Hal-hal yang harus diurus sebelum memulai studi PhD di Australia

Setelah sekian lama tidak menulis karena Sibuk (*sitik-sitik bubuk), alhamdulillah saya ada waktu dan mood untuk menulis lagi. Berikut adalah tulisan sebelumnya tentang hal-hal yang perlu di urus setelah sampai di Australia (seperti lapor diri, buat akun bank, beli simcard, beli go card/kartu transportasi, dan sebagainya yang berkaitan dengan kehidupan di Australia, khususnya Brisbane).

Untuk tulisan kali ini, saya ingin menulis mengenai hal-hal apa saja yang terkait dengan studi/kampus yang harus di urus setelah sampai di Australia, dalam hal ini khususnya di The University of Queensland. Tapi saya rasa ini akan sama di kampus manapun (kampus Australia) karena mereka punya standard CommonWealth. Jadi InsyaAllah bagi yang tertarik untuk studi di Australia, ini bisa jadi salah satu referensinya.

Tapi yang perlu diketahui, untuk kasus saya ini adalah studi PhD/S3, jadi bagi yang studi S2/master pasti sedikit berbeda. Baik, begini apa saja dan langkah-langkahnya yang perlu dilakukan untuk mulai studi di UQ.

Model S3 di sini per research quarter (RQ), satu tahun ada 4 research quarter, silahkan bisa dilihat di gambar di bawah ini:

LoA saya tadinya RQ3 tapi karena ada satu lain hal, saya request defer ke RQ4, jadi sesuai dengan tanggal untuk RQ4 itu mulai studinya Oktober, nah maksimal commencement date itu tgl 14 Oktober. Jadi saya bisa datang kapan saja sebelum tanggal 14 Oktober.

Setelah sampai di UQ, saya kontak RHD (Research Higher Degree) admin, dan menyampaikan bahwa saya sudah sampai di UQ, oya.. dari Bandara Brisbane ke UQ ada fasilitas penjemputan gratis juga lho, tapi harus daftar dulu, lumayan lho kalau pakai taksi ongkosnya bisa 80 AUD. Intinya, jangan datang mepet kan, tentu harus ngurus tempat tinggal dan sebagainya kan? buat akun bank, dan keperluan lainnya seperti di tulisan saya sebelumnya.

Setelah kontak dg RHD admin, nanti akan dikirimi email terkait dengan jadwal induksinya kapan, kebetulan oktober 2017 ini, tgl 1 nya hari sabtu, tanggal 2 minggu, tanggal 3 hari libur Queensland. Jadi  induksinya hari selasa tanggal 4 Oktober. Kita nanti ditempatkan di satu ruangan bareng-bareng dengan calon mahasiswa PhD yang lain tapi masih dalam satu school. Di situ diterangkan mengenai banyak hal, dari mulai bagaimana sistem PhD di sini dan sebagainya. Intinya yang diterangkan di induksi itu kurang lebih bisa dibaca di sini (UQ get started)

Semuanya sudah lengkap dari mulai apa saja yang harus dilakukan di minggu pertama, bulan pertama, tahun pertama dan sebagainya. PhD di sini dibagi jadi 3 periode, yang pertama yaitu setelah commencement sampai satu tahun pertama. Di akhir tahun pertama ada “konfirmasi” di sinilah nanti kami di sidang terbuka ada panelisnya, menyampaikan apa saja yang sudah dilakukan selama satu tahun dan apa saja yang mau dilakukan kedepan. Jadi nanti publik juga bisa bertanya, dan nanti akan dinilai apakah layak dinyatakan sebagai PhD candidate apa tidak, kalau tidak lolos gimana? ya ngulang konfirmasinya hehe. Kalau lolos, alhamdulillah, akan resmi jadi PhD candidate. Setelah itu nanti ada “mid-term” yaitu di akhir tahun kedua, sama, sidang lagi, nanti apakah layak untuk lanjut ke step berikutnya apa tidak. Dan yang terakhir nanti di akhir tahun ketiga adalah “thesis review” di sini nanti dibahas thesis PhD nya ini layak untuk di submit apa tidak, setelah thesis review biasanya ada waktu 3 sampai 6 bulan untuk memperbaiki thesisnya, kemudian setelah itu submit thesis ke graduate school. Nanti graduate school akan mengirimkan thesis itu ke reviewer yang mana reviewernya dari kampus TOP lain di dunia atau dari company TOP dunia, misal temen saya kemaren thesisnya di review oleh Prof di Cambridge sama satunya lagi reviewernya adalah engineer di salah satu perusahaan besar di German. Nanti tinggal tunggu saja respon dari reviewer apakah layak apa tidak. Ini yang jadi penentu lulus PhD apa tidak hehe. Kalau perlu revisi ya direvisi, dan semoga besok kedepan saya lancar amiin. Jadi selama ini di UQ tidak ada sidang thesis doktoral terbuka gitu tidak ada, tapi ya tadi ada konfirmasi, mid-term, sama thesis review. Kabarnya nanti akan ada sidang terbuka terakhir gitu, tapi saya belum tahu itu benar apa tidak. Setelah diterangkan panjang lebar seperti di atas ini ketika induksi, kemudian kita diminta untuk mengisi commencement form, yang mana nanti setelah submit berarti resmi jadi mahasiswa UQ.

Wah malah ngelanjur njelasin panjang lebar, oke. Intinya setelah commencement, berarti resmi jadi student di UQ.

  1. Langkah selanjutnya adalah menunggu email, biasanya tidak sampai lebih dari tiga hari kerja. Di email itu nanti ada akun username dan password sementara, untuk student mail (@uq.net.au) dan kalau mahasiswa S3 nanti dapat email staff juga (@uq.edu.au). Setelah dapat student email, nanti login di my-SI-net dan melengkapi data di situ, termasuk data yang WAJIB dilengkapi adalah nomor HP dan alamat di Australia.
  2. Setelah, data di my-SI-net sudah lengkap tinggal datang saja ke building tempat mengurus student card, semua informasi yang di email ke kita itu lengkap, dari mulai pengurusan apa saja termasuk dimana mengurus student card. Tinggal datang aja dan tidak sampai 2 menit kok, wong tinggal duduk, difoto dan langsung jadi student cardnya.
  3. Setelah jadi student cardnya, nah bisa apply concession buat go-cardnya, jadi lumayan kan dapat diskon 50 % untuk naik bus, ferry, kereta dan sebagainya.
  4. Oya jangan lupa OSHC card, kartu asuransi, ini bisa diurus setelah kita dapat alamat permanen di australia, ya alamat rumah, tinggal login aja ke website allianz karena UQ bekerjasama dg perusahaan itu. Udah tinggal login pakai akun student UQ dan password tanggal lahir, nanti password bisa diganti, di website tersebut tinggal lengkapi data, termasuk nomor australia, dan alamat lengkapnya. Kemudian request OSHC card, nanti kartu akan dikirim ke rumah maksimal 5 hari kerja.
  5. Di my-Si-net juga nanti akan terlihat tagihan-tagihan apa saja yang harus dibayar dan log pembayaran apa saja yang sudah dibayar, jadi bagi yang dapat scholarship nanti dilihat saja di lognya, kelihatan sudah bayar belum untuk RQ ini. Nah salah satu yang harus dibayar oleh student adalah biaya Student Services Amenities Fee (SSAF) dan itu tiap RQ harus bayar, nomilanya sekitar 70an AUD. Oya ini bisa di reimburse ke scholarship provider. 

Nah bagian ini nih yang menurut saya luar biasa dan harus di contoh oleh kampus-kampus di Indonesia:

  1. Ketika Induksi nanti kita akan dibagikan formulir OHS (Occupational Health and Service) karena memang safety itu yang paling utama, jadi nanti formulir OHS itu di isi bareng-bareng sama supervisor, termasuk nanti diajak jalan-jalan di lorong building, ngeliatin dimana pemadam api, dan sebagainya. Setelah itu mahasiswa juga wajib mengerjakan tiga modul OHS secara online (soalnya pilihan ganda), dan harus lulus minimal 80 %. Tiga modul itu: General workplace safety, Fire safety, dan Code of Conduct. Oya kalau tidak lulus, bisa diulang sampai tidak ada batasnya yang penting bisa lolos lebih dari atau sama dengan 80%
  2. Selain itu juga ada Workerlist, yang mana juga diisi bareng sama supervisor, jadi kalau yang bekerja nanti ada kaitannya dengan animal, atau dengan manusia, nanti sama supervisor bakal ditanya udah paham belum ethic kerja/penelitian di bidang ini. Kalau saya krn jurusannya Computer jadi ya ndak ribet-ribet amat.
  3. Yang paling keren adalah, Research and integrity module, nanti di my-SInet ada modul yang harus dikerjakan, ada dua modul sih, yang pertama isinya quiz  yang cukup mudah untuk dikerjakan, topiknya tentang plagiarism, bagaiman cara mengutip, apa saja yang termasuk plagiarisme, sanksi apa saja yang akan didapat jika ketahuan menjiplak, apa itu kolaborasi dalam penelitian, apa bedanya kolaborasi dan kolusi, sanksi apa saja yang akan didapat jika melakukan kolusi dalam penelitian bersama. Nah yang pertama ini saya sudah lulus karena cukup mudah. Yang kedua, itu yang versi panjang termasuk disitu materi tentang research ethic and code of conduct yang banyak banget materinya yang harus dibaca. Ketentuannya juga sama minimal 80% baru bisa lulus, dan kalau yang kedua ini sifatnya wajib seperti OHS module yang tiga di atas.
  4. Setelah semuanya selesai, nanti akan dapat email untuk hadir orientasi, biasanya sebulan setelah commencement date, orientasi saya besok insyaAllah tanggal 14 November 2017.
  5. Ini RHD checklist, jadi bisa dilihat apa saja yang harus dilakukan di minggu pertama, bulan pertama, dengan checklistnya

Yang terakhir, biasanya butuh maksimal 1 minggu dari commencement bagi mahasiswa S3/PhD untuk dapat office, yaitu meja kerja beserta seperangkat komputer. Saya baru dapat sekitar minggu ke dua bulan Oktober. Selain itu student card kita juga sudah otomatis bisa buat buka pintu office. Oya modelnya juga tiap school ada share dapur(isinya standard, meja kursi tempat makan, microwave, pembuat copi, kulkas dan sebagainya), ada beberapa ruang share printer (printer room), dan student card kita otomatis diberi akses ke beberapa ruangan yang memang kita punya akses. School saya ITEE, yaitu di building 78, persis di samping UQ lake, jadi saya kalau berdiri liat jendela pemandangannya masyaAllah…  gambar dibawah ini pemandangan dari jendela meja saya.

 

Mungkin sekian dulu tulisan saya, semoga bisa bermanfaat, bagi yang males baca mau tahu tentang studi di Australia, saya ada nih videonya… silahkan bisa disaksikan

Advertisements

Hal-hal yang harus dilakukan setelah tiba di Australia

Pada kesempatan kali ini saya akan membagi informasi mengenai hal-hal penting harus segera dilakukan setelah tiba di Australia, dalam hal ini di Brisbane. Tentunya tulisan ini juga berdasarkan kondisi saya yaitu sebagai pelajar, jadi pasti berbeda dengan yang datang ke sini untuk tourism/liburan semata.

Baiklah, berikut ini adalah apa saja yang harus dilakukan setelah tiba di Australia:

  1. Sebagai warga negara Indonesia, dan karena tujuan saya ke Aussie adalah untuk studi dan menetap lama di sini maka yang pertama kali saya lakukan adalah lapor diri. Lapor diri di Australia bisa dilakukan via online terlebih dahulu. Karena saya di Brisbane (QLD) dan itu di bawah wilayah KJRI Sydney (New South Wales, Queensland dan South Australia) maka saya bisa lapor diri di situs http://lapor-diri.org.au/tentanglapordiri.php . Untuk melakukan cap paspor di KJRI, kita harus datang ke Sydney langsung dan itu tentu boros, jadi yang penting lapor diri dulu via online, nanti kalau ada layanan konsuler di Brisbane kita tinggal datang saja dengan membawa paspor kita. Kenapa sih harus lapor diri? intinya untuk memberitahu kedutaan perihal diri kita sudah tinggal di Aussie sejak kapan dan mau sampai kapan. Jadi andakata ada bencana atau hal-hal yang tidak diinginkan KJRI bisa tahu kalau di tempat itu ada WNI, seperti itu. Jadi jangan disepelekan.
  2. Beli simcard nomor sini, di Australia ada beberapa provider, ada Vodafone, Telstra, dan Optus. Karena saya kemarin muter-muter di UQnya diajak sama temen saya dan dia pakai Optus, akhirnya dia bilang mau pake optus saja? ya Oke dah. Akhirnya saya beli SIMcard Optus di minimarket di UQ. Harga simcardnya sebenarnya $2 tapi jadi free karena langsung beli voucher $30, untuk harga paket per bulannya bisa dilihat di gambar bawah ini. Oya saya lebih condong memilih prepaid dan saya tidak beli HP baru. (* gambar dibawah ini tidak ada unsur promosinya, hanya contoh saja, buat gambaran harga data di sini) Saya pilih yang $30 per bulan dapat 3 GB data, free call & SMS ke sesama nomor australia. Saya tidak punya paket Internasional call karena sekarang calling juga bisa menggunakan data. Walaupun Ibu saya rumahnya di kampung dan beliau tidak bisa pakai Whatsapp, saya call beliu pakai VoIP. Kalau via prepaid yang pertama dilakukan adalah beli voucher, misal $30 nanti akan dapat nomor voucher, setelah kartu dimasukkan ke HP kemudian langsung buka website optus, disitu tinggal ikuti step saja, minta ngisi identitas, kemudian milih nomor HP (*ada beberapa pilihan tapi tidak ada nomor cantiknya), kemudian isi via voucher dan nanti masukkan nomor voucher, sudah selesai.
    Harga Optus Prepaid per bulan

    Optus SIM Card Brisbane
  3. Setelah punya nomor HP australia, yang harus dilakukan lagi adalah membuat akun Bank. Apapun beasiswanya pasti butuh rekening bank Australia. Di UQ sendiri ada dua bank yaitu CommonWealth bank dan ANZ, dan kebanyakan pada pakai Commbank ya sudah saya pakai Commabank. Tinggal masuk saja bilang mau buat akun bank, baru datang jadi belum ada student card, tapi sudah punya nomor HP, jangan lupa bawa passport, kemudian Letter of Guarantee atau Letter of Scholarship dari provider beasiswanya. Sudah nanti diminta masuk ke ruangan CSnya kemudian ngobrol disitu, dan dibuatin akun banknya. Setelah punya akun bank, bisa dikirmkan ke provider beasiswanya, semoga Living allowancenya bisa segera cair. Amiinn.. hehe. Oya untuk ATMnya disini langsung ada tulisan namanya di kartu ATMnya, dan dikirim ke Rumah via post datang setelah 7 hari kerja.
  4. Yang selanjutnya tidak kalah penting adalah membeli Go-Card, jadi di semua negara maju pasti ada transportasi publiknya dan biasanya ada kartunya jadi tidak bayar cash. Kalau di Korea dulu, di Seoul ada T-Money, kalau di Gwangju pakainya Hanpay, kalau di Jabodetabek kan ada Mandiri tapcash atau BNI tapcash, nah di Aussie juga beda-beda. Di Sydney ada Opal, di Pert ada SmartRider, nah kalau di Brisbane namanya Go-card. Harganya $10 untuk kartunya dan bisa beli top-upnya sekalian. Saya beli topup $20 waktu itu. Untuk mahasiswa, setelah dapat student card, nanti bisa mengajukan concession (keringanan), sehingga harga transportasinya adalah setengahnya. Misalnya kemarin saya ke City pakai Ferry dan Bus sekali jalan $2.56 karena belum dapat concession kalau sudah nanti setengahnya. Oya, biayanya juga beda-beda tergantung zona. Jadi ada petanya, kalau sudah beda zona (*makin jauh) tentu biayanya berbeda.

    Go-Card kartu transportasi di Brisbane
  5. Install applikasi-aplikasi yang berguna, UQ navigation app misalnya, krn UQ luas banget jadi install ini biar tidak nyasar. Optus app untuk lihat penggunaan data dan masa aktif serta recharge. Commbank app, disini aplikasi commbanknya bagus banget, light banget (*ya kan saya anak IT punya experience developing aplikasi) jadi bisa membandingkan service dan app commbank dg bank2 di Indonesia, beda jauh. Install aplikasi Translink, untuk jalan-jalan, lihat jadwal bus, harus transit dimana dsb, sebenarnya langsung pakai Google map juga bisa, krn di Google map juga sudah lengkap dengan nomor bisnya dan jalurnya.

    Jalan-jalan menggunakan Google map di Brisbane

 

Mungkin ini saja dulu, untuk apa saja yang harus dilakukan setelah tiba di Australia yang berkaitan dengan studi akan saya tulis di postingan selanjutnya.

Semoga bermanfaat.. untuk membaca tulisan-tulisan saya lainya terkait dengan studi di Australia bisa dibaca di sini

Salam dari Brisbane.

Perjalanan ke Australia

Di tulisan ini saya akan berbagi pengalaman pertama saya ke Australia yaitu brangkat untuk S3 saya di The University of Queensland.

Dulu saya memang tidak memilih untuk kuliah di Perth, Sydney, atau Melbourne tapi memilih di Brisbane karena beberapa hal, ya yang pertama jelas dapat Profnya di UQ di Brisbane, selain itu setelah review-review untuk kondisi cuaca di Australia sih memang paling enak di Brisbane yaitu tidak terlalu ekstream. Dulu saya waktu belum pernah melihat salju, wah rasanya pingin sekali lihat salju. Dulu saya brangkat ke Korea untuk S2 saya September 2013 yaitu di sana pas musim gugur (fall), pemandangan yang sangat indah, dan saya berharap cepat-cepat winter agar bisa main dengan salju dan memang terbukti sekarang saya lancar sekali bermain snowboard hehe.

Kalau mau lihat salju di Korea silahkan bisa menikmati video winter terakhir saya di Korea di bawah ini.

Tapi ternyata salju itu enak dipandang tapi tidak enak dirasa, itu menurut saya sih. Dinginnya minta ampun, kulit saya pecah pecah, telinga harus ditutup penutup, dan yang jelas malas untuk beraktifitas, maunya di dalam ruangan yang ada pemanasnya, sambil tiduran, streamingan, dan selimutan haha.

Eh malah ngomongin winter di negeri orang jadinya. Intinya setelah saya baca-baca Brisbane untuk cuaca tidak terlalu ekstream dibanding 4 kota di Australia yang sudah saya sebutkan di atas.

Kembali ke topik, sebelum berangkat saya sudah siap-siap belanja berbagai keperluan ya seperti pasta gigi, sabun cair, deodoran, shampoo, yang banyak, yang jelas beli Koper baru. Saya terbang menggunakan maskapai Qantas (CGK- Sydney (transit) – BNE (Brisbane)) dan karena visa saya student jadi saya dapat bagasi 40 kg.

Bagi teman-teman yang mau ke Australia dan untuk pertama kalinya harap untuk memperhatikan barang-barang bawaan. Satu hari sebelum saya berangkat saya mau dimasakin rendang dan kering tempe untuk dibawa di koper, sebelum-sebelumnya saya memang sudah googling juga perihal BARANG-BARANG YANG TIDAK BOLEH DI BAWA KE AUSTRALIA. Rendang masuk ke dalamnya, sebenarnya tak apa sih bawa rendang asal dalam kemasan industri yaitu dalam kaleng dan tidak berbau. Makanan boleh dibawa tapi harus dalam kemasan industri.

Jadi isi koper (bagasi) saya diantaranya adalah:

  1. Baju keperluan sehari-hari termasuk sprei, selimut, kaos kaki, sajadah, dkk
  2. Peralatan mandi (sabun, shampoo, pasta gigi, sikat gigi) jumlahnya banyak hehe
  3. Deodoran, parfum, minyak rambut dkk (dalam jumlah banyak)
  4. Peralatan makan minum (bawa secukupnya)
  5. Makanan (di sini saya tidak bawah makanan tapi bumbu-bumbu yaitu bumbu instan, saus, kecap, boncabe, sambal trasi) semuanya beli ya (kemasan industri)

Isi tas saya hanya laptop, makanan kering buat cemilan, dokumen (buat jaga-jaga saya bawah print visa dan dokumen lainnya) sebenarnya tidak perlu karena visa sudah e visa.

Oya kalau TIKET PESAWAT harus di print ya, jadi jangan sampai lupa, tiket pesawat di print dulu sebelum ke bandara.

Saya berangkat dari Bandara Soekarno Hatta Cengkareng dan rumah saya di Bogor. Tiket saya jam 20:10 terbang. Karena saya takut macet dan tahu sendiri bogor kayak gimana macetnya, saya berangkat dari rumah jam 2 kurang 15 menit ke Pool damri di Botani Sequare, nyampe di pool damri jam 2 dan bis brangkat jam 2:15 kalau tidak salah. Sampai di Bandara CGK jam setengah 5 dan di sana sudah ada daftar pesawat yang mau terbang dan pesawat Qantas yang mau saya naiki sudah membuka layanan check-in. Oya untuk Qantas di CGK yaitu di terminal 2D.

Saya masuk, scanning koper dan tas, lanjut, dan masalahpun terjadi ketika saya check in bagasi. Ini salah saya, karena saya tidak bertanya dulu ke Qantas. Jadi bagasi saya dapat 40 KG itu dengan ketentuan dua koper bagasi, dan maksimal 1 koper bagasi itu beratnya 32 kg. Pas ditimbang di CGK ternyata beratnya 34 kg, harus bongkar deh koper saya. Ambil 2 kg barang taruh tas dan saya jinjing. Untung saja saya tidak penuhin tas gendong saya. Saya pikir ya pinginnya kan 1 koper saja, jadi tidak repot-repot gitu dan yang jelas saya juga cuman punya koper satu hahhaa.

Akhirnya selesai juga checkin dan tinggal nunggu, eh ternyata pas saya nunggu, saya ketemu dengan teman S2 saya dulu di Korea, namanya mas Anton, sekarang dia kerja di Jakartapost dan sedang ada tugas ke Melbnourne, pesawatnya sama, sama-sama transit di Sydney.

Service di Qantas lumayan lah untuk tiket saya yang ekonomi, ya standard, makanan juga standard. Pesawat tepat waktu ketika Boarding jam 19:15 tapi delay 40 menitan pas terbangnya alasannya karena trafik, jadi terbang  jam 9 kurang 15 menit malam padahal jadwalnya jam 20:10.

Pagi hari waktu Syedney, jam 06:15 di hari berikutnya saya mendarat dengan selamat di Sydney. Di Sydney saya harus ambil bagasi, declare, dan pemeriksaan imigrasi padahal saya di Sydney hanya transit. Alasanya adalah karena penerbangan selanjutnya ke Brisbane pakai penerbangan lokal dan di Brisbane sudah tidak ada pemeriksaan lagi.

Oya, tadi ketika di pesawat, anda juga diminta ngisi formulir buat declare, formulirnya seperti ini.

 

Formulir declare bandara Sydney Australia

Declare form ini sudah berbeda dari yang saya dapat di Internet waktu googling, dulu nomor 6 itu “any kind of food” jadi semua makanan harus di declare. Kalau sekarang hanya beberapa jenis makanan saja. Saya juga cukup tergelitik dengan nomor 9 yaitu jika anda bawa sepatu kotor habis main bola dan ada sisa tanahnya maka harus di declare hehe.

Intinya kenapa Aussie begitu ketat persoalan barang bawaan? kabarnya karena di sini kan juga mengembangkan sektor agraria, jadi takutnya orang yang datang bawa bakteri yang bisa membahayakan Australia begitu sih.

Saya sudah sering dapat informasi kalau pemeriksaan di imigrasi Australia itu ketat sekali, terutama terkait dengan barang bawaan. Untuk pengisian formulir, kalau anda ragu sebaiknya pilih yes dan pilih untuk declare daripada nanti repot belakangan. Jika anda bilang No padahal anda bawa barang itu dan ternyata ketahuan oleh petugas imigrasi maka resikonya adalah denda dan dendanya cukup mahal. Yang jelas petugas bandara di sini juga tidak menerima suap hahah.

Berikut ini langkah-langkahnya ketika tiba di bandara internasional Sydney.

  1. Tiba di bandara, ikuti petunjuk saja yaitu bagage claim.
  2. Ikuti petunjuk untuk ambil bagasi.
  3. Sebelum ambil bagasi nanti kita antre dulu di imigrasi seperti bandara pada umumnya, antrean ada yang untuk pemegang paspor australia, paspor bukan australia, dan sebagainya. Silahkan ikut antre yang bukan pemegang paspor australia.
  4. Selain paspor saya sudah menyiapkan e-visa yang saya print dan CoE (Confirmation of Enrollment) dan ternyata hanya paspor yang diperlukan. Paspor juga tidak dicap karena visanya sudah e-visa.
  5. Setelah di ijinkan masuk, udah langsung di depan tempat untuk ngambil bagasi, tunggu bagasi kita ketika ada ya tinggal ambil.
  6. Setelah ambil bagasi siapkan declare form yang sudah di isi tadi.
  7. Tunjukkan declare form ke petugas dan nanti kita akan di arahkan untuk ikut jalur berapa, jadi di situ ada banyak jalur, saya declare “medical herbs” karena saya bawa tolak angin. Dan teman saya mas anton declare “medicine” karena dia bawa promag hehe. kita ternyata pisah jalur.
  8. Pas declare ini ternyata…… Ada anjingnya. Jadi kita nanti maju dengan semua barang bawaan kita, yang maju sekitar 5 orang dengan barang masing-masing, kemudian petugas dengan membawa anjing menyuruh anjingnya menciumi semua barang bawaan orang-orang yang baris. Koper, yang saya jinjing, tas gendong saya, semuanya di endus oleh anjing hitam.
  9. Ibu-ibu di depan saya (* orang china), bawa sesuatu yg di jinjing dan anjingnya kelihatan suka banget, di cium-cium terus dan di cakar-cakar, kemudian petugas mengambil tasnya dan memeriksanya ternyata dia bawa makanan basah (entah apa itu) dan langsung di buang oleh petugas.
  10. Untuk barang-barang saya alhamdulillah lancar.
  11. Setelah selesai declare, kemudian lanjut ikuti petunjuk ke domestic flight (penerbangan domestik).

Ketika check ini bagasi di sini saya dapat masalah lagi. (* oya untuk tiket saya yg Sydney ke Brisbane sudah sekalian di cetak di CGK). Masalahnya adalah di timbangan menunjukkan bagasi saya 33 kg, yang aturannya maksimal 32 kg. Haduh, bongkar lagi deh bagasi saya 😦 Ambil lagi barang 1 kg saya jinjing akhirnya. Selanjutnya tinggal ikuti saja petunjuk dan nanti kita harus naik Bis ke terminal penerbangannya kalau tidak salah terminal 3.

Sudah deh, tunggu dan terbang ke Brisbane dari Sydney. Sampailah saya di Brisbane jam 10:30 dan yang jemput saya sudah menunggu di tempat pengambilan bagasi. Di Brisbane sudah tidak ada pemeriksaan apa-apa lagi.

Oya The University of Queensland memfasilitasi penjemputan untuk new internasional student dari bandara ke tempat tujuan dan itu free. Alhamdulillah, lumayan lah karena kalau biaya sendiri bisa sekitar 80 AUD.
Oke mungkin ini dulu sharing saya, mengenai perjalanan pertama saya ke Australia. Untuk tulisan-tulisan saya yang lain tentang kuliah di australia bisa di akses di sini.

 

Brisbane, 24 September 2017

S3 di Australia dengan Beasiswa LPDP

Saya mempunyai satu halaman yang berisi mengenai langkah-langkah mendaftar beasiswa LPDP termasuk tips membuat essay kontribusiku untuk negeri, essay sukses terbesar bahkan tips ketika LGD dan menulis essay on the spot dan ketika menghadapi reviewers saat interview. Silahkan bisa mengakses halaman ini untuk melihat daftar tulisan saya yang terkait LPDP.

Jika teman-teman membaca tulisan saya mengenai S3 ku mau kemana? tentu teman-teman tahu mengenai awal mula pilihan kampus S3 saya. Pada awalnya sebenarnya saya mendaftar kampus di SNU (Seoul National University) alasannya karena memang sebelumnya saya sudah S2 di Korea jadi saya sudah sangat paham lingkungan dan gaya pembelajaran di sana. Alasan lain adalah SNU termasuk kampus terbaik di Korea bahkan di World rank university juga termasuk kampus peringkat bagus. Tapi saya harus mengurungkan niat saya ke SNU karena Profnya tidak bisa, sebenarnya kalau teman-teman baca tentang interview saya dengan reviewers bisa terlihat bahwa saat interview pun saya sudah bilang bahwa saya tidak mungkin lanjut di SNU, saya harus pindah kampus karena blabla bla..

Setelah SNU, pilihan selanjutnya adalah Kyung Hee University, hanya saja sayangnya KHU ini dari sisi world rank jauh sekali jika dibandingkan dengan SNU dan persoalan lain adalah KHU ini sudah tidak masuk dalam list kampus LPDP mulai tahun 2017.

Berikut liku-liku perjalanan pencarian kampus S3 saya dengan beasiswa LPDP.

  1. Saya mendaftar LPDP tanpa membawa LoA kampus, dan setelah diterima pun saya belum diterima di kampus manapun. LPDP memberikan waktu satu tahun, jadi kalau lebih dari satu tahun saya tidak dapat kampus maka SK gosong alias dengan sendirinya beasiswanya hangus.
  2. Ketika dinyatakan diterima LPDP sebenarnya saya langsung apply ke Kyung Hee (KHU) untuk periode Spring 2017 yaitu mulai perkuliahan Maret 2017. Untuk mendaftar kampus di Korea kita harus bayar application fee, kalau tidak salah sekitar 127.000 won atau sekitar 1,5 juta. Jadi lumayan hehe. Persoalannya sampai penutupan pengiriman berkas, saya belum bisa request LoS (Letter of Scholarship) dari LPDP karena saat itu SIPENDOB (sistem untuk merequest LoS) masih error. Akhirnya aplikasi saya failed.
  3. Karena failed saya pun akhirnya bingung. Sistem pengiriman aplikasi di Korea sangat berbeda dengan negara di UK atau Australia. Di Korea rata-rata pengeriman aplikasi harus dokumen asli (legalisir) dikirim via pos. Dan tidak bisa mengajukan defer, ketika ada suatu hal dan kita tidak bisa mulai kuliah di term yang kita daftar dan kita ingin mengajukan menundaan kuliah itu tidak dimungkinkan. Jadi harus re-apply ulang lagi alias harus kirim dokumen lagi dan bayar application fee lagi.
  4. Akhirnya saya sambil cari solusi lain karena harapan bisa berangkat Maret 2017 ke KHU sudah putus, yaitu nyari kampus di luar Korea, saya akhirnya menemukan Prof yang cocok dengan riset saya di Data and Knowledge Engineering (DKE), The University of Queensland (UQ) Australia. Saya sebenarnya menemukan juga di UK tapi saya tahu ada kabar kalau mulai 2017 pengajuan perpindahan kampus diperketat terutama persoalan tuition fee, sedangkan tuition fee di kampus-kampus UK mengerikan, dan selain itu memang untuk saat ini saya kurang prefer ke UK karena ada beberapa yang harus saya lakukan jadi saya lebih prefer untuk mencari kampus yang deket ke Indonesia. Akhirnya UQ lah yang saya pilih.
  5. Ternyata untuk apply ke UQ saya tidak perlu IELTS, saya benar-benar tak menyangka kalau tanpa IELTS saya bisa mendapatkan Unconditional LoA yaitu karena memang saya qualified. Karena jujur saja, saya memang agak anti dengan IELTS karena beberapa alasan. Silahkan bisa baca kisah selengkapnya bagaimana caranya mendapatkan Unconditional LoA tanpa perlu sertifikat IELTS dan alasan saya kurang suka dengan IELTS.
  6.  Sayangnya di UQ assessment nya lama sekali, biasanya hanya butuh waktu maksimul 1 bulan tapi ini harus 3 bulan, saya masih inget, saya apply sejak akhir tahun 2016 tapi baru keluar Unconditional LoA nya bulan Februari 2017. Itu dikarenakan ada hal yang berkaitan dengan beasiswa ADS dari pemerintah Australia yang merequest ke UQ dan harus di assessment di waktu itu juga. Sehingga saya harus menunggu sampai itu selesai baru dokumen saya bisa di assessment.
  7. Setelah saya mendapatkan Unconditional LoA UQ, saya mencari info-info mengenai perpindahan universitas LPDP, ternyata memang kabarnya mulai 2017 LPDP cukup ketat dalam hal perpindahan universitas. Termasuk dalam hal ini tuition fee sangat dipertimbangkan yang kalau sebelumnya asalkan world rankingnya lebih bagus alasannya make sense kemungkinan besar disetujui tapi sekarang beda. Akhirnya mau tidak mau saya harus meminta beberapa surat rekomendasi ke beberapa pihak untuk menguatkan alasan pindah universitas saya. [Silahkan bisa dilihat contoh surat pengajuan perpindahan universitas saya di sini]
  8. Setelah semua lengkap, saya ajukan surat perpindahan kampus saya ke LPDP, masih di bulan Februari. Ternyata surat saya ditolak dikarenakan saya tidak melampirkan sertifikat IELTS. Padahal saya sudah mendapatkan Unconditional LoA yang mana IELTS itu diperlukan untuk memperoleh Unconditional LoA. Sungguh bener-bener stuck waktu itu. Mau tidak mau akhirnya saya pun ambil test IELTS dengan persiapan yang sangat pas-pasan dan dalam waktu yang cukup mepet.
  9. Sembari menunggu test IELTS, saya benar-benar galau karena kondisi saya yang semuanya penuh dengan ketidakpastian. Kemungkinannya sebagai berikut:
    1. Ketika saya test IELTS terus hasilnya dibawah persyaratan (6.5) berarti saya tidak bisa mengajukan pindah kampus ke UQ, kalaupun nilai IELTS saya qualified perpindahan kampus saya belum pasti diterima oleh LPDP karena saya ragu dengan tuition feenya, tuition fee UQ vs SNU sangat beda jauh. Silahkan kalian coba cari tahu, bedanya buanyak banget.
    2. Ketika nanti saya ajukan perpindahan ternyata ditolak oleh LPDP, terus saya harus kemana lagi? makanya saya harus mendaftar kampus lagi, sedang maksimal LoS yang bisa diterbitkan LPDP hanya dua, saya sudah pakai satu untuk UQ, satu lagi saya sudah request LoS ke Kyung Hee University (KHU) walau sayangnya belum bisa digunakan untuk aplikasi Spring 2017, berarti sudah tidak bisa apply selain ke kedua kampus tersebut.
  10. Akhirnya saya pun apply lagi Kyung Hee University untuk periode Fall 2017 yaitu mulai kuliah September 2017. Saya mengirim berkas asli saya lagi di bulan Maret 2017 dan membayar application fee lagi. huhuhu hehe.
  11. Alhamdulillah awal Mei test score IELTS saya keluar dan score saya cukup untuk memenui persyaratan LPDP, tidak lama dari itu langsung saya ajukan surat permohonan pindah kampus ke LPDP dengan Unconditional LoA UQ yang sudah saya defer ke RQ3 (Research Quarter), mulai perkuliahan bulan Juli.
  12. Entah kenapa dengan berkas saya, katanya, biasanya proses pengajuan perpindahan kampus LPDP tidak lebih dari 10 hari kerja, tapi saya sudah tiga minggu hasilnya belum keluar juga. Saya mengajukan surat permohonan pindah kampus ke LPDP tanggal 15 Mei, baru tanggal 5 Juni saya mendapat balasan kalau perpindahan kampus saya disetujui, Alhamdulillah, akhirnya bisa ke UQ. Yang pasti saya harus mengajukan defer lagi ke RQ4 (mulai perkuliahan oktober) karena tidak mungkin cukup untuk mengurus smua hal dalam waktu sesingkat itu, karena berdasarkan web di border Australia untuk pengurusan student visa biasanya memakan waktu 48 hari.

 

Begitulah liku-liku perjalanan menemukan kampus S3 saya, kalau tidak seperti ini mungkin tidak asyiik ya.. Inilah Allah,…

Dari mulai ketar-ketir takut kalau tidak dapat kampus di waktu 1 tahun SK LPDP, Soalnya bulan Februari 2017 saya sudah resign dari kerja, kemudian dari mendapatkan Unconditional LoA tanpa IELTS, tapi ternyata dari LPDPnya harus ada IELTS dan sebagainya. Banyak hal-hal yang membuat sedih tapi di sisi lain juga menarik dan tentunya banyak hikmah dari semua liku-liku ini.

Semoga S3 saya di UQ lancar, saya bisa amanah menggunakan beasiswa dari LPDP ini, dan tentunya semoga saya bisa berkontribusi banyak untuk bangsa ini. Amiin.

Semoga bermanfaat…

Pengalaman Test IELTS dan Tipsnya

Berikut saya langsung copas saja share-sharean saya setelah saya mendapatkan result form IELTS tanggal 13 Mei 2017 di Whatsapp grup ke teman-teman saya. Untuk tulisan saya mengenai dimana saya test IELTS dan kapan bisa dibaca di sini Pengalaman Test IELTS di ILP Cimanggu Bogor 

[4:30 PM, 5/13/2017] A: Hi guys, I am going to share my experience.
[4:31 PM, 5/13/2017] A: I took IELTS test on April 29, 2017.
After I finished the test, I realized that I will lose my mark on Listening and Writing.
Then it really confirmed after I got the result form.
[4:33 PM, 5/13/2017] A: Listening
Section II was really bad, If I am not wrong, it seems I got Scotland accent. Speaker speaks really fast and I have to fill the part name of the building. It was really hard, from 10 questions, there is no answer that I really sure.

Other sections easier but section 4, after test finished, I realized that I have two wrong spelling answers: I wrote ‘chocholate’ instead of ‘chocolate’ :v and wrote ‘habbit’ instead of ‘habit’. I really regret it. I really sure this is because I always use autocorrect feature when I write something in laptop and I never write a note or else with my hand.
[4:34 PM, 5/13/2017] A: Writing
Usually, I only practice for the task 1, such as the graph, table, and pie chart. Unfortunately, the question for the task 1 was a diagram, I have to explain about plastic recycling system. Anyway, for this task, I can handle it.

The problem was task 2. I really can’t get a good idea to answer it, in my opinion, the question is so confusing.
Question: Some people say that what children watch on TV influences their behavior while others say the amount of time children they spend watching TV influences most their behavior.
Two things which I have to compare was quite similar not too contradict, that’s why it made me confused.
[4:35 PM, 5/13/2017] A: Speaking
Examiner was a good person, he tried to make me relax.
the question for task1 was random, hometown, tourism place in my hometown, high school experience, and teacher, etc very random.
task 2 was about favorite weather.
task 3 more detail about the weather in Indonesia, climate change, global warming, ozone layer, greenhouse, etc.
Overall for the speaking, I was satisfied but I only got 6.5 for this section.

[4:36 PM, 5/13/2017] A: Reading
the passages are easy to me, that’s why I got 7 bands for the reading.

 

Bagi saya kalau listening paling susah itu kalau ada orang banyak yang ngobrol misalnya conversation 4 orang (dua cewe, dua cowo) terus nanti di soal diminta ini opini siapa dan siapa, karena memang saya sangat susah untuk membedakan suara cewe dalam hal ini ada dua cewe. Yang kedua adalah IELTS juga menggunakan beberapa aksen, kadang karena saya kurang latihan jadi beberapa aksen saya belum terbiasa udah gitu ditambah ngomongnya cepet ya sudah wasalam.

Persoalan nulis, ini juga mesti diperhatikan teman-teman semua. Kelemahan saya adalah saya tidak terbiasa menulis pakai tangan, karena sudah saking lamanya ngetik dan jarang sekali saya nulis pakai tangan. Selain itu fitur autocorrect yang saya gunakan menjadikan saya kadang tidak tahu kalau selama ini saya punya banyak sekali wrong pronounce. Nah, semga ini bisa jadi bahan pelajaran buat teman-teman semua.

Kalau Speaking, saya memang suka ngomong ceplas-ceplos cuman sayangnya sering salah dan tidak terorganisir. Kalau aksen, aksen English saya adalah English jawa tulen jadi masih meudok banget, lha ngomong bahasa Indonesia saja saya medok apalagi bhs Inggris hehe, tapi kalau aksen sih tdk masalah. Yang saya tahu yg harus dikontrol misalnya kecepatan ngomong, terorganisir atau tidak, bertele-tele apa tidak, penggunaan vocabulary kaya apa tidak, banyak salah grammar apa tidak, salah pronounce apa tidak dsb.

Kalau untuk writing, nah ini yang paling lemah, saya tidak terbiasa nulis tangan, jelas tulisan tangan saya jeuleeek banget. Jadi kalau mau agak bagus nulisnya harus pelan-pelan ya resikonya waktunya jadi terkuras. Intinya kalau dibagian writing ini sempatkan 5 menit untuk buat kerangka apa saja yang mau ditulis, tiap paragraf harus ada main topiknya, supporting topics terus hasil dan kesimpulan. Penggunaan vocab harus kaya, kalimat makin kompleks biasanya makin bagus asal bener grammarnya, terorganisir, jangan mengulang-ulang vocab, parafrasing dari pertanyaan (jangan sekali-kali tulis ulang pertanyaan).

Untuk membaca bagaimana saya belajar dan apa saja yang saya pelajari silahkan bisa dibaca di sini.

Mungkin itu saja semoga bermanfaat…

Pengalaman Test IELTS di ILP Cimanggu Bogor

Saya tinggal di Bogor semenjak menikah karena istri saya waktu itu mahasiswi IPB yang lagi sekripsian. Sehabis istri selesai skripsi sama mertua diminta pindah ke rumah beliau. Jadi akhirnya kami tinggal di PMI (Pondok Mertua Indah) karena persiapan istri mau lahiran. Walaupun Bogor itu Jabodetabek tapi saya tetap merasa bahwa ke Jakarta itu jauh, makanya saya malas kalau harus test IELTS di Jakarta. Setelah saya mendapatkan respon penolakan surat pindah kampus saya dari LPDP seperti yang sudah saya ceritakan di sini, akhirnya mau tidak mau saya harus milih, nyari kampus lagi di negara Korea atau test IELTS, sedangkan penerbiat LoS (Letter of Scholarship) dari LPDP untuk Awardee Luar Negeri hanya terbatas maksimal dua kali dan itu semua sudah aku pakai ke UQ dan ke Kyung Hee University, jadi sudah tidak bisa daftar kampus lain lagi. Jadi mau tidak mau saya harus test IELTS. Penolakan surat permohonan perpindahan LPDP saya itu bulan Februari 2017, setelah itu saya langsung cari-cari tentang test IELTS di Bogor, Alhamdulillah ternyata ada yaitu dari IALF yang kerjasama dengan ILP Cimanggu Bogor.

Sayangnya untuk test IELTS bulan Maret 2017 sudah habis alias kursi sudah penuh, yah lagi-lagi saya harus memilih yaitu ke Jakarta atau test di bulan setelahnya yaitu April. Setelah saya pikir-pikir ya sudah akhirnya saya tetap mendaftar test IELTS di ILP Cimanggu untuk tanggal 29 April 2017. Nah untuk persiapan IELTS saya benar-benar pas-pasan. Walaupun saya lulusan S2 dari Korea yang notabanenya sudah terbiasa dengan bahasa inggris tapi bahasa inggris saya tidak begitu bagus dan yang pasti untuk IELTS itu memang kita harus persiapan. Persiapan agar bisa familiar dengan tipe soalnya, dan setelah saya melihat banyak video mengenai IELTS tips ternyata mengerjakan soal IELTS ada banyak sekali tips-tipsnya dan hal-hal itu tidak bisa saya dapatkan tanpa belajar. Jadi yang mau baca cara belajar IELTS mandiri saya bisa dibaca disini. Ternyata test IELTS di ILP Cimanggu untuk bulan April dipindah ke Hotel Arnava (masih deket dari kantor ILP Cimanggu) karena saat itu di depan ILP Cimanggu sedang ada pengerjaan proyek tol Bogor jadi takut nanti mengganggu peserta test. Kalau dari saya sendiri sih, untuk tempat memang lebih nyaman karena di Hotel, tapi sayangnya untuk penitipan barangnya yang teralalu jauh. Peserta test harus menitipkan barangnya di resepsionis lantai satu, kemudian hanya membawa kartu identitas dan Air minum dengan botol transparan, Testnya di Lantai tujuh. Jadi kalau mau ambil sesuatu di tas jauh banget, soalnya ternyata persiapan sebelum testnya waktunya cukup lama, dari mulai antree foto dan sidik jari terlebih dulu, kemudian ndengerin penjelasan dan aturan test IELTS sebelum masuk ruangan dsb.

Overall, pengalaman yang cukup bagus untuk mengikuti test IELTS di ILP Cimanggu Bogor, tapi saya tidak tahu ya kalau testnya dilaksanakan di gedung ILPnya.

Untuk detail bagaimana soalnya, testnya bagaimana silahkan baca tulisan saya ini.

Tips Belajar IELTS sendiri

Seperti yang sudah saya kemukakan alasan saya kenapa saya begitu menghindari test IELTS tapi pingin melanjutkan S3 di negara yang bahasa ibunya bahasa inggris, alasan terbesarnya adalah kalau saya mau test IELTS berarti saya harus meluangkan waktu, yang pertama untuk persiapan dan latihan biar paham dengan tipe soalnya dan yang paling utama adalah saya harus meluangkan banyak waktu untuk latihan nulis. Latihan nulis di sini ditafsirkan secara tekstual yaitu benar-benar latihan nulis. Dikarenakan saya sangat jarang menulis dengan tangan dan sudah terbiasa ngetik dan memang pada dasarnya tulisannya saya jelek maka sungguh horor ketika ada test dan itu diharuskan tulis tangan.

Tapi apa daya ketika harus dipaksa. Seperti yang sudah saya tuliskan di postingan ini bahwa saya harus mengajukan permohonan pindah kampus ke LPDP karena kampus sebelumnya yang saya pilih ternyata Profnya yang cocok dengan riset saya tidak available untuk membimbing mahasiswa PhD. Saya dapat Prof yang cocok di UQ Australia dan sudah mendapatkan Unconditional LoA tanpa melampirkan sertifikat IELTS, kenapa bisa seperti itu? sudah saya tulis di sini.

LPDP punya kebijakan yang kalau menurut saya seperti tumpang tindih. Ternyata untuk mengajukan permohonan pindah kampus saya tetap harus melampirkan sertifikat IELTS, padahal bukannya sertifikat IELTS itu digunakan untuk mendapatkan Unconditional LoA? Nah, ini memang aturan dari LPDP dan ini aturan administrasi yang tidak bisa diganggu gugat. Kata LPDP saya bisa tanpa IELTS kalau pindah kampusnya masih di negara yang sama dengan negara S2 saya yaitu Korea Selatan. Ketika LPDP bilang kalau ini adalah syarat administrasi yang tidak bisa dinegosiasi karena bisa jadi ketika nanti ada auditor yang mengaudit dan ada berkas saya yang pindah kampus tanpa IELTS nanti akan bermasalah. Jadi ya sudah saya mau tidak mau harus test IELTS.

Dalam waktu yang terbatas, saya langsung mendaftar test IELTS di bulan Februari dan saya mencari venue nya yang di Bogor yang sekota karena kalau ke Jakarta walaupun dari Bogor tetap saja repot. Ternyata di Bogor ada ILP Cimanggu yang bekerjasama dengan IALF yang mengadakan test IELTS, sayangnya saya tidak bisa test di bulan Maret karena quota sudah penuh, quota yang masih tersedia di bulan April tanggal 29, ya sudah saya akhirnya mendaftar test IELTS tersebut.

Selama selang waktu itu saya belajar sendiri yaitu

  1. Latihan soal dengan buku Cambridge 1-11
  2. Dengerin video tips IELTS dari LIZ.
  3. Baca-baca postingan di IELTSadvantage.com
  4. Baca-baca example answer di beberapa blog terutama untuk IELTS writing answer example.
  5. Dan yang paling sering saya lakukan adalah latihan nulis, berusaha memperbagus tulisan saya tapi jujur saja jadi lama banget saya nulisnya, hehe.

Bagi yang masih single saya sarankan segera ambil test IELTS tapi ya persiapan dulu, kalau sudah berkeluarga tentu beban akan makin banyak hehee.

Untuk detail mengenai tips untuk mengerjakan soal IELTS bisa dibaca di sini

 

Semoga bermanfaat