Halal bi Halal di Brisbane

Beberapa hari lalu saya di kontak oleh Pak Kiyai Wibisono, pimpinan dari jamaah NU di Brisbane, begini kurang lebih:

Pak yai: “Ris, sebtu ngisi acara halal bi halal ya” (Ris, sabtu mengisi acara halal bi halal ya – translated by keyboard)

Saya: “Mboten ah Pak Yai, kathah tiyang ingkang luwih pantes tinimbang kulo” (Jangan ah Pak Yai, lebih banyak yang lebih pantas dari pada saya – translated by keyboard)

Pak yai: “Wis tak omongne panitiane, oke yo” (Sudah saya bilang ke panitianya, fix kamu ya, translated by keyboard)

Saya: “Njih, menawi kersanipun panjenengan mekaten, insyaAllah kulo siap” (Baik, jika Pak yai menginginkan demikian, saya siap, translated by keyboard)

Dan tiba-tiba poster ini muncul.. 🙂

 

Seperti biasanya, saya sebenarnya sudah biasa diminta seperti ini. Ya namanya dulu juga 8 tahun tinggal jadi marbot masjid, siap jadi imam, khotib serep, dari bersihin WC masjid sampai jadi khotib jumat juga pernah. Hanya saja kadang saya merasa kurang pantas karena saya yakin masih banyak yang lebih baik dari diri ini. Tapi apa daya toh ini juga bagian dari dakwah, asal bisa meluruskan niat dan menyampaikan ilmu yang mungkin bisa bermanfaat, kenapa tidak?

Alhamdulillah acaranya berlangsung hari ini dan semuanya lancar dan ruame banget. Acara diselenggarakan di outdoor di IMCQ center. Bahkan panitia juga sampai nyewa playing ground buat anak-anak.

Ini salah satu penampakan saya waktu mengisi acara tadi: (Style seperti biasanya, peci hitam peci nasional, jas hitam, sarungan hehe 😀 )

 

Berikut ringkasan dari apa yang tadi saya sampaikan:

Halal bi Halal adalah tradisi warisan para pendakwah nusantara yang luar biasa.

Bagi kita yang pernah kenal dengan orang timur tengah atau belajar bahasa #arab tentu kita tau bawah kata halalbihalal tak akan pernah ada di kamus bahasa arab, halal ada, bi ada artinya “dengan” tapi kalau halal bi halal itu tidak ada dalam bahasa arab. Itu adalah murni warisan dari bangsa ini.

Ada beberapa versi tentang halal bi halal ini, yang pertama kabarnya diinisiasi oleh pangeran adipati mangkunegara I di surakarta jaman VOC. Saat itu pangeran menyerukan pd seluruh anggota kerajaan dan masyarakat utk #sungkeman . Makanya sampai skrng ada tradisi sungkeman dan konon ini tak lepas dr pengaruh dakwah #walisongo.

Yang kedua dikatakan bahwa #halalbihalal dicetuskan oleh KH Wahab Chasbullah yg mana pd saat itu karena kegalauan Pak Karno habis masa kemerdekaan. Banyak pemerontakan dan friksi2 di kalangan elit #politik.

Diusulkanlah oleh KH Wahab Chasbullah utk kumpul2 para elit politik utk saling memaafkan di momen syawal dg tujuan #rekonsiliasi dan #silaturahmi para elit.

Dari mulai tradisi #mudik kemudian #sungkem #salamsalaman semunya adalah ajaran #islam apa buktinya?

Mudik sebenarnya adalah pengingat bahwa fitrah kita manusia itu kembali. Kita bukan makhluq di bumi, kita makhluq #surga dan ingin kembali ke sana.

Lihatlah surah Al Isra ttg birul walidain, kita diperintah oleh Allah untuk merendahkan diri di depan org tua baik ucapan dan adab, Bukankah itu sungkeman?

Lihatlah surah Al Imran setelah pengigat taqwa bahwa kita diharamkan utk berpecah belah dan haram memutus tali silaturahmi.

Itulah ajaran2 #dakwah dari para #wali nusantara yg sangat menjunjung kearifan lokal yg membuat bumi nusantara berislam

Ingat kita smua adl #dai dan bukan #hakim . Dai itu mengajak bukan memvonis.

Harus utamakan #persatuan dan tunjukkan bahwa #islam itu #rahmat bagi SELURUH ALAM

 

Semoga tulisan ini bermanfaat..

Salam

Rischan Mafrur

Advertisements