Hal-hal yang harus diurus sebelum memulai studi PhD di Australia

Setelah sekian lama tidak menulis karena Sibuk (*sitik-sitik bubuk), alhamdulillah saya ada waktu dan mood untuk menulis lagi. Berikut adalah tulisan sebelumnya tentang hal-hal yang perlu di urus setelah sampai di Australia (seperti lapor diri, buat akun bank, beli simcard, beli go card/kartu transportasi, dan sebagainya yang berkaitan dengan kehidupan di Australia, khususnya Brisbane).

Untuk tulisan kali ini, saya ingin menulis mengenai hal-hal apa saja yang terkait dengan studi/kampus yang harus di urus setelah sampai di Australia, dalam hal ini khususnya di The University of Queensland. Tapi saya rasa ini akan sama di kampus manapun (kampus Australia) karena mereka punya standard CommonWealth. Jadi InsyaAllah bagi yang tertarik untuk studi di Australia, ini bisa jadi salah satu referensinya.

Tapi yang perlu diketahui, untuk kasus saya ini adalah studi PhD/S3, jadi bagi yang studi S2/master pasti sedikit berbeda. Baik, begini apa saja dan langkah-langkahnya yang perlu dilakukan untuk mulai studi di UQ.

Model S3 di sini per research quarter (RQ), satu tahun ada 4 research quarter, silahkan bisa dilihat di gambar di bawah ini:

LoA saya tadinya RQ3 tapi karena ada satu lain hal, saya request defer ke RQ4, jadi sesuai dengan tanggal untuk RQ4 itu mulai studinya Oktober, nah maksimal commencement date itu tgl 14 Oktober. Jadi saya bisa datang kapan saja sebelum tanggal 14 Oktober.

Setelah sampai di UQ, saya kontak RHD (Research Higher Degree) admin, dan menyampaikan bahwa saya sudah sampai di UQ, oya.. dari Bandara Brisbane ke UQ ada fasilitas penjemputan gratis juga lho, tapi harus daftar dulu, lumayan lho kalau pakai taksi ongkosnya bisa 80 AUD. Intinya, jangan datang mepet kan, tentu harus ngurus tempat tinggal dan sebagainya kan? buat akun bank, dan keperluan lainnya seperti di tulisan saya sebelumnya.

Setelah kontak dg RHD admin, nanti akan dikirimi email terkait dengan jadwal induksinya kapan, kebetulan oktober 2017 ini, tgl 1 nya hari sabtu, tanggal 2 minggu, tanggal 3 hari libur Queensland. Jadi  induksinya hari selasa tanggal 4 Oktober. Kita nanti ditempatkan di satu ruangan bareng-bareng dengan calon mahasiswa PhD yang lain tapi masih dalam satu school. Di situ diterangkan mengenai banyak hal, dari mulai bagaimana sistem PhD di sini dan sebagainya. Intinya yang diterangkan di induksi itu kurang lebih bisa dibaca di sini (UQ get started)

Semuanya sudah lengkap dari mulai apa saja yang harus dilakukan di minggu pertama, bulan pertama, tahun pertama dan sebagainya. PhD di sini dibagi jadi 3 periode, yang pertama yaitu setelah commencement sampai satu tahun pertama. Di akhir tahun pertama ada “konfirmasi” di sinilah nanti kami di sidang terbuka ada panelisnya, menyampaikan apa saja yang sudah dilakukan selama satu tahun dan apa saja yang mau dilakukan kedepan. Jadi nanti publik juga bisa bertanya, dan nanti akan dinilai apakah layak dinyatakan sebagai PhD candidate apa tidak, kalau tidak lolos gimana? ya ngulang konfirmasinya hehe. Kalau lolos, alhamdulillah, akan resmi jadi PhD candidate. Setelah itu nanti ada “mid-term” yaitu di akhir tahun kedua, sama, sidang lagi, nanti apakah layak untuk lanjut ke step berikutnya apa tidak. Dan yang terakhir nanti di akhir tahun ketiga adalah “thesis review” di sini nanti dibahas thesis PhD nya ini layak untuk di submit apa tidak, setelah thesis review biasanya ada waktu 3 sampai 6 bulan untuk memperbaiki thesisnya, kemudian setelah itu submit thesis ke graduate school. Nanti graduate school akan mengirimkan thesis itu ke reviewer yang mana reviewernya dari kampus TOP lain di dunia atau dari company TOP dunia, misal temen saya kemaren thesisnya di review oleh Prof di Cambridge sama satunya lagi reviewernya adalah engineer di salah satu perusahaan besar di German. Nanti tinggal tunggu saja respon dari reviewer apakah layak apa tidak. Ini yang jadi penentu lulus PhD apa tidak hehe. Kalau perlu revisi ya direvisi, dan semoga besok kedepan saya lancar amiin. Jadi selama ini di UQ tidak ada sidang thesis doktoral terbuka gitu tidak ada, tapi ya tadi ada konfirmasi, mid-term, sama thesis review. Kabarnya nanti akan ada sidang terbuka terakhir gitu, tapi saya belum tahu itu benar apa tidak. Setelah diterangkan panjang lebar seperti di atas ini ketika induksi, kemudian kita diminta untuk mengisi commencement form, yang mana nanti setelah submit berarti resmi jadi mahasiswa UQ.

Wah malah ngelanjur njelasin panjang lebar, oke. Intinya setelah commencement, berarti resmi jadi student di UQ.

  1. Langkah selanjutnya adalah menunggu email, biasanya tidak sampai lebih dari tiga hari kerja. Di email itu nanti ada akun username dan password sementara, untuk student mail (@uq.net.au) dan kalau mahasiswa S3 nanti dapat email staff juga (@uq.edu.au). Setelah dapat student email, nanti login di my-SI-net dan melengkapi data di situ, termasuk data yang WAJIB dilengkapi adalah nomor HP dan alamat di Australia.
  2. Setelah, data di my-SI-net sudah lengkap tinggal datang saja ke building tempat mengurus student card, semua informasi yang di email ke kita itu lengkap, dari mulai pengurusan apa saja termasuk dimana mengurus student card. Tinggal datang aja dan tidak sampai 2 menit kok, wong tinggal duduk, difoto dan langsung jadi student cardnya.
  3. Setelah jadi student cardnya, nah bisa apply concession buat go-cardnya, jadi lumayan kan dapat diskon 50 % untuk naik bus, ferry, kereta dan sebagainya.
  4. Oya jangan lupa OSHC card, kartu asuransi, ini bisa diurus setelah kita dapat alamat permanen di australia, ya alamat rumah, tinggal login aja ke website allianz karena UQ bekerjasama dg perusahaan itu. Udah tinggal login pakai akun student UQ dan password tanggal lahir, nanti password bisa diganti, di website tersebut tinggal lengkapi data, termasuk nomor australia, dan alamat lengkapnya. Kemudian request OSHC card, nanti kartu akan dikirim ke rumah maksimal 5 hari kerja.
  5. Di my-Si-net juga nanti akan terlihat tagihan-tagihan apa saja yang harus dibayar dan log pembayaran apa saja yang sudah dibayar, jadi bagi yang dapat scholarship nanti dilihat saja di lognya, kelihatan sudah bayar belum untuk RQ ini. Nah salah satu yang harus dibayar oleh student adalah biaya Student Services Amenities Fee (SSAF) dan itu tiap RQ harus bayar, nomilanya sekitar 70an AUD. Oya ini bisa di reimburse ke scholarship provider. 

Nah bagian ini nih yang menurut saya luar biasa dan harus di contoh oleh kampus-kampus di Indonesia:

  1. Ketika Induksi nanti kita akan dibagikan formulir OHS (Occupational Health and Service) karena memang safety itu yang paling utama, jadi nanti formulir OHS itu di isi bareng-bareng sama supervisor, termasuk nanti diajak jalan-jalan di lorong building, ngeliatin dimana pemadam api, dan sebagainya. Setelah itu mahasiswa juga wajib mengerjakan tiga modul OHS secara online (soalnya pilihan ganda), dan harus lulus minimal 80 %. Tiga modul itu: General workplace safety, Fire safety, dan Code of Conduct. Oya kalau tidak lulus, bisa diulang sampai tidak ada batasnya yang penting bisa lolos lebih dari atau sama dengan 80%
  2. Selain itu juga ada Workerlist, yang mana juga diisi bareng sama supervisor, jadi kalau yang bekerja nanti ada kaitannya dengan animal, atau dengan manusia, nanti sama supervisor bakal ditanya udah paham belum ethic kerja/penelitian di bidang ini. Kalau saya krn jurusannya Computer jadi ya ndak ribet-ribet amat.
  3. Yang paling keren adalah, Research and integrity module, nanti di my-SInet ada modul yang harus dikerjakan, ada dua modul sih, yang pertama isinya quiz  yang cukup mudah untuk dikerjakan, topiknya tentang plagiarism, bagaiman cara mengutip, apa saja yang termasuk plagiarisme, sanksi apa saja yang akan didapat jika ketahuan menjiplak, apa itu kolaborasi dalam penelitian, apa bedanya kolaborasi dan kolusi, sanksi apa saja yang akan didapat jika melakukan kolusi dalam penelitian bersama. Nah yang pertama ini saya sudah lulus karena cukup mudah. Yang kedua, itu yang versi panjang termasuk disitu materi tentang research ethic and code of conduct yang banyak banget materinya yang harus dibaca. Ketentuannya juga sama minimal 80% baru bisa lulus, dan kalau yang kedua ini sifatnya wajib seperti OHS module yang tiga di atas.
  4. Setelah semuanya selesai, nanti akan dapat email untuk hadir orientasi, biasanya sebulan setelah commencement date, orientasi saya besok insyaAllah tanggal 14 November 2017.
  5. Ini RHD checklist, jadi bisa dilihat apa saja yang harus dilakukan di minggu pertama, bulan pertama, dengan checklistnya

Yang terakhir, biasanya butuh maksimal 1 minggu dari commencement bagi mahasiswa S3/PhD untuk dapat office, yaitu meja kerja beserta seperangkat komputer. Saya baru dapat sekitar minggu ke dua bulan Oktober. Selain itu student card kita juga sudah otomatis bisa buat buka pintu office. Oya modelnya juga tiap school ada share dapur(isinya standard, meja kursi tempat makan, microwave, pembuat copi, kulkas dan sebagainya), ada beberapa ruang share printer (printer room), dan student card kita otomatis diberi akses ke beberapa ruangan yang memang kita punya akses. School saya ITEE, yaitu di building 78, persis di samping UQ lake, jadi saya kalau berdiri liat jendela pemandangannya masyaAllah…  gambar dibawah ini pemandangan dari jendela meja saya.

 

Mungkin sekian dulu tulisan saya, semoga bisa bermanfaat, bagi yang males baca mau tahu tentang studi di Australia, saya ada nih videonya… silahkan bisa disaksikan

Advertisements

Perjalanan ke Australia

Di tulisan ini saya akan berbagi pengalaman pertama saya ke Australia yaitu brangkat untuk S3 saya di The University of Queensland.

Dulu saya memang tidak memilih untuk kuliah di Perth, Sydney, atau Melbourne tapi memilih di Brisbane karena beberapa hal, ya yang pertama jelas dapat Profnya di UQ di Brisbane, selain itu setelah review-review untuk kondisi cuaca di Australia sih memang paling enak di Brisbane yaitu tidak terlalu ekstream. Dulu saya waktu belum pernah melihat salju, wah rasanya pingin sekali lihat salju. Dulu saya brangkat ke Korea untuk S2 saya September 2013 yaitu di sana pas musim gugur (fall), pemandangan yang sangat indah, dan saya berharap cepat-cepat winter agar bisa main dengan salju dan memang terbukti sekarang saya lancar sekali bermain snowboard hehe.

Kalau mau lihat salju di Korea silahkan bisa menikmati video winter terakhir saya di Korea di bawah ini.

Tapi ternyata salju itu enak dipandang tapi tidak enak dirasa, itu menurut saya sih. Dinginnya minta ampun, kulit saya pecah pecah, telinga harus ditutup penutup, dan yang jelas malas untuk beraktifitas, maunya di dalam ruangan yang ada pemanasnya, sambil tiduran, streamingan, dan selimutan haha.

Eh malah ngomongin winter di negeri orang jadinya. Intinya setelah saya baca-baca Brisbane untuk cuaca tidak terlalu ekstream dibanding 4 kota di Australia yang sudah saya sebutkan di atas.

Kembali ke topik, sebelum berangkat saya sudah siap-siap belanja berbagai keperluan ya seperti pasta gigi, sabun cair, deodoran, shampoo, yang banyak, yang jelas beli Koper baru. Saya terbang menggunakan maskapai Qantas (CGK- Sydney (transit) – BNE (Brisbane)) dan karena visa saya student jadi saya dapat bagasi 40 kg.

Bagi teman-teman yang mau ke Australia dan untuk pertama kalinya harap untuk memperhatikan barang-barang bawaan. Satu hari sebelum saya berangkat saya mau dimasakin rendang dan kering tempe untuk dibawa di koper, sebelum-sebelumnya saya memang sudah googling juga perihal BARANG-BARANG YANG TIDAK BOLEH DI BAWA KE AUSTRALIA. Rendang masuk ke dalamnya, sebenarnya tak apa sih bawa rendang asal dalam kemasan industri yaitu dalam kaleng dan tidak berbau. Makanan boleh dibawa tapi harus dalam kemasan industri.

Jadi isi koper (bagasi) saya diantaranya adalah:

  1. Baju keperluan sehari-hari termasuk sprei, selimut, kaos kaki, sajadah, dkk
  2. Peralatan mandi (sabun, shampoo, pasta gigi, sikat gigi) jumlahnya banyak hehe
  3. Deodoran, parfum, minyak rambut dkk (dalam jumlah banyak)
  4. Peralatan makan minum (bawa secukupnya)
  5. Makanan (di sini saya tidak bawah makanan tapi bumbu-bumbu yaitu bumbu instan, saus, kecap, boncabe, sambal trasi) semuanya beli ya (kemasan industri)

Isi tas saya hanya laptop, makanan kering buat cemilan, dokumen (buat jaga-jaga saya bawah print visa dan dokumen lainnya) sebenarnya tidak perlu karena visa sudah e visa.

Oya kalau TIKET PESAWAT harus di print ya, jadi jangan sampai lupa, tiket pesawat di print dulu sebelum ke bandara.

Saya berangkat dari Bandara Soekarno Hatta Cengkareng dan rumah saya di Bogor. Tiket saya jam 20:10 terbang. Karena saya takut macet dan tahu sendiri bogor kayak gimana macetnya, saya berangkat dari rumah jam 2 kurang 15 menit ke Pool damri di Botani Sequare, nyampe di pool damri jam 2 dan bis brangkat jam 2:15 kalau tidak salah. Sampai di Bandara CGK jam setengah 5 dan di sana sudah ada daftar pesawat yang mau terbang dan pesawat Qantas yang mau saya naiki sudah membuka layanan check-in. Oya untuk Qantas di CGK yaitu di terminal 2D.

Saya masuk, scanning koper dan tas, lanjut, dan masalahpun terjadi ketika saya check in bagasi. Ini salah saya, karena saya tidak bertanya dulu ke Qantas. Jadi bagasi saya dapat 40 KG itu dengan ketentuan dua koper bagasi, dan maksimal 1 koper bagasi itu beratnya 32 kg. Pas ditimbang di CGK ternyata beratnya 34 kg, harus bongkar deh koper saya. Ambil 2 kg barang taruh tas dan saya jinjing. Untung saja saya tidak penuhin tas gendong saya. Saya pikir ya pinginnya kan 1 koper saja, jadi tidak repot-repot gitu dan yang jelas saya juga cuman punya koper satu hahhaa.

Akhirnya selesai juga checkin dan tinggal nunggu, eh ternyata pas saya nunggu, saya ketemu dengan teman S2 saya dulu di Korea, namanya mas Anton, sekarang dia kerja di Jakartapost dan sedang ada tugas ke Melbnourne, pesawatnya sama, sama-sama transit di Sydney.

Service di Qantas lumayan lah untuk tiket saya yang ekonomi, ya standard, makanan juga standard. Pesawat tepat waktu ketika Boarding jam 19:15 tapi delay 40 menitan pas terbangnya alasannya karena trafik, jadi terbang  jam 9 kurang 15 menit malam padahal jadwalnya jam 20:10.

Pagi hari waktu Syedney, jam 06:15 di hari berikutnya saya mendarat dengan selamat di Sydney. Di Sydney saya harus ambil bagasi, declare, dan pemeriksaan imigrasi padahal saya di Sydney hanya transit. Alasanya adalah karena penerbangan selanjutnya ke Brisbane pakai penerbangan lokal dan di Brisbane sudah tidak ada pemeriksaan lagi.

Oya, tadi ketika di pesawat, anda juga diminta ngisi formulir buat declare, formulirnya seperti ini.

 

Formulir declare bandara Sydney Australia

Declare form ini sudah berbeda dari yang saya dapat di Internet waktu googling, dulu nomor 6 itu “any kind of food” jadi semua makanan harus di declare. Kalau sekarang hanya beberapa jenis makanan saja. Saya juga cukup tergelitik dengan nomor 9 yaitu jika anda bawa sepatu kotor habis main bola dan ada sisa tanahnya maka harus di declare hehe.

Intinya kenapa Aussie begitu ketat persoalan barang bawaan? kabarnya karena di sini kan juga mengembangkan sektor agraria, jadi takutnya orang yang datang bawa bakteri yang bisa membahayakan Australia begitu sih.

Saya sudah sering dapat informasi kalau pemeriksaan di imigrasi Australia itu ketat sekali, terutama terkait dengan barang bawaan. Untuk pengisian formulir, kalau anda ragu sebaiknya pilih yes dan pilih untuk declare daripada nanti repot belakangan. Jika anda bilang No padahal anda bawa barang itu dan ternyata ketahuan oleh petugas imigrasi maka resikonya adalah denda dan dendanya cukup mahal. Yang jelas petugas bandara di sini juga tidak menerima suap hahah.

Berikut ini langkah-langkahnya ketika tiba di bandara internasional Sydney.

  1. Tiba di bandara, ikuti petunjuk saja yaitu bagage claim.
  2. Ikuti petunjuk untuk ambil bagasi.
  3. Sebelum ambil bagasi nanti kita antre dulu di imigrasi seperti bandara pada umumnya, antrean ada yang untuk pemegang paspor australia, paspor bukan australia, dan sebagainya. Silahkan ikut antre yang bukan pemegang paspor australia.
  4. Selain paspor saya sudah menyiapkan e-visa yang saya print dan CoE (Confirmation of Enrollment) dan ternyata hanya paspor yang diperlukan. Paspor juga tidak dicap karena visanya sudah e-visa.
  5. Setelah di ijinkan masuk, udah langsung di depan tempat untuk ngambil bagasi, tunggu bagasi kita ketika ada ya tinggal ambil.
  6. Setelah ambil bagasi siapkan declare form yang sudah di isi tadi.
  7. Tunjukkan declare form ke petugas dan nanti kita akan di arahkan untuk ikut jalur berapa, jadi di situ ada banyak jalur, saya declare “medical herbs” karena saya bawa tolak angin. Dan teman saya mas anton declare “medicine” karena dia bawa promag hehe. kita ternyata pisah jalur.
  8. Pas declare ini ternyata…… Ada anjingnya. Jadi kita nanti maju dengan semua barang bawaan kita, yang maju sekitar 5 orang dengan barang masing-masing, kemudian petugas dengan membawa anjing menyuruh anjingnya menciumi semua barang bawaan orang-orang yang baris. Koper, yang saya jinjing, tas gendong saya, semuanya di endus oleh anjing hitam.
  9. Ibu-ibu di depan saya (* orang china), bawa sesuatu yg di jinjing dan anjingnya kelihatan suka banget, di cium-cium terus dan di cakar-cakar, kemudian petugas mengambil tasnya dan memeriksanya ternyata dia bawa makanan basah (entah apa itu) dan langsung di buang oleh petugas.
  10. Untuk barang-barang saya alhamdulillah lancar.
  11. Setelah selesai declare, kemudian lanjut ikuti petunjuk ke domestic flight (penerbangan domestik).

Ketika check ini bagasi di sini saya dapat masalah lagi. (* oya untuk tiket saya yg Sydney ke Brisbane sudah sekalian di cetak di CGK). Masalahnya adalah di timbangan menunjukkan bagasi saya 33 kg, yang aturannya maksimal 32 kg. Haduh, bongkar lagi deh bagasi saya 😦 Ambil lagi barang 1 kg saya jinjing akhirnya. Selanjutnya tinggal ikuti saja petunjuk dan nanti kita harus naik Bis ke terminal penerbangannya kalau tidak salah terminal 3.

Sudah deh, tunggu dan terbang ke Brisbane dari Sydney. Sampailah saya di Brisbane jam 10:30 dan yang jemput saya sudah menunggu di tempat pengambilan bagasi. Di Brisbane sudah tidak ada pemeriksaan apa-apa lagi.

Oya The University of Queensland memfasilitasi penjemputan untuk new internasional student dari bandara ke tempat tujuan dan itu free. Alhamdulillah, lumayan lah karena kalau biaya sendiri bisa sekitar 80 AUD.
Oke mungkin ini dulu sharing saya, mengenai perjalanan pertama saya ke Australia. Untuk tulisan-tulisan saya yang lain tentang kuliah di australia bisa di akses di sini.

 

Brisbane, 24 September 2017

Meninggalkan keluarga demi S3

Tiga tahun lalu ketika saya masih di Chonnam National University, Korea Selatan, saat itu saya masih di semester dua, lab saya kedatangan tiga mahasiswa baru, dua mahasiswa master dan satu mahasiswa doktor. Beliau yang doktor ini adalah dosen di salah satu kampus terbaik Indonesia, saat itu saya tahu beliau berangkat melanjutkan S3-nya ke Korea dengan meninggalkan keluarganya, istri beliau bahkan baru saja melahirkan, jadi baru punya bayi beberapa bulan umurnya. Saat itu saya hanya berpikir, bagaimana rasanya ya? Saya pun sering sharing-sharing juga dengan beliau. Bahkan ada cerita-cerita lucu dari Beliau, beliau bilang ketika mudik ke Indonesia anaknya sampai tidak tahu sama beliau, tapi ketika beliau ngobrol sama anaknya pakai tablet, anaknya pun baru ngeh kalau itu bapaknya, ya karena biasanya ngomong sama bapaknya pakai tablet. Huhuhu, sedih 😥 . Alhamdulillahnya saya sudah mendapatkan kabar kalau beliau sudah memboyong semua anggota keluarganya ke Korea tahun lalu.

Dulu saat saya masih S1, saya juga pernah sharing-sharing dengan salah satu dosen S1 saya. Saya cukup akrab dengan beliau sehingga beliau sering sharing-sharing tentang pengalaman dulu ketika beliau kuliah di Korea dengan beasiswa KGSP, saat itu beliau dapat beasiswa KGSP untuk program master. Jadi total 3 tahun (1 tahun belajar bahasa, 2 tahun kuliah master), tantangan terberatnya adalah beliau harus meninggalkan anak istrinya di Indonesia, karena saat itu anak sudah sekolah, istri PNS yang tidak ada ijin untuk ikut suami. Saya sedih mendengarkan cerita-ceritanya, bagaimana rasanya meninggalkan anak dan istri di rumah dan harus berjuang di negara lain yang tentu kultur, lingkungan, kondisi akademik jelas sungguh berbeda.

Cerita lain juga sering saya dengar dari salah satu dosen S1 saya juga, yang saat ini beliau jadi wakil dekan. Beliau lulusan S3 ANU (Australian National University). Beliau tidak menceritakan dirinya karena memang beliau dulu S3 di ANU belum berkeluarga, tapi beliau menceritakan beberapa kawannya. Beliau bercerita kalau kawannya, sudah jadi direktur di salah satu persahaan di Indonesia, sudah settle, tapi karena istrinya harus melanjutkan PhD ke inggris, dia rela meninggalkan jabatan itu dan keluar dari perusahaan demi menemani studinya istri di Inggris.

Selain cerita-cerita di atas, ada satu cerita yang sebenarnya malah paling dekat. Mertua saya sendiri, Ust Hasim, beliau dulu S2 dan S3 di Prancis. Beliau juga sering cerita ke kami tentang perjuangan beliau dulu, bahkan beliau bilang ya kalau sekarang teknologi sudah maju, ada WA, Facebook dan sebagainya, bisa video call dan sebagainya. Dulu, hanya pakai telp atau surat. Beliau mertua saya ini juga harus meninggalkan istrinya ketika hamil ke Prancis untuk studinya. Beliau menitipkan istrinya yang pada saat itu masih hamil ke keluarga istrinya. Beliau baru memboyong keluarganya ketika anak pertamanya sudah lahir dan cukup umurnya untuk dibawa. Sampai selesai studi di Prancis, beliau pulang ke Indonesia dengan membawa tiga anak, hehee.

Setelah saya resmi dinyatakan jadi Awardee LPDP, dan resmi dibolehkan untuk pindah kampus ke The University of Queensland, tentu saya bersyukur, senang dan bergembira.

Tapi ketika detik-detik keberangkatan saya ke Australia saya tidak menyangka harus merasakan hal itu juga. Kemarin tanggal 19 September 2017, saya harus meninggalkan istri dan anak saya, Fatiha, yang berusia 8 bulan. Sedih memang, tapi bagaimana lagi. Ada beberapa alasan yang membuat kami memutuskan untuk tidak langsung berangkat bareng diantaranya, saya belum paham medan di sini, istri sekarang sedang prepare IELTS lagi karena test IELTS kemarin skornya masih kurang, setelah ini istri juga mau apply beasiswa juga ke sini (semoga dimudahkan oleh Allah), dan yang terakhir adalah OSHC (Overseas Student Health Cover ).

Persoalan OSHC ini ternyata cukup berat dan saya juga baru paham baru-baru ini. Sistem asuransi bagi internasional student adalah langsung begandengan dengan visa. Jadi syarat di approvenya VISA itu ya harus bayar OSHC, jadi misal saya mau PhD selama 4 tahun, ketika mau apply VISA student doktor maka dihitunglah OSHC nya selama 4 tahun itu dan harus dibayar di awal. Bagi yang menerima beasiswa studi ke Australia, rata-rata beasiswa juga sudah mencover biaya OSHC tapi ya hanya bagi mahasiswa tersebut, tentu provider beasiswa tidak menanggung OSHC anggota keluarganya jika ia ingin membawanya. Begitu juga dengan saya, OSHC saya sudah dicover oleh LPDP, tapi ketika saya mau membawa keluarga saya, saya harus membayar OSHC untuk istri dan anak dengan cara upgrade OSHC jadi family. Ternyata karena hal ini banyak juga teman-teman penerima beasiswa di Australia yang akhirnya mengurungkan niatnya untuk membawa keluarga karena terganjal OSHC ini hehee.

Berikut ada contoh perhitungan OSHC.

OSHC untuk 1 orang dari tanggal 20 September 2017 sampai tanggal 17 Mei 2022, total bayar 2,699 yang paling murah.

Tapi coba kalau OSHC 1 adult dan 1 child, dengan jangka waktu yang sama, maka harus bayar 18,000an paling murah.

 

Untuk perhitungan OSHC upgrade family tidak saklek seperti diatas, tapi memang ketika saya tanya beberapa teman yang langsung membawa keluarga ke Australi ketika studi S3 rata-rata harus bayar OSHC diatas 13,000 AUD.

Apapun itu, saya hanya yakin, Allah sudah menempatkan saya di salah satu kampus di Australia tentu Allah pasti akan memberi jalan. Kalau masalah kuat ya kuat saja LDR an sama keluarga karena saya tidak sendiri banyak juga di sini yang LDRan, yang suami harus sering pulang pergi jenguk keluarga.

Saya hanya sedih ketika ingat nasihat dari para asatid saya, apasih yang kamu cari? uang? apapun itu tidak ada yang bisa menggantikan waktu bersama dengan keluarga. Tapi saya kadang juga berpikir tentang beberapa generasi tabiin dulu ketika mencari ilmu, mereka juga sering meninggalkan keluarganya untuk waktu yang lama demi ilmu. Tapi tetap saja saya jadi ingat pula dengan nasihat dari saya sendiri yang saya berikan pada orang yang bertanya ke saya mengenai LDRan. Waktu itu saya mengutip perintah Sahabat Umar bin Khattab RA, bahwa setidaknya tiga bulan lah suami harus balik untuk menjumpai keluarganya. Wa Allahu A’lam..

Semoga Allah memberkahi perjalanan keluarga kami, dan semoga semuanya lancar dan baik-baik saja. Berikut adalah foto saya sebelum berangkat bersama Fatiha dan Istri, besok pas Fatiha saya ajak ke sini nanti saya foto lagi, jadi foto before and after. hehee, jangan-jangan besok foto afternya Fatihanya sudah berdiri sendiri, tidak digendong? hahahhaa

 

Salam hangat,

Brisbane, 20 September 2017

S3 di Australia dengan Beasiswa LPDP

Saya mempunyai satu halaman yang berisi mengenai langkah-langkah mendaftar beasiswa LPDP termasuk tips membuat essay kontribusiku untuk negeri, essay sukses terbesar bahkan tips ketika LGD dan menulis essay on the spot dan ketika menghadapi reviewers saat interview. Silahkan bisa mengakses halaman ini untuk melihat daftar tulisan saya yang terkait LPDP.

Jika teman-teman membaca tulisan saya mengenai S3 ku mau kemana? tentu teman-teman tahu mengenai awal mula pilihan kampus S3 saya. Pada awalnya sebenarnya saya mendaftar kampus di SNU (Seoul National University) alasannya karena memang sebelumnya saya sudah S2 di Korea jadi saya sudah sangat paham lingkungan dan gaya pembelajaran di sana. Alasan lain adalah SNU termasuk kampus terbaik di Korea bahkan di World rank university juga termasuk kampus peringkat bagus. Tapi saya harus mengurungkan niat saya ke SNU karena Profnya tidak bisa, sebenarnya kalau teman-teman baca tentang interview saya dengan reviewers bisa terlihat bahwa saat interview pun saya sudah bilang bahwa saya tidak mungkin lanjut di SNU, saya harus pindah kampus karena blabla bla..

Setelah SNU, pilihan selanjutnya adalah Kyung Hee University, hanya saja sayangnya KHU ini dari sisi world rank jauh sekali jika dibandingkan dengan SNU dan persoalan lain adalah KHU ini sudah tidak masuk dalam list kampus LPDP mulai tahun 2017.

Berikut liku-liku perjalanan pencarian kampus S3 saya dengan beasiswa LPDP.

  1. Saya mendaftar LPDP tanpa membawa LoA kampus, dan setelah diterima pun saya belum diterima di kampus manapun. LPDP memberikan waktu satu tahun, jadi kalau lebih dari satu tahun saya tidak dapat kampus maka SK gosong alias dengan sendirinya beasiswanya hangus.
  2. Ketika dinyatakan diterima LPDP sebenarnya saya langsung apply ke Kyung Hee (KHU) untuk periode Spring 2017 yaitu mulai perkuliahan Maret 2017. Untuk mendaftar kampus di Korea kita harus bayar application fee, kalau tidak salah sekitar 127.000 won atau sekitar 1,5 juta. Jadi lumayan hehe. Persoalannya sampai penutupan pengiriman berkas, saya belum bisa request LoS (Letter of Scholarship) dari LPDP karena saat itu SIPENDOB (sistem untuk merequest LoS) masih error. Akhirnya aplikasi saya failed.
  3. Karena failed saya pun akhirnya bingung. Sistem pengiriman aplikasi di Korea sangat berbeda dengan negara di UK atau Australia. Di Korea rata-rata pengeriman aplikasi harus dokumen asli (legalisir) dikirim via pos. Dan tidak bisa mengajukan defer, ketika ada suatu hal dan kita tidak bisa mulai kuliah di term yang kita daftar dan kita ingin mengajukan menundaan kuliah itu tidak dimungkinkan. Jadi harus re-apply ulang lagi alias harus kirim dokumen lagi dan bayar application fee lagi.
  4. Akhirnya saya sambil cari solusi lain karena harapan bisa berangkat Maret 2017 ke KHU sudah putus, yaitu nyari kampus di luar Korea, saya akhirnya menemukan Prof yang cocok dengan riset saya di Data and Knowledge Engineering (DKE), The University of Queensland (UQ) Australia. Saya sebenarnya menemukan juga di UK tapi saya tahu ada kabar kalau mulai 2017 pengajuan perpindahan kampus diperketat terutama persoalan tuition fee, sedangkan tuition fee di kampus-kampus UK mengerikan, dan selain itu memang untuk saat ini saya kurang prefer ke UK karena ada beberapa yang harus saya lakukan jadi saya lebih prefer untuk mencari kampus yang deket ke Indonesia. Akhirnya UQ lah yang saya pilih.
  5. Ternyata untuk apply ke UQ saya tidak perlu IELTS, saya benar-benar tak menyangka kalau tanpa IELTS saya bisa mendapatkan Unconditional LoA yaitu karena memang saya qualified. Karena jujur saja, saya memang agak anti dengan IELTS karena beberapa alasan. Silahkan bisa baca kisah selengkapnya bagaimana caranya mendapatkan Unconditional LoA tanpa perlu sertifikat IELTS dan alasan saya kurang suka dengan IELTS.
  6.  Sayangnya di UQ assessment nya lama sekali, biasanya hanya butuh waktu maksimul 1 bulan tapi ini harus 3 bulan, saya masih inget, saya apply sejak akhir tahun 2016 tapi baru keluar Unconditional LoA nya bulan Februari 2017. Itu dikarenakan ada hal yang berkaitan dengan beasiswa ADS dari pemerintah Australia yang merequest ke UQ dan harus di assessment di waktu itu juga. Sehingga saya harus menunggu sampai itu selesai baru dokumen saya bisa di assessment.
  7. Setelah saya mendapatkan Unconditional LoA UQ, saya mencari info-info mengenai perpindahan universitas LPDP, ternyata memang kabarnya mulai 2017 LPDP cukup ketat dalam hal perpindahan universitas. Termasuk dalam hal ini tuition fee sangat dipertimbangkan yang kalau sebelumnya asalkan world rankingnya lebih bagus alasannya make sense kemungkinan besar disetujui tapi sekarang beda. Akhirnya mau tidak mau saya harus meminta beberapa surat rekomendasi ke beberapa pihak untuk menguatkan alasan pindah universitas saya. [Silahkan bisa dilihat contoh surat pengajuan perpindahan universitas saya di sini]
  8. Setelah semua lengkap, saya ajukan surat perpindahan kampus saya ke LPDP, masih di bulan Februari. Ternyata surat saya ditolak dikarenakan saya tidak melampirkan sertifikat IELTS. Padahal saya sudah mendapatkan Unconditional LoA yang mana IELTS itu diperlukan untuk memperoleh Unconditional LoA. Sungguh bener-bener stuck waktu itu. Mau tidak mau akhirnya saya pun ambil test IELTS dengan persiapan yang sangat pas-pasan dan dalam waktu yang cukup mepet.
  9. Sembari menunggu test IELTS, saya benar-benar galau karena kondisi saya yang semuanya penuh dengan ketidakpastian. Kemungkinannya sebagai berikut:
    1. Ketika saya test IELTS terus hasilnya dibawah persyaratan (6.5) berarti saya tidak bisa mengajukan pindah kampus ke UQ, kalaupun nilai IELTS saya qualified perpindahan kampus saya belum pasti diterima oleh LPDP karena saya ragu dengan tuition feenya, tuition fee UQ vs SNU sangat beda jauh. Silahkan kalian coba cari tahu, bedanya buanyak banget.
    2. Ketika nanti saya ajukan perpindahan ternyata ditolak oleh LPDP, terus saya harus kemana lagi? makanya saya harus mendaftar kampus lagi, sedang maksimal LoS yang bisa diterbitkan LPDP hanya dua, saya sudah pakai satu untuk UQ, satu lagi saya sudah request LoS ke Kyung Hee University (KHU) walau sayangnya belum bisa digunakan untuk aplikasi Spring 2017, berarti sudah tidak bisa apply selain ke kedua kampus tersebut.
  10. Akhirnya saya pun apply lagi Kyung Hee University untuk periode Fall 2017 yaitu mulai kuliah September 2017. Saya mengirim berkas asli saya lagi di bulan Maret 2017 dan membayar application fee lagi. huhuhu hehe.
  11. Alhamdulillah awal Mei test score IELTS saya keluar dan score saya cukup untuk memenui persyaratan LPDP, tidak lama dari itu langsung saya ajukan surat permohonan pindah kampus ke LPDP dengan Unconditional LoA UQ yang sudah saya defer ke RQ3 (Research Quarter), mulai perkuliahan bulan Juli.
  12. Entah kenapa dengan berkas saya, katanya, biasanya proses pengajuan perpindahan kampus LPDP tidak lebih dari 10 hari kerja, tapi saya sudah tiga minggu hasilnya belum keluar juga. Saya mengajukan surat permohonan pindah kampus ke LPDP tanggal 15 Mei, baru tanggal 5 Juni saya mendapat balasan kalau perpindahan kampus saya disetujui, Alhamdulillah, akhirnya bisa ke UQ. Yang pasti saya harus mengajukan defer lagi ke RQ4 (mulai perkuliahan oktober) karena tidak mungkin cukup untuk mengurus smua hal dalam waktu sesingkat itu, karena berdasarkan web di border Australia untuk pengurusan student visa biasanya memakan waktu 48 hari.

 

Begitulah liku-liku perjalanan menemukan kampus S3 saya, kalau tidak seperti ini mungkin tidak asyiik ya.. Inilah Allah,…

Dari mulai ketar-ketir takut kalau tidak dapat kampus di waktu 1 tahun SK LPDP, Soalnya bulan Februari 2017 saya sudah resign dari kerja, kemudian dari mendapatkan Unconditional LoA tanpa IELTS, tapi ternyata dari LPDPnya harus ada IELTS dan sebagainya. Banyak hal-hal yang membuat sedih tapi di sisi lain juga menarik dan tentunya banyak hikmah dari semua liku-liku ini.

Semoga S3 saya di UQ lancar, saya bisa amanah menggunakan beasiswa dari LPDP ini, dan tentunya semoga saya bisa berkontribusi banyak untuk bangsa ini. Amiin.

Semoga bermanfaat…