Meninggalkan keluarga demi S3

Tiga tahun lalu ketika saya masih di Chonnam National University, Korea Selatan, saat itu saya masih di semester dua, lab saya kedatangan tiga mahasiswa baru, dua mahasiswa master dan satu mahasiswa doktor. Beliau yang doktor ini adalah dosen di salah satu kampus terbaik Indonesia, saat itu saya tahu beliau berangkat melanjutkan S3-nya ke Korea dengan meninggalkan keluarganya, istri beliau bahkan baru saja melahirkan, jadi baru punya bayi beberapa bulan umurnya. Saat itu saya hanya berpikir, bagaimana rasanya ya? Saya pun sering sharing-sharing juga dengan beliau. Bahkan ada cerita-cerita lucu dari Beliau, beliau bilang ketika mudik ke Indonesia anaknya sampai tidak tahu sama beliau, tapi ketika beliau ngobrol sama anaknya pakai tablet, anaknya pun baru ngeh kalau itu bapaknya, ya karena biasanya ngomong sama bapaknya pakai tablet. Huhuhu, sedih 😥 . Alhamdulillahnya saya sudah mendapatkan kabar kalau beliau sudah memboyong semua anggota keluarganya ke Korea tahun lalu.

Dulu saat saya masih S1, saya juga pernah sharing-sharing dengan salah satu dosen S1 saya. Saya cukup akrab dengan beliau sehingga beliau sering sharing-sharing tentang pengalaman dulu ketika beliau kuliah di Korea dengan beasiswa KGSP, saat itu beliau dapat beasiswa KGSP untuk program master. Jadi total 3 tahun (1 tahun belajar bahasa, 2 tahun kuliah master), tantangan terberatnya adalah beliau harus meninggalkan anak istrinya di Indonesia, karena saat itu anak sudah sekolah, istri PNS yang tidak ada ijin untuk ikut suami. Saya sedih mendengarkan cerita-ceritanya, bagaimana rasanya meninggalkan anak dan istri di rumah dan harus berjuang di negara lain yang tentu kultur, lingkungan, kondisi akademik jelas sungguh berbeda.

Cerita lain juga sering saya dengar dari salah satu dosen S1 saya juga, yang saat ini beliau jadi wakil dekan. Beliau lulusan S3 ANU (Australian National University). Beliau tidak menceritakan dirinya karena memang beliau dulu S3 di ANU belum berkeluarga, tapi beliau menceritakan beberapa kawannya. Beliau bercerita kalau kawannya, sudah jadi direktur di salah satu persahaan di Indonesia, sudah settle, tapi karena istrinya harus melanjutkan PhD ke inggris, dia rela meninggalkan jabatan itu dan keluar dari perusahaan demi menemani studinya istri di Inggris.

Selain cerita-cerita di atas, ada satu cerita yang sebenarnya malah paling dekat. Mertua saya sendiri, Ust Hasim, beliau dulu S2 dan S3 di Prancis. Beliau juga sering cerita ke kami tentang perjuangan beliau dulu, bahkan beliau bilang ya kalau sekarang teknologi sudah maju, ada WA, Facebook dan sebagainya, bisa video call dan sebagainya. Dulu, hanya pakai telp atau surat. Beliau mertua saya ini juga harus meninggalkan istrinya ketika hamil ke Prancis untuk studinya. Beliau menitipkan istrinya yang pada saat itu masih hamil ke keluarga istrinya. Beliau baru memboyong keluarganya ketika anak pertamanya sudah lahir dan cukup umurnya untuk dibawa. Sampai selesai studi di Prancis, beliau pulang ke Indonesia dengan membawa tiga anak, hehee.

Setelah saya resmi dinyatakan jadi Awardee LPDP, dan resmi dibolehkan untuk pindah kampus ke The University of Queensland, tentu saya bersyukur, senang dan bergembira.

Tapi ketika detik-detik keberangkatan saya ke Australia saya tidak menyangka harus merasakan hal itu juga. Kemarin tanggal 19 September 2017, saya harus meninggalkan istri dan anak saya, Fatiha, yang berusia 8 bulan. Sedih memang, tapi bagaimana lagi. Ada beberapa alasan yang membuat kami memutuskan untuk tidak langsung berangkat bareng diantaranya, saya belum paham medan di sini, istri sekarang sedang prepare IELTS lagi karena test IELTS kemarin skornya masih kurang, setelah ini istri juga mau apply beasiswa juga ke sini (semoga dimudahkan oleh Allah), dan yang terakhir adalah OSHC (Overseas Student Health Cover ).

Persoalan OSHC ini ternyata cukup berat dan saya juga baru paham baru-baru ini. Sistem asuransi bagi internasional student adalah langsung begandengan dengan visa. Jadi syarat di approvenya VISA itu ya harus bayar OSHC, jadi misal saya mau PhD selama 4 tahun, ketika mau apply VISA student doktor maka dihitunglah OSHC nya selama 4 tahun itu dan harus dibayar di awal. Bagi yang menerima beasiswa studi ke Australia, rata-rata beasiswa juga sudah mencover biaya OSHC tapi ya hanya bagi mahasiswa tersebut, tentu provider beasiswa tidak menanggung OSHC anggota keluarganya jika ia ingin membawanya. Begitu juga dengan saya, OSHC saya sudah dicover oleh LPDP, tapi ketika saya mau membawa keluarga saya, saya harus membayar OSHC untuk istri dan anak dengan cara upgrade OSHC jadi family. Ternyata karena hal ini banyak juga teman-teman penerima beasiswa di Australia yang akhirnya mengurungkan niatnya untuk membawa keluarga karena terganjal OSHC ini hehee.

Berikut ada contoh perhitungan OSHC.

OSHC untuk 1 orang dari tanggal 20 September 2017 sampai tanggal 17 Mei 2022, total bayar 2,699 yang paling murah.

Tapi coba kalau OSHC 1 adult dan 1 child, dengan jangka waktu yang sama, maka harus bayar 18,000an paling murah.

 

Untuk perhitungan OSHC upgrade family tidak saklek seperti diatas, tapi memang ketika saya tanya beberapa teman yang langsung membawa keluarga ke Australi ketika studi S3 rata-rata harus bayar OSHC diatas 13,000 AUD.

Apapun itu, saya hanya yakin, Allah sudah menempatkan saya di salah satu kampus di Australia tentu Allah pasti akan memberi jalan. Kalau masalah kuat ya kuat saja LDR an sama keluarga karena saya tidak sendiri banyak juga di sini yang LDRan, yang suami harus sering pulang pergi jenguk keluarga.

Saya hanya sedih ketika ingat nasihat dari para asatid saya, apasih yang kamu cari? uang? apapun itu tidak ada yang bisa menggantikan waktu bersama dengan keluarga. Tapi saya kadang juga berpikir tentang beberapa generasi tabiin dulu ketika mencari ilmu, mereka juga sering meninggalkan keluarganya untuk waktu yang lama demi ilmu. Tapi tetap saja saya jadi ingat pula dengan nasihat dari saya sendiri yang saya berikan pada orang yang bertanya ke saya mengenai LDRan. Waktu itu saya mengutip perintah Sahabat Umar bin Khattab RA, bahwa setidaknya tiga bulan lah suami harus balik untuk menjumpai keluarganya. Wa Allahu A’lam..

Semoga Allah memberkahi perjalanan keluarga kami, dan semoga semuanya lancar dan baik-baik saja. Berikut adalah foto saya sebelum berangkat bersama Fatiha dan Istri, besok pas Fatiha saya ajak ke sini nanti saya foto lagi, jadi foto before and after. hehee, jangan-jangan besok foto afternya Fatihanya sudah berdiri sendiri, tidak digendong? hahahhaa

 

Salam hangat,

Brisbane, 20 September 2017

Advertisements

Download Buku 37 Masalah Populer Ust Abdul Somad

Sosial media termasuk di dalamnya Facebook, Twitter, Instagram, dan Youtube benar-benar bisa membawa perubahan yang luar biasa. Dulu kita kalau mau belajar harus datang dan masuk ke kelas, atau mendatangi majlis dan bertanya langsung ke guru, tapi sekarang cukup dengan duduk manis di depan laptop atau lihat HP, puter Youtube kita bisa belajar apa saja termasuk di dalamnya belajar Islam.

Entah kenapa lama-kelamaan saya merasa khawatir dengan semua ini, banyak sekali orang-orang dengan mudahnya mencaci maki di Facebook, di Twitter, dan mereka mencacimaki dengan atas nama agama, membid’ahkan amalan orang lain bahkan sampai mengatakan amalan musyrik dan kafir, nauzubillah.

Belajar di Youtube memang nyaman tapi kalau untuk agama kadang memang menjadi menakutkan apalagi mereka-mereka yang baru tahu dan tidak punya landasan kuat tentang islam.

Akhir-akhir ini banyak sekali ustad-ustad yang ceramah di Youtube yang mempunyai pandangan yang berbeda dengan pandangan pada umumnya orang islam di Indonesia, yang mayoritas muslim Indonesia adalah mereka yang beraqidah Asyariah/Maturidiyah dengan Mazhab Fiqih Syafi’iah. Slogan mereka adalah kembali ke Quran dan Sunnah. Jujur saya bingung ketika ada teman saya, dia bahasa arab tidak paham, apalagi nahwu sorof, baca Quran saja belum lancar, baru kenal kajian dan nonton di Youtube langsung bilang kembali ke Quran dan Sunnah. Saya berpikir mungkin yang dia maksud adalah kembali ke TERJEMAHAN Quran dan Sunnah kali ya?

Ingatlah dengan sabda Rosulullah SAW, Barangsiapa menafsirkan Quran dengan akalnya tanpa ilmu maka silakan ia mengambil tempat duduknya di neraka (HR Tirmidzi)

Saya jadi inget obrolan dengan Guru saya, beliau adalah Kiyai Kampung tapi pengetahuannya luar biasa. Beliau bilang, beliau sangat tidak setuju Al Quran itu diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Kalau di tafsirkan ke bahasa indonesia dengan tafsir silahkan, tapi kalau hanya diterjemahkan beliau sangat tidak setuju. Dengan adanya fenomena ini akhirnya saya jadi paham, ternyata begini ya jadinya. Orang hanya bermodalkan Quran terjemah, ngutip Quran sana sini, ngutip Hadits sana sini langsung di sampaikan, langsung bilang kembali ke Quran dan Sunnah, padahal dia tak paham konteksnya dulu ayat atau hadits itu diturunkan karena apa dan sebagainya, ya walaupun ada ayat atau hadits yg turun tanpa adanya konteks tapi paling tidak ada syarahnya dari ulama.

Saya mau bercerita sebentar, Dulu suatu ketika saya sholat di sebuah masjid dan ternyata di Masjid tersebut setiap habis magrib ada petugas yang membacakan satu hadits dari kitab hadits. Sayangnya petugas tersebut hanya membacakan artinya tanpa ada syarah, atau asbabul wurudnya, atau tafsirnya. Saya kaget karena pada saat itu hadits yang dibacakan adalah hadits tentang nikah mut’ah (bolehnya kawin kontrak), itu haditsnya memang ada dan jelas kemudian datang hadits yang menghapus hukum bolehnya nikah mut’ah. Nah kalau begini apa tidak berabe? kalau itu didengarkan oleh jamaah yang tidak paham dikiranya nikah mut’ah itu boleh.

Itulah islam, Quran dan Sunnah itu lautan ilmu. Kalau kita belajar lebih dalam, kita bisa tahu bahwa tidak sedikit ayat-ayat dalam Quran dan sunnah itu adalah ayat-ayat nasikh dan mansukh, atau bahkan ada ayat-ayat kontradiktif. Nah, lhoo, terus bagaimana coba kalau ada ayat kontradiktif, bingung kan?

Nah itulah kenapa kita tidak akan mungkin bisa kembali ke Quran dan Sunnah secara langsung, tapi kita kembali ke Quran dan Sunnah melalui para ulama.

Sekarang itu banyak sekali fenomena aneh, ketika sakit dia pergi ke dokter, dokter bilang blababla dan diapun percaya dengan apa yang dokter bilang. Ketika dia motornya rusak dia pergi ke bengkel untuk membetulkannya, tapi ketika masalah agama, kemudian ulama sudah mengatakan hukumnya ini itu, dia menimpali, itu haditsnya shohih? hhehehe. Ada ada saja orang zaman sekarang. Saya pernah menjumpai orang seperti ini, orang tersebut bertanya sesuatu kemudian saya sampaikan jawabannya sesuai dengan apa yang guru saya ajarkan, eh dianya minta dalil, minta hadits, saya kasih saja hadits arab gundul, eh dianya bingung. Yah begitulah… Banyak orang sekarang bilang, ayolah kembali ke Quran dan Sunnah tanpa ikut ulama, emang dia mujtahid? hapal Quran dan paham isinya, hapal dan paham ribuan hadits, kaidah fiqih paham?
Itulah penyakit yang sekarang banyak menjalar di tubuh umat islam saat ini.

Empat imam mazhab itu orang yang sangat luar biasa, ibarat kata Quran dan Sunnah itu adalah bahan mentahnya, mereka imam mazhab adalah juru masaknya/ mujtahid, dimana mereka meracik sedemikian rupa sehingga bisa dengan mudah dinikmati oleh orang umum. Itulah kenapa ada mazhab, tujuannya adalah untuk mempermudah bagi orang umum seperti saya untuk menjalankan agama ini, seperti makanan yang sudah siap santap tidak perlu repot-repot.

Nah kembali ke ustad-ustad di Youtube yang seringkali membid’ahkan amalan-amalan orang lain. Jujur saja, saya di Korea Selatan selama dua tahun, punya beberapa kawan dari timur tengah (Mesir, Libiya, Maroco) bahkan kawan muslim dari daerah-daerah pecahan Rusia sampai Amerika. Ternyata di sana di negara-ngara tersebut termasuk di Korea juga, persoalan umat islam itu juga mirip, yaitu adanya segelintir orang atau kelompok yang suka membid’ahkan amalan orang lain dan menyebabkan perpecahan di kalangan umat, padahal amalan-amalan tersebut sifatnya adalah khilafiyah atau cabang. Yang saya bingungkan dari sahabat-sahabat saya yang seperti itu adalah, masalah furu/khilafiyah mereka vokal sampai mengeluarkan hadits segala macam, doa jamaah bid’ah, tahlilan bid’ah padahal itu adalah merupakan persoalan yang furu, tapi pada persoalan wajib yang disepakati seperti miras merajalela, narkoba, mereka malah biasa saja. Nauzubillah. Saya jadi semakin geleng-geleng saja, mereka sering menamakan Ustad Sunnah, kajian Sunnah dan sebagainya. Apakah yang lain berarti tidak Sunnah?

Alhamdulillah setelah saya pulang dari Korea, terus lihat-lihat di Youtube, sekarang ada orang-orang yang bisa mengkounter ustad-ustad tersebut. Saya sangat suka dengan kajian Buya Yahya Al Bahjah, beliau lulusan Yaman dan sanad Ilmunya jelas dan bisa dipertanggungjawabkan, dengan membawa aqidah asyariah dan atau maturidiyah dan mazhab syafiiah, ini menjadi angin segar bagi umat muslim Indonesia pada umumnya. Kemudian ada Ust Adi Hidayat alumni Libiya yang masih sangat muda dan cerdas, kemarin sempat ramai karena ditahzir tapi qodratullah Allah angkat beliau. Dan yang terakhir ini yang menurut saya paling cocok dengan saya yaitu Ustadz Abdul Somad, alumni S1 Al Azhar Mesir, dan Darul Hadits Maroko.

Ustad Abdul Somad ini ceramahnya enak banget di cerna, gampang dipahami, dan kadang diselipi hal-hal yang lucu dan unik sehingga tidak membosankan. Alhamdulillah sekarang Indonesia punya Ustad Abdul Somad, semoga beliau sehat selalu dan dirahmati Allah. Semoga nanti terlahir generasi-generasi lain yang bisa seperti beliau ini.

Persoalan curhatan saya di atas tersebut akan lebih jelas bila kita membaca Karya Ustadz Abdul Somad yaitu Buku 37 Masalah Populer. Dalam buku tersebut dibahas secara rinci tentang persoalan Bid’ah sampai kepada amalan-amalan yang sering dianggap bid’ah oleh kalangan yang sering membid’ahkan seperti tawasul, salaman setelah sholat, isbal dan sebagainya.

Kalau kata Syeikh Yusuf Qordowi, orang islam di dunia ini mayoritas asyariah dengan bermazhab fiqh imam yang empat, orang-orang seperti di atas yang saya sebutkan itu hanya sedikit sekali hanya saja mereka sering vokal alias aktif ngomong. Nah yuk.. kita juga mulai bergerak, agar tidak pecah persatuan umat ini karena ulah segelintir orang yang suka membid’ahkan orang lain padahal itu adalah persoalan furu alias cabang.

Silahkan bagi yang mau mendownload Buku 37 Masalah Populer karya Ustad Abdul Somad, Lc. MA klik tombol download di bawah ini.

Dakwah itu mengajak bukan Mengeje, Dakwah itu sayang kepada yang didakwahi bukan marah atau benci.

Salam dari Brisbane,

Ditulis oleh:
Rischan Mafrur
Mahasiswa S3 di The University of Queensland, Australia

CPNS 2017

Bagi yang punya cita-cita untuk jadi PNS tentu pendaftaran CPNS sudah dinanti-nanti, nah tahun 2017 ini utk CPNS periode II ada 61 instansi yang membuka pendaftaran (total ada 17ribuan lebih kursi)

Silahkan bisa didownload pengumuman resminya.

No Instansi Tautan
No Instansi Tautan
1 Arsip Nasional Republik Indonesia Download
2 Badan Ekonomi Kreatif Download
3 Badan Informasi Geospasial Download
4 Badan Intelijen Negara Download
5 Badan Keamanan Laut RI Download
6 Badan Kepegawaian Negara Download
7 Badan Kependudukan dan KB Nasional Download
8 Badan Koordinasi Penanaman Modal Download
9 Badan Meteorologi,Klimatologi & Geofisika Download
10 Badan Narkotika Nasional Download
11 Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Download
12 Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan Download
13 Badan Nasional Penempatan Perlindungan TKI Download
14 Badan Pemeriksa Keuangan Download
15 Badan Pengawas Obat dan Makanan Download
16 Badan Pengawas Tenaga Nuklir Download
17 Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Download
18 Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Download
19 Badan Tenaga Nuklir Nasional Download
20 Kejaksaan Agung Download
21 Kementerian Agama Download
22 Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN Download
23 Kementerian Badan Usaha Milik Negara Download
24 Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Download
25 Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Download
26 Kementerian Kelautan dan Perikanan Download
27 Kementerian Kesehatan Download
28 Kementerian Ketenagakerjaan Download
29 Kementerian Keuangan Download
30 Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Download
31 Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Download
32 Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Download
33 Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Download
34 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Download
35 Kementerian Luar Negeri Download
36 Kementerian Pariwisata Download
37 Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Download
38 Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Download
39 Kementerian Pemuda dan Olahraga Download
40 Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Download
41 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Download
42 Kementerian Perdagangan Download
43 Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Download
44 Kementerian Perhubungan Download
45 Kementerian Perindustrian Download
46 Kementerian Pertanian Download
47 Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Download
48 Kementerian Sekretariat Negara Download
49 Kementerian Sosial Download
50 Kepolisian Negara Download
51 Lembaga Administrasi Negara Download
52 Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Download
53 Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Download
54 Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Download
55 Lembaga Sandi Negara Download
56 Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara Download
57 Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan Download
58 Sekretariat Jenderal DPR Download
59 Sekretariat Kabinet Download
60 Sekretariat Mahkamah Konstitusi Download
61 Sekretaris Komisi Yudisial Download

 

Tapi tetap harus hati-hati terhadap penipuan!!!
Selalu utamakan akses ke situs pemerintah, data tabel diatas saya ambil dari situs https://sscn.bkn.go.id/

Semoga bermanfaat

Publikasi Internasional

BELAJAR MENULIS | Sinau Nulis

September 2013 merupakan momen yang luar biasa karena saat itu saya mulai kuliah master di Chonnam National University, #Korea. Banyak hal yang saya dapatkan selama 2 tahun belajar di negeri #SNSD tersebut. Hal yang menurut saya paling penting yang saya dapatkan selain jalan-jalan di sana adalah BELAJAR MENULIS.

Saya termasuk tipikal orang yang tidak suka menulis, saya sukanya ngomong, ngobrol ngalor ngidul sambil ngopi di angkringan, istilah kerennya gemar berdiskusi memikirkan nasib bangsa dan negara serta umat pada umumnya. Di Korea saya dilatih untuk menulis yaitu menulis hasil penelitian kemudian mengirimkannya ke Journal untuk diterbitkan.

Di Departemen saya ada ketentuan dimana untuk mahasiswa asing yang mengambil PhD, syarat kelulusan minimal punya dua publikasi internasional sebagai first author yang ter-index SCI/SCIE (Science Citation Index/Expanded) bisa di googling, itu adalah indexing dari thomson routers. Kalau untuk master (S2) minimal punya satu publikasi internasional yang terindex SCOPUS, sebagai first author. * note: Itu syarat dari departmen ya, bukan dari Prof hehehe

Jujur, saya pas S1 dulu saya tidak tahu apa itu SCI/SCIE, Scopus, sciencedirect, Elsevier dan sebagainya. Pada akhirnya Agustus 2015 saya bisa lulus dan punya beberapa publikasi, yah walaupun masih kelas cengcereme..

Ada beberapa orang yang cukup memotivasi saya terkait publikasi internasional, mereka adalah Pak Ardiansyah Musa (senior di Lab saya). Pak Ardi mengajari saya bagaimana melihat journal yang terindex SCOPUS, ngasih tahu kualitas journal Q1, Q2, dsb di SCIMANGO JR, dan ngecheck journal yang terindex sebagai SCI/E journal. Pak Ardi juga mengajari cara melihat konferensi yang berkualitas agar terhindar dari predator-predator baik konferensi maupun journal.

Yang kedua adalah Syeikh Muhammad Hilmy Alfaruqi, ini adalah roomate saya tahun terakhir di Korea. Beliau ini beda bidang dengan saya, beliau di metalurgi. Kalau yang satu ini levelnya sudah beda karena Pak Hilmy ini adalah mahasiswa PhD dan termasuk sangat produktif dalam hal publikasi internasional, paper-papernya pun berhasil di publikasikan di journal2 yang ngeri. (Silahkan bisa di check di google scholar ybs). Pak Hilmy ini yang selalu bikin “iri” karena punya publikasi di journal-journal keren.

Dan tentu masih banyak teman-teman lain yang menginspirasi di sana, itu hanya dua contoh saja.

Anyway, pada akhirnya setelah saya pindah haluan di dunia kerja dan stop sekolah untuk hampir dua tahun. InsyaAllah dalam waktu dekat saya akan kembali lagi untuk BELAJAR MENULIS di tempat yang berbeda dengan kampus S2 saya. Semoga bisa lancar, barokah, dan manfaat.

Berikut jejak tulisan cengcereme saya selama #nguli di #Korea

*Oya, insyaAllah dalam waktu dekat, semoga bisa cepat, saya akan rilis buku mengenai pengalaman saya kuliah di Korea yang insyaAllah akan diterbitkan oleh Penerbit MIZAN. Di tunggu saja, semoga barokah.

Bogor, 02 Agustus 2017
Rischan Mafrur

 

Links:

  1. Google Scholar : https://scholar.google.co.kr/citations?user=2_Za2fYAAAAJ&hl=en&oi=ao
  2. Scopus : https://www.scopus.com/authid/detail.uri?authorId=56405625300
  3. Orcid : https://orcid.org/0000-0003-4424-3736

S3 di Australia dengan Beasiswa LPDP

Saya mempunyai satu halaman yang berisi mengenai langkah-langkah mendaftar beasiswa LPDP termasuk tips membuat essay kontribusiku untuk negeri, essay sukses terbesar bahkan tips ketika LGD dan menulis essay on the spot dan ketika menghadapi reviewers saat interview. Silahkan bisa mengakses halaman ini untuk melihat daftar tulisan saya yang terkait LPDP.

Jika teman-teman membaca tulisan saya mengenai S3 ku mau kemana? tentu teman-teman tahu mengenai awal mula pilihan kampus S3 saya. Pada awalnya sebenarnya saya mendaftar kampus di SNU (Seoul National University) alasannya karena memang sebelumnya saya sudah S2 di Korea jadi saya sudah sangat paham lingkungan dan gaya pembelajaran di sana. Alasan lain adalah SNU termasuk kampus terbaik di Korea bahkan di World rank university juga termasuk kampus peringkat bagus. Tapi saya harus mengurungkan niat saya ke SNU karena Profnya tidak bisa, sebenarnya kalau teman-teman baca tentang interview saya dengan reviewers bisa terlihat bahwa saat interview pun saya sudah bilang bahwa saya tidak mungkin lanjut di SNU, saya harus pindah kampus karena blabla bla..

Setelah SNU, pilihan selanjutnya adalah Kyung Hee University, hanya saja sayangnya KHU ini dari sisi world rank jauh sekali jika dibandingkan dengan SNU dan persoalan lain adalah KHU ini sudah tidak masuk dalam list kampus LPDP mulai tahun 2017.

Berikut liku-liku perjalanan pencarian kampus S3 saya dengan beasiswa LPDP.

  1. Saya mendaftar LPDP tanpa membawa LoA kampus, dan setelah diterima pun saya belum diterima di kampus manapun. LPDP memberikan waktu satu tahun, jadi kalau lebih dari satu tahun saya tidak dapat kampus maka SK gosong alias dengan sendirinya beasiswanya hangus.
  2. Ketika dinyatakan diterima LPDP sebenarnya saya langsung apply ke Kyung Hee (KHU) untuk periode Spring 2017 yaitu mulai perkuliahan Maret 2017. Untuk mendaftar kampus di Korea kita harus bayar application fee, kalau tidak salah sekitar 127.000 won atau sekitar 1,5 juta. Jadi lumayan hehe. Persoalannya sampai penutupan pengiriman berkas, saya belum bisa request LoS (Letter of Scholarship) dari LPDP karena saat itu SIPENDOB (sistem untuk merequest LoS) masih error. Akhirnya aplikasi saya failed.
  3. Karena failed saya pun akhirnya bingung. Sistem pengiriman aplikasi di Korea sangat berbeda dengan negara di UK atau Australia. Di Korea rata-rata pengeriman aplikasi harus dokumen asli (legalisir) dikirim via pos. Dan tidak bisa mengajukan defer, ketika ada suatu hal dan kita tidak bisa mulai kuliah di term yang kita daftar dan kita ingin mengajukan menundaan kuliah itu tidak dimungkinkan. Jadi harus re-apply ulang lagi alias harus kirim dokumen lagi dan bayar application fee lagi.
  4. Akhirnya saya sambil cari solusi lain karena harapan bisa berangkat Maret 2017 ke KHU sudah putus, yaitu nyari kampus di luar Korea, saya akhirnya menemukan Prof yang cocok dengan riset saya di Data and Knowledge Engineering (DKE), The University of Queensland (UQ) Australia. Saya sebenarnya menemukan juga di UK tapi saya tahu ada kabar kalau mulai 2017 pengajuan perpindahan kampus diperketat terutama persoalan tuition fee, sedangkan tuition fee di kampus-kampus UK mengerikan, dan selain itu memang untuk saat ini saya kurang prefer ke UK karena ada beberapa yang harus saya lakukan jadi saya lebih prefer untuk mencari kampus yang deket ke Indonesia. Akhirnya UQ lah yang saya pilih.
  5. Ternyata untuk apply ke UQ saya tidak perlu IELTS, saya benar-benar tak menyangka kalau tanpa IELTS saya bisa mendapatkan Unconditional LoA yaitu karena memang saya qualified. Karena jujur saja, saya memang agak anti dengan IELTS karena beberapa alasan. Silahkan bisa baca kisah selengkapnya bagaimana caranya mendapatkan Unconditional LoA tanpa perlu sertifikat IELTS dan alasan saya kurang suka dengan IELTS.
  6.  Sayangnya di UQ assessment nya lama sekali, biasanya hanya butuh waktu maksimul 1 bulan tapi ini harus 3 bulan, saya masih inget, saya apply sejak akhir tahun 2016 tapi baru keluar Unconditional LoA nya bulan Februari 2017. Itu dikarenakan ada hal yang berkaitan dengan beasiswa ADS dari pemerintah Australia yang merequest ke UQ dan harus di assessment di waktu itu juga. Sehingga saya harus menunggu sampai itu selesai baru dokumen saya bisa di assessment.
  7. Setelah saya mendapatkan Unconditional LoA UQ, saya mencari info-info mengenai perpindahan universitas LPDP, ternyata memang kabarnya mulai 2017 LPDP cukup ketat dalam hal perpindahan universitas. Termasuk dalam hal ini tuition fee sangat dipertimbangkan yang kalau sebelumnya asalkan world rankingnya lebih bagus alasannya make sense kemungkinan besar disetujui tapi sekarang beda. Akhirnya mau tidak mau saya harus meminta beberapa surat rekomendasi ke beberapa pihak untuk menguatkan alasan pindah universitas saya. [Silahkan bisa dilihat contoh surat pengajuan perpindahan universitas saya di sini]
  8. Setelah semua lengkap, saya ajukan surat perpindahan kampus saya ke LPDP, masih di bulan Februari. Ternyata surat saya ditolak dikarenakan saya tidak melampirkan sertifikat IELTS. Padahal saya sudah mendapatkan Unconditional LoA yang mana IELTS itu diperlukan untuk memperoleh Unconditional LoA. Sungguh bener-bener stuck waktu itu. Mau tidak mau akhirnya saya pun ambil test IELTS dengan persiapan yang sangat pas-pasan dan dalam waktu yang cukup mepet.
  9. Sembari menunggu test IELTS, saya benar-benar galau karena kondisi saya yang semuanya penuh dengan ketidakpastian. Kemungkinannya sebagai berikut:
    1. Ketika saya test IELTS terus hasilnya dibawah persyaratan (6.5) berarti saya tidak bisa mengajukan pindah kampus ke UQ, kalaupun nilai IELTS saya qualified perpindahan kampus saya belum pasti diterima oleh LPDP karena saya ragu dengan tuition feenya, tuition fee UQ vs SNU sangat beda jauh. Silahkan kalian coba cari tahu, bedanya buanyak banget.
    2. Ketika nanti saya ajukan perpindahan ternyata ditolak oleh LPDP, terus saya harus kemana lagi? makanya saya harus mendaftar kampus lagi, sedang maksimal LoS yang bisa diterbitkan LPDP hanya dua, saya sudah pakai satu untuk UQ, satu lagi saya sudah request LoS ke Kyung Hee University (KHU) walau sayangnya belum bisa digunakan untuk aplikasi Spring 2017, berarti sudah tidak bisa apply selain ke kedua kampus tersebut.
  10. Akhirnya saya pun apply lagi Kyung Hee University untuk periode Fall 2017 yaitu mulai kuliah September 2017. Saya mengirim berkas asli saya lagi di bulan Maret 2017 dan membayar application fee lagi. huhuhu hehe.
  11. Alhamdulillah awal Mei test score IELTS saya keluar dan score saya cukup untuk memenui persyaratan LPDP, tidak lama dari itu langsung saya ajukan surat permohonan pindah kampus ke LPDP dengan Unconditional LoA UQ yang sudah saya defer ke RQ3 (Research Quarter), mulai perkuliahan bulan Juli.
  12. Entah kenapa dengan berkas saya, katanya, biasanya proses pengajuan perpindahan kampus LPDP tidak lebih dari 10 hari kerja, tapi saya sudah tiga minggu hasilnya belum keluar juga. Saya mengajukan surat permohonan pindah kampus ke LPDP tanggal 15 Mei, baru tanggal 5 Juni saya mendapat balasan kalau perpindahan kampus saya disetujui, Alhamdulillah, akhirnya bisa ke UQ. Yang pasti saya harus mengajukan defer lagi ke RQ4 (mulai perkuliahan oktober) karena tidak mungkin cukup untuk mengurus smua hal dalam waktu sesingkat itu, karena berdasarkan web di border Australia untuk pengurusan student visa biasanya memakan waktu 48 hari.

 

Begitulah liku-liku perjalanan menemukan kampus S3 saya, kalau tidak seperti ini mungkin tidak asyiik ya.. Inilah Allah,…

Dari mulai ketar-ketir takut kalau tidak dapat kampus di waktu 1 tahun SK LPDP, Soalnya bulan Februari 2017 saya sudah resign dari kerja, kemudian dari mendapatkan Unconditional LoA tanpa IELTS, tapi ternyata dari LPDPnya harus ada IELTS dan sebagainya. Banyak hal-hal yang membuat sedih tapi di sisi lain juga menarik dan tentunya banyak hikmah dari semua liku-liku ini.

Semoga S3 saya di UQ lancar, saya bisa amanah menggunakan beasiswa dari LPDP ini, dan tentunya semoga saya bisa berkontribusi banyak untuk bangsa ini. Amiin.

Semoga bermanfaat…

Permohonan Pindah Universitas LPDP

Dalam post ini saya akan menjelaskan langkah-langkah untuk mengajukan surat permohonan pindah Universitas LPDP luar negeri / beda negara. Bagi yang mau tahu kenapa saya harus mengajukan perpindahan kampus dan bagaimana cerita detailnya [silahkan bisa dibaca di tulisan berikut ini].

Kasus saya adalah saya harus mengajukan perpindahan kampus beda negara, dan saya mengajukannya di bulan Mei tahun 2017, saya menyebutkan tahunnya karena bagi Awardee LPDP pasti tahu mengenai perpindahan kampus sebelum tahun 2016 dan setelah memang beda hehe

Pindah universitasnya yaitu:

Dari    : Seoul National University, South Korea

Ke       : The University of Queensland, Australia

Baik, untuk langkah-langkah pengajuan surat permohonan pindah universitas LPDP adalah sebagai berikut:

  1. Unconditional LoA kampus yang mau dituju, ini adalah syarat utama, tak mungkin mau mengajukan pindah kampus tapi unconditional LoA belum dipegang.
  2. Membuat surat permohonan pindah kampus, bagi yang bingung seperti apa suratnya. [Silahkan bisa melihat surat saya di sini]
  3. Ajukan surat permohonan pindah kampus beserta lampiran-lampirannya ke email lpdp.dkp3@kemenkeu.go.id (JANGAN SAMPAI SALAH EMAIL).
  4. Setelah itu nanti akan direpon emailnya oleh Tim DKP3, misalnya, terimakasih surat perpindahan anda sudah diproses. Biasanya kalau ada syarat yang masih kurang akan langsung dibalas di email tersebut.
  5. Proses memakan waktu maksimal 10 hari kerja, tapi surat pindah saya lebih dari tiga minggu hehe, silahkan simak kisah lika-liku pengajuan perpindahan saya di tulisan ini.
  6. Setelah selesai nanti akan ada balasan respon dari DKP3 mengenai perpindahan anda, bisa disetujui atau tidak. Ini contoh surat balasan dari DKP3 yang menyatakan bahwa surat permohonan pindah universitas saya disetujui. [Berikut contoh suratnya di sini]
  7. Setelah mendapatkan balasan dan dinyatakan disetujui oleh LPDP perpindahannya. Tidak selang beberapa lama saya langsung mendapatkan email dari lpdp.dkp2@kemenkeu.go.id yang berisi KONTRAK. Bila tidak mendapatkan email terkait kontrak bisa kirim email ke DKP2 menanyakan perihal kontrak dengan melampirkan unconditional LoA dan persetujuan perpindahan kampus dari LPDP.
  8. Setelah itu tinggal ditandatangani kontraknya dan di kirim pos ke LPDP, nanti ketika kontrak sudah ditandatangani oleh pak Kahar, anda akan dapat email untuk mengambilnya ke kantor LPDP.
  9. Setelah itu anda akan memperoleh akses ke simonev.

Oke deh, begitulah langkah-langkahnya..

Semoga bermanfaat yah…

Bagi yang ingin mengajukan perpindahan kampus beda negara setelah 2016, jangan kecil hati dulu, kalau alasannya masuk akal pasti bakal diterima.

Pengalaman Test IELTS dan Tipsnya

Berikut saya langsung copas saja share-sharean saya setelah saya mendapatkan result form IELTS tanggal 13 Mei 2017 di Whatsapp grup ke teman-teman saya. Untuk tulisan saya mengenai dimana saya test IELTS dan kapan bisa dibaca di sini Pengalaman Test IELTS di ILP Cimanggu Bogor 

[4:30 PM, 5/13/2017] A: Hi guys, I am going to share my experience.
[4:31 PM, 5/13/2017] A: I took IELTS test on April 29, 2017.
After I finished the test, I realized that I will lose my mark on Listening and Writing.
Then it really confirmed after I got the result form.
[4:33 PM, 5/13/2017] A: Listening
Section II was really bad, If I am not wrong, it seems I got Scotland accent. Speaker speaks really fast and I have to fill the part name of the building. It was really hard, from 10 questions, there is no answer that I really sure.

Other sections easier but section 4, after test finished, I realized that I have two wrong spelling answers: I wrote ‘chocholate’ instead of ‘chocolate’ :v and wrote ‘habbit’ instead of ‘habit’. I really regret it. I really sure this is because I always use autocorrect feature when I write something in laptop and I never write a note or else with my hand.
[4:34 PM, 5/13/2017] A: Writing
Usually, I only practice for the task 1, such as the graph, table, and pie chart. Unfortunately, the question for the task 1 was a diagram, I have to explain about plastic recycling system. Anyway, for this task, I can handle it.

The problem was task 2. I really can’t get a good idea to answer it, in my opinion, the question is so confusing.
Question: Some people say that what children watch on TV influences their behavior while others say the amount of time children they spend watching TV influences most their behavior.
Two things which I have to compare was quite similar not too contradict, that’s why it made me confused.
[4:35 PM, 5/13/2017] A: Speaking
Examiner was a good person, he tried to make me relax.
the question for task1 was random, hometown, tourism place in my hometown, high school experience, and teacher, etc very random.
task 2 was about favorite weather.
task 3 more detail about the weather in Indonesia, climate change, global warming, ozone layer, greenhouse, etc.
Overall for the speaking, I was satisfied but I only got 6.5 for this section.

[4:36 PM, 5/13/2017] A: Reading
the passages are easy to me, that’s why I got 7 bands for the reading.

 

Bagi saya kalau listening paling susah itu kalau ada orang banyak yang ngobrol misalnya conversation 4 orang (dua cewe, dua cowo) terus nanti di soal diminta ini opini siapa dan siapa, karena memang saya sangat susah untuk membedakan suara cewe dalam hal ini ada dua cewe. Yang kedua adalah IELTS juga menggunakan beberapa aksen, kadang karena saya kurang latihan jadi beberapa aksen saya belum terbiasa udah gitu ditambah ngomongnya cepet ya sudah wasalam.

Persoalan nulis, ini juga mesti diperhatikan teman-teman semua. Kelemahan saya adalah saya tidak terbiasa menulis pakai tangan, karena sudah saking lamanya ngetik dan jarang sekali saya nulis pakai tangan. Selain itu fitur autocorrect yang saya gunakan menjadikan saya kadang tidak tahu kalau selama ini saya punya banyak sekali wrong pronounce. Nah, semga ini bisa jadi bahan pelajaran buat teman-teman semua.

Kalau Speaking, saya memang suka ngomong ceplas-ceplos cuman sayangnya sering salah dan tidak terorganisir. Kalau aksen, aksen English saya adalah English jawa tulen jadi masih meudok banget, lha ngomong bahasa Indonesia saja saya medok apalagi bhs Inggris hehe, tapi kalau aksen sih tdk masalah. Yang saya tahu yg harus dikontrol misalnya kecepatan ngomong, terorganisir atau tidak, bertele-tele apa tidak, penggunaan vocabulary kaya apa tidak, banyak salah grammar apa tidak, salah pronounce apa tidak dsb.

Kalau untuk writing, nah ini yang paling lemah, saya tidak terbiasa nulis tangan, jelas tulisan tangan saya jeuleeek banget. Jadi kalau mau agak bagus nulisnya harus pelan-pelan ya resikonya waktunya jadi terkuras. Intinya kalau dibagian writing ini sempatkan 5 menit untuk buat kerangka apa saja yang mau ditulis, tiap paragraf harus ada main topiknya, supporting topics terus hasil dan kesimpulan. Penggunaan vocab harus kaya, kalimat makin kompleks biasanya makin bagus asal bener grammarnya, terorganisir, jangan mengulang-ulang vocab, parafrasing dari pertanyaan (jangan sekali-kali tulis ulang pertanyaan).

Untuk membaca bagaimana saya belajar dan apa saja yang saya pelajari silahkan bisa dibaca di sini.

Mungkin itu saja semoga bermanfaat…