24 Purnama di Negeri Ginseng

Tanggal 2 Mei 2016 ada pesan masuk ke Facebook saya, yaitu dari salah seorang editor di Penerbit Mizan Bandung.  Intinya adalah Mas nya ini sering baca Blog saya dan Twittan saya dan dia tertarik untuk membukukannya. Pada waktu itu sebenarnya saya sudah membaca pesan ini tapi karena kesibukan, saya belum sempat untuk merespon tawaran ini. Barulah setelah selang 7 bulan hehe, yaitu di Bulan Desember 2016 saya membalas pesan ini.

 

Yang pada akhirnya, Alhamdulillah, sekarang bukunya sudah jadi dengan judul “24 Purnama di Negeri Ginseng“. Sebenarnya pada awalnya saya kurang Pede ketika berencana untuk menulis buku karena memang saya belum pernah menulis buku sebelumnya. Saya juga bingung, mau buat buku ber-genre apa, tapi karena Mas dari Mizan tadi mendorong, ya saya tulis saja. Jadi buku saya ini genrenya apa sih?
Ahh.. baca sendiri saja ya hehehehe..

Sebelum buku ini saya kirimkan ke editor, saya sudah meminta istri saya, kemudian beberapa teman saya di Korea, bahkan rektor UTS lho (Universitas Teknologi Sumbawa) sudah baca bukunya, beliau juga ngasih pengantar di buku ini, beberapa dosen saya untuk membacanya dan memberikan testimoninya, dan responnya bagus makanya saya berani untuk memasukkan buku ini ke penerbit.

Singkatnya buku ini sebenarnya lebih mirip seperti gado-gado dimana isinya adalah berdasarkan fakta yakni pengalaman dari penulis sendiri. Di dalamnya mengandung beberapa unsur dari mulai tips untuk mendapatkan beasiswa dan diterima di kampus luar negeri, langkah-langkahnya bagaimana, motivasi-motivasi, bagaimana rasanya kuliah di Korea, suka dukanya, bahkan sampai menyangkut tentang hal-hal religius semacam bagaimana kami sebagai orang islam menjalani hidup kami di Korea, tentang makna hidup, bahkan yang tidak kalah seru, di sana ada romansanya, karena memang tak bisa dipungkiri, Allah mempertemukan jodoh saya di Korea. hehe.

Yang jelas, dari beberapa yang baca, bilangnya sih seru, seperti sedang berpetualang dan ikut merasakan bagaimana keseruan petualangan di Korea.

Inti dari tulisan kali ini adalah satu, yaitu “Menulislah maka kamu Ada“, yang ngomong ini bukan saya tapi Sokrates (filusuf Yunani). Apa yang dikatakan Sokrates itu memang benar, saat ini kita mengenal imam yang empat (Hanafi, Maliki, Syafie, Hambali) atau mungkin kita tahu Imam Nawawi, Ibn Hajar Al Askolani, Imam Ghozali dan sebagainya. Kita tahu mereka karena ada kitab-kita mereka, ada tulisan-tulisan mereka yang sampai saat ini abadi tidak tertelan zaman. Padahal pada zaman dahulu ulama-ulama sekaliber mereka itu tidak hanya mereka, tapi yang bisa survive terkenang sampai sekarang adalah mereka yang mempunyai kitab-kitab dan mempunyai murid yang rajin menuliskan pemikiran-pemikirannya.

Jadi hikmahnya, saya sebenarnya waktu itu belum ada rencana untuk menulis Buku, tapi karena saya sering nulis di Blog, eh ada orang yang membaca blog saya dan tertarik, kebetulan dia adalah editor dari peneribit, ya maka jadilah.

Jadi, yuk kita sama-sama berlatih menulis, sering-sering menulis, apalagi sekarang adalah era sosial media, dimana kita bisa menulis apapun dan dimanapun. Semoga tulisan-tulisan kita bisa bermanfaat bagi orang lain, dan bisa menjadi ladang amal jariah yang pahalanya tak putus walaupun kita sudah mati kelak.

Amiinnn..

Eh iya, yang mau beli Buku saya “24 Purnama di Negeri Ginseng” silahkan bisa isi form ini http://bit.ly/24PurnamaDiNegeriGinseng insyaAllah akhir minggu ini sudah bisa dikirim bukunya.

Salam dari Pinggir Kali Brisbane

Rischan Mafrur

Advertisements

Cintaku sudah mulai tumbuh di Gwangju

Teman, kadang aku tak percaya dengan pepatah yang bilang “Hujan emas di negeri orang, Hujan batu di negeri sendiri” pilih mana? lha yo mendingan pilihannya seperti ini bukan? “Hujan batu di negeri orang ato Hujan emas di negeri sendiri”? atau malah kedua-duanya adalah hujan batu, atau kedua duanya adalah hujan emas, ahh.. malah pusing jadi mikirin batu dan emas 😀

Yang jelas seenak-enaknya hidup di negeri orang itu pasti enak hidup di negeri tercinta iya gak? ada yang gak setuja? heheh :-D, yang gak setuju silahkan kasih komentar ya, alasanya apa 🙂

Hidup di negeri orang yang bukan negara islam, ato bahkan di negera yang tak beragama (hhee, seperti di Korea ini) itu memang ada tantangan tersendiri.

  1. Makan : ini adalah hal yang sangat penting, krn sesuatu yang haram itu tempatnya di neraka, dan bagaimana dengan anak kita besok, bukannya makanan yang kita makan itu akan jadi darah dan daging, tentu itu juga akan berefect pada anak kita besok. Di sini rata2 daging babi, adapun daging ayam maupun sapi pasti tidak di sembelih dengan nama Allah, ketika mau beli ciki saja bingung, soalnya banyak yang terbuat dari itu deh, es krim juga lhoo.. makanya bingung klo mau jajan.
  2. Sholat : lha ini dia tantanganya, gak ada adzan, klo gak pasang aplikasi prayer remainder ya jelas lupa wong jam kuliah saja dari jam 3 sampe jam 6 pdhl ashar jam setengah 4 dan magrib jam set 6. wah wah wah.. ya kan mereka bukan muslim ya wajar ngasih jadwal kuliah kek gitu. Kemudian Korea juga ada empat musim, kalau di musim dingin/salju subuh jam setengah tujuh pagi, magrib jam setengah 6. Kalau musim panas magrib bisa jam setengah 8, subuh jam setengah empat. Repot kan kalau tidak pakai aplikasi semacam prayer reminder?
  3. Ngomong : lha ini ribetnya, disini masyarakat sini ya mirip spt di indonesia lah, rata2 hanya kalangan akademisi yang bisa bhs inggris, yang lain ya pake bhs local 😀 termasuk klo mau blanja, pamflet, pengumuman, bis, halte apapun lah pake bhs local alias bahasa Korea.
  4. Culture Shock: klo imam syafi’i aj ketika liat betis dia lupa beribu-ribu hadits, bagaimana dengan aku ya? hehhe, klo dulu di indo ketika liat yang hot-hot gitu masih bisa istigfar, ya klo disini gimana ya? soalnya umum mah klo disini, ya itu udah jadi umum, ke kampus ato kuliah pake kek gituan itu umum disini bro. 😛
  5. Toilet Shock: mau aku foto sih toiletnya, ato besok aku jadiin postingan sendrii deh, disini klo di toilet ada semacam pencet-pencetan kyk buat maen game itu, ternyata itu bisa milih mau di semprot pake air panas ato adem, berapa kekuatan semprotannya, kemudian klo udah di semprot mau di anginin apa dipanasin dsb wkwkkw.. yang jelas tau lah disini rata-rata pake tisu, tapi aku tetep lebih suka air lah 😀

Nah dari sekian problematika alhamdulillah sampai sekarang sudah menemukan beberapa solusi:

  1. Makan : Belanja daging seminggu sekali habis jumat, ada daging halal, klo jajan ciki harus dibaca komposisinya ada dueji goginya gak, klo mau bisa ke tempat yang jualan ayam hidup terus di sembelih sendiri di sana 😀
  2. Sholat : wah ini tadi temenku bawa sajadah ke kelas, jadi enak, klo gak ada sajadah ya kertas pun jadi, ato jaketpun jadi, yang jelas ketika ada waktu break dan itu waktu sholat ya sholat lah.. misal di keramain ya tinggal kita sholat, ngapain kita mikirin orang, wah malu ahh.. kek orang gila di pinggir jalan sholat, lhaa wong mereka yang bermaksiyat cium-ciuman di tempat umum pdhl bukan dengan istrinya aja gak malu, kok kita yang mau beribadah sama Allah malu.. harusnya malu dong, klo sampai malu sholat di tempat umum, 😛 toh mereka juga cuek, klo yang udah tau mereka juga paham kok.. ok #solved
  3. Masalah bahasa memang harus belajar, toilet ya adaptasi lah, dan mata juga perlu untuk adaptasi 😛 hhahhaha.

Disamping itu sesuai dengan judulnya, alhamdulillah disini ada saudara-saudara pekerja dari indonesia yang bisa bikin ramai, temen-teman exchange, dan yang jelas event-event yang gak kalah seru. bisa saya list:

  1. Ada yasinan bulanan di masjid Umar bin Khatab, klik aku dong klo mau tau  nah ini tiap bulan sekali, jadi kita bisa ketemu sama temen-teman pekerja dari indonesia, dulu pas pertama ke sana langsung di suruh kultum, haha, padahal orangnya saja kek gini 😀 , ya saling menasehati itu wajib kok 😀 , termasuk dulu juga aku diminta jadi khotib dan imam sholat ied di masjid ini. Seneng aja bisa bermanfaat yah, ilmu yang selama ini dikaji akhirnya dipake juga 😀
  2. Sering banget ada acara makan-makan, masak-masak, dkk , ini dia orangnya Mas Wasis yang selalu jadi sponsor kita pas acara makan2 heheh :-D, kita mah tinggal makan dan masak, e klo aku sih tinggal makan nding wkkw. ini yang buat krasan disini heheh.
  3. Event manggung, lha ini aku lupa maren itu event apa yah? yang jelas kita para saman dancer manggung lah hehe.. klo mau liat videonya ini dia , dari sini kita dapat duit juga.
  4. GIC day, nah gwangju international center bener gak ya singkatanya?, nah klo ini seru, lomba man, antar negara, dan indonesia dapat juara satu, sebenernya pas acara itu ada tarian kek gitu sih, klo liat ngeri deh, parah pokoknya narinya pake perut hehehee,… tapi yang jelas saman no 1 bro, dan selain itu kita juga juara culture experience juga .. bisa dilihat di website perpika ini  ato klo mau liat videonya langsung bisa ini.
  5. Nah ada yang lucu juga disini, habis menang kita di suruh tampil sekali lagi nih, malah ada yang ketuker posisinya, klo mau liat video nya ini => lucu deh.
  6.  ini aku sama temen lab, sama temen-teman exchange, entah deh klo mereka pulang keknya bakalan kangen banget, padahal mereka disini cuman sampai desember 😥 . keinget waktu2 latihan saman dkk.. hehe, nanti aku bikin postingan sendiri ah, kisah kasih di latihan saman wkwkwk 😀
  7. Dolan, nah ini, insyaAllah 8 November besok ke Jeju. hehee.. semangat, klo masalah dolan itu jelas paling semangat lah.. dan yang buat krasan itu dolan, terasa ingin selalu hari sabtu dan ahad hahahaa..

Sepertinya udah ahh.. Udah ya semoga aku kerasan disini.
Amiin….

Mau mengundang kak Rischan jadi pembicara/pengisi acara? silahkan buka link ini.