Fiqih Media Sosial

Hari ahad pagi tanggal 26 November 2017 kemarin saya diminta untuk mengisi kajian kuliah subuh di Kantor IMCQ di Loganlea, Brisbane. Tema kajiannya adalah tentang Fiqih Media Sosial.

Kita manusia jaman now memang tak kan mungkin bisa terlepas dari media sosial, sayapun adalah pengguna media sosial baik itu Facebook, Twitter, instagram, WA messenger dan sebagainya. Dulu saya masih ingat di awal adanya Facebook, saya benar masih ingat waktu itu Facebook fiturnya belum ada share, jadi cukup update status, saling like, saling komen, buat grup dan sebagainya. Waktu jaman itu facebook isinya ya tempat silaturahmi, saling berhubungan lagi dengan teman SD, SMP, SMA kemudian buat grup, bahas mau buat event atau kumpul-kumpul atau apalah.

Saat ini Facebook benar-benar berubah, sekarang di timeline saya bak timeline berita yaitu karena fitur share di Facebook. Facebook penuh dengan berita dari berbagai website dan tak sulit bagi saya untuk menemukan komentar-komentar ujaran kebencian, hoax, caci maki dan sebagainya. Saya juga masih ingat waktu pilpres 2014, saya semangat 45 untuk share A, share B, share C, kasih komen A, B, dan C. Kemudian setelah jelang beberapa lama saya kadang berkontemplasi, merenung, melihat status lama saya di Facebook.

Manusia itu dinamis, alias berubah, dan tentunya kita berharap bisa senantiasa berubah ke lebih baik sampai ajal menjemput, dan kitapun disuruh oleh Allah untuk sering-sering merenung, menghisab diri sebelum nantinya kita di hisab olehNya di yaumil hisab.

Kadang namanya juga manusia, kita itu lupa bahwa semua yang kita tulis, semua yang kita share, semua yang kita like di Facebook, semua yang kita upload di instagram, semua tweetan kita di Twitter itu adalah cerminan diri kita yang mana semua itu juga besok bakal dimintai pertanggung jawaban oleh Allah SWT. Saya hanya takut nanti di akherat kelak saya termasuk orang muflis.

Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang pailit) itu?” Para sahabat menjawab,”Muflis (orang yang pailit) itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda.” Tetapi Nabi Shallallahualaihi wa sallam berkata : “Muflis (orang yang pailit) dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan (salah) menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka

(HR Muslim no. 2581, Tirmizi no. 2418 dan Ahmad 334)

 

Padahal tujuan hidup kita hanyalah semata-mata untuk berbibadah padaNya, untuk mencari bekal buat perjalanan besok di akherat. Apajadinya jika bekal yang sudah saya kumpulkan susah payah dari sholat, zakat, puasa, haji dan ibadah lainnya, eh… ternyata kelak di akherat bekal saya itu harus saya berikan ke orang-orang yang di dunia ini pernah saya dholimi, pernah saya caci maki, pernah saya pukul, pernah saya sakiti. Ya Rabb….

Islam itu adalah agama yang sangat lengkap, makanya disebut sebagai the way of life, ke kamar mandi saja diatur, makan diatur, dari bangun tidur sampai tidur lagi semuanya diatur, apalagi interaksi dengan sesama manusia/ habluminannas baik itu interaksi secara langsung maupun di sosial media. Semuanya sudah diatur, jadi yuk,,, kita ber islam secara kaffah…

Pertengahan tahun 2017 ini sebenarnya MUI sudah mengeluarkan fatwa tentang panduan bersosial media, berikut bagi yang ingin mendownloadnya, silahkan klik gambar download dibawah ini:

Semoga kita senantiasa dibimbing oleh Allah dan semoga Allah melindungi kita semua dari fitnah akhir zaman ini, bagi yang mau mendengarkan rekaman kajian kuliah subuh saya kemarin tentang Fiqih Media Sosial, silahkan bisa dengarkan di rekaman di Youtube di bawah ini:

 

 

Bagi yang mau mendownload slide kajiannya bisa didownload di sini

Semoga bermanfaat..

Salam dari Brisbane..

Advertisements

PERANG TANPA PEDANG

PERANG TANPA PEDANG

Ghazwul Fikri/Perang pemikiran

Pemikiran/paham supaya bisa bertahan harus ditularkan dan disebarkan. Penyebaran konsep ketuhanan atau kalau dalam istilah islam disebut sebagai dakwah bertujuan agar konsep-konsep tersebut itu tetap bertahan dan eksis dimuka bumi. Setiap pemeluk agama pasti akan mengatakan bahwa konsep ketuhanan di agamanya bukan berasal dari pemikiran manusia melainkan dari Tuhan, buktinya apa? Itulah Iman.

Perang pemikiran/paham itu nyata adanya karena pemikiran bisa menggerakkan. Karena gagasan bisa merubah keadaan.

Hidup itu pilihan, kita terlahir di keluarga apapun, islam, kristen, hindu, budha, konghucu. Itu adalah pemberian Tuhan yang tak bisa kita gugat. Tapi Tuhan memberikan bekal Akal pada manusia untuk berpikir dan memilih. Yang saya pahami dalam agama saya, setelah manusia berusia akil baligh, mereka sudah diberikan kebebasan untuk memilih, mereka bebas menentukan pilihan dengan catatan ia harus siap menanggung konsekuensinya.

Bahkan ketika manusia memilih untuk tidak beragamapun itu adalah pilihan, itu juga merupakan iman bagi pemilihnya yaitu dia percaya kalau tidak ada Tuhan. Pemikiran seperti ini sudah ada sejak lama, salah satu contohnya adalah Charles Darwin yang pada akhirnya mengemukakan teori evolusi.

Beberapa konsep dalam agama ada yang tidak bisa diterima dengan akal, nah itulah iman. Orang yang tidak percaya Tuhan bilang, aku tidak percaya Tuhan karena belum pernah melihatNya dan Tuhan itu tidak masuk akal? Bagi saya, lebih tidak masuk akal lagi kalau semua yang ada di bumi dan di alam raya ini ada tanpa pencipta, ada karena kebetulan.

Kalau kata Gus Mus, Semakin kita banyak belajar, semakin kita tidak kagetan, ada tulisan begini, oh udah pernah baca mah tulisan senada seperti ini, ada pemikiran kekanan, pemikiran ke kiri, pemikiran ke atas, ke bawah dan pemikiran nyelneh-nyelneh lainnya, tidak kaget. Sehingga tidak menjadi manusia kagetan, gampang heboh, dan bingungan.

Siapapun mereka, berapapun usiannya, mau punya pemikiran apapun, gagasan apapun itu silahkan. Yang paling penting jangan sampai berhenti belajar. Karena manusia bisa berubah dengan semakin bertambahnya kapasitas pengetahuan dan semakin bertambahnya pengalaman hidupnya.

Kalau orang-orang sekarang banyak yang menyebarkan pemikiran sepilis (sekularisme, pluralisme, dan liberalisme) dengan bangganya dengan pemikiran tersebut. Kenapa kita takut untuk menyebarkan gagasan keimanan kita?

Sang pecinta sekulerisme akan bilang, ngapain sih masukin agama ke negara, ke politik. Sudah lah agama di gereja saja, di masjid saja. Toh itu orang-orang yang mengaku beragama malah korupsi? Lihat itu negara yang lepas dari agama malah lebih maju?

Sang pecinta pluralisme akan bilang, Tuhan kita satu, jalan bisa banyak, agama apapun sama saja, toh agama juga warisan dari orang tua. Ya sudah kalau begitu, hari ini islam, besok kristen, esoknya lagi budha atau hindu.

Pluralitas/ keberagaman/kebinekaan itu sunatullah/hukum alam. Beragam itu cantik dan tidak harus disamaratakan melainkan harus dijaga, karena sesungguhnya indahnya dunia ini karena perbedaan.

Percaya bahwa agamamu adalah yang paling benar itu tidak masalah malah diharuskan karena itulah iman. Meyakini kebenaran agama yg dianut sebagai agama yg paling benar adalah keharusan. Yang tidak boleh adalah memaksa orng lain untuk masuk keagamanya, mencaci ajaran dan Tuhan agama lain.

Sang pecinta liberalisme akan bilang, nash/teks dalam kitab suci harus tunduk pada akal. Menjadikan akal dan kebebasan sebagai Tuhan. Ngapain Tuhan ngelarang LGBT toh WHO sudah bilang LGBT bukan bagian dari penyakit yang harus ditumpas, itu ngelanggar HAM. Ya sudah saya doakan semoga anak cucunya LGBT.

Sang pecinta radikalisme akan bilang itu bid’ah, sesat, kafir, neraka kepada saudara seagama hanya karena perbedaan pandangan dalam masalah tafsir bahkan ada yang dengan tegas bilang bunuh, cincang, ataupun penggal.

Kalau mereka saja bersemangat untuk menyebarkan gagasan/pemikiran yang mereka imani kenapa kita tidak?

Mari berperang gagasan, ketika tidak setuju dengan gagasan orang lain maka bantahlah dengan gagasanmu bukan cacianmu. Peranglah dalam gagasan.

 

Selamat hari lahir pancasila.

Kita bisa merdeka karena peran para pahlawan yang tak terhitung jumlahnya dan hampir semuanya adalah orang yang beragama, mereka yakin bahwa penjajahan bertentangan dengan perintah Tuhan, sehingga mereka melawan. Oleh karenanya sila pertama bangsa ini-pun sila ketuhanan. Maka membenturkan nasionalisme dengan agama adalah kebodohan jiddan

#Selamat berpuasa #Ramadhan
#Selamat hari lahir pancasila

 

Rischan Mafrur,
Bogor, 1 Juni 2017
Renungan Ba’da Ashr wulan Romadhon