Mengurus SKCK atau Police Clearance di Australia

Hallo sahabat semuanya, saya mau nilis lagi nih. Jadi kebetulan kemaren saya baru saja mengurus police clearance atau kalau di Indonesia biasa disebut SKCK atau Surat Keterangan Catatan Kepolisian.

Di tulisan ini saya ingin berbagi tentang pengalaman mengurus SKCK di sini ya, dan tentu sebelumnya pembaca bisa membaca disclaimer saya di sini hehe. Tentu tak bisa apple to apple ya sama Indonesia tapi kita bisa belajar banyak dari hal ini. Atau pembaca juga bisa membaca tulisan sebelumnya tentang service perpustakaan di kampus saya The University of Queensland.

Minggu lalu saya ada satu lain hal yang akhirnya memerlukan SKCK atau kalau di sini biasa disebut police clearance. Saya kira ya seperti di Indonesia namanya saja police clearance pasti saya harus datang ke kantor polisi untuk mengurusnya atau minimal online lah. Tapi ternyata saya cukup kaget hehehe.

Saya coba Googling police clearance Queensland karena saya tinggal di state Queensland. Bagi teman-teman yang tinggal di Australia saya yakin hampir sama sistemnya hanya nanti apply nya ke state masing-masing. Hasil Googlingan saya tertuju pada website resmi Police Queensland di sini.

Di website tersebut sudah sangat jelas bagaimana cara untuk mengurus police clearance. Saya sih optimise pasti simple karena data di sini pasti sudah terintegrasi. Lha visa saya saja e-visa kok, jadi tidak ditempel di paspor kayak visa-visa jadul gitu. Dan ketika masuk ke Aussie juga sudah tidak ada cap-cap di paspor. Jadi pasti data nasional sudah terintegrasi. Dan ternyata benar, simple banget! tapi ada beberapa hal yang cukup mengagetkan saya hehe.

Untuk mengurusnya tinggal ikuti petunjuk di website saja yaitu submit application online, setelah itu nanti ada onlie digital verify. Kita tinggal masukin saja nomor paspor, udah langsung bisa. Benar kan terintegrasi. Habis itu langsung mengisi alamat email dan alamat rumah, udah deh langsung tergenerate document application summary dan bisa diprint. Tampilannya seperti di bawah ini.

Saya cukup kaget kalau ternyata untuk mengurus police clearance itu saya harus ke kantor post hehe. Jadi kita tidak ke kantor polisi karena alasannya mungkin efficiency ya, kantor polisi ya hanya fokus untuk urusan kiriminal bukan administrasi. Yang teman-teman perlu tau adalah kantor post disini sangat optimal dan menjamur dimana-mana karena memang apa-apa disini kan kulturnya langsung kirim ke rumah, post, surat, online shopping itu sangat luar biasa disini. Jadi mungkin ini juga salah satu alasannya karena sangat mudah menjumpai kantor post jadi akan lebih effisien jika orang datang ke kantor post saja daripada ke kantor polisi.

Pertanyaanya masa sih ngurus police clearance dikantor post? jadi gini, dokumen application summary yang diatas itu, kita bawa ke kantor post. Di sana petugas postnya akan melakukan verifikasi identitas ke kita sebagai applicant. Kita harus bawa paspor asli kita, dan dokumen tambahan sehingga pointnya bisa 100. Saat itu saya sama petugas post diminta Debit card dan student card, harus original ya bukan copy. Jadi disini petugas post berfungsi untuk verifikasi ID saja, melihat foto dipaspor sama orangnya apa tidak dan sebagainya.

Baru deh, aplikasi itu akan dikirimkan oleh petugas post ke kantor polisi setelah dilakukan verifikasi! Begitu broohh.

Selang hanya satu hari saya mendapatkan email dari Police Queensland, dan taraa sudah jadi.

Simple banget kan? beginilah kalau data sudah terintegrasi. Polisi pasti tinggal check aja online pakai nomor paspor kita, ada track record kejahatan tidak? kalau tidak ya langsung bisa diterbitin SKCKnya. Hal ini tentu sangat berbeda dengan pengalaman saya waktu ngurus SKCK di Indonesia, tapi saya kurang tau ya sekarang hehe, semoga saja sudah lebih baik. Intinya kelemahan utama kita itu pada integrasi data. Orang punya record kejahatan kriminal di Jakarta misalnya, tinggal pulang saja ke Semarang (rumahnya, * ini hanya contoh yaaa), kemudian buat SKCK di Semarang itu pasti akan sangat mudah karena data kita belum terintegrasi. Ya kecuali kalau orang tersebut punya catatan kriminal yang luar biasa tentu akan terendus oleh polisi.

Sebenarnya konsep e-KTP itu ya mau ngikut negara-negara maju seperti ini yaitu integrasi data, tapi ehhh ya Allah. Proyeknya malah buat bancakan koruptor. Sekarang juga saya tidak tahu apakah e-KTP Indonesia bakal berguna sebagai mestinya, seingat saya waktu sebelum ke sini kita tetap diminta fotocopy KTP untuk mengurus surat surat lain hahaha. Padahal tujuannya e-KTP itu adalah single data, jadi ketika mau urus BPJS, KK, akte anak itu tak perlu lagi kita foto-copy wong tinggal masukin aja nomor KTPnya udah keluar datanya.

Satu lagi concern saya, ya karena saya orang IT, yaitu tentang dimana ini penyimpanan data e-KTP? bagaimana keamanannya? itu personal data lengkap lho. Jangan sampai data seperti itu bisa diintip oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Yah mungkin ini saja dulu sekelumit cerita saya ngurus SKCK di Queensland Australia. Sampai jumpa ditulisan berikutnya

Advertisements

Membandingkan Indonesia dengan Negara Lain – haruskah?

Di negara A, B, C itu begini begitu, beda sama di Indonesia…

Pernah dengar ucapan-ucapan seperti di atas? Ada sebagian orang yang setelah melancong/ bepergian ke #luarnegeri atau setelah selesai #kuliah di luar negeri dia sering membandingkan kondisi di luar negeri dengan di #Indonesia

Misalnya seperti ini, di #Australia itu semuanya rapi, tertata, indah, bersih, tidak semrawut seperti di #Indonesia . Di #Korea itu transportasi umum sangat canggih, tepat waktu, rapi, walaupun kota metropolitan seperti #Seoul tapi tetap ada nuansa tradisional Korea yang tidak hilang.

Di negera ini, itu begini begitu beda sama di Indonesia… blablabla dan sebagainya…

Kalau orang yang bilang seperti itu adalah mereka yang baru pertama kali melancong ke luar negeri sih tak apa, bisa dimaklumi, tapi kalau mereka adalah #mahasiswa yaitu orang #Indonesia yang #studi di luar negeri, itu sungguh tak bisa dimaklumi.

Yang dibutuhkan #Indonesia itu bukan keluh kesahmu, protesmu, tapi kontribusimu..

Saya sangat sedih kalau ada mahasiswa yang sudah kuliah jauh-jauh ke luar negeri tapi hasilnya setelah pulang ke #Indonesia hanya bisa membandingkan ini itu. Tapi tak bisa berbuat apa-apa.

Tiap negara itu punya kondisi masing-masing yang itu harus dipahami, sebagai contoh, tak bisa kita membandingkan #Brisbane dengan #Jakarta, Brisbane kota terpadat no 3 di #Australia itu pendudukanya hanya 2jutaan sedangkan Jakarta itu lebih dari 10juta (5 kali lipat jumlah penduduk di Brisbane). Paham kan? tak bisa dibandingkan apple to apple.

Contoh lain, kalau di #Australia itu peraturan ditaati, semua teratur, tertata, hukum tegak. Yakin kalian mau seperti di #Aussie ? yangmana tiap mau bikin acara yang mengundang orang-orang harus ijin city council, mau motong pohon didepan rumah harus ijin city council, mau renovasi rumah harus ijin citi council?

Masyarakat Indonesia itu suka kumpul2, pengajian, tahlilan, dsb, yang mana pembangunan negaranya tentu harus dg pendekatan yang berbeda dg di sini yangmana masyarakatnya individualis.

Itu contoh saja ya hehe..
Hanya secuil curhat, karena ada yang seperti itu lhoo..

Ini repost dari postingan instagram saya.. maap jadi tulisannya kurang teratur dan banyak hashtag nya

Salam dari pinggir kali #Brisbane
Rischan Mafrur