S3 di Australia dengan Beasiswa LPDP

Saya mempunyai satu halaman yang berisi mengenai langkah-langkah mendaftar beasiswa LPDP termasuk tips membuat essay kontribusiku untuk negeri, essay sukses terbesar bahkan tips ketika LGD dan menulis essay on the spot dan ketika menghadapi reviewers saat interview. Silahkan bisa mengakses halaman ini untuk melihat daftar tulisan saya yang terkait LPDP.

Jika teman-teman membaca tulisan saya mengenai S3 ku mau kemana? tentu teman-teman tahu mengenai awal mula pilihan kampus S3 saya. Pada awalnya sebenarnya saya mendaftar kampus di SNU (Seoul National University) alasannya karena memang sebelumnya saya sudah S2 di Korea jadi saya sudah sangat paham lingkungan dan gaya pembelajaran di sana. Alasan lain adalah SNU termasuk kampus terbaik di Korea bahkan di World rank university juga termasuk kampus peringkat bagus. Tapi saya harus mengurungkan niat saya ke SNU karena Profnya tidak bisa, sebenarnya kalau teman-teman baca tentang interview saya dengan reviewers bisa terlihat bahwa saat interview pun saya sudah bilang bahwa saya tidak mungkin lanjut di SNU, saya harus pindah kampus karena blabla bla..

Setelah SNU, pilihan selanjutnya adalah Kyung Hee University, hanya saja sayangnya KHU ini dari sisi world rank jauh sekali jika dibandingkan dengan SNU dan persoalan lain adalah KHU ini sudah tidak masuk dalam list kampus LPDP mulai tahun 2017.

Berikut liku-liku perjalanan pencarian kampus S3 saya dengan beasiswa LPDP.

  1. Saya mendaftar LPDP tanpa membawa LoA kampus, dan setelah diterima pun saya belum diterima di kampus manapun. LPDP memberikan waktu satu tahun, jadi kalau lebih dari satu tahun saya tidak dapat kampus maka SK gosong alias dengan sendirinya beasiswanya hangus.
  2. Ketika dinyatakan diterima LPDP sebenarnya saya langsung apply ke Kyung Hee (KHU) untuk periode Spring 2017 yaitu mulai perkuliahan Maret 2017. Untuk mendaftar kampus di Korea kita harus bayar application fee, kalau tidak salah sekitar 127.000 won atau sekitar 1,5 juta. Jadi lumayan hehe. Persoalannya sampai penutupan pengiriman berkas, saya belum bisa request LoS (Letter of Scholarship) dari LPDP karena saat itu SIPENDOB (sistem untuk merequest LoS) masih error. Akhirnya aplikasi saya failed.
  3. Karena failed saya pun akhirnya bingung. Sistem pengiriman aplikasi di Korea sangat berbeda dengan negara di UK atau Australia. Di Korea rata-rata pengeriman aplikasi harus dokumen asli (legalisir) dikirim via pos. Dan tidak bisa mengajukan defer, ketika ada suatu hal dan kita tidak bisa mulai kuliah di term yang kita daftar dan kita ingin mengajukan menundaan kuliah itu tidak dimungkinkan. Jadi harus re-apply ulang lagi alias harus kirim dokumen lagi dan bayar application fee lagi.
  4. Akhirnya saya sambil cari solusi lain karena harapan bisa berangkat Maret 2017 ke KHU sudah putus, yaitu nyari kampus di luar Korea, saya akhirnya menemukan Prof yang cocok dengan riset saya di Data and Knowledge Engineering (DKE), The University of Queensland (UQ) Australia. Saya sebenarnya menemukan juga di UK tapi saya tahu ada kabar kalau mulai 2017 pengajuan perpindahan kampus diperketat terutama persoalan tuition fee, sedangkan tuition fee di kampus-kampus UK mengerikan, dan selain itu memang untuk saat ini saya kurang prefer ke UK karena ada beberapa yang harus saya lakukan jadi saya lebih prefer untuk mencari kampus yang deket ke Indonesia. Akhirnya UQ lah yang saya pilih.
  5. Ternyata untuk apply ke UQ saya tidak perlu IELTS, saya benar-benar tak menyangka kalau tanpa IELTS saya bisa mendapatkan Unconditional LoA yaitu karena memang saya qualified. Karena jujur saja, saya memang agak anti dengan IELTS karena beberapa alasan. Silahkan bisa baca kisah selengkapnya bagaimana caranya mendapatkan Unconditional LoA tanpa perlu sertifikat IELTS dan alasan saya kurang suka dengan IELTS.
  6.  Sayangnya di UQ assessment nya lama sekali, biasanya hanya butuh waktu maksimul 1 bulan tapi ini harus 3 bulan, saya masih inget, saya apply sejak akhir tahun 2016 tapi baru keluar Unconditional LoA nya bulan Februari 2017. Itu dikarenakan ada hal yang berkaitan dengan beasiswa ADS dari pemerintah Australia yang merequest ke UQ dan harus di assessment di waktu itu juga. Sehingga saya harus menunggu sampai itu selesai baru dokumen saya bisa di assessment.
  7. Setelah saya mendapatkan Unconditional LoA UQ, saya mencari info-info mengenai perpindahan universitas LPDP, ternyata memang kabarnya mulai 2017 LPDP cukup ketat dalam hal perpindahan universitas. Termasuk dalam hal ini tuition fee sangat dipertimbangkan yang kalau sebelumnya asalkan world rankingnya lebih bagus alasannya make sense kemungkinan besar disetujui tapi sekarang beda. Akhirnya mau tidak mau saya harus meminta beberapa surat rekomendasi ke beberapa pihak untuk menguatkan alasan pindah universitas saya. [Silahkan bisa dilihat contoh surat pengajuan perpindahan universitas saya di sini]
  8. Setelah semua lengkap, saya ajukan surat perpindahan kampus saya ke LPDP, masih di bulan Februari. Ternyata surat saya ditolak dikarenakan saya tidak melampirkan sertifikat IELTS. Padahal saya sudah mendapatkan Unconditional LoA yang mana IELTS itu diperlukan untuk memperoleh Unconditional LoA. Sungguh bener-bener stuck waktu itu. Mau tidak mau akhirnya saya pun ambil test IELTS dengan persiapan yang sangat pas-pasan dan dalam waktu yang cukup mepet.
  9. Sembari menunggu test IELTS, saya benar-benar galau karena kondisi saya yang semuanya penuh dengan ketidakpastian. Kemungkinannya sebagai berikut:
    1. Ketika saya test IELTS terus hasilnya dibawah persyaratan (6.5) berarti saya tidak bisa mengajukan pindah kampus ke UQ, kalaupun nilai IELTS saya qualified perpindahan kampus saya belum pasti diterima oleh LPDP karena saya ragu dengan tuition feenya, tuition fee UQ vs SNU sangat beda jauh. Silahkan kalian coba cari tahu, bedanya buanyak banget.
    2. Ketika nanti saya ajukan perpindahan ternyata ditolak oleh LPDP, terus saya harus kemana lagi? makanya saya harus mendaftar kampus lagi, sedang maksimal LoS yang bisa diterbitkan LPDP hanya dua, saya sudah pakai satu untuk UQ, satu lagi saya sudah request LoS ke Kyung Hee University (KHU) walau sayangnya belum bisa digunakan untuk aplikasi Spring 2017, berarti sudah tidak bisa apply selain ke kedua kampus tersebut.
  10. Akhirnya saya pun apply lagi Kyung Hee University untuk periode Fall 2017 yaitu mulai kuliah September 2017. Saya mengirim berkas asli saya lagi di bulan Maret 2017 dan membayar application fee lagi. huhuhu hehe.
  11. Alhamdulillah awal Mei test score IELTS saya keluar dan score saya cukup untuk memenui persyaratan LPDP, tidak lama dari itu langsung saya ajukan surat permohonan pindah kampus ke LPDP dengan Unconditional LoA UQ yang sudah saya defer ke RQ3 (Research Quarter), mulai perkuliahan bulan Juli.
  12. Entah kenapa dengan berkas saya, katanya, biasanya proses pengajuan perpindahan kampus LPDP tidak lebih dari 10 hari kerja, tapi saya sudah tiga minggu hasilnya belum keluar juga. Saya mengajukan surat permohonan pindah kampus ke LPDP tanggal 15 Mei, baru tanggal 5 Juni saya mendapat balasan kalau perpindahan kampus saya disetujui, Alhamdulillah, akhirnya bisa ke UQ. Yang pasti saya harus mengajukan defer lagi ke RQ4 (mulai perkuliahan oktober) karena tidak mungkin cukup untuk mengurus smua hal dalam waktu sesingkat itu, karena berdasarkan web di border Australia untuk pengurusan student visa biasanya memakan waktu 48 hari.

 

Begitulah liku-liku perjalanan menemukan kampus S3 saya, kalau tidak seperti ini mungkin tidak asyiik ya.. Inilah Allah,…

Dari mulai ketar-ketir takut kalau tidak dapat kampus di waktu 1 tahun SK LPDP, Soalnya bulan Februari 2017 saya sudah resign dari kerja, kemudian dari mendapatkan Unconditional LoA tanpa IELTS, tapi ternyata dari LPDPnya harus ada IELTS dan sebagainya. Banyak hal-hal yang membuat sedih tapi di sisi lain juga menarik dan tentunya banyak hikmah dari semua liku-liku ini.

Semoga S3 saya di UQ lancar, saya bisa amanah menggunakan beasiswa dari LPDP ini, dan tentunya semoga saya bisa berkontribusi banyak untuk bangsa ini. Amiin.

Semoga bermanfaat…

Pengalaman Test IELTS dan Tipsnya

Berikut saya langsung copas saja share-sharean saya setelah saya mendapatkan result form IELTS tanggal 13 Mei 2017 di Whatsapp grup ke teman-teman saya. Untuk tulisan saya mengenai dimana saya test IELTS dan kapan bisa dibaca di sini Pengalaman Test IELTS di ILP Cimanggu Bogor 

[4:30 PM, 5/13/2017] A: Hi guys, I am going to share my experience.
[4:31 PM, 5/13/2017] A: I took IELTS test on April 29, 2017.
After I finished the test, I realized that I will lose my mark on Listening and Writing.
Then it really confirmed after I got the result form.
[4:33 PM, 5/13/2017] A: Listening
Section II was really bad, If I am not wrong, it seems I got Scotland accent. Speaker speaks really fast and I have to fill the part name of the building. It was really hard, from 10 questions, there is no answer that I really sure.

Other sections easier but section 4, after test finished, I realized that I have two wrong spelling answers: I wrote ‘chocholate’ instead of ‘chocolate’ :v and wrote ‘habbit’ instead of ‘habit’. I really regret it. I really sure this is because I always use autocorrect feature when I write something in laptop and I never write a note or else with my hand.
[4:34 PM, 5/13/2017] A: Writing
Usually, I only practice for the task 1, such as the graph, table, and pie chart. Unfortunately, the question for the task 1 was a diagram, I have to explain about plastic recycling system. Anyway, for this task, I can handle it.

The problem was task 2. I really can’t get a good idea to answer it, in my opinion, the question is so confusing.
Question: Some people say that what children watch on TV influences their behavior while others say the amount of time children they spend watching TV influences most their behavior.
Two things which I have to compare was quite similar not too contradict, that’s why it made me confused.
[4:35 PM, 5/13/2017] A: Speaking
Examiner was a good person, he tried to make me relax.
the question for task1 was random, hometown, tourism place in my hometown, high school experience, and teacher, etc very random.
task 2 was about favorite weather.
task 3 more detail about the weather in Indonesia, climate change, global warming, ozone layer, greenhouse, etc.
Overall for the speaking, I was satisfied but I only got 6.5 for this section.

[4:36 PM, 5/13/2017] A: Reading
the passages are easy to me, that’s why I got 7 bands for the reading.

 

Bagi saya kalau listening paling susah itu kalau ada orang banyak yang ngobrol misalnya conversation 4 orang (dua cewe, dua cowo) terus nanti di soal diminta ini opini siapa dan siapa, karena memang saya sangat susah untuk membedakan suara cewe dalam hal ini ada dua cewe. Yang kedua adalah IELTS juga menggunakan beberapa aksen, kadang karena saya kurang latihan jadi beberapa aksen saya belum terbiasa udah gitu ditambah ngomongnya cepet ya sudah wasalam.

Persoalan nulis, ini juga mesti diperhatikan teman-teman semua. Kelemahan saya adalah saya tidak terbiasa menulis pakai tangan, karena sudah saking lamanya ngetik dan jarang sekali saya nulis pakai tangan. Selain itu fitur autocorrect yang saya gunakan menjadikan saya kadang tidak tahu kalau selama ini saya punya banyak sekali wrong pronounce. Nah, semga ini bisa jadi bahan pelajaran buat teman-teman semua.

Kalau Speaking, saya memang suka ngomong ceplas-ceplos cuman sayangnya sering salah dan tidak terorganisir. Kalau aksen, aksen English saya adalah English jawa tulen jadi masih meudok banget, lha ngomong bahasa Indonesia saja saya medok apalagi bhs Inggris hehe, tapi kalau aksen sih tdk masalah. Yang saya tahu yg harus dikontrol misalnya kecepatan ngomong, terorganisir atau tidak, bertele-tele apa tidak, penggunaan vocabulary kaya apa tidak, banyak salah grammar apa tidak, salah pronounce apa tidak dsb.

Kalau untuk writing, nah ini yang paling lemah, saya tidak terbiasa nulis tangan, jelas tulisan tangan saya jeuleeek banget. Jadi kalau mau agak bagus nulisnya harus pelan-pelan ya resikonya waktunya jadi terkuras. Intinya kalau dibagian writing ini sempatkan 5 menit untuk buat kerangka apa saja yang mau ditulis, tiap paragraf harus ada main topiknya, supporting topics terus hasil dan kesimpulan. Penggunaan vocab harus kaya, kalimat makin kompleks biasanya makin bagus asal bener grammarnya, terorganisir, jangan mengulang-ulang vocab, parafrasing dari pertanyaan (jangan sekali-kali tulis ulang pertanyaan).

Untuk membaca bagaimana saya belajar dan apa saja yang saya pelajari silahkan bisa dibaca di sini.

Mungkin itu saja semoga bermanfaat…

Pengalaman Test IELTS di ILP Cimanggu Bogor

Saya tinggal di Bogor semenjak menikah karena istri saya waktu itu mahasiswi IPB yang lagi sekripsian. Sehabis istri selesai skripsi sama mertua diminta pindah ke rumah beliau. Jadi akhirnya kami tinggal di PMI (Pondok Mertua Indah) karena persiapan istri mau lahiran. Walaupun Bogor itu Jabodetabek tapi saya tetap merasa bahwa ke Jakarta itu jauh, makanya saya malas kalau harus test IELTS di Jakarta. Setelah saya mendapatkan respon penolakan surat pindah kampus saya dari LPDP seperti yang sudah saya ceritakan disini, akhirnya mau tidak mau saya harus milih, nyari kampus lagi di negara Korea atau test IELTS, sedangkan penerbiat LoS (Letter of Scholarship) dari LPDP untuk Awardee Luar Negeri hanya terbatas maksimal dua kali dan itu semua sudah aku pakai ke UQ dan ke Kyung Hee University, jadi sudah tidak bisa daftar kampus lain lagi. Jadi mau tidak mau saya harus test IELTS. Penolakan surat permohonan perpindahan LPDP saya itu bulan Februari 2017, setelah itu saya langsung cari-cari tentang test IELTS di Bogor, Alhamdulillah ternyata ada yaitu dari IALF yang kerjasama dengan ILP Cimanggu Bogor.

Sayangnya untuk test IELTS bulan Maret 2017 sudah habis alias kursi sudah penuh, yah lagi-lagi saya harus memilih yaitu ke Jakarta atau test di bulan setelahnya yaitu April. Setelah saya pikir-pikir ya sudah akhirnya saya tetap mendaftar test IELTS di ILP Cimanggu untuk tanggal 29 April 2017. Nah untuk persiapan IELTS saya benar-benar pas-pasan. Walaupun saya lulusan S2 dari Korea yang notabanenya sudah terbiasa dengan bahasa inggris tapi bahasa inggris saya tidak begitu bagus dan yang pasti untuk IELTS itu memang kita harus persiapan. Persiapan agar bisa familiar dengan tipe soalnya, dan setelah saya melihat banyak video mengenai IELTS tips ternyata mengerjakan soal IELTS ada banyak sekali tips-tipsnya dan hal-hal itu tidak bisa saya dapatkan tanpa belajar. Jadi yang mau baca cara belajar IELTS mandiri saya bisa dibaca disini. Ternyata test IELTS di ILP Cimanggu untuk bulan April dipindah ke Hotel Arnava (masih deket dari kantor ILP Cimanggu) karena saat itu di depan ILP Cimanggu sedang ada pengerjaan proyek tol Bogor jadi takut nanti mengganggu peserta test. Kalau dari saya sendiri sih, untuk tempat memang lebih nyaman karena di Hotel, tapi sayangnya untuk penitipan barangnya yang teralalu jauh. Peserta test harus menitipkan barangnya di resepsionis lantai satu, kemudian hanya membawa kartu identitas dan Air minum dengan botol transparan, Testnya di Lantai tujuh. Jadi kalau mau ambil sesuatu di tas jauh banget, soalnya ternyata persiapan sebelum testnya waktunya cukup lama, dari mulai antree foto dan sidik jari terlebih dulu, kemudian ndengerin penjelasan dan aturan test IELTS sebelum masuk ruangan dsb.

Overall, pengalaman yang cukup bagus untuk mengikuti test IELTS di ILP Cimanggu Bogor, tapi saya tidak tahu ya kalau testnya dilaksanakan di gedung ILPnya.

Untuk detail bagaimana soalnya, testnya bagaimana silahkan baca tulisan saya ini.

Tips Belajar IELTS sendiri

Seperti yang sudah saya kemukakan alasan saya kenapa saya begitu menghindari test IELTS tapi pingin melanjutkan S3 di negara yang bahasa ibunya bahasa inggris, alasan terbesarnya adalah kalau saya mau test IELTS berarti saya harus meluangkan waktu, yang pertama untuk persiapan dan latihan biar paham dengan tipe soalnya dan yang paling utama adalah saya harus meluangkan banyak waktu untuk latihan nulis. Latihan nulis di sini ditafsirkan secara tekstual yaitu benar-benar latihan nulis. Dikarenakan saya sangat jarang menulis dengan tangan dan sudah terbiasa ngetik dan memang pada dasarnya tulisannya saya jelek maka sungguh horor ketika ada test dan itu diharuskan tulis tangan.

Tapi apa daya ketika harus dipaksa. Seperti yang sudah saya tuliskan di postingan ini bahwa saya harus mengajukan permohonan pindah kampus ke LPDP karena kampus sebelumnya yang saya pilih ternyata Profnya yang cocok dengan riset saya tidak available untuk membimbing mahasiswa PhD. Saya dapat Prof yang cocok di UQ Australia dan sudah mendapatkan Unconditional LoA tanpa melampirkan sertifikat IELTS, alasannya seperti yang sudah saya tulis di sini.

LPDP punya kebijakan yang kalau menurut saya seperti tumpang tindih. Ternyata untuk mengajukan permohonan pindah kampus saya tetap harus melampirkan sertifikat IELTS, padahal bukannya sertifikat IELTS itu digunakan untuk mendapatkan Unconditional LoA? Nah, ini memang aturan dari LPDP dan ini aturan administrasi yang tidak bisa diganggu gugat. Kata LPDP saya bisa tanpa IELTS kalau pindah kampusnya masih di negara yang sama dengan negara S2 saya yaitu Korea Selatan. Ketika LPDP bilang kalau ini adalah syarat administrasi yang tidak bisa dinegosiasi karena bisa jadi ketika nanti ada auditor yang mengaudit dan ada berkas saya yang pindah kampus tanpa IELTS nanti akan bermasalah. Jadi ya sudah saya mau tidak mau harus test IELTS.

Dalam waktu yang terbatas, saya langsung mendaftar test IELTS di bulan Februari dan saya mencari venue nya yang di Bogor yang sekota karena kalau ke Jakarta walaupun dari Bogor tetap saja repot. Ternyata di Bogor ada ILP Cimanggu yang bekerjasama dengan IALF yang mengadakan test IELTS, sayangnya saya tidak bisa test di bulan Maret karena quota sudah penuh, quota yang masih tersedia di bulan April tanggal 29, ya sudah saya akhirnya mendaftar test IELTS tersebut.

Selama selang waktu itu saya belajar sendiri yaitu

  1. Latihan soal dengan buku cambridge 1-11
  2. Dengerin video tips IELTS dari LIZ.
  3. Baca-baca postingan di IELTSadvantages.com
  4. Baca-baca example answer di beberapa blog terutama untuk writing example answer.
  5. Dan yang paling sering saya lakukan adalah latihan nulis, berusaha memperbagus tulisan saya tapi jujur saja jadi lama banget saya nulisnya, hehe.

Bagi yang masih single saya sarankan segera ambil test IELTS tapi ya persiapan dulu, kalau sudah berkeluarga tentu beban akan makin banyak hehee.

Untuk detail mengenai tips untuk mengerjakan soal IELTS bisa dibaca di sini

 

Semoga bermanfaat

Mendapatkan unconditional LoA di kampus Australia tanpa IELTS

Bagi para pencari beasiswa Unconditional LoA adalah salah satu yang paling ia cari. Unconditional LoA (Letter of Aceptance) adalah surat yang menyatakan bahwa mahasiswa tersebut sudah diterima di kampus yang bersangkutan tanpa syarat. Saudara tirinya Unconditional LoA adalah Conditional LoA yang berarti diterima dengan syarat misalnya ketika apply ke kampus tapi belum melampirkan sertifikat IELTS jadi akan dapat Unconditional LoA jika dan hanya jika mahasiswa tersebut sudah melampirkan sertifikat IELTS dengan nilai yang sesuai dengan requirements.

Bagi mahasiswa yang daftar master program dan hanya course based itu tentu lebih mudah untuk mendapatkan LoA, tinggal melihat apa saja yang harus di submit, tinggal penuhi semua requirements kemudian submit tanpa perlu mencari Professor terlebih dahulu. Semuanya biasanya dilakukan online, standard requirement biasanya untuk master ya personal statement, CV, transcript, study plan, recommendation letter dari dua references, sertifikat kemampuan bahasa dan mungkin ada tambahan lainya. Untuk awal bagaimana pencarian kampus S3 saya bisa dibaca di sini

Bagi saya yang dulu mendapatkan beasiswa riset di Korea ketika S2 dan tentu karena saya teknik dan namanya juga beasiswa riset jadi saya harus riset. Requirement ketika saya mendaftar cukup berbeda dari yang mau apply program master yang course based (hanya kuliah tanpa riset). Saya harus berkiriman CV dengan Profesor terlebih dahulu dalam artian mencari Profesor yang risetnya cocok dan menawarkan beasiswa. Selain itu saya juga diminta membuat proposal riset dan study plan juga.

Nah, beda halnya dengan S3. Sepertinya jarang ada S3 yang menawarkan program yang hanya course based dan sepertinya aneh saja kalau PhD tanpa riset. Bagi para pencari beasiswa yang mau apply S3 maka mau tidak mau harus repot mencari Profesor yang cocok terlebih dulu, biasanya juga diminta untuk mengirimkan CV dan proposal riset kepada Prof terlebih dahulu.

Untuk kasus saya ketika saya apply program RHD (Research Higher Degree) di The University of Queensland saya harus mencari Profesor yang cocok dengan riset saya terlebih dahulu. Bagi saya yang S2nya sudah riset seperti ini ada plus minusnya. Plusnya saya sudah mempunyai beberapa publikasi baik journal maupun prosiding konference dengan skala internasional, tentu ini akan lebih meyakinkan Profesor. Persoalannya riset saya itu scope-nya sempit maka untuk mencari Profesor yang benar benar cocok itu yang jadi masalah.

Persyaratan lainnya seperti persyaratan admisi kampus pada umumnya, seperti transcript, sertifikat bahasa dan sebagainya. Seperti yang sudah saya tulis di Judul, saya tidak perlu melampirkan sertifikat IELTS untuk dapat unconditional LoA di The University of Queensland (UQ). Kenapa, kok bisa seperti itu?

Sebenarnya ini juga sama ketika saya mendaftar beasiswa LPDP, saya tidak perlu melampirkan sertifikat IELTS pula.

Untuk yg apply UQ, Alasannya karena sebelumnya pendidikan S2 saya di luar negeri yang bahasa pengantarnya bahasa inggris dan saya punya pengalaman satu tahun bekerja di common wealth country (Cape town, South Africa) dan tentunya saya punya publikasi yang cukup banyak dan menarik untuk level lulusan S2.
Saya benar-benar baru nyadar ternyata untuk apply di kampus Australia, saya bisa mendapatkan Unconditional LoA tanpa melampirkan IELTS. Alasan saya agak malas untuk test IELTS adalah karena saya harus belajar, karena untuk test IELTS saya harus meluangkan waktu persiapan, karena harus paham dengan tipe soalnya terlebih dahulu, selain itu alasan yang paling pokok adalah di IELTS ada writing dan itu handwriting padahal tulisan saya jueelek banget bahkan saya pun kadang tidak bisa membaca tulisan saya sendiri, hahaha 😀