Belajar dari Guru Sejati

BELAJAR DARI GURU SEJATI

Menjadi #guru bukanlah perkara mudah, guru dalam konteks umum ya, baik itu guru sekolah, madrasah, guru agama, bahkan dosen pun sejatinya adalah seorang guru.

Dalam falsafah #jawa guru sering diartikan “digugu lan ditiru”, “digugu” berarti segala sesuatu yang disampaikan olehnya senantiasa bisa dipercaya dan “ditiru” bermakma seorang guru harus menjadi suri tauladan (panutan).

Beruntung rasanya sabtu lalu di acara halal bi halal IISB saya bisa duduk cukup lama di samping beliau Bapak Iman Partoredjo (sesepuh di Queensland yang sudah sejak tahun 1965 tinggal di Australia). Saya benar-benar mendengarkan cerita beliau dan belajar dari beliau, seorang Guru sejati yang patut untuk digugu dan ditiru.

Beliau bercerita tentang lika-liku jalan hidupnya selama di #Brisbane #Australiayang kurang lebih sudah lebih dari 50 tahun berada di sini dari mulai mengajar di Monash University di #Melbourne sampai kemudian mengajar bahasa #Indonesia di #Brisbane pun dilakoni oleh beliau yang merupakan lulusan dari Exeter University Inggris ini.

Beliau adalah orang pertama yang secara resmi mengajarkan #bahasa#Indonesia di Queensland bahkan mungkin di Australia karena pada akhirnya buku beliau dan kurikulum yang beliau susun dijadikan sebagai modul untuk pengajaran bahasa Indonesia di seluruh sekolah-sekolah di Australia.

Salah satu yang membuat saya sedih adalah jawabannya atas pertanyaan saya mengenai apakah semakin kesini bahasa Indonesia semakin diminati di sini atau sebaliknya.

Kata beliau, dulu masyarakat Australia sangat antusias belajar bahasa Indonesia karena mereka tau #Indonesia adalah bangsa yang besar dan merupakan negara tetangga, kemudian dulu Indonesia juga disebut-sebut akan menjadi macan #Asia . Sayang thn 98 Indonesia terkena krisis ditambah lagi ada konflik dg timor timur sehingga hubungan Australia dan Indonesia tdk sebaik sebelumnya. Hal tersebut jg sangat berdampak pada masa depan bahasa Indonesia di sini.

Tapi hal itu tidak memutuskan semangat Pak Iman utk tetap mengajarkan bahasa #Indonesia dan mencari jalan keluar agar semakin banyak masyarakat Australia yang mau belajar bahasa Indonesia.

Tidak hanya itu Pak Iman adalah generasi awal dan pendiri #IISB (Indonesian Islamic Society of Brisbane) dan sudah tidak menjadi rahasia lagi karena hampir seluruh masyarakat Indonesia di Brisbane tahu bagaimana pengorbanan beliau baik jiwa, raga, harta, dan waktunya demi tegaknya #islamdi sini dan demi Indonesia negara yang ia cintai.

“Walaupun saya sudah lama tinggal di sini tapi darah saya masih merah putih” kata beliau.

Entah kenapa tak sadar mata saya berkaca-kaca mendengar ucapan itu.

Semoga Allah selalu memberikan kesehatan, perlindungan, dan keberkahan pada Pak Iman dan keluarga

Salam dari Brisbane
Rischan Mafrur

Advertisements

Cara Mendaftar Universitas di Australia

Cara daftar kampus di Australia

Saya nulis ini karena kemaren ada email yang masuk dan selain itu juga baik di FB dan IG ada yang bertanya tentang langkah-langkah untuk mendaftar di kampus Australia.

Saya sebenarnya sudah menulis tulisan cukup lengkap tentang kuliah di Australia di sini . Tapi sepertinya beberapa informasi masih tersirat misal kemaren bertanya gimana sih cara enroll, terus ngurus visanya setelah enroll, syarat untuk enroll di kampus itu gmn, kapan bayar OSHC (Oversease Student Health Cover)/ Insurance dan sebagainya. Nah tulisan ini ingin menjawab pertanyaan tersebut sehingga nanti kalau ada yang tanya ke saya lagi tinggal kasih tulisan ini.

Baik, dalam tulisan ini, saya ingin membahasnya point to point dengan singkat dan jelas, jadi langkah-langkah mendaftar di kampus Australia adalah sebagai berikut:

    1. Bagi yang mau melanjutkan S2 by Courses itu cukup mudah karena kita tidak perlu mencari supervisor/advisor terlebih dahulu, bagi yang mau daftar S2 by research/ MPhil atau S3, step pertamanya adalah browsing supervisors dulu, nyari pembimbing riset yang cocok dengan penelitian/topik kita.
    2. Hampir semua kampus di Aussie sepertinya cukup enak dalam hal submit aplikasi, misalnya jika saya bandingan dengan di Korea, Jepang yang mana saya harus mengirim dokumen via post, dulu saya sempat apply juga di kampus saudi dan itu cukup enak karena semua online tapi application systemnya tidak sebagus di sini, yang paling enak pas kemarin apply UQ.
    3. Buka website kampus, dalam hal ini contohnya kampus saya, jadi buka website The University of Queensland UQ, tinggal saja apply as international student. Buat akun pakai email dan password. Di portal itu nanti kita bisa isi data diri, kualifiakasi pendidikan kita, dan informasi lainnya. Setelah itu tinggal apply deh, upload dokumen-dokumen yang diperlukan, semuanya bisa dibaca di guideline/ required documents.
    4. Catatan: di UQ untuk S2 ada application fee yaitu 100 AUD, sedang untuk S3 tidak ada application fee. Bagi kalian yang mau apply S2 kalian juga bisa datang ke pameran pendidikan, biasanya dipameran pendidikan mereka bisa ngasih application fee waiver, jadi kalian tak perlu bayar application fee.
    5. Bagi yang S3 biasanya di portal ada isian nama advisornya, atau bisa juga S3 tidak cari advisor dulu, nanti kampus yang nyariin.
    6. Setelah semua form diisi, semua dokumen lengkap, tinggal submit saja. Nah, nanti kampus akan menilai berkas aplikasi kita, waktu assessment nya tergantung ada yang cepet ada yang lama, tergantung sikon juga, tapi kita kasih waktu saja 4 weeks alias 4 minggu.
    7. Kalau semua persyaratan terpenuhi dan kualifikasi kita layak, maka kita nanti akan dapat offer letter atau istilahnya Unconditional Letter of Aceptance (LoA). Bagi yang masih ada kekurangan persyaratan misal skor IELTS kurang biasanya bisa dapat Conditional LoA, nanti akan jadi Unconditional jika syarat bahasanya sudah terpenuhi. (Contoh Unconditional LoA seperti di bawah ini)
    8. Sudah itu saja! Setelah kita dapat LoA, kita bisa cari scholarship. Ada beberapa scholarship yang mewajibkan pendaftarnya mempunyai Unconditional LoA seperti Endavour kalau tidak salah. Di sinilah kegunaan LoA, jadi LoA itu semacam dokumen yang menyatakan bahwa anda sudah diterima di kampus. Untuk beasiswa seperti LPDP tidak mempersyaratkan harus punya LoA kok, tapi biasanya klo udah punya lebih meyakinkan lah, gitu.
    9. Ketika kalian diterima beasiswanya, nanti dari scholarship provider akan menerbitkan letter of scholarship/letter of financial guarantee. Surat itulah nantinya yang kalian upload di portal pendaftaran tadi. Bagi yang mau kuliah dengan biaya sendiri, nanti bisa upload financial support statement dan bank statement punya orang tua. Setelah itu nanti pihak kampus akan menerbitkan CoE (Confirmation of Enrollment), dengan modal CoE inilah nanti kita bisa apply student visa. (Contoh CoE seperti di bawah ini)
    10. Setelah dapat CoE kita bisa apply visa, tapi masih ada yang harus diurus yaitu bayar OSHC, untuk yang dapat scholarship biasanya sudah langsung dibayarkan oleh pihak pemberi beasiswa jadi jangan khawatir, bagi yang mau biaya sendiri yang harus bayar sendiri, caranya tinggal kontak saja OSHC provider, atau langsung kontak pihak kampus untuk meminta tolong menguruskannya.
    11. Bila sudah ada CoE, pihak scholarship provider sudah membayar OSHC, maka kita bisa apply visa. Saya apply visa menggunakan jasa agen dan kurang dari 5 hari visa langsung terbit. Silahkan bisa baca detilnya di sini .
    12. Oya kalian juga bisa mengajukan defer maksimal 3 kai, jadi klo misal tadinya udah accept untuk offer commencement February (mulai kuliah February), kemudian mungkin karena dari scholarship provider belum mengijinkan berangkat atau ada satu lain hal, kalian bisa mengajukan defer/mengundurkan keberangkatan. Enak kan? tak perlu apply ulang lagi. Klo misal di Korea, ini tidak bisa, kita harus apply ulang dan kirim dokumen via post lagi.

Dan sebagai catatan, semua hal di atas, kita bisa menggunakan jasa agen. Gila!!! apa nggak gampang banget. Misal kita tinggal minta tolong agen, nyerahin transkrip S1 kita yang terlegalisir, IELTS, dan dokumen pendukung lainnya. Setelah itu udah tinggal nunggu Unconditional LoA aja dari agen. Habis itu appy scholarship, klo beruntung dapat scholarshipnya, habis itu serahin letter of sponsor ke agen beserta dokumen pendukung lainnya, udah tinggal terima jadi sampai ke pengurusan visa pun kita tinggal terima jadi.

Oya tapi kalau S3 dan harus nyari supervisor sepertinya lucu ya kalau pakai agen? hehe.

Tapi tentu kurang greget ketika semua dilakukan oleh agen hehe. Saya hampir tidak pernah mengurus apapun menggunakan agen, hanya satu itu yaitu mengurus visa kemaren, karena saya tidak punya credit card, jadi nanti report di payment nya. Akhirnya saya minta tolong agen heheh.

 

Okey mungkin ini saja ya, semoga bermanfaat, bagi yang mau apply sekarang sudah tidak bingung lagi kan?

Sampai ketemu lagi di postingan berikutnya.

Salam dari Pinggir Kali Brisbane

Rischan Mafrur

Brisbane Festival 2017

Tanggal 30 September di Indonesia adalah tanggal bersejarah dimana pengibaran bendera setengah tiang dilakukan untuk memperingati kejadian G30S/PKI. Beda negara tentu beda adanya. Di Brisbane tanggal 30 September 2017 kemaren termasuk tanggal yang ditunggu banyak orang yaitu karena ada Sunsuper Riverfire. Apa itu Sunsuper Riverfire?

Di sini sejak tanggal 9 September sampai tgl 30 September 2017 ada Brisbane Festival. Di Brisbane festival 2017 ini banyak sekali eventsnya, bisa lihat schedule event-eventnya di website resminya. Puncak acaranya adalah tanggal 30 September 2017 yaitu Sunsuper Riverfire (peluncuran kembang api) di sepanjang sungai Brisbane di South Bank.

Inget kembang api saya jadi inget dulu pas S2 di Korea, dulu saya sama teman saya pergi mau lihat kembang api di sana, eh ternyata teman-teman Indonesia juga banyak yang mau lihat. Jadi kita bareng-bareng ke downtown (ke city), terus kita pesan makanan. Ternyata makannya datangnya lama banget, yang pada akhirnya kita semua kelewat untuk lihat kembang api karena nunggu pesanan makanan hehe. Temen saya ini luc, sesampainya di dorm, dia buka laptop terus buka youtube kemudian buka video kembang api. :V  Katanya kan tadi failed mau lihat kembang api jadi sekarang lihat di Youtube.

Kalau kemaren tanggal 30 September, saya tidak failed untuk melihat Kembang api di acara Brisbane festival.

Jadi ceritanya begini, saya baru ke Brisbane sini jadi masih belum hafal jalan kemana, ke kota dan sebagainya. Di Brisbane transportasi publik ada 4 macam lah (taksi, bus, kereta, dan citycat). Citycat ini yang menarik karena bagi saya ini baru. Brisbane ditengahnya dibelah sama Brisbane river (Sungai Brisbane) jadi karena adanya sungai ini akhirnya dimanfaatkan untuk transportasi juga.

Untuk melihat kembang api, saya berangkat jam setengah 5 sore dari rumah, saya jalan kaki ke St Lucia Ferry terminal (Terminal citycat di kampus saya), habis itu naik ferry menuju ke south bank, tidak jauh, tidak ada setengah jam saya sudah sampai (kurang lebih 4 atau 5 stops). Foto di ata ketika saya naik ferry dari UQ ke South bank. Foto dibawah ini kalau mau lihat jalur ferry dari UQ ke South Bank.

Sesampainya di terminal ferry di south bank eh ternyata dipinggiran sungai di south bank sudah penuh sama lautan manusia yang nunggu kembang api. Mereka pada piknik, pada gelar tiker, dan sebagainya.

Gambar dibawah ini foto kembang api kemaren yang saya ambil dari Google, harusnya sih saya cari posisi di dekat jembatan ini, tapi sudah tidak kebagian tempat jadi ya sedapatnya.

 

Kalau dapat di spot yang bagus ya dapat fotonya mesti bagus, cuman sayang karena penuh ya saya akhirnya cari tempat yang agak luang, bagaimana detilnya?

Bagi yang penasaran silahkan bisa nikmati vlog saya di bawah ini. (maap vlognya jelek karena masih amatiran heheh)

 

Semoga bermanfaat, salam dari Brisbane.

Biaya hidup di Australia

Hallo sahabat semua…

Di postingan kali ini saya akan membahas mengenai biaya hidup di Australia khususnya di tempat saya tinggal yaitu di Brisbane. Australia mirip dg US, jadi modelnya negara bagian, tiap negara bagian tentu akan berbeda biaya hidupnya. Jadi tulisan ini hanya berlaku untuk teman-teman yang mau tinggal atau berencana kuliah di Brisbane, mungkin juga masih relevan untuk negara bagian Queensland dan bisa nambah  info juga.

Baiklah, di sini saya juga memandang dari perspektif pelajar bukan pekerja. Tentunya kalau pekerja profesional di Australia pasti cara pandangnya beda karena dapat penghasilan yang lumayan dari sini.

Oke ayo kita mulai…

Yang pertama, saya shock ketika ternyata untuk membawa keluarga bayar asuransinya mahal banget. Pengalaman yang sangat berbeda dengan di Korea, saya di Korea untuk biaya asuransi itu kita bayar per semester untuk mahasiswa, dan saya juga sudah sering nanya-nanya teman yang bawa keluarga, intinya di sana asuransi terhitung masih murah banget. Sebenarnya di sini mungkin kalau asuransi itu dibayar tiap bulan jadi tidak terasa tapi sistem di sini adalah ketika mau bawa orang untuk tinggal di sini (family) maka bayar asuransi itu di awal sebagai syarat pembuatan visa. Jadi, saya sudah bayar asuransi untuk 4 tahun kedepan dan dibayar diawal sebagai persyaratan visa. Untuk asuransi (OSHC) pelajar single itu lumayan, tidak begitu mahal yaitu sekitar 3,000 AUD dan itu dicover oleh beasiswa. Bagi yang mau bawa keuarga yang repot, mungkin pembaca bisa membaca tulisan saya sebelumnya tentang berpisah dengan keluarga demi S3. Intinya, saya sudah tanya teman saya yang baru membawa keluarga semester lalu ke Brisbane (ybs bawa istri dan satu anak), itu dibutuhkan dana lebih dari 13,000 AUD, yah siapkan 140 juta rupiah.

Yang kedua, sistem tempat tinggal di sini. Kalau dulu ketika saya kuliah S2 di Korea, dormitori itu adalah tempat yang paling nyaman untuk tinggal yaitu dekat dengan kampus, harga murah dan terjangkau, dan bisa memilih dormitory yang ada shared kitchen nya, jadi bisa masak. (*note: tidak semua kampus seperti ini). Ketika saya di UQ saya cukup kaget, ketika lihat harga tempat tinggal di sini.

Kalau dulu di Korea, sistem pembayaran dormitory per semester, saya dulu bayar sekitar  650,000 won (kampus saya di Chonnam National University, di Gwangju, tentu kalau di Seoul beda). Di sini sistemnya adalah per week, dan tagian dibayar per dua minggu. Saya kaget dulu pas tahu gini hehe. Coba teman-teman lihat gambar di atas. Kalau mau di dormitory kampus itu harganya selangit!!! paling mahal diantara yang lain.

Coba bayangin saja, tinggal di dormitori kampus $500 per week, 1 bulan 2,000 aud atau 21 juta rupiah. Itu baru tinggal belum keperluan yang lain.

Jadi pilihan yang mungkin masih bisa sesuai kantong adalah kolom ke dua yaitu shared house.

Mungkin ini perlu saya sampaikan juga, pas di Korea, dormitory saya murah banget itu juga karena satu kamar dua bed, dan isinya dua orang. Jadi ya kalau dari sisi privacy kurang nyaman. Kalau sistem di sini yaitu shared house. Jadi saya sekarang tinggal di Rumah yang cukup dekat dengan kampus (5 menit jalan kaki).

 

Yaitu di Hawken Drive no 263, ini satu rumah ada tiga kamar. Oya di sini rumah fasilitasnya pasti standard (dapur, kulkas, microwave, mesin cuci, pengering, dsb pasti ada, jangan khawatir). Harga kamar di rumah ini juga beda-beda (180,160, dan 140) dan saya kebagian yang paling murah (kamar paling kecil) yaitu 140 AUD per week. Apakah itu sudah include all bills? Tidak.

Perbulan saya masih harus bayar internet 20 AUD, dan per tiga bulan bayar listrik dan air (ini fluktuatif). Jadi biaya internet per bulan, listrik dan air per tiga bulan (jadi nanti jumlah tagihannya berapa kemudian dibagi 3- karena tiga orang yg tinggal).

Menurut saya, saya cukup beruntung dapat tempat di sini karena dekat dengan kampus, yang jelas tidak perlu pakai bis atau transportasi lain untuk ke kampus, ya konsekuensinya mungkin harga jelas lebih mahal, kalau penasaran bisa di check di sini  (semakin deket dengan kampus pasti semakin mahal). Oya di awal juga ada bond nya, jadi saya harus bayar bond di awal sebanyak 4 minggu (560  AUD). -> Jelas bond ini bisa diambil besok pas keluar.

Besok juga tantangan tersendiri kalau membawa keluarga, karena pasti nyari tempatnya lebih susah dan lebih mahal.

Yang ke tiga, Untuk keperluan makan, transportasi, dan lain-lain sepertinya tidak begitu kaget, ya standard, dulu pas saya awal kuliah master (karena waktu itu pertama kali ke luar negeri) memang sempat shock, istilahnya price shock. Kalau sekarang sudah tidak, dibawah ini mungkin bisa menjadi gambaran harga-harga kebutuhan di sini.

Di kafetaria kampus untuk makanan harganya ya lumayan lah, misal Nasi biryani (daging ayam, nasi pakistan) itu $5, kalau mau yang lebih enak ya range $5 ~ $10. Untuk makanan, australia juga tidak punya makahan khas, jadi di sini bisa mencoba makanan dari semua negara, di kantin kampus ada makanan korea, india, pakistan, china, thai, brazil dan sebagainya. Untuk Pulsa, saya pakai prepadi, $30 per bulan, 3 GB data dan unlimited call & SMS ke nomor sesama australia. Untuk telp international saya pakai VoiP.

Jadi kalau mau dihitung misalnya seperti ini:

  1. Kamar: anggap saja $170pw (include listrik, air dan internet) jadi ($680 per month) * hanya february lho yg punya 28 hari selebihnya pasti lebih.
  2. Makan: sekali makan anggap aja paling murah $5 kali 3 untuk sehari = $15 di kali 30 untuk sebulan = $450 (tentu akan lebih ngirit kalau masak sendiri)
  3. Pulsa = $30 per bulan
  4. Transport = ini tergantung, kemana saja jadi tidak bisa ditentukan.
  5. Lain-lain (jajan cemilan dan sebagainya), juga tergantung masing-masing.

Oya bagi yang punya anak kecil dan berencana untuk menitipkannya (child care) itu juga lumayan mahal, 1 harinya $95 hehe (* jangan dirupiahin = 1juta) nitipin anak kecil sehari sejuta hehe. makin kecil makin mahal sepertinya

Jadi total semua tanpa point no 4 dan 5 (misalnya tinggalnya deket kampus dan jarang pergi-pergi, jarang nyemil), tidak masak sendiri, makan diluar nyari yang paling murah, itu total per bulan 1160 ya mungkin digenapkan 1200 AUD per month.

Jadi segitu lah bisa hidup dengan pas-pasan di sekitar kampus The University of Queensland (UQ), Brisbane.

Tulisan ini semoga bisa memberikan gambaran teman-teman yang mau studi di sini. Untuk tulisan saya yang lain mengenai studi di Australia bisa dibuka di sini.

semoga bermanfaat, salam dari Brisbane

 

Brisbane, 27 September 2017