maksimal sampai 7 hari setelah pengajuan paspor. Kemudian pengambilan paspor bisa dilakukan setelah 7 hari dari pembayaran. Untuk pengambilan paspor harus membawa bukti pengantar pembayaran ini + bukti pembayaran dari bank.

Tanggal 14 Maret saya melakukan pengajuan paspor, 15 Maret bayar ke Bank, kemudian tanggal 28 Maret saya ambil. Jadi deh paspornya Fatiha.

Yeyeee…

Yupz.. semoga tulisan singkat ini bisa bermanfaat yah…

 

Memaknai arti kehidupan

Menjelang tidur saya biasanya merenung, dari mulai otak saya bisa perpikir sampai sekarangpun saya selalu merenung. Merenung mengenai apa saja yang sudah saya lalukan dan apa yang akan saya lakukan kedepan. Pada akhirnya berujung pada pertanyaan, sebenarnya apa sih tujuan utama dari hidup ini? Yang pada akhirnya pula berakhir pada pertanyaan kenapa sih Tuhan menciptakan saya dan menciptakan begitu banyak manusia di bumi ini?

Mungkin diantara kawan ada yang sering mengalami hal itu. Bagi saya meluangkan waktu untuk merenungi mengenai kehidupan ini itu penting. Karena kita sering lupa, apa sebenarnya tujuan dari hidup kita ini.

Belum lama ini saya dihubungi oleh teman lama saya, dia adalah adik kelas saya. Dulu dia sering datang ke masjid Bendo (Masjid tempat saya tinggal waktu SMA), kita sering ngobrol-ngobrol ngalor ngidul yang tiada ujungnya. Rumahnya deket dengan masjid yang saya tinggali.

Dia menghubungi saya dan menanyakan mengenai makna keikhlasan….

Jadi, belum lama ini teman saya ini dirawat di rumah sakit dan sampai sekarang pun masih rawat jalan. Dia cerdas, dibuktikan dengan diterima di kampus termana di Indonesia, kemudian setelah lulus ternyata dia terindikasi ada semacam benjolan di otaknya, yang intinya harus di operasi.

Belum lama pula, saya mengunjungi teman saya yang juga teman istri saya. Dia laki-laki dan seumuran dengan saya. Sejak umur 6 tahun ginjal dia selalu kumat. Intinya sakitnya itu karena ada bagian kecil semacam saringan diantara ginjal dan kantung kemih yang tidak bekerja secara optimal sehingga ada beberapa zat dari ginjal yang seharusnya tidak terbuang ke kantong kemih tapi terbuang. Ketika kambuh, dia lemes, pucat, badannya bengkak-bengkah. Dia sudah menjalani hal ini sejak dia umur 6 tahun dan sampai sekarang dia masih sabar dengan apa yang terjadi ini.

Saya akhirnya berpikir, dulu waktu kecil sering mendengar kisah para nabi dari mulai

  1. Nabi Ayub yang terkena penyakit sampai istrinya jijik
  2. Nabi Nuh yang anak dan istrinya membangkang dan tidak menuruti nasihatnya
  3. Nabi Lut yang istrinya malah mendukung para pelaku homoseksual
  4. Nabi Ibrahim dengan diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih anaknya, dan meninggalkan anak dan istrinya di padang pasir tandus.
  5. Nabi Yunus yang terlempar di dalam perut ikan
  6. Nabi Yusuf yang begitu ganteng, sehingga digoda oleh istri raja nan cantik.
  7. Nabi Muhammad yang dicaci dimaki, dilempari batu, di tumpuki kotoran unta di punggungnya ketika sholat
  8. Nabi sulaiman yang diberi harta dan kekuasaan yang luar biasa oleh Allah

dan sebagainya…

Dulu waktu kecil saya hanya berusaha mengingat cerita-cerita itu, hanya hafal dalam otak saja tapi belum merasuk pada jiwa. Dengan bertumbuhnya akal dan tentunya makin dewasanya hati, ditambah sering pula melihat dengan mata kepala sendiri mengenai apa-apa yang ada di dunia ini, saya semakin yakin dengan tujuan hidup yang saya yakini.

Semua hal yang terjadi di dunia ini sudah terangkum semua dalam Al Qur’an. Allah sudah memberikan contoh yang begitu banyaknya dalam Al Qur’an, mengenai hal-hal yang akan terjadi dan bagaimana responnya. Andaikata hidup ini dikatakan sebagai ujian, maka Al Qur’an itu adalah kisi-kisinya. Allah sudah memberikan bocoran soalnya sekaligus jawabannya, tinggal kita mau pakai apa tidak.

Semakin saya merenung, saya jadi semakin mengerti akan tujuan hidup ini. Menurut saya inti dari kehidupan ini ada di Al Mulk ayat 2.

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Bagi saya, Allah itu akan memberikan berbagai kondisi terhadap makhluknya. Seperti yang sudah saya sebutkan diatas, ada diantara makhluknya yang diberi kondisi penyakit di otaknya, ginjalnya tidak berfungsi dengan baik, istrinya durhaka, kaya raya, gantengnya minta ampun, cuantik dan seksi.

Nah kemudian Allah tinggal lihat saja respon dari makhluknya tadi, kemudian Allah akan melihat yang mana diantara makhluknya yang paling baik amalnya.

Persoalannya, kita manusia ini, sering menganggap bahwa yang disebut sebagai ujian hanyalah misalnya : Miskin, Jelek, Cacat, Sakit, istri durhaka, tidak punya anak, bangkrut dan sebagainya.
Dan menganggap bahwa : Kaya, cantik, ganteng, pintar, merupakan nikmat dari Allah.

Bagi saya semuanya itu adalah ujian dari Allah. Saya menganggap nikmat Allah itu adalah apa-apa yang bisa menjadikan kita dekat dengan Allah, baik itu bentuknya enak menurut manusia seperti kaya, cantik, ganteng atau yang tidak enak dimata manusia seperti miskin, sakit, jelek dan sebagainya.

Banyak orang yang bisa sabar dengan berbagai macam penyakit atau kemiskinan, tapi sedikit manusia yang bisa bersyukur dengan gantengnya, cantiknya, kayanya, kemudian menjadikan semua hal yang diberi oleh Allah tersebut dimanfaatkan di jalan yang Allah kehendaki.

Yah inilah hidup kawans.

Intinya apapun kondisi yang Allah berikan pada kita, tenang saja, kita cari saja kisi-kisinya bagaimana kita harus merespon, agar Allah menerima respon kita, dan menjadikan kita golongan orang-orang yang paling baik amalnya.

Dapat istri dan anak durhaka, tinggal gunakan jawaban dari Nabi Nuh, diberi penyakit tinggal gunakan tipsnya nabi Ayub, di ganggu, dicaci ketika beribadah tinggal gunakan resepnya Nabi Muhammad SAW, ganteng atau cantik tinggal gunakan akhlaqnya Nabi Yusuf, kaya raya dan punya kuasa tinggal gunakan tips dan triknya Nabi sulaiman dan begitu seterusnya.

Jadi, apapun kondisi yang Allah berikan kepada kita, semua adalah kebaikan untuk kita kalau hal tersebut menjadikan kita lebih dekat denganNya dan respon kita sesuai dengan kehendakNya begitu pula sebaliknya.

Saya pun jadi berpikir, apa yang akan terjadi pada saya kedepan ya? tentu saya tak mengetahuinya. Yang pasti, hati saya berkata, kalau saya yang diberi kondisi seperti teman-teman saya tadi, kuatkah saya? Ya Allah…

Semoga Allah selalu memberikan keistiqomahan dalam menjalani kehidupan ini…

Amiiin…

Kelahiran anak pertama

Masih di tanggal 29 Desember 2016, yang belum baca cerita sebelumnya bisa baca dulu disini, karena belum lahir-lahir setelah dari Bidan akhirnya kita jalan-jalan ke Botani Square, ke Gramedia cari buku dan saya ke iBox untuk lihat Macbook pro yang paling baru. Kita muter-muter dan setelah capek, kita ke food court untuk makan, seperti yang sudah saya tebak, istri pesan makanan jepang. hehehe.

Istri saya adalah penggemar  mie dan makanan jepang. Saya sampai bosan menasehatinya karena dia sering makan mie. Istri saya kadang juga tidak terima kalau saya sebut mie, mie dan mie terus. Sebenarnya sih ini salah saya, karena saya tidak bisa membedakan antara mie, bihun, spageti, fettucini. Karena bagi saya yang bentuknya mirip mie ya saya sebut mie hehee. Istri saya kadang sehari cuma makan spageti, jadi kami memang cukup berbeda dalam persoalan selera, istri saya sukanya yang mie mie, eh jangan bilang mie nding hehee. Ya intinya yg mirip mie, sedang saya penyuka nasi hehe. Istri juga suka banget sop-sop an sedang saya sukanya bakaran, entah itu ayam bakar, sate, dkk, maklum lama tinggal di Jogja hobbynya makan SS.

Wah jadi ngalntur kemana-mana. Intinya setelah dari botani square kami capek banget, terus kami pulang. Ketika magrib tiba-tiba istri bilang kalau muncul flek, alhamdulillah batin saya, sepertinya sebentar lagi kami akan bertemu dengan jabang bayi ini. Saat itu istri juga belum mules, saya ya pikirnya masih lama karena ini baru tanda awal. Baik istri maupun saya sudah bertanya-tanya mengenai kelahiran anak pertama baik pada teman maupun orang tua dan pada bidan juga.

Kata orang, kelahiran anak pertama itu lama, bisa memakan waktu 12 jam dari pembukaan 1 sampai 10, jadi ya saya masih santai-santai saja. Tiba-tiba setelah saya pulang dari masjid sholat isya, istri saya sudah tiduran di kasur, katanya tadi ketika mau ngambilin makan saya, air ketubannya ngalir, wuh, saya kaget dan agak panik. Untung semua keperluan untuk melahirkan yang telah di kasih tau sama bidan sudah kami siapkan dalam tas. Kami langsung bilang ke orang tua istri, dan untungnya ada Bapak, di rumah orang tua ada beberapa mobil tapi saya belum bisa nyetir haha. Ya Alhamdulillahnya pas ada bapak soalnya malam hari. Saya kemudian telp bidannya dan bidannya bertanya kontraksinya sudah berapa menit sekali. Istri saya pun sudah menyalakan stop watch di HP untuk menghitung frekuensi kontraksinya. Saya jawab ke bidan tiap tiga menit. Bidannyapun bilang ya sudah di bawa kesini saja. Akhirnya kami antar istri ke bidan.

Jam set 9 malam kami sampai di bidan, istri kemudian di check, pas di check bidannya bilang, iya cairannya positif ketuban dan sekarang sudah pembukaan tiga. Perkiraan juga mungkin masih lama. kami pun diminta untuk ke kamar yang telah disediakan. Detik-detik kontraksi pukul setengah 10 malam itu sungguh menegangkan. Karena ketika belum pembukaan 10, kalau ada kontraksi itu tidak boleh mengejen, harus ditahan dengan ambil nafas dan buang nafas. Istri pun sudah berpesan ketika terjadi kontraksi untuk membisikkan kalimah sahadah di telingannya. Tangan sayapun sampai lecet, kerena di genggam ketika istri menahan ngejen saat kontraksi, bener-bener was-was saya saat itu. Tiba-tiba ditambah lagi istri saya muntah-muntah, wah padahal sebelum ke bidan dia juga belum makan. Habis muntah istri saya benar-benar lemes. Saya hanya selalu berdoa pada Allah agar semuanya lancar. Saya sudah bingung sebenarnya, kalau harus seperti ini sampai besok pagi bagaimana, apakah istri saya kuat? pikir saya.

Saya sudah diberi tips untuk membawa kurma, karena memang buah yang satu ini adalah sumber energi yang bagus, dan untuk memakannya pun tidak repot. Istri saya suapin kurma terus, dan Alhamdulillah tidak lemas lagi. Yang paling menegangkan adalah tiap kali kontraksi, karena saya melihat istri saya benar-benar seperti tersiksa. Kata istri saya itu rasanya pingin banget ngejen tapi harus di tahan, udah gitu perutnya juga nyeri. Ya Allah, sungguh… benar-benar mulia tugas ibu itu, saya jadi teringat mungkin karena inilah sehingga wanita dibebaskan dari berjihad di medan perang. Karena perangnya wanita ya ini, pikir saya.

Pukul 10 malam lebih, istri ngotot pingin ke toilet karena pingin BAB rasanya. Saya pun akhirnya panggil bidannya. Kemudian kami antar ke toilet sambil diawasin sama bidannya untuk hati-hati ngejennya. Setelah dari toilet, istri bilang, katanya benar-benar pingin BAB dan ngejen banget. Akhirnya sama bidannya diminta masuk ke ruang bersalin untuk diperiksa lagi. Saya mengira ya masih di pembukaan 5 atau 6 begitu karena katanya kan lama. Eh pas di periksa, tanpa ngomong apa apa, bidannya langsung memanggil bidan senior yaitu Ibu Srie Dodie, kemudian Ibu Srie mengecek lagi dan ibu srie bilang kalau istri saya sudah siap melahirkan, pembukaannya sudah sempurna.

Istri sayapun dipandu oleh bidan untuk melakukan gerakan melahirkan seperti yang sudah diajarkan di senam, kemudian kepalanya diangkat dan melihat perut. Kemudian di pandu untuk ngejen, tidak lama kemudian, tiba-tiba saya melihat ada bayi yang keluar, kemudian di lap sama bidannya, dan dibersihkan lendirinya pakai alat kemudian bayi tersebut menangis, oleh bidannya kemudian ditaruh di dada istri saya.

Sungguh, waktu itu serasa mimpi, sungguh begitu cepat. Saya benar-benar tidak menyangka akan secepat ini proses kelahirannya. Saya hanya membayangkan ketika istri saya terlihat seperti tersiksa sekali saat kontraksi, dan membayangkan kalau harus menunggu hingga pagi hari. Tepat pukul 10:35 Fatiha lahir, dengan berat 3,7 kg dan panjang 50 cm, bayi yang cukup besar untuk anak pertama dan dengan proses kelahiran normal. Setelah bayi dimandiin sama bidannya kemudian di bedong, istri saya masih rebahan (lagi dijahit) dan bayinyapun dikasih ke saya. Saya pun meng-adzani Fatiha di telinga kanannya, kemudian meng-iqomat inya di telinga kirinya. Saya berdoa pada Allah semoga anak kami ini menjadi anak sholihah.

Alhamdulillah, inilah pertolongan Allah.. saya benar-benar ingat jam 11 kita sudah balik ke kamar, melihat fatiha tidur di dalam kotak. Semalam suntuk saya tidak bisa tidur, saya melihat wajahnya fatiha, kemudian melihat ibunya, seperti itu terus menerus. Saya masih ingat sebelum istri saya datang ke bidan, sudah ada pasien lain yang mau melahirkan juga yang sudah datang terlebih dahulu, dan pasien tersebut melahirkan pukul 3 dini hari. Kata bidannya, proses kelahiran istri saya benar-benar cepat. Saya pun juga berpikir demikian, coba bayangkan habis magrib baru mulai mules, diperiksa bidan pukul setengah 9 masih pembukaan 3 dan alhamdulillah jam setengah 11 sudah lahiran.

Sungguh, kami bersyukur atas segala nikmat yang Allah karuniakan pada kami, semoga kami bisa menjadi orang tua yang amanah. Semoga kami bisa mendidik keturunan kami menjadi generasi yang sholih/sholihah yang bisa menjadi penegak kalimatNya di muka bumi ini.

 

fatiha-bayi

 

Anak kami tersebut, kami aqiqah’i dan kami beri nama Fatiha Firdausi Mafrur. Semoga kelak dia menjadi wanita sholihah dan bisa seperti harapan ayah dan bundanya pada namanya, yaitu sebagai Fatiha: pembuka, alfirdausi : surga firdaus, bagi keluarga Mafrur.

Amiin.

Sudah lewat HPL bayi belum lahir

Seperti yang sudah saya ungkapkan di tulisan sebelumnya kalau HPL istri saya 25 Desember 2016. Pikir saya, wah ini anak saya kalau lahir pas tanggal itu benar-benar barengan sama natal nih ehehe. Saya juga sudah menulis mengenai kisah kegalauan kami karena disuruh caesar oleh dokter di tulisan itu, tapi kami sepakat untuk normal.

Kami sering melakukan check up ke Bidan Srie Dodi untuk memeriksa kandungan istri kami, terakhir USG juga baru baru saja dan Alhamdulillah semuanya baik untuk lahiran secara normal. Hari-hari menjelang kelahiran sungguh sangat deg-deg an. Istri sejak mulai kehamilan di bulan tujuh sudah rutin ikut senam hamil, dan di rumahpun sering yoga pula dipandu oleh tutor di Youtube hehee.

Kami sudah mempersiapkan segalanya, dimulai dari beli perlengkapan bayi dari mulai baju alat mandi, popok, dsb, kranjang bayi, tempat tidur bayi juga sudah kami siapkan, kemudian istri juga sudah buat hiasan yang di tempel di tembok bertuliskan Welcome Fatiha, dsb. Banyak hal yang sudah kami persiapan menjelang tanggal 25 Desember 2016. Tanggal 24 Desember saya di telp ibu, ibu tanya sudah ada tanda-tanda mau melahirkan belum, ya seperti mules atau keluar darah, dsb?. Tapi sayang nya istri saya biasa-biasa saja, bahkan sampai tanggal 25, kemudian 26, istri saya tidak ada tanda-tanda untuk melahirkan padahal sudah lebih dari HPL.

Kami pun yakin, insyaAllah tidak ada apa-apa, pemeriksaan terakhir semuanya baik-baik saja, bayi juga masih aktif nendang-nendang di perut ibunya. Oyah, dokter juga bilang lebih dari 60 persen bayi itu lahir tidak sesuai dengan HPL jadi bisa dua minggu sebelumnya atau satu minggu setelahnya yang penting jangan sampai lebih dari 42 minggu itu berbahaya bagi bayi karena akan terjadi pengapuran plasenta, intinya spt itu. Jadi bagi teman-teman yang mengalami kejadian seperti saya, Sudah lewat HPL bayi belum lahir, tetap tenang, jangan sampai istri stress, dan silahkan periksa kondisi bayi secara intensif ke bidan atau dokter.

Tapi jujur saja kami juga was-was, akhirnya kami ke Bidan Srie Dodie, pas di periksa ternyata katanya berat bayi sudah sampai 3,5 kg!. Haduh makin was-was jadinya kami, karena mamang untuk anak pertama harusnya sih jangan gede-gede bayinya kasihan nanti ibunya ngejennya. Tapi kami tetap berusaha tenang dan senantiasa berdoa pada Allah.

Di tanggal 29 Desember pagi setelah melewati empat hari dari HPL, kami datang ke Bidan Srie Dodie untuk senam hamil dan periksa kandungan juga, dan semuanya masih baik-baik saja cuman ya itu sepertinya harus benar-benar siap karena bayinya cukup besar. Ibu bidannya bilang, yah semoga bentar lagi bisa lahir yah. Kami hanya bisa mengamini doa dari Ibu tersebut.

Yuk baca kelanjutannya di detik-detik menjelang kelahiran jabang bayi di sini

Minus diatas 6 harus operasi caesar

Sejak pertama kali taaruf, di CV-nya, istri sudah menulis bahwa dia mempunyai minus dan minusnya waktu itu 9 atau 10 dan kemungkinan besar bahwa ketika melahirkan harus di caesar.

Saat pertama kali saya membacanya saya benar-benar baru tahu ada perihal seperti itu, karena saya pernah punya teman yang dia memakai kacamata tebal dan bisa melahirkan normal tapi tentu saya kurang tau dia minus berapa. Karena background saya sebagai peneliti disamping itu saya orang IT maka pertama yang saya lakukan adalah googling. Ketika Googling dengan bahasa Indonesia memang banyak tulisan-tulisan yang menyebutkan hal itu. Wanita yang mempunya minus tinggi dan dia hamil akan sangat beresiko untuk melahirkan secara normal, resikonya adalah jaringan syaraf di retina bisa putus ketika proses melotot karena ngejen saat melahirkan.

Saya sadar kalau saya bukan dokter jadi saya tidak begitu paham akan hal itu dan saya memang bukan ahlinya, tapi saya penasaran bagaimana kalau di luar negeri? dan saya yakin ketika dokter bilang seperti itu pasti ada paper penelitiannya. Akhirnya saya mencoba untuk mencarinya dengan bahasa Inggris. Saya masuk ke forum, baca-baca komentar orang-orang dan akhirnya saya menemukan paper yang dijadikan sebagai landasan SOP tersebut. Intinya dalam SOP kalau minus diatas 6 sebaiknya di caesar jika mau melahirkan, dulu memang ada penelitian mengenai hal itu. Tapi disisi lain saya juga menemukan tulisan ilmiah/paper yang terbit sekitar tahun 2009, dimana sang peneliti melakukan penelitian dengan beberapa responden wanita hamil, hasilnya adalah tidak ada korelasi antara bahaya kebutaan bagi wanita penyandang minus tinggi dengan melahirkan secara normal.

Tapi tetap saja, kami berdua was-was, di sisi lain istri tidak mau kalau di caesar, orang tua juga menyarankan jangan di caesar, apalagi ibu saya sampai nangis ketika saya bilang bisa jadi di caesar. Ibu saya bilang, kasihan nanti pulihnya lama bisa berbulan-bulan. kalau lahiran secara normal itu habis lahir, langsung bisa jalan, mungkin sakitnya hanya seminggu kalau ada jahitannya. Hmm.. itu adalah saran dari orang tua kami.

Kami pun ketika USG dan periksa tiap bulan selalu bertanya kepada dokter mengenai hal ini. Pemeriksaan pertama kami di RS KBP Dramaga (Karya Bakti Pratiwi), kami memilih untuk periksa ke dokter kandungan yang terkenal dan senior, ketika kami bertanya masalah itu, sontak beliau langsung bilang harus caesar, titik tanpa koma.

Kami pun akhirnya memutuskan untuk ke RSIA Ummi, Salah satu dokter yang pernah kita temui di Ummi lebih bijak, beliau bilang, nanti diusia kehamilan 8 bulan atau 9 bulan coba periksa ke dokter mata, bagaimana kondisi matanya. Kalau bagus, nanti insyaAllah bisa normal, jadi memang perlu rekomendasi dari dokter mata. Saat itu kami jadi tenang, alhamdulillah masih ada harapan. Karena kami masih penasaran, kami mencoba ke RSIA melania, mencari dokter kandungan yang senior, setelah di USG kemudian di periksa kami pun menanyakan persoalan itu. Dokternya kemudian bilang, minus tinggi karena apa? bukan karena kecelakaan kan? kami jawab bukan, dokter tersebut langsung bilang normal saja, tak akan ada masalah, pasti bisa normal. Hal tersebut yang membuat kami semakin yakin, insyaAllah, Allah pasti ngasih jalan. Saya pun sebenarnya yakin, Allah sudah menciptakan wanita dengan sedemikian rupa, pasti istri saya bisa normal, sembari selalu berdoa pada Allah agar semuanya bisa lancar.

Selain persoalan minus ternyata kami juga punya persoalan lain yaitu HB istri, kepada calon ibu dan suami, silahkan bisa di check ke Lab kondisi istri ,seperti HB dan sebagainya. Dulu pada awalnya saya bingung karena sudah di trimester kedua tapi istri kadang-kadang masih sering pusing. Waktu itu saya tidak tahu, saya baru tahu penyebabnya setelah kami uji lab. Setelah di periksa di kehamilan ke tujuh ternyata istri saya HB nya 8,4 padalah untuk ibu hamil normalnya kalau tidak salah harus di atas 11 dan itu beresiko sekali. Karena ketika misalnya pas lahiran normal, kemudian darahnya banyak  yang keluar dan kondisi HB rendah itu sangat beresiko. Jadi silahkan bagi suami dan calon ibu bisa memeriksakaan kondisi istrinya ke lab. Alhamdiulillahnya karena ketahuan jadi istri disuruh banyak makan daging merah, hati, kemudian diberi suplemen penambah darah juga. Alhamdulillah di usia menjelang persalinan HB nya sudah normal.

Menjelang kelahiran, di usia kehamilan awal bulan ke 9, saya pun memeriksakan kondisi mata istri ke dokter mata di RSIA melania, prosesnya ternyata cukup lama. Pertama antreannya banyak ditambah dokternya datang dari jakarta jadi terlambat ya sudah jadinya lama banget. Ketika giliran istri saya, istri saya dipanggil untuk masuk, kemudian kita cerita ke dokternya tentang tujuan kita, ternyata kita harus keluar lagi yaitu istri saya diberi semacam obat tetes mata, setiap setengah jam sekali untuk membersihkan mata dan memperbesar apa gitu saya lupa tujuannya. Setelah beberapa kali ditetesin kemudian di periksa lagi, ditetesin lagi diperiksa lagi, akhirnya setelah ok, baru kami disuruh masuk lagi ke ruang dokternya dan saat itulah mata istri saya di periksa menggunakan alat yah kayak gitu alatnya, susah di deskripsikan. Setelah diperiksa, langsung keluar hasilnya, yaitu, kondisi syaraf di retina istri saya sangat baik, jadi tidak masalah untuk melahirkan secara normal kata dokternya. Alhamdulillah….

Istri sebenarnya pingin lahiran secara normal di RSIA Ummi karena RSnya islam, kemudian paling dekat dengan rumah. Istri pingin lahiran disana karena takut ada apa-apa dengan HBnya walaupun pas pemeriksaan terakhir sudah normal. Nah, pas kita kembali ke Ummi lagi dengan membawa surat rekomendasi dari dokter mata di Melania ternyata dokter di Ummi kurang berkenan. Dokter di Ummi meminta kami untuk check ulang lagi kondisi mata ke salah satu dokter mata senior di RSIA Ummi yang di rekomendasikan. Kami pun mengikuti sarannya, kami periksa ke dokter mata tersebut, antreannya buanyak banget, hingga nunggu berjam-jam. Akhirnya giliran istri saya juga, kamipun di panggil untuk masuk, setelah masuk ,mata istri cuman di lihat sebentar habis itu ngobrol, ketika dokternya tahu kalau kondisi istri minus 11, langsung dokter mata tersebut merekomendasikan untuk caesar tanpa pemeriksaan seperti yang dilakukan oleh dokter mata di melania. Beliau bilang, memang tidak ada indikasi, tapi resikonya tinggi jadi saya rekomendasikan untuk caesar, nah untuk keputusannya ya tetap di tanggan ibu dan bapak, jadi silahkan.

Huftt.. akhirnya kamipun galau lagi, dan saya benar-benar tahu betul bagaimana perasaan dan kesedihan istri saya waktu itu. Setelah itu kamipun datang lagi ke dokter kandungan di Ummi dan kami serahkan rekomendasi dari dokter mata di Ummi tersebut. Dokter kandungannya pun bilang, ya saya ikut rekomendasi dari dokter mata saja ya, jadi bagaimana? Kami pun bilang ke dokternya kalau kami ingin normal, tapi dokternya tidak bersedia. Setelah itu kami minta untuk di check kandungannya saja, ketika di check semuanya normal, air ketuban bagus, kepala bayi sudah masuk, tidak terlilit dan sebagainya, sebenarnya semua kondisi tersebut sangat bagus untuk normal, tapi dokter tidak berani ambil resiko karena kondisi mata istri saya.

Oyah HPL (Hari prediksi lahir) anak kami adalah 25 Desember 2016. Nah, setelah kami berdiskusi, kemudian berdiskusi dengan orang tua juga, akhirnya kami memutuskan untuk mantab mau normal saja dan di bidan saja. Istripun sudah mencari tahu mengani bidan yang recommended. Bidan Srie Dodie di belakang pasar Gunung batu, bagi yang rumahnya dekat situ silahkan di check saja. Memang rekomended banget sih!!!. Akhirnya bismillah kami berusaha untuk normal, ikhtiar dan tentu tidak lupa untuk senantiasa berdoa kepada Allah..

Yuk baca, kelanjutannya di.. Menunggu kelahiran jabang bayi

atau baca juga tulisan sebelumnya hamil pertama istri

Hamil pertama istri

Harapan manusia setelah pernikahan adalah dikaruniai keturunan, itu adalah sunatullah dan pasti ada perasaan tersebut dimasing-masing insan. Begitu juga dengan kami, salah satu target saya adalah menikah sebelum usia 25 tahun dan semoga bisa segera dikaruniai keturunan, agar nanti kalau Allah memberikan saya umur panjang, diusia saya yang belum begitu tua, saya bisa menyaksikan anak-anak saya besar bahkan mereka menikah.

Sikap kami sebagai keluarga baru pasca menikah adalah pasrah, istilahnya ya ngalir saja, kami tidak langsung berusaha dengan sekuat tenaga agar segera dikaruniai anak atau sebaliknya, berusaha agar tidak segera punya anak. Alhamdulillah selang beberapa bulan setelah pernikahan ternyata Allah berikan tanda-tanda pada istri saya, kamipun melakukan pengecekan dan ternyata benar! istri saya hamil padahal sebelumnya istri saya jalan-jalan naik Gunung terus ke ladang bersama ibu saya dan dia lompat-lompat karena seblumnya dia tidak mengira kalau sudah ada janin di perutnya. Ini adalah tanda bahwa Allah percaya pada kami, semoga kami bisa menjadi orang tua yang amanah.

Oya saya benar-benar bersyukur, istri saya sangat pintar memasak, semua masakannya enak yang pernah ia masak, bahkan di awal pasca pernikahan dia mencoba memasak soto, bayangin saja soto, yang bumbunya begitu kompleks. Setelah jadi, subhanallah rasanya, soto yang paling enak yang pernah saya makan deh. Hal tersebut adalah keberuntungan bagi kami, saya tidak bisa membayakan seandainya istri saya tidak bisa masak. Istri saya termasuk orang yang gampang diare jika makan makanan di pinggir jalan. Berbeda sekali dengan suaminya ini, karena saya terlahir di kampung, besar dijalanan, maka makanan apapun, dimanapun, masuk ke perut tanpa ada masalah lanjutan. Kami pernah mencoba untuk membeli masakan di warteg di pinggir jalan, eh habis kami makan ternyata istri saya diare. Jadi, kalau mau membeli makanan diluar harus benar-benar yang istri saya pernah makan di warung tersebut karena kalau tidak nanti malah jadi repot.

Persoalan yang kami hadapi adalah skripsi, saya menikah dengan istri dengan kondisi istri belum lulus S1 dan belum mulai mengerjakan skripsi. Saya benar-benar masih ingat betapa stressnya istri ketika dia mengerjakan skripsi. Harus menghubungi responden untuk penelitiannya dengan telphone, kadang ditolak kadang diterima, dan topik penelitiannya juga unik yaitu membahas mengenai waqaf uang di Indonesia dan sudah barang tentu nyari respondennya juga tidak mudah. Saya sampai lupa berapa biaya yang kami habiskan untuk beli pulsa untuk menelphone responden. Di lain sisi ketika skripsi yang harus di kejar dia pun berhadapan dengan trimester pertama yaitu usia kehamilan 1-3 bulan, benar-benar kasihan. Sering muntah, mual, pusing, pinginnya tidur, sedangkan skripsi harus segera ia selesaikan.

Di trimester pertama ini, istri sering bilang ke saya. Mas, ini bukan karakter saya yah yang rewel ini. Sayapun tahu kalau dia memang bukan tipe wanita yang rewel. Yah maklum saya dengan istri memang sebelumnya tidak saling kenal, hanya dari proses ta’aruf yang sebentar, qodratullah Allah mempersatukan kita. Jadi memang dimasa-masa ini kami sedang berusaha memahami karakter masing-masing. Di trimester pertama ini memang istri sering banget rewel. Minta nasi padang, saya beli dua bungkus, eh pas mau makan tiba-tiba dia tidak mau makan, jadinya dua bungkus masuk ke perut saya. Minta soto yang dia suka eh sama saja dua bungkus soto akhirnya masuk ke perut saya. Yang lucu juga adalah dia masak sendiri nasi goreng, habis itu dia mual sendiri karena bau bawang dan tidak mau makan masakannya sendiri. Yah itulah trimester pertama kehamilan, mungkin diantara pembaca ada calon ibu atau calon bapak yang mengalaminya juga. Tapi hal ini hanya berlangsung tiga bulan saja, setelah itu dibulan keempat dan sampai terakhir sudah pulih seperti biasa, tidak mual-mual lagi, bedanya ya sekarang istri harus membawa beban berat di perutnya kemana-mana.

Alhamdulillah, wasyukrulillah, diusia kehamilan ke enam/enam bulan, istri bisa sidang dan secara unofficial sudah lulus dari S1nya, akhirnya lega juga.

Oya, memang benar kata orang-orang yah kalau yang namanya anak pertama itu biasanya sangat spesial. Ya gimana tidak spesial, kami adalah calon orang tua baru waktu itu, kami tidak tau apa-apa dan pasti ada rasa was-was dan sebagainya. Tiap bulan kami melakukan pemeriksaan ke dokter dan sekalian USG. Tiap dari dokter dikasih multivitamin untuk diminum tapi kadang kala habis kadang istri tidak menghabiskannya. Semua kata dokter kami berusaha untuk menurutinya, karena memang kami tidak paham apa-apa. Lha suaminya orang teknik, istrinya orang ekonomi syariah hehehe. Dulu ketika istri belum selesai skripsi kita melakukan pemeriksaan di RS karya bakti di Dramaga karena kami tinggal di dekat IPB, tapi setelah lulus karena kami balik ke Cikaret ke rumah orang tua istri, kami biasanya melakukan pemeriksaan di RSIA Ummi bogor atau di RSIA Melania Bogor karena dua rumah sakit itu yang paling dekat dengan rumah orang tua istri.

Menemani istri menjalani proses kehamilannya selama sembilan bulan benar-benar memberikan banyak hikmah bagi diri saya ini. Saya jadi ingat nasihat dari seorang ustadz, kamu tidak akan bisa merasakan apa yang orang tua mu rasakan kepadamu sebelum kamu benar-benar menjadi orang tua. Saya benar-benar jadi ingat dan paham kenapa islam benar-benar memuliakan ibu, melatakkan ibu diposisi lebih utama tiga kali daripada ayah, menjamin syahid bagi wanita yang meninggal karena melahirkan, menjadikan surga ada dibawah telapak kaki ibu, sungguh akhirnyapun saya jadi ingat ibu saya. Alangkah buruknya bila kita yang sudah besar ini tidak hormat, tidak berbakti kepada ibu, alangkah buruknya manusia yang berani melawan orang tuanya, yang berani menghardiknya, yang berani mengatakan kata-kata kotor didepannya. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang berbakti kepada orang tua kita. Amiin….

………

Silahkan bisa melanjutkan membaca kisah kami, salah satu permasalahan yang kami alami ketika proses kehamilan yaitu diancam oleh dokter untuk caesar karena istri minus 11. yuk baca disini!!!