Perbedaan kuliah di Korea dengan di Australia – Memilih Pembimbing

Di tulisan ini sayang ingin membahas khusus tentang Supervisor! untuk yang lain (seperti kondisi kampus, lingkungan, dsb) nanti ditulisan selanjutnya…

Saya sudah lama tidak posting di blog ini, apalagi posting mengenai perkuliahan dan aktifitas saya di Brisbane ini. Padahal saya saat ini sudah 9 bulan menjalani masa PhD hehe. Hari ini saya merasa suntuk dengan pekerjaan (riset) jadi buat ngilangin kesuntukan, saya mencoba untuk posting tulisan di blog ini. Semoga tulisan saya ini bermanfaat!

Intinya saya cukup beruntung karena diberi kesempatan oleh Allah bisa kuliah S1 di UIN Jogja, kemudian bisa menyelesaikan S2 di Chonnam National University, Korea dan sekarang sedang melanjutkan S3 di Data Science, The University of Queensland, Australia. Nah, saya menulis ini sebenarnya juga karena ada beberapa yang tanya ke saya mengenai plus minus kuliah di Korea dan di Australia. Tapi untuk postingan kali ini saya fokuskan lebih tentang superviosr. Tulisan ini nanti bisa buat gambaran buat teman-teman yang berencana untuk melanjutkan ke luar negeri. Hanya saja perlu diketahui bahwa ini hanya berlaku untuk case saya ya, hanya sebagai penambah referensi, tentu sama-sama di Australia tapi beda kampus, beda professor, tentu akan sangat berbeda, apalagi Australia begitu besar. Begitu juga di Korea, beda kampus, beda professor, tentu akan berbeda. Jadi intinya tulisan ini bisa buat nambah referensi tapi bukan untuk mengeneralisir.

Sejujurnya, walaupun jurusan saya S1 teknik informatika, S2 di computer engineering dan S3 di data science, sama-sama masuk di program “computer” tapi sebenarnya konsentrasi saya tidak begitu linear. Dulu waktu S1 semester awal saya sangat suka sekali dengan network security sampai-sampai saya bisa masuk ke semua server kampus #ups hehehe, kemudian di pertengahan semester suka sekali dengan AI khususnya computer vision dan melakukan penelitian dengan dosen dengan topik deteksi gampar porno dengan image processing dan machine learning. Eh di semester akhir saya sukanya main Android dan seputaran mobile computing. Setelah diterima S2 di korea, saya menjadi mahasiswa sekaligus peneliti di Advanced Network Lab di Chonnam dg fokus riset di bidang Ubiquitous computing dan diakhir-akhir tahun S2 lebih ke data mining yaitu modeling human behavior dari smartphone log. Baik S1 dan S2 saya memang terbiasa dengan implementasi atau lebih ke applied dan engineering, saya kurang tertarik dengan science dan novelty karena memang sejujurnya novelty di informatika berarti background matematika harus kuat sedangkan saya cukup kurang di matematika.

Lah dalah, kersaning Allah, saya memberanikan diri untuk ambil S3 di data science UQ (data and knowledge engineering)  dengan memilih supervisor yang masih muda (“Senior Lecturer” equivalent dg associate professor klo di USA) yang beliau lama berkarya di University of Pittsburgh, alasannya sih biar greget hehe. alhasil dari awal S3 ini sampai sekarang saya puyengnya bukan main hehehe. Nah jadi langsung saya buat point-point saja ya.. berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang biasanya saya dapatkan.

  • S2 dan S3 saya sama-sama by research jadi mungkin saya cukup bisa mengkomparasikan, tapi tetap saja tidak bisa digeneralisir. Professor/supervisor saya waktu S2 di Korea adalah professor senior, jadi klo proyek mah datang terus ke beliau, hanya saja karena sudah senior beliau kurang begitu butuh “kum” atau apa ya, intinya dari segi jabatan beliau sudah tak begitu butuh mahasiswanya untuk berjuang mati-matian submit publikasi. Tapi tetep saja harus publish karena untuk keberlangsungan lab nya (karena dari kampus/departement punya target bahwa lab harus punya publikasi minimal berapa tiap semester). Alasan lain professor senior pingin publish paper mungkin kalau beliau pingin jalan-jalan, bangun relasi, jadinya submit ke conference, dan kita juga akhirnya ikut jalan-jalan hehe.
  • Punya Professor SeniorPlus: Tekanan dari supervisor tidak begitu keras, budget biasanya banyak di lab dari grant-grant karena professor senior jelas sudah punya nama. Minus: Beliau biasanya kurang dalam hal membimbing kita karena kesibukan relasi, dan karena sudah senior dan dari sisi jabatan sudah diatas jadi motivasi untuk menjadikan anak-anaknya bisa submit di jurnal2 bereputasi kurang kuat karena mungkin beliau sudah tidak begitu butuh tapi kitalah yang butuh hehee.
  • Hal itu cukup berbeda dengan kondisi sekarang saya saat ini. Saya memang dengan sengaja memilih supervisor yang muda, sudah gitu background beliau dari pure computer science dan dari US, ya beginilah jadinya hehee, awal2 meeting langsung berurusan dengan equation hahaa. Dulu padahal pas di Korea sangat kental dengan budaya pali-pali nya (cepat-cekatan) dan workaholic nya, terus pingin ke Australia dengan ekspektasi mungkin akan lebih nyantai, eh tapi nyatanya hehehe.. ya beginilah. Nanti akan ada tulisan-tulisan saya tentang jerih payahnya saya memulai PhD di UQ ini. Dari mulai merasa diri ini adalah makhluk paling bodoh di dunia, sampai…….. ya begitulah. Persis 100 % di PhD comics haha.
  • Punya Supervisor yang masih mudaPlus: Jadi belajar banyak, benar-benar bisa membimbing dan mengarahkan, sangat memperhatikan details. Minus: Tekanan dari supervisor sangat keras, publikasi oriented di top tier conference dan jurnal karena ini juga untuk karir beliau, PhD terasa panas, dunia seakan-akan sangat kejam!!! hahaha, ekspektasi tinggi, mungkin juga kurang sabar karena beliau masih muda dan tidak seperti supervisor yang sudah senior yang rata-rata sudah sangat banyak membimbing mahasiswa yang berbeda-beda.
  • Kalau masalah Korea vs Australia, yang berasa berbeda adalah culture nya. Korea punya kultur yang cukup menghargai senior alias kultur senioritasnya masih cukup kental, jadi waktu saya S2 di sana yangmana supervisor saya adalah professor yang senior di kampus tentu ini ada nilai positif buat saya hehe. Sedangkan di Australia, jelas kulturnya adalah kultur barat. Wong manggil supervisor kita aja langsung nama tak ada embel2 nyebut professor. Kalau di Korea dulu saya manggir professor saya ya prof. Klo disini sekarang ya langsung sebut nama, mau beliau beda jauh umurnya sama kita tetap langsung panggil nama hehe. Kemudian di sini (Australia) juga tak ada kultur senioritas, jadi ya semuanya setara ketika berargument mau yang udah senior maupun tidak ya sama bahkan mahasiswa dan professor juga sama.

 

Nah begitulah, jadi bagi teman-teman yang mau ambil S2 by research atau mau ambil PhD, sekarang jadi punya referensi kan, apakah mau pilih supervisor yang sudah senior dengan jabatan yang sudah tinggi di kampus atau supervisor yang masih muda dan idealis hehe. Tapi tentu tulisan saya di atas tidak bisa untuk mengeneralisir, tentu semuanya tergantung pada supervisor masing-masing. Ada kok walaupun sudah senior tapi tetap ngejar-ngejar dan nge-push mahasiswanya, ada juga yang walaupun masih muda tapi style nya santai. Jadi begitulah, ada yang mau ditanyakan? silahkan tanyakan di kolom komentar.

 

Sampai ketemu ditulisan-tulisan saya berikutnya..

Salam dari Brisbane

Rischan Mafrur

Advertisements