S3 di Australia dengan Beasiswa LPDP

Saya mempunyai satu halaman yang berisi mengenai langkah-langkah mendaftar beasiswa LPDP termasuk tips membuat essay kontribusiku untuk negeri, essay sukses terbesar bahkan tips ketika LGD dan menulis essay on the spot dan ketika menghadapi reviewers saat interview. Silahkan bisa mengakses halaman ini untuk melihat daftar tulisan saya yang terkait LPDP.

Jika teman-teman membaca tulisan saya mengenai S3 ku mau kemana? tentu teman-teman tahu mengenai awal mula pilihan kampus S3 saya. Pada awalnya sebenarnya saya mendaftar kampus di SNU (Seoul National University) alasannya karena memang sebelumnya saya sudah S2 di Korea jadi saya sudah sangat paham lingkungan dan gaya pembelajaran di sana. Alasan lain adalah SNU termasuk kampus terbaik di Korea bahkan di World rank university juga termasuk kampus peringkat bagus. Tapi saya harus mengurungkan niat saya ke SNU karena Profnya tidak bisa, sebenarnya kalau teman-teman baca tentang interview saya dengan reviewers bisa terlihat bahwa saat interview pun saya sudah bilang bahwa saya tidak mungkin lanjut di SNU, saya harus pindah kampus karena blabla bla..

Setelah SNU, pilihan selanjutnya adalah Kyung Hee University, hanya saja sayangnya KHU ini dari sisi world rank jauh sekali jika dibandingkan dengan SNU dan persoalan lain adalah KHU ini sudah tidak masuk dalam list kampus LPDP mulai tahun 2017.

Berikut liku-liku perjalanan pencarian kampus S3 saya dengan beasiswa LPDP.

  1. Saya mendaftar LPDP tanpa membawa LoA kampus, dan setelah diterima pun saya belum diterima di kampus manapun. LPDP memberikan waktu satu tahun, jadi kalau lebih dari satu tahun saya tidak dapat kampus maka SK gosong alias dengan sendirinya beasiswanya hangus.
  2. Ketika dinyatakan diterima LPDP sebenarnya saya langsung apply ke Kyung Hee (KHU) untuk periode Spring 2017 yaitu mulai perkuliahan Maret 2017. Untuk mendaftar kampus di Korea kita harus bayar application fee, kalau tidak salah sekitar 127.000 won atau sekitar 1,5 juta. Jadi lumayan hehe. Persoalannya sampai penutupan pengiriman berkas, saya belum bisa request LoS (Letter of Scholarship) dari LPDP karena saat itu SIPENDOB (sistem untuk merequest LoS) masih error. Akhirnya aplikasi saya failed.
  3. Karena failed saya pun akhirnya bingung. Sistem pengiriman aplikasi di Korea sangat berbeda dengan negara di UK atau Australia. Di Korea rata-rata pengeriman aplikasi harus dokumen asli (legalisir) dikirim via pos. Dan tidak bisa mengajukan defer, ketika ada suatu hal dan kita tidak bisa mulai kuliah di term yang kita daftar dan kita ingin mengajukan menundaan kuliah itu tidak dimungkinkan. Jadi harus re-apply ulang lagi alias harus kirim dokumen lagi dan bayar application fee lagi.
  4. Akhirnya saya sambil cari solusi lain karena harapan bisa berangkat Maret 2017 ke KHU sudah putus, yaitu nyari kampus di luar Korea, saya akhirnya menemukan Prof yang cocok dengan riset saya di Data and Knowledge Engineering (DKE), The University of Queensland (UQ) Australia. Saya sebenarnya menemukan juga di UK tapi saya tahu ada kabar kalau mulai 2017 pengajuan perpindahan kampus diperketat terutama persoalan tuition fee, sedangkan tuition fee di kampus-kampus UK mengerikan, dan selain itu memang untuk saat ini saya kurang prefer ke UK karena ada beberapa yang harus saya lakukan jadi saya lebih prefer untuk mencari kampus yang deket ke Indonesia. Akhirnya UQ lah yang saya pilih.
  5. Ternyata untuk apply ke UQ saya tidak perlu IELTS, saya benar-benar tak menyangka kalau tanpa IELTS saya bisa mendapatkan Unconditional LoA yaitu karena memang saya qualified. Karena jujur saja, saya memang agak anti dengan IELTS karena beberapa alasan. Silahkan bisa baca kisah selengkapnya bagaimana caranya mendapatkan Unconditional LoA tanpa perlu sertifikat IELTS dan alasan saya kurang suka dengan IELTS.
  6.  Sayangnya di UQ assessment nya lama sekali, biasanya hanya butuh waktu maksimul 1 bulan tapi ini harus 3 bulan, saya masih inget, saya apply sejak akhir tahun 2016 tapi baru keluar Unconditional LoA nya bulan Februari 2017. Itu dikarenakan ada hal yang berkaitan dengan beasiswa ADS dari pemerintah Australia yang merequest ke UQ dan harus di assessment di waktu itu juga. Sehingga saya harus menunggu sampai itu selesai baru dokumen saya bisa di assessment.
  7. Setelah saya mendapatkan Unconditional LoA UQ, saya mencari info-info mengenai perpindahan universitas LPDP, ternyata memang kabarnya mulai 2017 LPDP cukup ketat dalam hal perpindahan universitas. Termasuk dalam hal ini tuition fee sangat dipertimbangkan yang kalau sebelumnya asalkan world rankingnya lebih bagus alasannya make sense kemungkinan besar disetujui tapi sekarang beda. Akhirnya mau tidak mau saya harus meminta beberapa surat rekomendasi ke beberapa pihak untuk menguatkan alasan pindah universitas saya. [Silahkan bisa dilihat contoh surat pengajuan perpindahan universitas saya di sini]
  8. Setelah semua lengkap, saya ajukan surat perpindahan kampus saya ke LPDP, masih di bulan Februari. Ternyata surat saya ditolak dikarenakan saya tidak melampirkan sertifikat IELTS. Padahal saya sudah mendapatkan Unconditional LoA yang mana IELTS itu diperlukan untuk memperoleh Unconditional LoA. Sungguh bener-bener stuck waktu itu. Mau tidak mau akhirnya saya pun ambil test IELTS dengan persiapan yang sangat pas-pasan dan dalam waktu yang cukup mepet.
  9. Sembari menunggu test IELTS, saya benar-benar galau karena kondisi saya yang semuanya penuh dengan ketidakpastian. Kemungkinannya sebagai berikut:
    1. Ketika saya test IELTS terus hasilnya dibawah persyaratan (6.5) berarti saya tidak bisa mengajukan pindah kampus ke UQ, kalaupun nilai IELTS saya qualified perpindahan kampus saya belum pasti diterima oleh LPDP karena saya ragu dengan tuition feenya, tuition fee UQ vs SNU sangat beda jauh. Silahkan kalian coba cari tahu, bedanya buanyak banget.
    2. Ketika nanti saya ajukan perpindahan ternyata ditolak oleh LPDP, terus saya harus kemana lagi? makanya saya harus mendaftar kampus lagi, sedang maksimal LoS yang bisa diterbitkan LPDP hanya dua, saya sudah pakai satu untuk UQ, satu lagi saya sudah request LoS ke Kyung Hee University (KHU) walau sayangnya belum bisa digunakan untuk aplikasi Spring 2017, berarti sudah tidak bisa apply selain ke kedua kampus tersebut.
  10. Akhirnya saya pun apply lagi Kyung Hee University untuk periode Fall 2017 yaitu mulai kuliah September 2017. Saya mengirim berkas asli saya lagi di bulan Maret 2017 dan membayar application fee lagi. huhuhu hehe.
  11. Alhamdulillah awal Mei test score IELTS saya keluar dan score saya cukup untuk memenui persyaratan LPDP, tidak lama dari itu langsung saya ajukan surat permohonan pindah kampus ke LPDP dengan Unconditional LoA UQ yang sudah saya defer ke RQ3 (Research Quarter), mulai perkuliahan bulan Juli.
  12. Entah kenapa dengan berkas saya, katanya, biasanya proses pengajuan perpindahan kampus LPDP tidak lebih dari 10 hari kerja, tapi saya sudah tiga minggu hasilnya belum keluar juga. Saya mengajukan surat permohonan pindah kampus ke LPDP tanggal 15 Mei, baru tanggal 5 Juni saya mendapat balasan kalau perpindahan kampus saya disetujui, Alhamdulillah, akhirnya bisa ke UQ. Yang pasti saya harus mengajukan defer lagi ke RQ4 (mulai perkuliahan oktober) karena tidak mungkin cukup untuk mengurus smua hal dalam waktu sesingkat itu, karena berdasarkan web di border Australia untuk pengurusan student visa biasanya memakan waktu 48 hari.

 

Begitulah liku-liku perjalanan menemukan kampus S3 saya, kalau tidak seperti ini mungkin tidak asyiik ya.. Inilah Allah,…

Dari mulai ketar-ketir takut kalau tidak dapat kampus di waktu 1 tahun SK LPDP, Soalnya bulan Februari 2017 saya sudah resign dari kerja, kemudian dari mendapatkan Unconditional LoA tanpa IELTS, tapi ternyata dari LPDPnya harus ada IELTS dan sebagainya. Banyak hal-hal yang membuat sedih tapi di sisi lain juga menarik dan tentunya banyak hikmah dari semua liku-liku ini.

Semoga S3 saya di UQ lancar, saya bisa amanah menggunakan beasiswa dari LPDP ini, dan tentunya semoga saya bisa berkontribusi banyak untuk bangsa ini. Amiin.

Semoga bermanfaat…

Mendapatkan unconditional LoA di kampus Australia tanpa IELTS

Bagi para pencari beasiswa Unconditional LoA adalah salah satu yang paling ia cari. Unconditional LoA (Letter of Aceptance) adalah surat yang menyatakan bahwa mahasiswa tersebut sudah diterima di kampus yang bersangkutan tanpa syarat. Saudara tirinya Unconditional LoA adalah Conditional LoA yang berarti diterima dengan syarat misalnya ketika apply ke kampus tapi belum melampirkan sertifikat IELTS jadi akan dapat Unconditional LoA jika dan hanya jika mahasiswa tersebut sudah melampirkan sertifikat IELTS dengan nilai yang sesuai dengan requirements.

Bagi mahasiswa yang daftar master program dan hanya course based itu tentu lebih mudah untuk mendapatkan LoA, tinggal melihat apa saja yang harus di submit, tinggal penuhi semua requirements kemudian submit tanpa perlu mencari Professor terlebih dahulu. Semuanya biasanya dilakukan online, standard requirement biasanya untuk master ya personal statement, CV, transcript, study plan, recommendation letter dari dua references, sertifikat kemampuan bahasa dan mungkin ada tambahan lainya. Untuk awal bagaimana pencarian kampus S3 saya bisa dibaca di sini

Bagi saya yang dulu mendapatkan beasiswa riset di Korea ketika S2 dan tentu karena saya teknik dan namanya juga beasiswa riset jadi saya harus riset. Requirement ketika saya mendaftar cukup berbeda dari yang mau apply program master yang course based (hanya kuliah tanpa riset). Saya harus berkiriman CV dengan Profesor terlebih dahulu dalam artian mencari Profesor yang risetnya cocok dan menawarkan beasiswa. Selain itu saya juga diminta membuat proposal riset dan study plan juga.

Nah, beda halnya dengan S3. Sepertinya jarang ada S3 yang menawarkan program yang hanya course based dan sepertinya aneh saja kalau PhD tanpa riset. Bagi para pencari beasiswa yang mau apply S3 maka mau tidak mau harus repot mencari Profesor yang cocok terlebih dulu, biasanya juga diminta untuk mengirimkan CV dan proposal riset kepada Prof terlebih dahulu.

Untuk kasus saya ketika saya apply program RHD (Research Higher Degree) di The University of Queensland saya harus mencari Profesor yang cocok dengan riset saya terlebih dahulu. Bagi saya yang S2nya sudah riset seperti ini ada plus minusnya. Plusnya saya sudah mempunyai beberapa publikasi baik journal maupun prosiding konference dengan skala internasional, tentu ini akan lebih meyakinkan Profesor. Persoalannya riset saya itu scope-nya sempit maka untuk mencari Profesor yang benar benar cocok itu yang jadi masalah.

Persyaratan lainnya seperti persyaratan admisi kampus pada umumnya, seperti transcript, sertifikat bahasa dan sebagainya. Seperti yang sudah saya tulis di Judul, saya tidak perlu melampirkan sertifikat IELTS untuk dapat unconditional LoA di The University of Queensland (UQ). Kenapa, kok bisa seperti itu?

Sebenarnya ini juga sama ketika saya mendaftar beasiswa LPDP, saya tidak perlu melampirkan sertifikat IELTS pula.

Untuk yg apply UQ, Alasannya karena sebelumnya pendidikan S2 saya di luar negeri yang bahasa pengantarnya bahasa inggris dan saya punya pengalaman satu tahun bekerja di common wealth country (Cape town, South Africa) dan tentunya saya punya publikasi yang cukup banyak dan menarik untuk level lulusan S2.
Saya benar-benar baru nyadar ternyata untuk apply di kampus Australia, saya bisa mendapatkan Unconditional LoA tanpa melampirkan IELTS. Alasan saya agak malas untuk test IELTS adalah karena saya harus belajar, karena untuk test IELTS saya harus meluangkan waktu persiapan, karena harus paham dengan tipe soalnya terlebih dahulu, selain itu alasan yang paling pokok adalah di IELTS ada writing dan itu handwriting padahal tulisan saya jueelek banget bahkan saya pun kadang tidak bisa membaca tulisan saya sendiri, hahaha 😀